Sejak resmi diselenggarakan untuk pertama kalinya di musim 2021/2022, kompetisi UEFA Conference League atau Liga Konferensi Eropa telah sukses menjadi panggung bagi tim papan tengah dari liga top Eropa dan para juara dari liga-liga kecil di Eropa untuk unjuk gigi.
Sebagai kompetisi antarklub kasta ketiga di Benua Biru setelah Liga Champions dan Liga Europa, Liga Konferensi Eropa juga sukses memberi panggung kepada beberapa tim kecil untuk tampil pertama kalinya di babak grup kompetisi antarklub Eropa.
Musim lalu ada 8 peserta Liga Konferensi Eropa yang melakukan debut mereka di babak grup kompetisi UEFA. Kini, jumlah tersebut bertambah di musim ini. Dari 32 peserta, ada 9 tim yang lolos untuk pertama kalinya ke babak grup kompetisi antarklub Eropa.
9 tim tersebut adalah Ballkani dari Kosovo, Djurgårdens IF dari Swedia, SC Dnipro-1 dari Ukraina, Pyunik dari Armenia, RFS dari Latvia, Silkeborg dari Denmark, Slovácko dari Republik Ceko, Vaduz dari Liechtenstein, dan Žalgiris dari Lituania. Dari 9 tim tersebut, Ballkani, Vaduz, dan Žalgiris jadi tim pertama yang mewakili negara mereka di babak grup kompetisi UEFA.
GRUPPENPHASE, WIR KOMMEN!
Weil’s so schön war, hier noch einige Impressionen von der gestrigen Sensation mit dem Einzug in die UEFA Europa Conference League Gruppenphase 📸📈 Swipe nach links für die Match-Statistik.
📜 Hier geht’s zum Spielbericht: https://t.co/qmp1Khs3Zt pic.twitter.com/ScQsRsAOkX
— FC Vaduz (@VaduzFC) August 26, 2022
Liechtenstein, Negara Kaya Tanpa Liga Sepak Bola
Dari para tim debutan tadi, FC Vaduz jadi tim dengan status dan profil yang paling menarik. Sebagai klub yang berlaga di Swiss Challenge League atau Liga 2 Swiss, Vaduz jadi klub Liechtenstein pertama yang lolos ke babak grup kompetisi antarklub Eropa.
Nah, bagaimana ceritanya FC Vaduz yang berasal dari Liechtenstein bisa berlaga di Swiss Challenge League? Lalu, status apa yang disandang FC Vaduz di Liga Konferensi Eropa? Apakah mereka datang sebagai wakil Swiss atau sebagai wakil Leichtenstein? Untuk mengetahuinya, kita perlu berkenalan terlebih dahulu dengan profil dan situasi sepak bola di negara Leichtenstein.
Nama negara Liechtenstein sendiri mungkin terdengar asing di telinga orang Indonesia. Maklum, Liechtenstein adalah satu dari enam negara mikro di Eropa.
Liechtenstein juga merupakan satu dari dua negara di dunia yang menyandang status sebagai negara “double landlocked”, yakni negara yang dikelilingi oleh daratan negara lain dan setidaknya harus melewati dua perbatasan negara lain untuk mencapai garis pantai.
🇨🇭🇱🇮🇦🇹 Liechtenstein is sandwiched between Switzerland & Austria in Central Europe and is – along with Uzbekistan – one of only two double-landlocked* countries in the world.
*Double-landlocked means that it is landlocked & bordered exclusively by landlocked countries too. pic.twitter.com/ml7cPp4lCi
— The Sweeper (@SweeperPod) October 6, 2021
Dengan luas 160 km persegi, Liechtenstein adalah negara terkecil keempat di Eropa. Populasi penduduk di sana diperkirakan hanya sekitar 38 ribu jiwa. Ini menjadikan mereka sebagai salah satu negara dengan populasi penduduk terendah di Benua Biru.
Meski mungil dan populasi manusianya sedikit, Liechtenstein adalah negara kaya. Bahkan, Liechtenstein pernah menyandang predikat sebagai “tax haven country” atau surga pajak bagi para miliarder dunia dan disebut sebagai negara tempat pencucian uang.
Saat musim dingin tiba, Liechtenstein yang terletak di pegunungan Alpen dengan setengah wilayahnya berupa pegunungan menjadi salah satu tujuan destinasi winter sport. Akan tetapi, seperti kebanyakan negara lainnya, sepak bola tetap menjadi olahraga paling populer.
Namun, sepak bola di Liechtenstein tidak berkembang. Penduduk Liechtenstein yang memang sudah kaya sepertinya hanya jadi penikmat sepak bola. Pasalnya, meski jadi olahraga populer, hanya ada 7 stadion sepak bola di Liechtenstein. Rheinpark Stadium yang juga jadi kandang FC Vaduz hanya berkapasitas maksimal 7500an saja, sisanya tak lebih dari 2000 kursi, bahkan ada yang hanya mampu menampung 800 orang.
🇱🇮 FC Vaduz, who compete in the Swiss SECOND TIER, have qualified for the Europa Conference League.
Their home ground, Rheinpark Stadion, has a greater capacity (8,000) than the city of Vaduz (5,000).
What an away day this would be 😍 pic.twitter.com/k1XXo9fjXK
— Matchday365 (@Matchday365) August 25, 2022
Sedikitnya tim yang aktif juga membuat negara tersebut tidak memiliki Liga. Hanya ada 7 klub sepak bola aktif di Liechtenstein. Ini menjadikan Liechtenstein sebagai satu-satunya negara anggota UEFA yang tidak memiliki liga sendiri. Karena hal itu pula, klub sepak bola Liechtenstein tidak memiliki jatah di Liga Champions.
Karena tidak adanya liga, 7 klub tersebut menjadi tim ekspatriat dan “numpang” berlaga di piramida sepak bola negara tertangga terdekat mereka, Swiss. FC Triesenberg, FC Triesen, dan FC Schaan di divisi 7 Liga Swiss, FC Ruggell di divisi 6 Liga Swiss, FC Balzers dan USV Eschen di divisi 4 Liga Swiss, serta FC Vaduz yang berlaga di divisi 2 Liga Swiss.
Namun, tidak seperti AS Monaco yang berlaga di Liga Prancis, status klub Liechtenstein di Liga Swiss hanyalah sebatas “guest club” sehingga tidak diperkenankan berpartisipasi di Piala Swiss. Selain itu, apabila mereka menjadi juara di Liga Super Swiss atau masuk zona Eropa, jatah tiket ke kompetisi antaklub Eropa tetap jadi milik klub asal Swiss.
Satu-satunya jalan menuju Eropa adalah lewat Liechtenstein Football Cup. Itu adalah satu-satunya turnamen resmi yang diadakan oleh federasi sepak bola Liechtenstein. Pemenang dari Liechtenstein Football Cup dinobatkan sebagai juara nasional dan mendapat jatah tiket ke kualifikasi babak kedua Liga Konferensi Eropa.
Perjalanan FC Vaduz Menuju Babak Grup Liga Konferensi Eropa
Karena kurangnya tim aktif di negara tersebut, Liechtenstein Football Cup yang berformat 16 tim diisi oleh 7 tim plus 9 tim cadangan dari 7 tim itu sendiri. Kebetulan, FC Vaduz jadi klub yang paling sukses di Liechtenstein Football Cup. Dalam 77 gelaran turnamen tersebut, klub asal ibukota Liechtenstein itu mejadi juara dalam 48 kesempatan.
Musim lalu, FC Vaduz kembali sukses menjadi juara Liechtenstein Football Cup usai mengalahkan USV Eschen dengan skor 3-1. Dari situlah kemudian perjuangan FC Vaduz menembus babak grup Liga Konferensi Eropa dimulai.
Memulai perjalanan dari kualifikasi babak kedua, FC Vaduz sukses menundukkan wakil Slovenia, FC Koper dengan skor agregat 2-1. Vaduz kemudian lolos ke babak playoff usai secara mengejutkan berhasil menyingkirkan wakil Liga Super Turki, Konyaspor dengan skor agregat 5-3.
Di babak playoff, tim asuhan Alessandro Mangiarratti berjumpa dengan wakil Austria, Rapid Wien. Di leg pertama yang digelar di kandang dari FC Vaduz, Rheinpark Stadion, kedua tim bermain imbang 1-1. Vaduz kemudian membuat kejutan di leg kedua.
Bermain di hadapan belasan ribu pendukung tuan rumah, FC Vaduz yang hanya didukung sekitar 40 penggemarnya di laga tersebut menang dramatis berkat gol Tunahan Cicek yang sukses mengubah skor agregat menjadi 2-1 untuk kemenangan Vaduz.
🇱🇮 40 fans – or 0.1% of Liechtenstein’s population – saw Vaduz become the country’s 1st club to reach a European group phase & only the 6th team ever to do so while outside the top tier.
With 5,700 inhabitants, Vaduz will be the smallest place represented in Europe this season. pic.twitter.com/F4mWksoVsG
— The Sweeper (@SweeperPod) September 1, 2022
Hasil tersebut menjadikan FC Vaduz sebagai tim pertama Liechtenstein yang lolos ke fase grup kompetisi antarklub Eropa. Vaduz jadi tim keenam setelah Alemannia Aachen di Piala UEFA 2004/2005, Lausanne Sport di Liga Europa 2010/2011, Birmingham City di Liga Europa 2011/2012, Wigan Athletic di Liga Europa 2013/2014, dan FC Zurich di Liga Europa 2016/2017 yang lolos ke babak grup kompetisi Eropa dengan menyandang status sebagai tim divisi 2.
Lolosnya FC Vaduz ke babak grup Liga Konferensi Eropa membuat kota Vaduz jadi kota terkecil yang terwakili di kompetisi Eropa musim ini. Pasalnya, Vaduz yang juga ibukota Liechtenstein hanya dihuni oleh sekitar 5700 penduduk.
🇪🇺 Only six clubs have reached the European group stages while outside the top tier domestically:
🇩🇪 Alemannia Aachen (UEFA Cup, 2004/05)
🇨🇭 Lausanne Sport (UEL, 2010/11)
🏴 Birmingham City (UEL, 2011/12)
🏴 Wigan (UEL, 2013/14)
🇨🇭 Zürich (UEL, 2016/17)
🇱🇮 Vaduz (UECL, 2022/23) pic.twitter.com/t3ackWqPNJ— The Sweeper (@SweeperPod) August 29, 2022
Kesuksesan FC Vaduz musim ini tak lepas dari komposisi skuad mereka yang unik. Dari 27 pemain yang hanya bernilai 5,85 juta euro, hanya ada 6 pemain yang mengantongi paspor Liechtenstein. Salah satunya adalah Nicolas Hasler, peraih 3 kali penghargaan pemain terbaik Liechtenstein.
Sedikitnya tim di Liechtenstein membuat bakat terbaik mereka lebih memilih bermain ke luar negeri. Sementara tidak adanya liga di negara tersebut, membuat klub sepak bola Liechtenstein sulit merekrut pemain asing berkualitas.
Oleh karena itulah, pencapaian anak asuh Alessandro Mangiarratti musim ini patut diacungi jempol. Lolos ke fase grup Liga Konferensi Eropa jadi prestasi tertinggi FC Vaduz.
Sebelum ini, FC Vaduz juga telah menjadi tim tersukses di negaranya berkat raihan 3 kali juara Swiss Challenge League dan 5 musim berlaga di Swiss Super League. Sebuah capaian yang membuat FC Vaduz dilabeli sebagai “tamu yang tak diinginkan” di Liga Swiss.
Predict how Group E will finish 👇
1️⃣ __________
2️⃣ __________
3️⃣ __________
4️⃣ __________#UECL pic.twitter.com/6R4vKJFrM0— UEFA Europa Conference League (@europacnfleague) September 2, 2022
Peluang FC Vaduz di Liga Konferensi Eropa dan Liga Champions
Terlepas dari itu, keberhasilan FC Vaduz menembus babak grup Liga Konferensi Eropa bukanlah sekadar prestasi, tetapi sebuah upaya untuk menunjukkan eksistensi sepak bola Liechtenstein di kancah Eropa.
Berlaga di Liga Konferensi Eropa musim ini juga bakal jadi satu-satunya peluang FC Vaduz menembus Liga Champions. Karena tidak ada liga, Liechtenstein tidak memiliki jatah langsung ke Liga Champions. Satu-satunya upaya untuk dapat berpastisipasi adalah dengan menjuarai Liga Konferensi Eropa kemudian memenangkan Liga Europa di musim berikutnya.
🇱🇮 For the 1st time, a club representing a micro-state UEFA member has picked up a point in a European group game!
Well done Vaduz – the smallest place represented in Europe this season with 5,700 inhabitants – on becoming the 1st Liechtenstein team to draw a continental game! pic.twitter.com/W8BdzmRLDH
— The Sweeper (@SweeperPod) September 8, 2022
Sebuah perjuangan yang sangat berat. Tergabung di Grup E bersama AZ Alkmaar, SC Dnipro, dan Apollon Limassol, peluang FC Vaduz untuk lolos ke babak 16 besar cukup berat. Vaduz masih bisa lolos ke ronde playoff, tetapi mereka perlu berjuang lebih keras.
Pijakan bagus berhasil mereka dapat di pertandingan pertama kala menahan imbang Apollon 0-0. Satu poin yang mereka dapat membuat FC Vaduz tercatat sebagai wakil negara mikro UEFA pertama yang berhasil meraih poin di babak grup kompetisi antarklub Eropa.
Sayangnya, di pertandingan kedua, Vaduz dihempaskan AZ Alkmaar dengan skor telak 4-1. Namun, apapun yang terjadi ke depan, FC Vaduz tetap membanggakan. Sesuai dengan julukan mereka, “Stolz von Liechtenstein”, FC Vaduz adalah kebanggaan Liechtenstein.
***
Referensi: Transfermarkt, UEFA, Kumparan, Borsourama, WSC, Backpage Football, FM-Base, The Sweeper Pod.


