Meraih banyak gelar dan pencapaian bersama klub yang dibela, bukan berarti sang pemain juga memiliki koneksi yang hangat dengan klub tersebut. Terkadang, para pesepakbola hanya menganggap klub tak ubahnya sebuah kantor. Tempat di mana mereka bekerja dan menghasilkan uang. Tak lebih. Dan salah satu pemain yang mengamini pemahaman seperti itu adalah Gareth Bale.
Legenda Tottenham itu tumbuh dengan kecintaan yang luar biasa terhadap sepakbola. Namun, setelah bermain untuk Real Madrid, sudut pandangnya berubah 180 derajat. Bale jadi tidak bisa menemukan kebahagiaan dari olahraga yang dulu ia gemari itu. Hubungan toxicnya dengan seluruh elemen yang ada di Madrid membuat Gareth Bale kehilangan passion bermain sepakbola. Lantas, bagaimana hal itu bisa terjadi?
Daftar Isi
Jadi Pemain Termahal di Dunia
Ketika di Inggris, Gareth Bale dianggap sebagai salah satu talenta terbaik di angkatannya. Dirinya bahkan sudah masuk ke Timnas Wales senior di usianya yang baru 16 tahun. Dan bergabung dengan Tottenham adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidupnya. Bersama tim yang identik dengan lambang ayam itu, Bale mengalami lonjakan performa yang signifikan.
Peningkatan yang jelas terlihat adalah naluri menyerangnya. Kala itu, Harry Redknapp yang masih menukangi Spurs jadi orang pertama yang menyadari hal itu. Menurutnya, meski Bale berkembang di Inggris, tipikal bermainnya mengingatkan pada bek-bek Brazil yang doyan nyekill dan membantu lini serang.
Pelatih kawakan itu ingin Bale bisa tampil lebih menyerang karena sang pemain sangat baik dalam melakukannya. Akhirnya, Bale pun dipasang sebagai sayap dalam formasi 4-2-3-1. Posisinya sejajar dengan Luka Modric yang memainkan peran sebagai motor serangan di lini tengah.
Bale mulai nyaman memainkan peran barunya tersebut. Gol dan assist pun mulai mengalir deras dari kakinya. Ia bahkan berhasil mengantarkan Spurs untuk berlaga di Liga Champions musim 2010/11. Tapi bukan itu musim terbaik Bale bersama The Lilywhites. Musim 2012/13 jadi masa-masa terbaik Bale bersama Spurs.
Secara total, ia berkontribusi dalam 40 gol dalam 44 pertandingan di semua kompetisi. Gol-golnya tercipta dari aksi solo run, tendangan mematikan, dan beberapa tendangan jarak jauh yang akurat. Berkat performa menawan itu, di musim panas 2013 Bale jadi pemain termahal di dunia setelah ditebus Real Madrid dengan mahar 101 juta euro.
Awal Musim yang Baik
Los Merengues pun langsung mematenkan posisi Gareth Bale sebagai pemain sayap kanan. Pemain berkebangsaan Wales itu dengan cepat menjadi bagian penting di skuad Real Madrid. Kecepatan, daya ledak, dan tendangan gledeknya telah membuat publik Santiago Bernabeu terkagum-kagum.
Di musim perdananya, Bale langsung menyumbangkan dua gelar sekaligus. Salah satunya adalah trofi Liga Champions musim 2013/14. Kala itu, Madrid mengalahkan Atletico Madrid di final. Itu jadi trofi yang bersejarah bagi Real Madrid. Trofi Liga Champions musim itu jadi yang kesepuluh dalam sejarah klub.
Selama musim tersebut, peran Gareth Bale tak tergantikan di lini depan El Real. Dengan begitu, kontribusi yang diberikan pun optimal. Pemain berkaki kiri itu mengemas 22 gol dan 19 assist di semua kompetisi.
Kita semua tahu, setelah kehadiran Gareth Bale, Real Madrid menciptakan proyek baru bernama trio BBC. Di situ Bale dituntut untuk membangun koneksi dan hubungan baik dengan kedua rekannya, yakni Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema yang sudah lebih dulu bergabung dengan El Real.
Di musim-musim selanjutnya, trio ini jadi kunci permainan Real Madrid. Bale, Benzema, dan Cristiano sulit dibendung. Meski ada salah satu dari ketiganya yang absen, kehebatan Los Galacticos bahkan tidak berkurang sama sekali.
Keganasan mereka bertiga setidaknya bertahan selama tiga musim. Dalam tiga musim tersebut, Gareth Bale dan kolega telah menghadirkan beberapa trofi bergengsi. Setelah musim pertama yang cukup sukses, Bale bahkan sempat kembali membawa pulang Si Kuping Besar ke Madrid pada musim 2015/16.
Cedera Mulai Datang
Setelah musim 2015/16, keutuhan trio BBC mulai goyah. Karena Bale mulai bertemu dengan mimpi buruk para pesepakbola. Ya, mimpi buruk itu bernama cedera. Musim 2016/17, saat Zinedine Zidane ditunjuk untuk menukangi tim, Bale sering absen karena berbagai masalah di kakinya.
Padahal, musim itu Madrid berhasil meraih trofi La Liga. Tapi Bale tidak berkontribusi banyak dalam prosesnya. Dirinya absen di 19 pertandingan La Liga musim 2016/17 karena berbagai alasan. Dari mulai cedera pergelangan kaki, cedera betis, cedera pinggul, hingga akumulasi kartu.
Yang paling parah adalah cedera engkel dan betis. Total, dirinya absen lebih dari 130 hari karena cedera tersebut. Semakin jarangnya Bale tampil untuk Real Madrid, kontribusinya pun ikutan menurun. Di musim 2016/17, Bale hanya mencetak tujuh gol di La Liga. Itu sebuah penurunan drastis, mengingat Bale mengantongi 19 gol di musim sebelumnya.
Di luar rangkaian cedera itu timbul beberapa spekulasi liar tentang penurunan performa Bale bersama Real Madrid. Salah satu yang mencuat ke permukaan adalah hubungannya yang kurang baik dengan Zinedine Zidane.
Kebijakan Zidane
Menurut beberapa sumber, sejak periode pertamanya sebagai pelatih Real Madrid, Zinedine Zidane telah menunjukan gestur kurang sreg dengan gaya bermain Gareth Bale. Pria berdarah Aljazair itu menilai bahwa Bale terlalu egois dan kurang cerdas dalam menghadapi situasi-situasi tertentu.
Menurut Zidane, kecerdasan yang membedakan Bale dengan Cristiano Ronaldo. Pemain asal Portugal itu juga merupakan pemain yang individualis. Namun, Ronaldo memiliki kecerdasan dalam melihat berbagai peluang di lapangan. Satu hal lainnya, Cristiano lebih memiliki ketajaman dalam urusan mencetak gol ketimbang Bale.
Gaya bermain Bale memang identik dengan dribble jarak jauh dan cut inside di sepertiga pertahanan lawan. Menurut Zidane, permainan seperti itu tidak efektif dan bisa membuat Bale cepat lelah. Zidane lebih gemar memainkan sepakbola dari kaki ke kaki atau serangan balik cepat yang melibatkan banyak pemain.
Tapi hal yang paling dipermasalahkan Zidane bukan itu, melainkan kebugaran Gareth Bale. Menurutnya, bisa tersedia dengan kondisi fit setiap pekan adalah nilai plus. Zidane tak memungkiri, Bale punya skill olah bola yang hampir menyamai Ronaldo. Tapi jika terus dibekap cedera, agaknya percuma.
Situasi ini akhirnya membuat Zidane berkesimpulan bahwa Madrid tidak bisa terus menerus mengandalkan Bale. Oleh karena itu, Zidane sempat berganti identitas bermain Madrid dari yang awalnya 4-3-3 menjadi 4-4-2 diamond dengan mengandalkan Isco Alarcon sebagai mesin penggerak di lini tengah.
Hilang Respect
Peralihan skema permainan membuat Gareth Bale mulai kehilangan posisinya di skuad utama. Di musim 2017/18, Bale lebih sering memulai pertandingan dari bangku cadangan ketimbang musim-musim sebelumnya. Meski pada akhirnya Bale tetap terlibat dalam momen-momen penting, posisinya bukan lagi yang nomor satu di skuad. Terutama di Liga Champions.
Sejak saat itu, hubungan Bale dan Zidane sudah tak sama lagi. Mereka layaknya sepasang kekasih yang hubungannya sudah hambar. Masih terlihat bersama, tapi minim komunikasi. Meski begitu, Bale membuktikan bahwa dirinya masih jadi sayap kanan terbaik yang dimiliki Real Madrid. Pemain yang kini sudah pensiun itu mampu mencetak dua digit gol di kompetisi domestik.
Sementara di Liga Champions, Bale memang mencatatkan tujuh penampilan. Tapi hampir semuanya dimulai dari bangku cadangan. Menit bermainnya juga tak menembus 300 menit dalam jumlah laga segitu. Bale baru bisa membungkam kritik setelah tampil maksimal di final. Kala itu, Madrid menghadapi Liverpool di Kiev, Ukraina.
Masuk sebagai pemain pengganti, Gareth Bale langsung mencetak dua gol ke gawang Loris Karius. Salah satu golnya diciptakan dengan cara yang spesial, yakni tendangan salto. Bahkan, gol Gareth Bale tersebut jadi salah satu gol terbaik yang pernah tercipta di laga final Liga Champions.
Selepas laga, bukannya ikut merayakan gelar juara, mantan pemain Southampton itu justru sibuk sendiri dengan wartawan. Awalnya terlihat wajar, karena dirinya terpilih jadi pemain terbaik di laga itu. Tapi, apa yang diungkapkannya ke media cukup mengejutkan. Bale justru memberikan kode bahwa musim 2017/18 adalah musim terakhirnya bersama Los Blancos.
Menuntut Hengkang Tapi Dihalangi
Pernyataan tersebut mengejutkan publik Bernabeu. Karena sebelumnya tak ada tanda-tanda bahwa Gareth Bale akan meninggalkan Real Madrid. Jika benar ingin hengkang, mengumumkannya di laga final dirasa jadi ide yang buruk. Sejumlah fans Madrid pun melempar tatapan sinis pada Bale. Madridista menganggap Bale telah merusak suasana bahagia Real Madrid.
Setelah pernyataan yang kontroversial itu, Gareth Bale tetap bertahan di Madrid. Itu karena Zinedine Zidane dan Cristiano Ronaldo memutuskan hengkang di musim panas 2018. Manajemen Madrid meminta Bale untuk bertahan lebih lama karena lini depan akan sangat rumpang apabila langsung kehilangan dua pemain pilarnya.
Bale pun menyanggupi. Tapi tak adanya Ronaldo membuat ekspektasi klub kepada Bale kian menggunung. Bale dituntut ini dan itu agar bisa menyamai kebesaran Ronaldo. Sayang, El Real seakan lupa bahwa Bale berteman baik dengan cedera. Kembali mengalami gangguan pada Betisnya, Bale kurang maksimal di musim 2018/19.
Apalagi pergantian nakhoda antara Julen Lopetegui dan Santiago Solari bikin Madrid hampir terlempar dari empat besar La Liga. Daripada makin runyam urusannya, akhirnya Los Blancos kembali menunjuk Zinedine Zidane untuk menangani sisa musim 2018/19. Keputusan itu tidak disukai oleh Bale.
Menurut Sky Sport, Bale akhirnya meminta Madrid untuk menjualnya saja ketimbang harus bekerja di bawah asuhan Zidane. Tapi, manajemen klub tidak mengindahkan permintaan Bale. Pemain asal Wales itu sebetulnya punya kesempatan untuk hengkang karena ada ketertarikan dari beberapa seperti Bayern Munchen, Manchester United, dan AC Milan. Tapi Madrid memblokir transfer itu.
Golf, Golf Lagi, Golf Terus
Karena gagal pindah pada musim panas 2019, Bale kembali terjebak di ruangan yang sama dengan Zidane. Situasinya canggung, tapi apa boleh buat. Sesuai prediksi, Bale bukan pilihan utama Zidane di musim 2019/20. Bale yang kembali bermasalah dengan cedera engkel dan betis terus dikesampingkan Zidane. Bahkan ketika sudah fit sekalipun.
Terus merosotnya menit bermain membuat Gareth Bale mulai kehilangan kepercayaan diri. Di sela-sela jadwal kosongnya, sang pemain mulai menekuni hobi barunya yakni golf. Awalnya, olahraga itu hanya untuk pelarian saja. Bermain golf bertujuan untuk menghindari pikiran-pikiran negatif akibat diasingkan dari skuad utama Madrid.
Tapi saking seringnya bermain golf, Bale jadi lupa diri kalau dirinya adalah pesepakbola profesional. Bagi Bale, tiada hari tanpa golf. Bahkan aktivitas media sosialnya kala itu lebih dipenuhi oleh golf ketimbang sepakbola. Dirinya seakan menemukan kebahagiaannya lagi di lapangan golf.
Bahkan beberapa rekannya di Madrid menjulukinya “Golfer” atau “Si Paling golf”. Entah bermaksud sarkas atau bagaimana, tapi julukan itu pertama kali disematkan oleh sang penjaga gawang, Thibaut Courtois. Julukan itu keluar dari mulut Courtois karena melihat Bale yang selalu bermain golf di luar sesi latihan.
Courtois heran karena Bale jarang bersosialisasi dengan pemain-pemain lain. Bale seperti punya kehidupannya sendiri. Kiper asal Belgia itu merasa bahwa Bale hanya menganggap rekan-rekan satu timnya sebagai teman kerja saja. Selebihnya, Bale tak mau menjalin hubungan spesial dengan punggawa Madrid.
Wales, Golf, Madrid
Awalnya, sepakbola dan hobinya itu bisa berjalan beriringan. Tapi lama kelamaan, Gareth Bale seperti lebih memprioritaskan kegiatan golfnya ketimbang sepakbola. Itu karena Bale terkesan menyepelekan masa pemulihan cederanya dengan memilih untuk bermain golf ketimbang latihan ringan atau pergi ke gym.
Fans yang belum move on dengan sikap Bale di Kiev pun kembali tersulut emosinya. Mereka menganggap Bale sudah tidak memiliki passion untuk bermain sepakbola. Sejumlah fans bahkan menekan Madrid untuk segera menjualnya, mengingat Bale memiliki gaji yang sangat tinggi kala itu.
Puncak amarah fans terjadi ketika Bale memenuhi panggilan Timnas Wales di Kualifikasi Euro 2020. Memenuhi panggilan Wales jelas mengherankan bagi Madridista. Sebab, Bale sebenarnya belum 100 persen pulih dari cedera betis. Keputusan Bale ini menimbulkan perdebatan di kalangan fans dan pengamat sepakbola.
Di saat situasi masih gonjang-ganjing, Gareth Bale justru memperkeruh dengan mengibarkan bendera Wales dengan tulisan “Wales. Golf. Madrid” Frasa itu merujuk pada opini dari mantan pemain Real Madrid, Predrag Mijatović yang menganggap bahwa Madrid adalah prioritas ketiga Bale setelah Wales dan golf.
Memang, bendera kontroversial itu bukan milik Bale. Namun, ekspresi gembira yang ditunjukkannya saat bendera tersebut dibentangkan cukup menjadi bukti bahwa pernyataan Mijatovic benar adanya. Melihat ini, fans Madrid pun tidak tinggal diam. Mereka membalas dengan cara memperlakukan Bale dengan buruk di laga melawan Real Sociedad musim 2019/20.
Bale yang masuk di menit 67 menggantikan Rodrygo mendapat cemoohan dan siulan dari fans. Tak cuma itu, mereka juga membentangkan sebuah banner balasan untuk bendera yang dikibarkan Bale bersama Timnas Wales. Banner itu bertuliskan: “Rodrygo. Vini. Lucas. Bale. In that order.”
Hengkang dan Pensiun
Madridista menunjukkan bahwa Bale sekarang cuma urutan keempat, setelah Rodrygo, Vinicius, dan Lucas Vazquez. Perlakuan ini ternyata berdampak pada mental bermain Gareth Bale. Dirinya tidak menyangka bahwa perjuangan dan kerja kerasnya untuk tim dibalas dengan cemoohan cuma gara-gara kesalahan sepele.
Selepas musim 2019/20, hubungan Gareth Bale, Real Madrid, dan fans semakin memburuk. Dirinya bahkan sempat dipinjamkan ke Spurs agar tetap bisa bermain sepakbola tanpa tekanan dan prasangka buruk dari para fans di Madrid. Tapi, semua itu sudah terlambat. Sudut pandang Bale terhadap sepakbola sudah berubah. Hingga pensiun, Bale tidak bisa lagi menemukan kebahagiaan dari sepakbola.
Sumber: Mirror, BBC, Jawa Pos, CNN Indonesia, Goal


