Erling Haaland dan Deretan Pemain yang Sukses Menghindari “Bundesliga Tax”

spot_img

14 gol dalam 10 pertandingan pertama. Itulah catatan gol Erling Haaland bersama tim barunya, Manchester City di awal musim 2022/2023. Sebagai seorang rekrutan anyar, catatan tersebut telah melampaui ekspektasi semua orang.

Dari 14 gol yang sudah Haaland buat, 3 di antaranya Haaland cetak di ajang Liga Champions. Prestasi tersebut menjadikannya sebagai top skor sementara Liga Champions musim ini, bersama dengan Kylian Mbappe dan Robert Lewandowski.

Sementara itu, 11 gol lainnya ia buat hanya dalam 7 penampilan perdananya di Premier League. Lagi-lagi, catatan tersebut menjadikan Erling Haaland sebagai pemuncak top skor sementara Premier League. Sebuah catatan yang terlampau impresif untuk seorang pendatang baru.

Pencapaian Erling Haaland sejauh ini sudah lebih dari cukup untuk membungkam para pengkritiknya. Sebelumnya, beberapa pihak menilai kalau Haaland perlu beradaptasi terlebih dahulu dengan atmosfer ketat Liga Inggris.

“Bundesliga Tax”, Momok Alumni Bundesliga di Premier League

Seperti yang kita tahu, Erling Haaland baru didatangkan Manchester City di bursa transfer musim panas kemarin. Putra Alf Inge Haaland itu ditebus The Citizens dengan banderol 60 juta euro dari klub Bundesliga, Borussia Dortmund.

Selama berseragam Dortmund, Haaland telah mencetak 86 gol dalam 89 penampilan. Khusus di ajang Bundesliga, ia rata-rata mencetak 1 gol setiap 87 menit berada di lapangan.

Di musim terakhirnya di Dortmund, Haaland berhasil mencetak 29 gol dan 8 asis hanya dalam 30 pertandingan. Banyak pihak yang ragu kalau Haaland akan mampu mengulang kesuksesan tersebut di Inggris. Beberapa pihak bahkan menilai kalau Haaland akan jadi pembelian flop karena efek “bundesliga tax”.

“Bundesliga Tax” sendiri merupakan sebuah fenomena aneh yang mengacu pada penurunan performa yang terjadi ketika seorang pemain, khususnya yang berposisi sebagai penyerang, pindah dari Bundesliga ke Premier League. Memang, tak sedikit alumni Bundesliga yang gagal melanjutkan performa apiknya begitu pindah ke tanah Inggris.

Akan tetapi, banyak yang tidak percaya kalau “bundesliga tax” benar adanya. Sebab, konsep “Bundesliga Tax” sendiri muncul pertama kali dari diskusi penggemar sepak bola. Namun, beberapa hasil penelitian dari analis sepak bola ternama berhasil membuktikan kalau fenomena aneh itu benar terjadi.

Salah satu analis yang membuktikan fenomena aneh itu adalah Tony ElHabr. Ia telah memperkirakan kalau pemain Bundesliga yang pindah ke Premier League dapat mengalami penurunan angka expected goals hingga 0,07 per game.

Sementara dengan menggunakan model Possession Value untuk menilai aksi pemain yang berdampak pada pertandingan, Tony ElHabr memperkirakan bahwa pemain Bundesliga setidaknya akan mengalami penurunan kontribusi sebesar 17% setelah mereka pindah ke Premier League.

Inilah yang jadi penjelasan kenapa Timo Werner gagal di Chelsea dan Jadon Sancho mengalami musim buruk di musim pertamanya bersama Manchester United. Dibeli dengan harga 47,7 juta pounds, Timo Werner gagal meneruskan performa apik yang ia perlihatkan bersama RB Leipzig.

Di musim terakhirnya di RB Leipzig, Werner mampu mencetak 28 gol. Sayangnya, dalam 2 musimnya berlaga di Premier League, ia hanya berhasil mencetak 10 gol. Bomber timnas Jerman itu sebelumnya mampu mencetak 1 gol di setiap 179 menit penampilannya di Bundesliga. Namun, saat di Chelsea, ia baru bisa mencetak 1 gol di setiap 389 menit penampilannya di Premier League.

Sementara itu, Jadon Sancho hanya mampu menghasilkan 3 gol dan 3 asis dalam 29 penampilannya di Liga Inggris usai didatangkan MU dengan banderol 73 juta pounds. Padahal, di musim terakhirnya di Dortmund, Sancho mampu menghasilkan 8 gol dan 11 asis hanya dalam 26 penampilan di Bundesliga.

Selain dua nama tersebut, para pemain yang terkena “Bundesliga Tax” di Premier League, antara lain Sebastien Haller di West Ham United, Milot Rashica di Norwich City, Wout Weghorst di Burnley, dan Leon Bailey di Aston Villa.

Deretan Pemain yang Sukses Menghindari “Bundesliga Tax”

Jadi, menilik dari catatan gol Erling Haaland sejauh ini, ia bisa dikatakan telah berhasil menghindari “Bundesliga Tax”. Bukannya menurun, nilai expected goals Haaland justru meningkat.

Nilai xG per 90 menit Haaland di Dortmund hanya sebesar 0,83. Kini, nilai xG per 90 menitnya naik menjadi 1,17. Dari nilai expected goals 7,4, Haaland berhasil mengkonversinya menjadi 11 gol. Artinya, ada lebih dari 3 peluang sulit yang berhasil Haaland konversi menjadi gol.

Angka expected goals tersebut jadi yang terbaik di Liga, bahkan jadi yang terbaik di Eropa. Sejauh ini, Haaland bahkan tidak hanya tercatat sebagai top skor Premier League, tetapi tercatat sebagai striker tersubur di Eropa dalam hal mencetak gol.

Erling Haaland bukan satu-satunya alumni Bundesliga yang sukses di Premier League. Sebelumnya, sudah ada beberapa pemain yang sukses menghindari “Bundesliga Tax” di Premier League.

1. Roberto Firmino

Yang pertama ada Roberto Firmino. Didatangkan dengan harga 41 juta euro dari Hoffenheim, Firmino bisa dibilang sebagai salah satu pembelian tersukses Liverpool. Karier bomber asal Brasil itu melejit ketika Jurgen Klopp memasangkannya bersama Mo Salah dan Sadio Mane.

Nyaris 8 musim di Liverpool, Roberto Firmino tercatat sudah menghasilkan 101 gol dan 77 asis dalam 335 penampilan. Sejauh ini, ia juga sudah mempersembahkan 7 trofi bagi The Reds.

2. Pierre-Emerick Aubameyang

Berikutnya ada Pierre-Emerick Aubameyang. Meski akhir kariernya di Arsenal tak selesai dengan baik, tetapi pada awalnya Aubameyang tergolong sebagai pembelian sukses.

Dibeli dengan harga 56 juta pounds setelah mencetak 141 gol hanya dalam 213 penampilannya di Borussia Dortmund, pemain internasional Gabon itu sukses menyabet trofi Sepatu Emas Premier League di musim 2018/2019. Aubameyang kemudian juga sukses memenangkan 2 trofi bersama The Gunners.

Selama kariernya di Emirates Stadium, Aubameyang tercatat menghasilkan 92 gol dan 21 asis dalam 163 penampilan.

3. Son Heung-min

Alumni Bundesliga berikutnya yang sukses besar di Premier League adalah Son Heung-min. Tottenham Hotspur mendatangkan mantan penyerang Bayer Leverkusen itu di musim panas 2015 dengan banderol 22 juta pounds. Banderol tersebut menjadikan Son Heung-min sebagai pesepakbola Asia termahal sepanjang masa.

Pada awalnya banyak pihak yang ragu akan kualitas penyerang asal Korea Selatan tersebut. Pasalnya, dalam 165 penampilannya untuk Hamburg SV dan Bayer Leverkusen, Son tercatat hanya mampu menghasilkan 49 gol dan 14 asis. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, ia sukses membuktikan diri sebagai pembelian yang sukses.

Bukan hanya sekadar pembelian sukses, Son Heung-min kini telah menjelma sebagai legenda Tottenham Hotspur. Bagaimana tidak, mantan anak asuh Shin Tae-yong itu tercatat sudah mengemas 134 gol dan 75 asis dalam 334 penampilannya untuk Spurs.

Son Heung-min adalah pemain tercepat dalam sejarah Premier League yang mampu mencetak 85 gol hanya dalam 225 pertandingan. Ia juga orang Asia pertama yang memenangi Sepatu Emas Premier League di musim 2021/2022.

4. Kevin De Bruyne

Pemain berikutnya yang mampu menghindari “Bundesliga Tax” adalah Kevin De Bruyne. Manchester City diketahui harus merogoh koceknya hingga 55 juta pounds saat memboyongnya dari Wolfsburg di musim panas 2015.

Banyak pihak yang menilai kalau De Bruyne yang sebelumnya gagal di Chelsea tidak pantas dihargai semahal itu. Salah satu yang berpendapat demikian adalah legenda Arsenal, Paul Merson.

“Saya tidak melihat 50 juta pounds untuk pemain ini. Aku benar-benar tidak melihatnya sama sekali,” kata Paul Merson dikutip dari Planet Football.

Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Rasa-rasanya, belum ada yang mampu menandingi pencapaian Kevin De Bruyne sebagai alumni tersukses Bundesliga di Premier League.

Selama nyaris 8 musim berkarier di Liga Inggris, De Bruyne telah memenangkan 11 trofi bersama Manchester City. Kontribusinya juga begitu besar. Dalam 317 penampilannya, De Bruyne tercatat telah menghasilkan 87 gol dan 129 asis.

Capaian tersebut sudah jauh melampaui kontribusi De Bruyne yang sebelumnya hanya menghasilkan 20 gol dan 37 asis dalam 73 penampilannya di Wolfsburg. Andalan timnas Belgia itu juga merupakan 2 kali peraih penghargaan pemain terbaik Premier League.

Itulah beberapa pemain yang sukses menghindari “Bundesliga Tax” di Premier League. Selain mereka, rekrutan City lainnya, yakni Vincent Kompany, Leroy Sane, dan Ilkay Gundogan juga tergolong sebagai alumni Bundesliga yang sukses di Liga Inggris.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah Erling Haaland akan mampu melampaui pencapaian para pendahulunya dan jadi alumni Bundesliga tersukses di Premier League? Cepat atau lambat, sepertinya kita akan segera mengetahuinya di masa yang akan datang.

***
Referensi: Tifo, Planet Football, The Football Faithful, Sportbible, Forbes, FBref.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru