Di negeri yang dikuasai satu suara, satu wajah, dan satu perintah, maka lahirlah suara lantang yang perlahan menggetarkan tembok kekuasaan. Jika di sepakbola Indonesia, suara lantang itu lahir dalam bentuk Dewa United. Mereka bukan klub kaya akan sejarah macam Persija Jakarta. Mereka juga bukan klub yang banyak dipuja oleh jutaan fans Indonesia. Mereka hanya klub siluman yang menjelma ksatria.
Dulu sempat diremehkan karena tak punya latar belakang yang jelas, kini Dewa United datang dengan satu misi pasti. Gulingkan dominasi. Dominasi siapa? Persib Bandung tentunya. Maung Bandung bukan klub sembarangan. Tak seperti Dewa, mereka punya sejarah, massa fanatik, dan trofi melimpah.
Tapi dalam setiap era kepemimpinan, selalu ada penantang yang tak kenal takut. Dan bagi Dewa, waktu untuk diam sudah habis. Musim depan, di bawah huru-hara pergantian nama kompetisi, Dewa siap menggusur dominasi Persib. Untuk mewujudkan itu, Dewa pun sudah menyiapkan pasukan dan amunisi yang cukup. Dan berikut adalah kekuatan super tim Dewa United musim 2025/26.
Daftar Isi
Kiper
Setiap lini permainan jadi perhatian bagi manajemen Dewa United. Mereka benar-benar menyiapkannya dengan matang. Bahkan dari posisi penjaga gawang saja, Dewa United memiliki kedalaman yang baik. Posisi penjaga gawang utama musim depan diperkirakan akan tetap diisi oleh kiper asal Belanda, Sonny Stevens.
Kiper yang pernah membela FC Twente dan Go Ahead Eagles ini tak tergantikan di bawah mistar Dewa United musim lalu. Statistiknya pun istimewa. Dari 34 pertandingan, ia hanya kebobolan 33 kali. Di sisi lain, Stevens juga mencatatkan 14 clean sheet di Liga Indonesia musim 2024/25. Itu jadi yang terbaik jika dibandingkan dengan kiper-kiper lain.
Seharusnya, dengan memiliki Sonny seorang, Dewa sudah cukup puas. Namun, mental pemenang tidak berhenti di situ. Dewa memutuskan untuk memiliki kiper kedua dan ketiga yang memiliki kualitas tak jauh berbeda. Mereka adalah Muhammad Natshir dan Dafa Setiawarman.
Soal Natsir, kita sudah paham lah ya. Dirinya sudah malang melintang di sepakbola Indonesia. Lama di Persib, Natshir pernah membela Arema Cronus dan Pelita Jaya. Sementara Dafa merupakan kiper muda potensial. Dirinya adalah kiper utama Timnas Indonesia U-17. Masih minim menit bermain di Liga Indonesia, tapi Dafa punya mental dan pengalaman internasional yang baik.
Bek
Para penjaga gawang tetap bisa tampil nyaman dan percaya diri lantaran Dewa United juga punya pertahanan berlapis yang gokil abis. Dari mulai membajak Nick Kuipers dari Persib Bandung dan mendatangkan bek asing baru, Cassio Scheid, Dewa sedang berusaha membangun benteng pertahanan.
Dua bek kenyang pengalaman ini diperkirakan akan jadi pilihan utama Jan Olde Riekerink di skuad Dewa United. Nick sudah paham betul dengan dinamika dan gaya bermain sepakbola Indonesia. Dia juga punya DNA juara lantaran jadi bagian penting Persib Bandung saat menyabet gelar juara back to back.
Sementara Casio, dia didatangkan dari Vietnam. Namun, sebelumnya ia telah mengenyam pendidikan di Liga Indonesia. Tepatnya bersama Malut United musim lalu. Meski cuma enam bulan, Coach Jan merasa Casio punya potensi jika bermain di klub dan sistem yang tepat untuknya.
Namun, hanya memiliki dua saja itu tak cukup. Dewa memiliki pelapis yang juga tak kalah istimewa. Ada Wahyu Hulk yang kuat dan disiplin dalam menjaga area pertahanan. Lalu ada Brian Fatari yang musim lalu jadi kunci kokohnya pertahanan Dewa. Brian merupakan bek yang fleksibel. Bisa mengisi posisi gelandang bertahan juga. Ia pandai membaca permainan dan mampu memberikan kestabilan di lini bertahan.
Bek Sayap
Jika dibandingkan dengan sektor lain, sektor bek sayap barangkali jadi yang paling minim opsi. Dewa United memang baru saja mendatangkan Edo Febriansyah dari Persib Bandung. Namun, Dewa juga banyak melepas bek sayap di bursa transfer ini. Contohnya seperti Reva Adi yang gabung PSIM Yogyakarta dan Ferian Rizki yang hijrah ke MU, alias Madura United.
Loh, nggak punya bek lain dong? Ngga juga. Dewa United tetap punya sosok andalan. Selain Edo, ada Alta Ballah yang juga mengisi sektor bek kiri. Alta dikenal sebagai bek sayap modern yang ideal untuk sistem sepakbola dinamis. Selain tahan banting dalam bertahan, ia juga aktif membantu build-up serangan dan overlapping di sisi kiri lapangan.
Di sisi kanan, baru ada Ady Setiawan. Meski jumlah penampilan musim 2024/25 tak terlalu besar, peran cameo Ady memberikan fleksibilitas taktis yang sangat penting. Dirinya bisa dimainkan sebagai bek tengah maupun gelandang bertahan. Sejauh ini, bek sayap Dewa masih tiga. Kabarnya, mereka sedang memantau beberapa nama lain untuk memberikan persaingan yang kompetitif.
Gelandang
Sektor gelandang, duet maut Jaja dan Alexis Messidoro diprediksi bakal tetap jadi pilihan utama Coach Jan musim depan. Duet mereka adalah mimpi buruk bagi lawan. Jaja bertugas sebagai distributor bola yang memiliki daya jelajah tinggi. Sedangkan Messidoro menambahkan sentuhan elegan di dalamnya.
Datang sebagai eks Boca Juniors, Messidoro punya visi bermain tajam, umpan-umpan vertikal berbahaya, serta insting mencetak gol yang luar biasa untuk ukuran seorang playmaker. Menariknya, Dewa United membangun kedalaman skuad yang begitu baik di sekeliling dua pemain ini.
Sebagai pelapis dan partner di lini tengah, Messidoro dan Jaja masih punya Ricky Kambuaya, jenderal lapangan tengah dari Timur. Lalu ada pemain muda berbakat Theo Numberi dan Kafiatur Rizky yang memberikan dimensi dan energi yang berbeda di lini tengah klub yang bermarkas di Banten itu.
Tak lupa, Dewa juga masih punya Rangga Muslim, pemain yang layak disebut legenda klub. Pemain datang dan pergi, tapi tidak dengan Rangga Muslim. Meski menit bermainnya tak sebanyak yang diharapkan, Rangga tetap memiliki daya tawar yang menarik. Cepat dan kreatif jadi ciri khasnya.
Sayap
Sektor sayap barangkali jadi yang paling mewah di Dewa United. Bagaimana tidak? Posisi ini isinya bintang semua. Beberapa bahkan berlabel Timnas Indonesia. Jika melihat pemain yang bertahan sejak musim lalu, ada Taisei Marukawa, Egy Maulana Vikri, dan Feby Eka. Baik Egy maupun Feby keduanya mengandalkan kecepatan dan tusukan ke kotak penalti.
Sementara Marukawa adalah sayap yang pergerakannya sulit ditebak. Taisei sosok yang menggabungkan kecepatan eksplosif, intuisi mencetak gol, dan mental baja. Eks Persebaya Surabaya ini sangat efektif dalam duel satu lawan satu dan sangat mematikan ketika berhasil memanfaatkan ruang di area pertahanan lawan.
Di luar itu, ada dua nama baru yang juga berlabel tim nasional. Mereka adalah Stefano Lilipaly dan Rafael Struick. Bagi Struick, ini jadi kali pertama dirinya bermain di Liga Indonesia. Meski jarang dimainkan di klub sebelumnya, Rafa tetap pemain sayap yang memiliki daya tawar tinggi, selain fleksibilitas bermain, Rafa tipe pemain dinamis, cepat, dan berani menusuk. Cocok untuk peran inverted winger yang sering dipakai Dewa.
Sementara Fano sudah khatam dengan Liga Indonesia. Meski sudah kepala tiga, Fano yang datang sebagai pemain pinjaman dinilai masih punya visi bermain dan mobilitas tinggi. Mungkin jika posisi sayap terlalu melelahkan untuknya, Coach Jan akan memasangnya sebagai gelandang serang. Melengkapi duet Jaja dan Messidoro.
Striker
Dewa United kembali menghadirkan bencana bagi lawan-lawannya dalam bentuk lini depan yang solid. Pilihan utama barangkali akan tetap jatuh pada Alex Martins. Ia adalah top skor Liga 1 musim lalu dengan torehan 26 gol. Tak hanya Martins, Dewa United juga masih memiliki Septian Bagaskara, dan itu masih belum cukup bagi mereka, sampai-sampai Privat Mbarga didatangkan dari Bali United.
Mbarga aslinya sih sayap. Tapi, di Bali ia kerap diplot sebagai striker bayangan. Sebab, dirinya punya naluri mencetak gol yang sangat baik. Dengan adanya Mbarga, Coach Jan akan mempunyai lebih banyak opsi di lini depan. Banyaknya pemain yang memiliki kualitas setara juga akan menciptakan ekosistem persaingan yang sehat.
Ini bagus bagi kelangsungan tim di musim depan. Sekali lagi, Dewa United telah menunjukan kualitas manajemen tim yang baik. Layak untuk dicontoh.
___
Sumber: Data Indonesia, Radar, Sport Detik, CNN


