Kok Bisa Timnas Indonesia Sampai Dibantai 10-0 oleh Bahrain?

spot_img

Oktober nanti Timnas Indonesia akan terbang ke sebuah pulau kecil di sebelah Timur Arab Saudi, yakni Bahrain. Anak asuh Shin Tae-yong akan menantang tuan rumah di Bahrain National Stadium, sebuah tempat yang menjadi saksi bisu dari kekalahan terbesar yang pernah Timnas Indonesia telan.

Pada 29 Februari 2012, Bahrain pernah meluluhlantakkan Indonesia dengan skor yang tak lazim, 10 gol tanpa balas. Saking tak lazimnya laga ini, FIFA sampai turun tangan untuk menginvestigasi dugaan pengaturan skor. Lantas, seperti apa sebenarnya laga fenomenal tersebut?

 

Konflik Dualisme Kompetisi

Kekalahan memalukan 10-0 dari Bahrain ini tak bisa dilepaskan dari kejadian yang menyebabkan turbulensi di khazanah sepak bola Indonesia, yakni dualisme kompetisi. Kejadian ini adalah faktor terbesar kekalahan memalukan ini bisa terjadi. Sebab, apabila tidak terjadi dualisme, Timnas pastinya bisa bermain dengan skuad yang lebih optimal.

Memangnya kenapa sih kok bisa sampai terjadi dualisme kompetisi? Jadi begini, pada tahun 2010, pernah muncul kompetisi tandingan bernama Liga Primer Indonesia. Kompetisi ini awalnya memang kompetisi ilegal, artinya kompetisi ini diadakan di luar restu PSSI sebagai federasi. Sementara, PSSI sejak 1994 sudah punya liga resmi yang pada saat itu bernama Liga Super Indonesia.

Tapi ya wajar sih kalo Liga Primer tidak membutuhkan pengakuan PSSI, kan kompetisi ini memang diadakan sebagai bentuk perlawanan. PSSI yang saat itu masih dipimpin oleh Nurdin Halid, dinilai kotor dan sangat menutup diri dari upaya pihak luar untuk memperbaiki sepak bola Indonesia. Kondisi seperti inilah yang menjadi pemantik dari terbentuknya Liga Primer.

Namun, kondisi ini berbalik dengan sangat cepat. Kurang lebih setahun setelahnya, Nurdin Halid berhasil ditumbangkan. PSSI akhirnya mengadakan kongres pemilihan ketua umum barunya dan nama Djohar Arifin Husein akhirnya keluar sebagai pemenang. Sejak saat ini, kondisi berubah.

PSSI yang sebelumnya menganggap bahwa Liga Primer adalah liga ilegal, kini menjadikannya sebagai kompetisi resmi. Sebaliknya, Liga Super yang sebelumnya dianggap sebagai kompetisi resmi, kini malah menjadi kompetisi ilegal. Memang hidup kadang tidak bisa ditebak arahnya.

Alhasil, pemain-pemain yang bermain di Liga Super dihukum oleh PSSI. Otomatis, mereka akhirnya terpinggirkan dari daftar pemain yang bisa dipakai oleh Timnas. Masalahnya, para bakat terbaik Indonesia saat itu mayoritas bermain di klub-klub Liga Super. Dari sinilah akar masalah dari kekalahan 10-0 dari Bahrain terjadi. 

Untungnya, kekacauan dualisme liga ini hanya berjalan beberapa musim saja. Pada musim 2014, kompetisi sudah dileburkan menjadi satu lagi. Klub-klub dari Liga Primer dimasukkan ke dalam Liga Super yang pada akhirnya ditunjuk sebagai kompetisi utama.

Dari pembahasan sederhana soal dualisme kompetisi ini kita bisa sedikit memahami mengapa setelah gegap gempita Piala AFF 2010, performa Timnas Indonesia langsung terjun payung. Ya gimana nggak merosot performanya, wong pemain-pemain andalannya dilarang masuk ke Timnas.

 

Skuad Seadanya

Efek dari kisruh di kompetisi lokal ini benar-benar membuat Aji Santoso sebagai pelatih tim nasional sakit kepala. Pelatih yang mendapat tugas berat untuk mengawal Timnas di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2014 itu harus benar-benar memutar otaknya. Ia tak punya banyak pilihan terkait pemain yang bisa dibawa.

Sialnya lagi, Indonesia kala itu tergabung bersama wakil-wakil Asia Barat yang kala itu selalu jadi momok bagi Tim Garuda. Bersama Iran, Qatar, dan Bahrain, Indonesia tak sekalipun menang dan hanya jadi bulan-bulanan. Yang paling parah? Jelas laga lawan Bahrain. Laga fenomenal yang tak bisa dihapuskan dari sejarah sepak bola Indonesia.

Laga melawan Bahrain tersebut merupakan laga terakhir di Grup E. Indonesia sudah jelas tidak lolos setelah gagal meraih satu pun poin pada lima laga sebelumnya. Tak hanya itu, Indonesia juga sudah terbobol 16 gol dan hanya mampu mencetak 3 gol saja.

Setelah tak memiliki harapan untuk lolos dan kenyataan sulitnya mencari pemain, Aji Santoso akhirnya memutuskan berangkat ke Bahrain dengan kekuatan seadanya. Saking seadanya skuad ini, hampir semua pemain yang diturunkan dalam daftar 11 pemain pertama merupakan para pemain debutan.

Hanya Ferdinand Sinaga, Irfan Bachdim, dan Syamsidar saja yang bukan pemain debutan. Bayangkan saja, Timnas yang seharusnya bisa bermain dengan nama-nama seperti Firman Utina hingga Boaz Solossa, terpaksa bermain dengan skuad minim pengalaman karena ketidakjelasan kompetisi. Dan itu menghadapi tim Timur Tengah sekelas Bahrain yang waktu itu dilatih mantan pemain Tottenham Hotspur, Peter Taylor.

“Tapi ya sudah, jalani saja,” mungkin kira-kira seperti itu yang terbayang dipikiran Aji Santoso. Kepasrahan ini langsung diberi cobaannya di awal laga. Kiper Timnas, Syamsidar sudah diganjar kartu merah di menit ke-3 karena melanggar pemain Bahrain. Dari momen inilah petaka 10-0 dimulai. Bahrain berhasil mengonversi penalti dari pelanggaran Syamsidar dan 9 gol berikutnya menyusul secara berurutan.

Laga debut Diego Michiels ini pada akhirnya menjadi laga yang paling memalukan. Saking memalukannya, laga ini ternyata memecahkan rekor kekalahan terbesar Timnas Indonesia. Skor 10-0 ini memecahkan rekor anak asuh Aang Witarsa yang dilumat Denmark 9-0 di Kopenhagen pada tahun 1974. Memecahkan rekor memang bagus sih, tapi kalo rekornya semacam ini, ya mending nggak dulu.

 

Dugaan Pengaturan Skor

Skor tak lazim ini akhirnya menjadi sensasi di dunia internasional. Sepak bola Indonesia menjadi sorotan di seluruh dunia. Tim yang dua tahun lalu menjadi salah satu yang terbaik di wilayahnya, kok bisa-bisanya kalah telak tanpa mampu melawan? Semisal kalahnya hanya di marjin 3-0 hingga 5-0 mungkin masih bisa dicerna, lah ini 10-0. Jelas ini merupakan sesuatu yang tak wajar.

Bau anyir mulai menyeruak, selain karena sepak bola Indonesia saat itu sedang busuk-busuknya, dugaan pengaturan skor pun ikut naik menjadi topik utama. Suudzon ini muncul bukan tanpa alasan. Sebab, pada laga itu Bahrain punya peluang untuk lolos ke babak selanjutnya dengan dua syarat. Pertama, mereka harus menang dengan selisih lebih dari 9 gol atas Indonesia dan kedua, Qatar harus kalah dari Iran.

Berdasarkan kemungkinan tersebut, dugaan main mata antara Indonesia dan Bahrain bisa saja terjadi. Karena mencetak lebih dari 9 gol bukanlah hal yang mudah. Jika syaratnya hanya mencetak lebih dari 2 hingga 3 gol, itu lebih masuk akal untuk dilakukan. Tapi untuk 9 gol? Sepertinya harus ada yang dikorbankan. 

Meski FIFA mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya akan menginvestigasi hasil pertandingan ini, kasus ini pada akhirnya menguap begitu saja. Tak hanya itu, Bahrain pun gagal lolos ke babak selanjutnya meski sudah unggul selisih gol dari Qatar. Sebab, di laga lain, Iran dan Qatar berbagi angka 2-2 sehingga Qatar unggul 1 poin dari Bahrain.

Sumber: Bola, Goal, The Guardian, RMOL, dan Inside Indonesia

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru