Sensasional! PSG dan Dortmund Bungkam Mulut Besar Dua Raksasa Spanyol

spot_img

Wow, dramatis! Sungguh malam yang penuh kejutan di babak 8 besar UCL. Dua klub wakil Negeri matador, Atletico Madrid dan Barcelona harus menangis meratapi kegagalan mereka lolos ke semifinal.

Dua klub tersebut terkena comeback setelah sebelumnya sesumbar karena menang di leg pertama. Dortmund dan PSG, adalah dua klub yang sukses membungkam mulut besar Atletico Madrid dan Barcelona. Bagaimana itu bisa terjadi?

Sebelumnya, jangan lupa subscribe dan nyalakan loncengnya agar tak ketinggalan sajian menarik dari Starting Eleven Story.

Dortmund yang Disepelekan

Nggak nyangka kan pastinya melihat pencapaian Dortmund di UCL musim ini? Klub berjersey kuning-hitam ini awalnya disepelekan sejak babak grup. Mereka apes kebagian grup neraka bersama Newcastle, PSG, dan Milan. Namun ajaibnya, di luar dugaan anak asuh Edin Terzic ini justru mampu keluar dari lubang jarum. Bahkan nih, mereka bisa jadi juara grup, lho.

Di babak knockout, Dortmund tampil lebih spartan. Meski di liga tak konsisten, mereka selalu menunjukan tajinya di UCL. PSV sang pemuncak Eredivisie yang saat itu belum terkalahkan di liga mampu dihancurkan di babak 16 besar.

Ketika mendapat lawan Atletico Madrid di 8 besar, Edin Terzic mulai berpikir keras bagaimana caranya menghentikan taktik pragmatis ala Simeone yang juga punya mental kuat di UCL. Di leg pertama, terbukti Terzic masih kalah pengalaman dari Simeone. Meski mendominasi laga dengan penguasaan bola, Die Borussen harus K.O dengan gaya pragmatis Simeone.

Drama Dua Gol Dalam Lima Menit

Atletico Madrid di atas angin. Mereka punya modal kuat untuk lolos ke semifinal. Bertandang ke Signal Iduna Park, mereka sesumbar bisa mengatasi Dortmund. Pasalnya secara pengalaman, Atletico kalau sudah unggul di leg pertama kerap sulit untuk dihentikan.

Di laga leg kedua, hampir saja berakhir seri dan Atletico yang akhirnya lolos. Namun, petaka kemudian menimpa Los Colchoneros. Dua kali gol cepat dalam lima menit, menjadi mimpi buruk Atletico. Die Borussen sukses cetak dua gol lewat Julian Brandt dan pemain keturunan Indonesia, Ian Maatsen.

Los Colchoneros sempat bangkit. Simeone membuat perubahan dengan mengganti tiga pemain sekaligus di babak kedua. Hasilnya, Atletico menyamakan kedudukan 2-2 lewat gol bunuh diri Hummels dan gol pemain pengganti Angel Correa.

Namun apa mau dikata, drama dua gol dalam lima menit yang terjadi di babak pertama, kembali terulang. Fullkrug mencetak gol di menit 71. Selang tiga menit, giliran mantan pemain MU, Marcel Sabitzer mencetak gol. Wow, sebuah comeback yang sensasional. Dua gol tersebut benar-benar menghantam mental anak asuh Simeone yang kemudian tak berkutik hingga akhir laga.

Penantian Dortmund, Dan Nasib Sial Atletico

Wasit meniup peluit, dan skor 4-2 menjadi hasil akhirnya. Dortmund lalu merayakan kelolosan mereka ke semifinal dengan agregat 5-4. Wajar, karena sudah 11 tahun lamanya publik Signal Iduna Park menanti timnya itu kembali masuk semifinal UCL. Terakhir kali Die Borussen masuk ke semifinal UCL adalah di musim 2012/13.

Menariknya, di musim tersebut mereka bisa lolos hingga partai puncak. Nah, apakah memori tersebut akan terulang kembali musim ini? Mengingat laga final nanti akan dihelat di stadion yang sama, Wembley. Kalau musim ini bisa masuk final lagi, ini akan jadi momen pembalasan yang tepat bagi Dortmund yang sempat gagal raih juara UCL di Wembley tahun 2013 silam.

Euforia kemenangan Dortmund tersebut sekaligus menjadi nasib sial bagi Atletico Madrid. Dengan kegagalan tersebut, finalis dua kali UCL ini belum bisa lolos lagi ke semifinal UCL sejak tahun 2017. Pasukan Simeone musim ini juga terancam gagal meraih mahkota satu pun. Di La Liga mereka susah merangsek ke puncak klasemen.

Barcelona Sesumbar

Nasib sial juga dialami Barcelona. Barca kembali terkena comeback di UCL. Dulu pelakunya adalah AS Roma dan Liverpool. Sekarang giliran PSG.

PSG asuhan Luis Enrique boleh kalah di leg pertama. Namun mereka tetaplah klub berbahaya yang tak bisa diremehkan begitu saja. Padahal setelah menang di Paris dengan skor 4-3, seakan sudah segalanya bagi Barca. Saking optimisnya, Barca bahkan membuat film pendek tentang perjalanan kemenangan mereka di Paris. Hmmm, sebangga itu ya?

Para fans Barca juga kelewat optimis bisa lolos ke semifinal. Toh leg kedua akan dihelat di rumah sendiri. Bermain di rumah sendiri melawan PSG dianggap hal yang mudah bagi mereka. Mereka tak ingat, di musim 2020/21 mereka pernah dibantai PSG di kandang sendiri 1-4.

Ya, kejadian tersebut nyatanya kembali terulang. Berkat sesumbar dan tak belajar dari kesalahan, Blaugrana dihancurkan lagi oleh PSG dengan skor yang identik 1-4.

Drama Kartu Merah

Kemenangan PSG di kandang Barca tersebut salah satunya disebabkan oleh kartu merah Ronald Araujo di menit 29. Murni memang Araujo salah. Ia adalah orang terakhir yang menjatuhkan Bradley Barcola.

Namun, Xavi tak terima akan hal itu. Ia marah-marah dan menganggap ketidakadilan wasit jadi penyebab kekalahan timya. Ia tak berhenti ceriwis di konferensi pers pasca laga.

Padahal kalah ya kalah aja. Toh nyatanya Barca dibantai sampai 4-1. Bisa saja sebenarnya dengan skema bertahan total, Barca bisa mempertahankan keunggulan agregatnya. Namun mereka tak mampu. Pertahanan mereka amburadul dan banyak blunder. Hasilnya, mereka dihukum dengan mudah oleh Mbappe dan kawan-kawan.

Mantan Yang Menyakitkan

Kegagalan Barca tersebut juga menyisakan luka bagi para fans. Pasalnya beberapa aktor yang menghempaskan mereka adalah sang mantan terindah. Mereka adalah pelatih Luis Enrique dan Ousmane Dembele.

Dembele yang dianggap publik Barca tak tahu balas budi itu, menjadi aktor antagonis di pertemuan dua leg ini. Di leg pertama, ia mencetak gol dan berselebrasi dengan cara meluap-luap. Hal tersebut bahkan sempat dikecam publik Barca.

Namun Dembele tak tertekan. Meski disoraki di kandang Barca, ia malah sekali lagi membuat publik Barca muak. Pasalnya, pemain Prancis itu dengan antusias bertepuk tangan ketika kartu merah diterima Araujo. Apalagi nih, di akhir laga Dembele dianugerahi Man of The Match. Ditambah, senyuman Dembele di pinggir lapangan yang makin membuat publik Barca geram.

Tak hanya Dembele saja mantan yang menyakiti Barca. Sang entrenador Luis Enrique juga. Di sini Xavi harusnya malu dan tunduk pada senior sekaligus gurunya itu. Xavi terbukti kalah pengalaman dari Enrique. Oh iya, ini adalah semifinal kedua Enrique di UCL. Sebelumnya ketika mengantarkan Barca ke semifinal UCL 2014/15, ia akhirnya keluar sebagai juara. Apakah musim ini ia akan mengulanginya lagi?

Bagi Barca, kegagalan ini adalah sebuah tamparan besar. Mereka terancam puasa gelar musim ini. Di La Liga, mereka masih keteteran membuntuti El Real di puncak klasemen. Yang lebih mengenaskan lagi, ada kabar terbaru bahwa dengan kekalahan ini Barca dipastikan gagal ikut kompetisi Piala Dunia Antarklub 2025 mendatang. Kasihan banget ya Barca ini.

Sumber Referensi : onefootball, transfermarkt, onefootball, dailymail, onefootball, cbssports, barcauniversal

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru