Real Madrid menghadapi RB Leipzig di Liga Champions dengan cara yang gagah. El Real pasukan Don Carlo melumat Timo Werner dan kolega dengan skor bulat, 2-0. Dua gol Los Galacticos dicetak oleh dua pemain yang punya cerita yang unik: Marco Asensio dan Federico Valverde.
Keduanya sebelum ini adalah pemain yang jarang-jarang bermain. Asensio bahkan pernah ngotot agar mendapat menit bermain di Real Madrid demi bisa membela Timnas Spanyol di ajang Piala Dunia. Sementara, Federico Valverde adalah sosok yang acap kali tersisih.
Bukan karena Don Carlo membencinya. Melainkan lantaran Valverde masih jauh kualitasnya dibandingkan trio lini tengah ajaib Los Blancos. Ia sulit bersaing. Namun, Carletto tahu bagaimana memanfaatkan bakat pemain yang semula pemalu itu.
Daftar Isi
Awalnya Pemalu
Federico Valverde lahir 22 tahun setelah Alvaro Recoba lahir. Sama dengan sang legenda, Fede lahir di Montevideo, Uruguay. Ia lahir pada 22 Juli 1998. Valverde muda sangat menyukai sepakbola sejak kecil. Ibunya, Doris, bahkan sampai menyisir seluruh kota untuk membelikan Fede sepatu bola.
Di usianya yang masih anak-anak, Fede hanya bermain sepakbola di rumahnya. Fede bahagia dengan itu. Apalagi setelah mendapat sepatu bekas yang dibeli ibunya. Sang ayah pun mendaftarkan Fede ke klub lokal, Club Atletico Penarol.
Itu adalah klub yang berbasis di Montevideo. Ayah Fede ingin putranya yang ia juluki Pajarito atau dalam bahasa Indonesia artinya “burung kecil” itu menjadi pesepakbola yang dikagumi.
Ibunya pun mengantarkan Fede ke Atletico Penarol. Namun, karena si anak sangat pemalu, ketika ibunya mendorong agar Fede bergabung dengan anak-anak lain, ia tidak mau bergerak. Fede hanya berbaring di bawah pohon.
Sampai seorang staf klub menghampiri Valverde. Membujuknya agar mau bergabung dengan anak-anak lain. Dengan wajah yang memerah karena malu, Fede muda akhirnya mau bergabung dengan anak-anak lain.
Bakatnya pun dari sini mulai kelihatan. Staf klub yang bertugas memilih bakat muda, Nestor Goncalves tak butuh waktu lama untuk mengidentifikasi bakat Valverde. Ia pun berkembang pesat di akademi Atletico Penarol.
Con ustedes, el mejor mediocampista del mundo 👏🏼
Federico Valverde. MADE IN PEÑAROL. pic.twitter.com/yGBbBgz37K
— El Carboné (@ElCarbone_) September 14, 2022
Rebutan Tim Besar, Valverde Memilih Real Madrid
Fede berkembang lebih cepat dari perkiraan siapa pun. Di usianya yang masih 16 tahun, bakat Valverde sudah tercium ke Eropa. Hal yang sebenarnya lumrah.
Bakat Valverde bahkan ketika itu sudah dilirik klub-klub besar. Paris Saint-Germain, Manchester City, Chelsea, sampai Barcelona berbaris menyatakan minatnya pada Valverde. Namun, hanya Arsenal yang punya langkah lebih meyakinkan.
The Gunners tanpa fafifu menawarkan uji coba untuk Valverde muda. Tentu di usia yang baru 16 tahun, mendapat tawaran dari klub selevel Arsenal adalah sebuah keajaiban. Ia mempunyai kesempatan dilatih langsung oleh Arsene Wenger.
Federico Valverde playing for Peñarol’s 🇺🇾 youth academy
El Halcon began in 2008, and graduated to the senior team in 2015 pic.twitter.com/XZTEWwTfCe
— Uruguay Football ENG (@UruguayFootENG) April 7, 2022
Sayang, Valverde batal ke Arsenal. Karena di waktu yang sama, raksasa Eropa, Real Madrid selangkah lebih maju dari The Gunners. Saat Piala CONMEBOL U-17 tahun 2015, ketika itu Fede membela Timnas Uruguay, utusan Los Galacticos mulai membujuk keluarga Fede.
Tawaran dari Real Madrid, siapa yang berani menolak? Dengan cepat Los Blancos mendapat servis pemuda itu. Ia terbang ke Spanyol saat usianya 18 tahun. Pada Mei 2015 ia menjalani tes medis di Madrid.
Kurang Gizi, tapi Tetap Berkembang
Petaka muncul ketika Fede menjalani tes medis. Ia nyaris kekurangan gizi, tubuhnya tidak akan kuat. Dan itu membuatnya tidak bisa masuk ke skuad Real Madrid. Namun, Kepala Rekrutmen Real Madrid, Juni Calafat menjamin Fede akan masuk ke Real Madrid.
Ia hanya butuh waktu. Dan akhirnya, Real Madrid mengembalikan Fede ke Penarol. Namun, Calafat menjamin bahwa setahun setelahnya, Fede akan kembali ke Real Madrid. Bagi Fede, hal itu tiada soal. Karena dengan kembali ke Uruguay ia bisa merajut bakatnya lagi di Penarol.
¿Su ídolo? No es nadie más ni nada menos que su compatriota Diego Forlán, con quien alcanzó a compartir en sus inicios con Peñarol. “En Uruguay es un ícono, como en todo el mundo. En Uruguay es lo mejor que hay” son las palabras de Valverde hacia su referente. pic.twitter.com/gCX5ZHDFrg
— juzzismo (@juzzorobledo) September 14, 2022
Tak butuh waktu lama bagi Fede untuk bermain di level senior. Ketika pelatih Penarol, Pablo Bengoechea memanggilnya untuk tur pramusim. Fede pun memulai karier profesionalnya dengan cara yang hebat. Dan beruntungnya, ketika ia memulai debut senior di Penarol, idolanya, Diego Forlan kembali ke Montevideo.
Setelah 18 tahun berkarier di luar negeri, Forlan kembali ke Penarol. Ia bermain di sana pada musim 2015/16, sekaligus mengamati klub. Fede sangat beruntung bisa satu tim dengan idolanya itu. Ia dan Forlan pun membawa Atletico Penarol juara Liga Uruguay pada musim itu, sebelum akhirnya benar-benar berangkat ke Real Madrid.
FEDE VALVERDE, FORMADO EN PEÑAROL Y CAMPEÓN CON 17 AÑOS EN PRIMERA DIVISIÓN. QUE LA CUENTEN COMO QUIERAN LOS ESPAÑOLITOS QUE QUIEREN ADJUDICARSE QUE FUE FORMADO EN LA FÁBRICA.
DESDE EL SEMILLERO AURINEGRO PARA EL MUNDO. pic.twitter.com/w8C5Ygb5QL
— Gula #53 (@Gulansteiger) September 14, 2022
Dipercaya Zidane
Karier Fede di Spanyol bermula di Real Madrid Castilla. Performanya yang apik, membuatnya tak butuh waktu lama untuk memperkuat tim senior. Adalah Zinedine Zidane, pelatih yang membawa El Real hattrick Liga Champions menaruh kepercayaan pada Fede.
Ia yang kala itu berusia 21 tahun sudah bermain di skuad utama Real Madrid. Fede turun saat menghadapi Atletico Madrid, Sevilla, dan Galatasaray. Ia membantu El Real clean sheet di tiga pertandingan itu. Fisik Fede pun sudah membaik. Fede adalah sosok yang bisa bertarung sebagai gelandang box to box.
Don’t ever compare Valverde to pedri again and xavi to zidane we are clear, pic.twitter.com/riJUCrcDyN
— bn naseer (@Dadymakoda3) September 13, 2022
Namun, nasib Fede tidak selamanya mulus di Real Madrid. Apalagi Zidane berencana membangun lini tengah hebat. Kehadiran Toni Kroos, Luka Modric, dan Casemiro membuat Fede sering tidak terpakai. Kualitasnya belum sebanding dengan tiga gelandang fenomenal itu.
Apalagi Fede sudah mulai sering diterpa cedera. Cedera panjang pada tulang kering dan otot aduktornya, plus dua kali mengidap Covid-19, membuat Fede terlunta-lunta. Ia pun sering menghinggapi bangku cadangan.
Ancelotti Mengubah Segalanya
Meski di Real Madrid kariernya kacau, di Timnas Uruguay, Fede adalah andalan. Dan itu membuat Ancelotti yang datang lagi ke Real Madrid, melirik sang pemain. Carletto yang datang dengan misi memodernisasi skuad, menyalakan kembali harapan Fede.
Setelah berselemak cukup lama, Fede pun masuk line up Ancelotti. Namun penampilannya tidak konsisten. Bentuk formasi yang berubah-ubah barangkali membuatnya begitu. Di tangan Ancelotti, Fede sering bergonta-ganti posisi.
🚨🎖| Fede Valverde has NEVER been discussed on the transfer market despite Premier League rumors. He’s one of Ancelotti’s favorites, untouchable player. @FabrizioRomano pic.twitter.com/Ke7kDJemLP
— Madrid Xtra (@MadridXtra) September 14, 2022
Parahnya, setelah ditukangi Ancelotti, ia diterpa cedera lagi. Fede jadi sering menghuni bangku cadangan. Terlebih Ancelotti sudah menemukan bentuk paten 4-3-3. Dengan tiga pemain tengah andalannya. Namun, itu tidak lantas membuat Fede putus harapan.
Ia tetap giat berlatih. Dan itulah yang dilihat Ancelotti. Pelatih Italia itu yakin bahwa Valverde bisa diandalkan. “Fede selalu mendapat tempat di tim kami,” kata Ancelotti. Sang pelatih pun membuktikannya.
Berubah Posisi Jadi Berkah
Dengan kecerdasannya, Ancelotti meracik format baru. Masih dengan 4-3-3, tapi ia mencari cara agar Valverde masuk ke skuad Real Madrid. Ya benar, dengan mengubah posisinya. Carletto masih sangat ragu untuk menyingkirkan Modric di lini tengah.
Maka, Modric akan jadi pembimbing Camavinga dan Tchouameni di lini tengah. Sementara, Valverde, oleh Carletto ditaruh di sisi sayap. Ia yang semula gelandang box to box, oleh Ancelotti dibuat sebagai pemain sayap yang mematikan.
Valverde magical goal for Real Madrid against Mallorca
Always a top level performer in: defense, midfield and attack and that’s he always starts ahead of Marco Asensio
Such an engine—a complete footballerpic.twitter.com/fzNPqXLfsg
— St.Gabriel Dunsworth 🤌🏻🪡📂 (@DunswortGabriel) September 11, 2022
Fede memang tidak pernah keberatan bermain di posisi mana pun. Well, menjadi sayap yang diminta berlari pun ia jabani. Ancelotti mengerti, ia tidak bisa lagi mengandalkan para pemain tua. Dengan kecepatannya, Fede adalah jawaban bagi taktik Ancelotti.
Ia memang tak bisa menggeser posisi Toni Kroos atau Luka Modric, tapi Fede punya kecepatan. Itulah yang dimanfaatkan Carletto. Hasilnya, meledak. Kecepatan Fede membuat lini serang Real Madrid semakin berbahaya. Bahkan Fede bisa mencetak gol dengan posisi itu.
Ancelotti Sampai Bertaruh
Valverde menjelma dari gelandang box to box, menjadi pemain sayap yang merongrong pertahanan lawan. Ia bisa sangat berkembang. Musim ini, Fede sudah mencetak 2 gol dari 5 pertandingan La Liga. Sementara di Liga Champions, dari 2 laga, 1 gol sudah tercipta.
Tentu angka itu bisa bertambah. Apalagi akan sangat mungkin ia menjadi andalan Carletto di lini sayap. Bahkan dengan ketajamannya, Ancelotti sampai bertaruh pada Valverde.
Sang pelatih sangat yakin pemain Uruguay itu bisa mencetak minimal 10 gol musim ini. Tak tanggung-tanggung, Carletto sampai mempertaruhkan reputasinya. Bahwa jika Valverde tidak mencetak 10 gol musim ini, Ancelotti akan merobek sertifikat kepelatihannya dan pergi dari Real Madrid.
Fede Valverde desandou a fazer gol neste começo de temporada, algo que Ancelotti sempre incentivou e destacou o potencial do meia nesta faceta. Diz aí, ele vai cumprir o objetivo imposto pelo seu treinador e fazer ao menos dez gols na temporada? pic.twitter.com/gd8TEuFmcF
— 365Scores Brasil (@365Scores_pt) September 16, 2022
Valverde pada akhirnya menemukan kenyamanan di Real Madrid. Tawaran Liverpool senilai 100 juta euro (Rp1,5 triliun), ia tolak. Valverde tetap bertahan di Real Madrid, dan jadi andalan di sana.
https://youtu.be/LZ2yi7_gWzE
Sumber: Punditfeed, TheAthletic, TeamTalk, Mozzartsport, TheRealChamps, Keepup


