Klub Sultan, Tapi Gagal di Bursa Transfer? Newcastle Ternyata…

spot_img

Sebelum membahas mengapa, mimin mau minta maaf kepada seluruh fans Manchester United. Urusan bursa transfer, mimin sempat menyebut mereka bergerak bak bekicot. Lambat dan tak memiliki arah. Namun, ternyata ada yang lebih buruk dari United. Mereka adalah Newcastle United. 

Ibarat perusahaan yang hampir pailit, Newcastle selalu kesulitan merekrut pemain baru. Pemain-pemain top incaran Newcastle seakan melirik pun tak sudi. Dari mulai Hugo Ekitike, Bryan Mbeumo, Liam Delap, hingga James Trafford semuanya berpaling. Mereka seakan mengabaikan status Newcastle sebagai kampiun Carabao Cup dan klub kaya raya yang ditopang dana tak terhingga.

Niat ada, uang ada, tapi The Magpies selalu mentok di tahap negosiasi. Publik pun mulai bertanya-tanya. Ini klub beneran super kaya atau cuma pura-pura jadi kaya? Ternyata, permasalahan Newcastle bukan sekadar jumlah saldo. Jauh lebih kompleks dari itu. 

PSR

Buat apa kalau punya banyak uang tapi nggak bisa dipakai. Begitu kira-kira kondisi Newcastle United sekarang. Kaya tapi tercekik. Toon Army memang punya beking dari Public Investment Fund. Tapi aturan PSR tidak peduli seberapa kaya pemilik klub. Yang dihitung adalah berapa besar pendapatan riil klub dan berapa besar kerugian yang mereka derita.

Premier League membatasi kerugian klub hingga maksimal 105 juta euro dalam periode tiga tahun. Masalahnya, Newcastle sudah mencatatkan kerugian besar, yakni 260 juta pound pada dua musim awal pasca-akuisisi. Meski sudah mendapat pemasukan dari hadiah Liga Champions dan sponsor baru, kerugian klub tetap mendekati batas maksimal. 

Itulah sebabnya Newcastle tak bisa sembarangan belanja, meski kas klub penuh dan ambisi menjulang. Setiap pembelian pemain harus dihitung berdasarkan metode akuntansi yang njlimet. Dari mulai durasi kontrak, gaji dan biaya agen. Semuanya dihitung. Karena jatah pengeluaran terbatas, prosesnya nggak segampang klub-klub lain kayak Manchester City atau Arsenal. 

Sebetulnya, masalah ini bisa terselesaikan jika Newcastle juga rajin menjual pemain-pemain lulusan akademi. Karena nilai keuntungan 100% akan masuk kas klub. Sayangnya, akademi Newcastle belum melahirkan bakat potensial. Tertinggal 100 tahun jika dibandingkan dengan bisnis pemain akademi yang dilakukan Chelsea atau Southampton.

Hilangnya Sosok Penting

Tak berhenti di situ, dari internal pun Newcastle ini bermasalah. Mereka banyak kehilangan sosok-sosok penting yang harusnya diandalkan saat bursa transfer dibuka. Perubahan manajemen yang cukup besar di bulan Juni dan Juli jadi penyebab utama mengapa kini Newcastle tak memiliki ahli transfer.

Dalam satu tahun terakhir, Newcastle boleh dikata kehilangan tiga figur kunci di struktur eksekutif. Ketiga figur itu adalah sang CEO, Darren Eales yang menyatakan mundur dari posisinya karena mengidap kanker dan Direktur Olahraga, Dan Ashworth yang kala itu berpaling ke Manchester United. Yang terbaru, pengganti Ashworth, yakni Paul Mitchell pun memutuskan hengkang dari klub pada awal Juli kemarin. 

Kepergian mereka bukan hanya meninggalkan kekosongan, tetapi juga menciptakan kekacauan di balik layar. Tanpa pondasi manajerial yang solid, proses pengambilan keputusan menjadi berantakan. Sudarshan Gopaladesikan yang ditunjuk sebagai direktur teknik pada 21 Juli kemarin pun belum bisa berbuat banyak.

Lalu, siapa yang ngurusin transfer sejauh ini? Kepemimpinan bidang transfer dialihkan ke dua figur internal. Mereka adalah Steve Nickson selaku head of recruitment dan Andy Howe, yang saat ini menjabat sebagai asisten kepala rekrutmen sekaligus keponakan sang pelatih, Eddie Howe. Mereka bertugas mengelola negosiasi, scouting, dan keputusan transfer tim untuk sementara.

Pergerakan Lambat

Baik Steve Nickson dan Andy Howe bukan pakar di bidang rekrutmen. Mereka memang memiliki latar belakang sebagai scouting. Mereka tetap bisa mencari pemain-pemain mana yang cocok dengan skema permainan dan kebutuhan klub musim depan. Tapi setelah ketemu pemainnya, ya mereka clueless.

Bingung mau ngapain. Karena basic mereka scouting. Bukan Negosiator. Kendala ini yang membuat negosiasi Newcastle United dan pemain incaran terkesan lambat dan bertele-tele. Baik Andy maupun Steve bergerak lebih berhati-hati. Bukan karena PSR yang mengintip dari balik tembok. Tapi juga karena mereka tidak menguasai bidang ini.

Negosiasi lambat, pemain incaran pun tak dapat. Ya, Newcastle ketikung mulu. Gimana nggak sakit hati ya kalo jadi fans Newcastle? Ini juga yang jadi alasan Mimin belum bikin prediksi line up Newcastle musim depan. Karena pemain yang dirumorkan ujung-ujungnya ketikung. 

Contohnya sudah banyak. Soal Matheus Cunha misalnya. Newcastle kelamaan mikir karena enggan memenuhi klausul pelepasan yang diminta Wolves. Akhirnya keduluan MU yang tak masalah dengan banderol sang pemain. Begitu pun pada kasus pemain-pemain lain macam Joao Pedro dan Hugo Ekitike.

Terlalu Fokus Pada Isak

Bahkan menurut The Guardian, demi membantu kinerja Steve dan Andy, Coach Eddie juga turun tangan. Pelatih asal Inggris itu kini memiliki peran lebih besar dalam mengambil keputusan transfer. Ini merupakan permintaan Eddie secara langsung setelah Paul Mitchell memutuskan hengkang.

Selain kurang sat-set, kelemahan dari tim rekrutmen yang tak berpengalaman ini adalah multitasking. Mereka belum bisa membagi fokus. Ketimbang memperjuangkan pemain incaran, tim rekrutmen The Magpies justru terlalu fokus pada pemain kunci mereka, Alexander Isak. Sang pemain meminta hengkang, tapi pihak klub ingin mempertahankannya.

Liverpool kabarnya jadi tujuan paling potensial bagi striker asal Swedia itu. Situasi ini kian genting. Karena Newcastle sudah melepas Callum Wilson. Itu artinya, jika kehilangan Isak, mereka tak memiliki penyerang top. Kepanikan terjadi dan negosiasi kontrak baru dengan Isak menyita seluruh konsentrasi dan perhatian manajemen.

Reputasi dan Gaji

Kondisi Newcastle United semakin mengenaskan jika kita melihat geliat transfer Sunderland, Leeds United, atau Brentford. Mereka lebih aktif dan terlihat lebih menarik untuk dijadikan tempat berkarir ketimbang Newcastle. Mengapa ini bisa terjadi? Setelah penelusuran mendalam, ternyata ada dua faktor kuat yang mempengaruhi. Reputasi dan gaji.

Kita bahas satu-satu. Yang pertama adalah soal reputasi. Newcastle United memang sedang naik daun secara finansial dan performa domestik. Namun di mata banyak pemain top Eropa, mereka belum memiliki status “klub elite”. Nggak ada kebanggaan gitu kalau gabung ini klub. Tak seperti saat pemain gabung Inter Milan, Real Madrid, atau Manchester United.

Trofi prestisius, pemain legendaris, dan DNA Eropa yang kental, Newcastle belum punya itu semua. Mereka bahkan belum pernah juara Premier League lagi sejak 1927. Tapi kan baru juara Piala Carabao? Memang. Tapi apalah arti Piala Carabao. Erik ten Hag aja bisa menjuarai kompetisi itu. 

Yang selanjutnya adalah gaji. Klubnya kaya sih, tapi Newcastle ternyata nggak demen ngasih gaji tinggi ke pemain. Newcastle mencoba menjaga harmoni skuad dengan struktur gaji yang datar. Mereka belum mau membayar pemain di atas 200–250 ribu pound per minggu. Melansir Sportrac, sekelas Isak aja cuma dapet gaji sekitar 120 ribu pound per pekan. 

Beda banget sama Manchester United yang tetap berani ngasih gaji selangit meski lagi ngirit. Luke Shaw yang nggak ngapa-ngapain selama dua musim terakhir aja digaji 150 ribu pound per pekan. Pantes kalau Isak minta cabut dari St James Park.

Letak Geografis

Di luar faktor-faktor itu, ada masalah letak geografis Newcastle itu sendiri. Meski terdengar sepele, faktor geografis ternyata punya pengaruh besar terhadap daya tarik Newcastle United di bursa transfer. Seperti yang diwartakan Talksport, wilayah Newcastle upon Tyne terletak di ujung timur laut Inggris, wilayah yang dikenal dengan cuaca dingin, basah.

Kylian Mbappe bahkan pernah mengatakan hal serupa. Saat Antoine Griezmann yang sedang bermain Football Manager menggunakan Newcastle dan merekrut Mbappe. Sang pemain merasa ia tak cocok di sana. Menurutnya cuaca Newcastle terlalu dingin. Pernyataan Mbappe menambah persepsi bahwa lokasi Newcastle kurang bersahabat untuk pemain asing. 

Para agen dan pemain asing kerap menyebut Newcastle sebagai “a tough sell” karena letaknya yang jauh dari pusat kehidupan metropolitan Inggris. Kalau penjelasan sederhananya sih kalau Inggris diibaratkan Pulau Jawa, Newcastle tuh kayak klub yang letaknya agak minggir di Ciwidey atau Wonosobo. Dingin dan kurang kalcer.

___

Sumber: Forbes, The Athletic, The Guardian, The Sun, Talksport

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru