Ada yang Sampai Juara! 7 Perjuangan Heroik Tim Kejutan di Piala Eropa

spot_img

Tahun 2024 adalah tahunnya sepakbola Eropa. Pesta sepakbola empat tahunan, Euro akan dihelat tahun ini di Jerman. Jutaan pasang mata dunia sudah tak sabar ingin melihat performa tim-tim besar jagoan mereka di ajang ini. Namun tunggu dulu, yang lebih menarik dinanti dari itu semua adalah gebrakan dari tim kejutan yang selalu mewarnai perjalanan Euro. Jangan remehkan perjuangan tim kejutan di ajang ini. Bahkan ada lho yang sampai jadi juara.

Denmark (Euro 1992)

Euro 1992 dihelat di Swedia. Namun ajang ini hanya diikuti oleh delapan tim saja. Kelolosan Denmark saat itu banyak disorot sebelum ajang ini dimulai. Pasalnya, keikutsertaannya di Euro 1992 ini hanyalah rejeki nomplok. Denmark hanya menggantikan pesaingnya di babak playoff yakni Yugoslavia yang didiskualifikasi UEFA karena masalah politik.

Sejak babak grup, langkah anak asuh Richard Moller Nielsen juga tak mudah. Mereka harus mengakui kekalahan tim tuan rumah Swedia, dan akhirnya hanya duduk sebagai runner up grup.

Namun ketika masuk semifinal melawan Belanda, mereka justru mampu membuat kejutan. De Oranje asuhan Rinus Michel yang diperkuat pemain seperti Van Basten maupun Ruud Gullit, kewalahan menghadapi semangat teamwork dari Brian Laudrup dan kawan-kawan. Sampai akhirnya De Oranje harus menyerah lewat babak adu penalti.

Ketika berhasil masuk final, boro-boro mereka mikirin juara, Mereka hanya larut dalam pencapaian tersebut. Mereka masuk final saja sudah bangga. Toh lawan yang akan mereka hadapi di final terbilang berat yakni Jerman Barat. Denmark tak diunggulkan di laga tersebut. Mereka nothing to lose.

Namun keajaiban pun datang di bulan Juni 1992. Tampil sebagai underdog, secara mengejutkan penampilan spartan Denmark kembali muncul. Mereka di luar dugaan mengalahkan Jerman Barat 2-0 tanpa balas. Meski kemenangan tersebut dicibir banyak pihak karena permainan backpass ke kiper yang dilakukan Denmark, namun tetap Denmark sudah mencatatkan sejarah yang tak terlupakan sebagai juara Eropa.

Ceko (Euro 1996)

Euro 1996 yang dihelat di Inggris, juga jadi panggung bagi tim kejutan. Bukan lagi Denmark, melainkan Ceko. Keikutsertaan Republik Ceko sebagai sebuah negara di Euro 1996 adalah untuk kali pertama.

Sebagai negara debutan di Euro 1996, tak ada yang menyorot skuad besutan Dusan Uhrin tersebut. Di skuad, hanya ada tujuh pemain yang bermain di liga luar. Sisanya adalah pemain yang bermain di liga lokal Ceko.

Melihat lawan Ceko di babak grup pun tergolong berat, yakni Italia, Jerman, dan Rusia. Terlihat di laga pertama, Ceko sudah tak berdaya dikandaskan Jerman.

Akan tetapi, semangat kebangkitan mereka muncul di laga kedua melawan Italia. Gli Azzurri yang diarsiteki Arrigo Sacchi, kewalahan menggempur pertahanan Ceko saat itu. Italia justru kecolongan gol oleh Pavel Nedved. Publik terkejut ketika tim berjuluk The Locomotive itu menang atas Italia dan akhirnya bisa lolos ke babak berikutnya.

Tak sampai di situ saja kejutan Ceko. Setelah Italia yang jadi korban, kini giliran Portugal. Sama seperti Italia, tim yang dihuni Luis Figo tersebut juga kewalahan dengan kesolidan pertahanan Ceko. Langkah Portugal akhirnya terhenti berkat gol chip indah Karel Poborsky.

Ceko sekali lagi mengejutkan di babak semifinal dengan melewati hadangan tim unggulan Prancis lewat babak tos-tosan. Tak ada yang menyangka Ceko bisa melangkah hingga babak final. Publik pun banyak menyoroti beberapa performa mentereng punggawa Ceko seperti Nedved, Poborsky, maupun Smicer yang akhirnya banyak dikenal sebagai generasi emas.

Namun sayang perjuangan heroik tim debutan itu harus disudahi lewat cara yang mengenaskan di final oleh Jerman. Di Wembley, Ceko kalah lewat gol emas Oliver Bierhoff di babak perpanjangan waktu.

Yunani (Euro 2004)

Kejutan berlanjut di Euro 2004 yang dihelat di Portugal. Kali ini tim kejutannya adalah Yunani. Yunani saat itu bukanlah tim yang terpandang di ajang ini. Materi timnya pun ala kadarnya. Tak ada bintang yang menonjol. Pelatihnya pun hanya pelatih kawakan, Otto Rehhagel. Di babak grup musuh mereka juga berat, yakni Portugal, Spanyol dan Rusia.

Namun sejak awal laga, tim berjuluk Ethniki itu sudah mampu mengejutkan dengan mengalahkan tuan rumah Portugal yang dihuni CR7 dan kawan-kawan. Kemenangan tersebut diraih dengan permainan yang mengandalkan kekompakan tim dan pemanfaatan bola mati.

Ketika mencapai babak knockout, permainan khas Yunani tersebut masih konsisten diterapkan. Juara Euro 2000 Prancis kini jadi korbannya. Tim Ayam Jantan kalah tipis oleh sundulan Angelos Charisteas di perempat final. Lalu generasi emas Ceko di babak semifinal juga takluk lewat skema bola mati dari corner.

Benar-benar nggak nyangka Yunani bisa sampai final. Mereka ditunggu tuan rumah Portugal lagi di final. Sebagai tuan rumah dan aroma balas dendam, banyak pihak yang menjagokan Portugal di laga tersebut.

Namun, bola itu bundar. Dengan kegigihan dan teamwork yang solid, Yunani untuk kedua kalinya mampu menumbangkan sang tuan rumah. Lagi-lagi lewat skema bola mati corner Yunani mampu ciptakan gol. Ya, kisah Cinderella pun akhirnya terjadi. Sang underdog Yunani jadi juara Eropa.

Turki dan Rusia (Euro 2008)

Euro 2008 adalah gelaran Euro pertama kali yang dihelat di dua negara sekaligus yakni Austria dan Swiss. Edisi Euro tersebut memang yang juara Spanyol, namun siapa sangka di babak semifinal bercokol dua tim kejutan yakni Rusia dan Turki.

Sebagai underdog, sejak babak grup Turki sudah menunjukkan tajinya. Bermaterikan pemain seperti Arda Turan hingga Hamit Altintop, mereka tampil spartan dengan serangan-serangan sporadis. Tuan rumah Swiss dan tim unggulan Ceko mereka tumbangkan di fase grup.

Kejutan yang dihadirkan tim asuhan Fatih Terim tak berhenti sampai di situ. Timnya Luka Modric, Kroasia berhasil mereka tumbangkan lewat perjuangan tanpa lelah hingga babak tos-tosan. Lalu di babak semifinal, sebenarnya Turki bisa mengimbangi Jerman hingga menit akhir laga. Namun sayang, gol di menit 90 dari Philipp Lahm akhirnya menghentikan langkah mereka.

Langkah kejutan Turki tersebut mirip dengan Rusia. Tim asuhan Guus Hiddink performanya sudah mengejutkan sejak di babak grup. Bermaterikan pemain dengan skill individu mumpuni seperti Andrey Arshavin maupun Roman Pavlyuchenko, Rusia mampu mengalahkan juara bertahan Yunani dan Swedia di babak grup.

Yang sungguh di luar dugaan, performa skill individu yang konsisten dari anak asuh Guus Hiddink tersebut mampu menumbangkan tim unggulan Belanda asuhan Van Basten di perempat final.

Ya, hasil itulah yang membuat tim ini banyak dibicarakan di media-media Eropa. Terutama potensi para pemainnya seperti Arshavin maupun Pavlyuchenko yang akhirnya laris manis diburu klub top Eropa pasca ajang ini. Namun sayang, sama seperti Turki, langkah Rusia terhenti di semifinal ketika dikandaskan Spanyol.

Wales (Euro 2016)

Di ajang Euro 2016 yang dihelat di Portugal, siapa yang menyangka tim seperti Wales mampu mengejutkan Eropa. Padahal tim ini juga baru debut di ajang ini. Materi pemainnya juga tak sementereng tim unggulan lainnya. Mungkin hanya ada Gareth Bale maupun Aaron Ramsey yang menonjol di skuad asuhan Chris Coleman ini.

Bermain pragmatis dengan format 3-5-2 membuat mereka sulit dijebol. Chris Coleman dalam menciptakan peluang sering mengandalkan serangan balik. Justru dengan taktik tersebut, Wales di luar dugaan sukses lolos sebagai pemuncak grup di atas Inggris, Rusia, dan Slovakia.

Target tim berjuluk The Dragons ini sebenarnya hanya lolos sampai fase knockout saja. Namun sebagai pelatih, Chris Coleman terus berupaya membawa Wales sejauh mungkin di ajang ini.

Dengan sistem permainan yang konsisten sejak babak grup, Gareth Bale dan kawan-kawan di luar dugaan mampu melaju hingga babak semifinal. Mereka mengalahkan Irlandia utara di 16 besar, dan generasi emas Belgia di perempat final. Berkat pencapaian tersebut, Wales menjadi tim kedua di Britania Raya yang bisa lolos ke semifinal Euro setelah Inggris.

Sayang, langkah The Dragons untuk bermimpi hingga partai puncak terhenti di semifinal oleh Portugal. Gol dari Nani dan CR7 menghentikan kejutan yang dibuat Wales di ajang ini.

Denmark (Euro 2020)

Euro 2020 yang dihelat di 11 negara, juga memunculkan tim kejutan yakni Denmark. Tim dinamit dibawah asuhan Kasper Hjulmand tampil di ajang ini dengan status kuda hitam. Bermaterikan pemain seperti Simon Kjaer maupun Christian Eriksen, Denmark coba mengulangi peruntungan mereka seperti Euro 1992.

Tapi nahas, di dua laga awal fase grup performa mereka melempem. Mereka kalah atas Finlandia dan Belgia. Beruntung di laga terakhir grup yang diwarnai peristiwa kolapsnya Eriksen, Denmark mampu melibas Rusia 4-1. Berkat hasil tersebut, Denmark akhirnya lolos ke babak berikutnya berkat selisih gol.

Bangkit dan persembahkan yang terbaik bagi Eriksen. Itulah yang yang terus ditanamkan pelatih Hjulmand kepada skuad tim dinamit di babak knockout. Semangat tersebut ditambah dengan permainan yang efektif dan efisien ala Hjulmand, akhirnya bisa membawa mereka ke semifinal. Wales dan Ceko mereka hentikan di babak 16 besar dan perempat final.

Tak menyangka, selangkah lagi Denmark kembali masuk final seperti Euro 1992. Namun sayang, di semifinal mereka harus memendam nostalgia indah tersebut karena kandas oleh Inggris di babak perpanjangan waktu. Namun paling tidak, inilah semifinal kedua Denmark di Euro setelah penantian 28 tahun lamanya.

Sumber Referensi : theguardian, inews.co, theguardian, bleacherreport, theringer, bbc.com

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru