Kalau menyoal bomber-bomber timnas Indonesia di Piala AFF terdahulu, kita ingat nama-nama macam Kurniawan, Bambang Pamungkas, Gendut Doni, hingga Rochy Putiray. Deretan striker lokal Indonesia yang terbukti moncer pada zamannya.
Seiring berkembangnya zaman, kini deretan bomber timnas sejak 2010, diisi beberapa bomber asing naturalisasi. Tren naturalisasi memang menghinggapi banyak negara di ASEAN ketika itu, bahkan hingga sekarang.
Namun muncul pertanyaan, apakah peran jejak para bomber naturalisasi tersebut mampu melebihi apa yang dicapai oleh para bomber lokal di Piala AFF?
Naturalisasi Timnas Indonesia 1952 dan Berulang Lagi Di 2010
Banyak yang mengira fenomena naturalisasi di tubuh timnas Indonesia dimulai ketika Cristian Gonzales pada 2010. Namun, catatan sejarah menunjukkan naturalisasi ternyata pertama kali dilakukan pada 1952 silam.
Ketika itu, timnas Garuda punya kiper keturunan Belanda yang dinaturalisasi bernama Van der Vin. Debutnya terjadi ketika melawan Hongkong pada Juli 1952. Selama berseragam Merah Putih, Van der Vin tampil sebanyak 15 kali di bawah mistar gawang tim Garuda.
Van der Vin, Pemain Naturalisasi Pertama Indonesia yang Pernah Permalukan Ferenc Puskas https://t.co/dw2y4pzIYm pic.twitter.com/XPnsbvS4wz
— INDOSPORT (@indosportdotcom) February 19, 2017
Nah, barulah setelah 58 tahun lamanya, tahun 2010 menjadi awal kembalinya proses naturalisasi. Striker Uruguay bernama Cristian Gonzales akhirnya menjadi pemain naturalisasi berikutnya bagi timnas. Namun, proses naturalisasinya dulu dialami dengan sebuah pengorbanan.
El Loco mengaku ketika itu prosesnya cukup lama. Di mana syaratnya untuk naturalisasi adalah harus tinggal selama lima tahun terlebih dahulu dan tak boleh pulang ke kampung halaman. Namun akhirnya pengorbanan itu pun berbuah manis bagi timnas.
Piala AFF 2010 menjadi debut Timnas Indonesia menggunakan pemain naturalisasi. Pemanggilan El Loco ke timnas bukan tanpa alasan, karena ketika itu ia beberapa kali menjadi top skor di Liga Indonesia.
Tiga gol dan beberapa peran pentingnya mengomandoi lini penyerangan timnas Garuda membuat Indonesia kembali masuk ke final. Meski belum juara, paling tidak fenomena striker asing naturalisasi terbukti ampuh membawa pengaruh baik di tubuh timnas.
Cristian Gonzales jg punya kenangan manis saat melawan Filipina di piala AFF 2010. gol nya menjadi penentu kemenangan Indonesia #AYOGARUDA pic.twitter.com/4EYJ80pYnM
— NET SPORT (@NETSPORT_ID) November 22, 2016
Mereka Yang Mengikuti Jejak Gonzales
Setelah sukses dengan fenomena Gonzales, publik tanah air maupun PSSI berusaha mencari penerusnya. Namun, ketika itu keretakan tubuh PSSI dengan adanya dualisme kepengurusan pada 2012 membuat publik kecewa dan bingung.
Jelang Piala AFF 2012, salah satu kepengurusan yang diakui ketika itu mencoba menaturalisasi beberapa pemain, termasuk striker asal Belanda, Jhon Van Beukering.
Pemain yang kini menjadi satpam di Belanda tersebut, awalnya diyakini kurang cocok sebagai bomber timnas. Mengingat badannya dianggap terlalu gemuk. Hal itu juga dikomentari pelatih timnas ketika itu, Nilmaizar.
Tak kunjung dapat beradaptasi dengan masalah fisik, ia benar-benar dicadangkan di Piala AFF. Van Beukering hanya diturunkan sekali ketika menghadapi Malaysia dan berakhir kalah 2-0.
Jelang Indonesia vs Timor Leste nanti di SEA Games. Mari kita throwback ketika John Van Beukering bermain untuk Indonesia dan cetak satu asis untuk Bambang Pamungkas pic.twitter.com/8EbDnGNXPW
— Box2Box Football Podcast (@Box2BoxBola) May 10, 2022
Setelah adanya rekonsiliasi di tubuh PSSI jelang Piala AFF 2014, muncul lagi bomber naturalisasi yang diharapkan meniru kesuksesan Gonzales. Ia bernama Sergio Van Dijk.
Bermain lama di Liga Belanda kemudian moncer di Australia bersama Adelaide United, Darah Indonesia Van Dijk mulai terendus timnas untuk dijadikan calon bomber berikutnya. Setelah lama diincar, Van Dijk baru bersedia dinaturalisasi ketika ia diputus kontrak Adelaide United pada 2013.
#OTD 23 Maret 2013
Sergio van Dijk debut bersama Timnas Indonesia. Tiga bulan kemudian, ia ikut laga uji coba vs Belanda.
Setelah dua pertandingan, van Dijk hilang bak ditelan bumi.
Naturalisasi harus beriringan dengan pembinaan dan pengembangan pemain muda lokal. pic.twitter.com/r2cUm2f1pi
— PanditFootball.com (@panditfootball) March 23, 2022
Langsung bergabung dengan Persib Bandung pada ISL 2013, ia sukses menorehkan 21 gol dan 10 assist. Sebuah modal penting bagi skuad racikan Alfred Riedl di Piala AFF 2014.
Namun, Van Dijk justru melempem di Piala AFF 2014. Tak satupun gol yang ia cetak ketika dipercaya sebagai starter di tiga pertandingan fase grup. Justru striker lokal yang mampu menciptakan gol seperti Zulham Zamrun maupun Samsul Arif.
Berikutnya di Piala AFF 2018, muncul nama bomber naturalisasi lain yakni Beto Goncalves. Menjadi catatan penting bagi timnas, karena di Piala AFF sebelumnya, mereka mampu melenggang ke partai final tanpa striker naturalisasi. Ferdinand Sinaga, Boaz Solossa, Zulham Zamrun, maupun Lerby Eliandry terbukti menjadi pilar sukses mengantarkan timnas ke final kelimanya di Piala AFF 2016.
Namun di 2018, Beto muncul sebagai alasan penambahan striker haus gol di lini depan timnas. Beto yang dinaturalisasi awal tahun 2018, memang terbukti sebagai bomber haus gol di level klub.
Akan tetapi, berbanding terbalik ketika di timnas. Ia menjadi starter di empat pertandingan, tapi hanya mampu menceploskan satu gol saja. Itu pun ketika melawan tim lemah Timor Leste.
#BolanetHighlights https://t.co/WtWTC686mD – Piala AFF 2018: Indonesia 3-1 Timor Leste | 60′ Alfath, 68′ Lilipaly, 83′ Beto; 48′ Rufino Walter Gama
📷: @affsuzukicup pic.twitter.com/2r8iqcK4cz
— Bola (@Bolanet) November 14, 2018
Di Piala AFF 2020 kembali hadir bomber naturalisasi baru. Coach Shin memanggil pemain naturalisasi yang sempat membela Timnas Belanda U-17, Ezra Walian. Proses naturalisasinya juga dipengaruhi oleh “tidak dibutuhkannya” lagi Ezra di Belanda.
Media Asing Sebut Ezra Walian Penuhi Syarat untuk Perkuat Indonesia di Ajang AFF https://t.co/X43m9I1Vp6 pic.twitter.com/tefMSD7lZa
— Bolalob.com (@Bolalob) December 10, 2018
Ezra dinaturalisasi sejak 2017. Di 2019, ia berseragam PSM Makassar dan mulai membela timnas U-23. Namun pada 2021, ia beralih baju ke Persib Bandung.
Bersinarnya Ezra di Piala Menpora 2021 bersama Persib, membuat Shin Tae-yong meliriknya sebagai calon bomber baru timnas jelang Piala AFF. Ia bersaing dengan para striker lokal macam Hanis Saghara, Kushedya maupun Dedik. Di Piala AFF, ia mampu tampil sebagai starter sebanyak empat kali, dan dua kali sebagai pemain pengganti. Dari enam laga yang dijalaninya, ia hanya mencetak dua gol.
Di Piala AFF 2022 ada nama Ilija Spasojevic. Kisah pemanggilan Spaso ini juga cukup unik. Di 2021, ia sempat jengkel ketika jadi top skor di Bali United, namun tak kunjung dapat panggilan dari Coach Shin. Coach Shin beralasan ketika itu tak butuh pemain tua yang lambat dalam skema permainannya. Akan tetapi, akhirnya Shin Tae-yong memanggil Spaso dengan alasan membutuhkan sosok target man.
Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong membela Ilija Spasojevic yang dianggap kurang garang saat pertandingan melawan Kamboja. Shin Tae-yong pun yakin kedepannya Spaso akan tampil lebih baik lagi.
.
Komentar kalian? 🤔 #ilijaspasojevic #shintaeyong pic.twitter.com/luuMZHsJQn— Bola (@Bolanet) December 24, 2022
Apakah Peran Mereka Lebih Baik Dari Striker Lokal?
Dari deretan para bomber naturalisasi tersebut, apakah performanya melebihi apa yang pernah diraih striker lokal kita? Catatan sejarah berbicara, pemegang beberapa gelar top skor Piala AFF maupun pemegang rekor gol sepanjang masa timnas justru diraih oleh para pemain lokal.
Sebagai yang paling moncer dan fenomenal sebagai bomber naturalisasi, mungkin hanyalah Cristian Gonzales yang mencetak 3 gol di Piala AFF 2010. Berbeda dengan torehan para striker lokal di Piala AFF. Sebagai contoh, top skor Piala AFF 2000 dipegang Gendut Doni (5 gol), Piala AFF 2002 dipegang Bambang Pamungkas (8 gol), serta Piala AFF 2004 dipegang Ilham Jayakesuma (7 gol).
Di ajang yang sama – Piala Tiger 2004, Ilham Jayakesuma menjadi top skorer dengan catatan 7 gol pic.twitter.com/tv5NecHi
— IndonesiaSatu (@IndonesiaSatuFC) December 16, 2011
Jauh sebelum itu juga ada Kurniawan Dwi Yulianto. “Si Kurus” yang kini bahkan tercatat sebagai pemegang rekor gol terbanyak Timnas Indonesia di Piala AFF dengan 13 golnya dari 1996 hingga 2004.
Top skor sepanjang masa Indonesia di Piala AFF adalah Kurniawan Dwi Yulianto dengan 13 gol.
13 gol tersebut dicetak pemain asal Magelang, Jawa Tengah ini di turnamen tahun 1996, 1998, 2000, 2002 dan 2004.
Ada yang bisa mematahkan rekor ini? Ditunggu 😉#TimnasDay pic.twitter.com/q4jVR9pd0k
— StatsRawon (@RawonStats) December 23, 2022
Jauh lagi sebelum kegarangan Bambang Pamungkas maupun Kurniawan, timnas juga punya striker mematikan yang ditakuti di dunia bernama Soetjipto Soentoro. Ia adalah pencetak rekor gol terbanyak sepanjang masa timnas Indonesia hingga sekarang dengan torehan 57 gol dari 68 kali penampilan. “Gareng”, sapaan akrabnya menorehkan catatan manis tersebut pada tahun 1965-1970.
Buat kalian yang menanyakan
“Siapa Topskor sepanjang masa Timnas Indonesia?”
Ya, ia adalah Soetjipto Soentoro dengan torehan 57 gol dari 68 kali penampilan.
Gareng, sapaan akrabnya menorehkan catatan manis tersebut pada tahun 1965-1970 pic.twitter.com/ixMSsJkXFX
— #Liga1NeedForeignRefs (@Indostransfer) December 17, 2019
Sumber Referensi : bola.kompas, indosport, bola.kompas, cnnindonesia, bola.okezone, bola.com, bolatimes


