Si Nyonya Tua dari Italia ini benar-benar sudah tua. Kegagalan Juventus melaju ke babak perempat final Champions League setelah dikalahkan Villareal 3-0 di kandang sendiri bukan tanpa alasan. Juventus telah beberapa kali gagal di fase knockout Champions League dari musim ke musim termasuk melawan Porto musim lalu dan Lyon di musim sebelumnya.
Beberapa tahun terakhir memang target mereka sudah bukan di Serie A lagi melainkan Champions League. Namun kenyataanya, kegagalan demi kegagalan dialami Juventus. Mengapa Juventus selalu gagal di Champions League?
Lyon, Porto, Villarreal.
Palpable sense of deja-vu as #Juventus crash out of the Champions League in the last 16 again.
What next? https://t.co/m2f0gIQxgn
— James Horncastle (@JamesHorncastle) March 17, 2022
Daftar Isi
Peninggalan Transfer Pemain
Salah satu kegagalan Juventus dalam beberapa tahun terakhir di Champions League karena komposisi perekrutan pemain. Meskipun gagal di Champions League, Marotta bersama Juventus setidaknya pernah mencapai kejayaan secara skuad baik bersama Conte maupun Allegri di musim pertamanya.
Dengan beberapa gelar domestik dan dua kali final Champions League. Juventus ketika itu diisi oleh beberapa rekrutan ciamik Marotta, seperti Pirlo, Pogba, Vidal, sampai Tevez.
#Juventus’ midfield
Marchisio – Academy
Pirlo – Free
Pogba – £800,000
Vidal – £11m
Khedira – Free pic.twitter.com/2xbSvbmQEl
— B/R Football (@brfootball) June 9, 2015
Rekrutan dengan harga dan gaji yang terjangkau, selain membuat keuangan Juve terjaga rekrutan seperti Pirlo dan Pogba terbukti berhasil mengangkat performa tim. Pirlo dengan masterpiece umpan akuratnya sebagai jendral lini tengah maupun Pogba dengan penetrasi serta tendangan jarak jauhnya yang akurat mampu mengantarkan Juve ke Final Champions League musim 2014/15 melawan Barcelona.
4. Where are they now? The Juventus side defeated by Barcelona in the 2015 Champions League final – https://t.co/wPISM4aHb3
They were so close. 😔 pic.twitter.com/hrPQAOvAOO
— Squawka (@Squawka) February 26, 2018
Masterplan yang sudah dibuat Marotta dengan skema transfer efektifnya itu seketika berubah ketika ia pergi. Marotta harus pergi setelah mengalami gesekan dengan presiden klub, Agnelli soal transfer Ronaldo ke Juve yang tidak sepengetahuan Marotta. Sementara Fabio Paratici yang menggantikan Marotta punya pendekatan lain.
Ia lebih suka menghamburkan uang untuk pemain bergaji selangit. Jika kualitasnya sesuai tak masalah, hanya saja ia menggaji pemain tinggi namun tak melihat kapasitas pemain yang dibutuhkan tim.
A Juventus tentará vender Rabiot, Ramsey, Arthur e Bentancur entre janeiro e julho.
📰 CALCIOMERCATO pic.twitter.com/n8Pdv8gNhF— Mercado da bola ( Admin:Robson ) (@RobsonNunesMB) November 24, 2021
Pemain seperti Ramsey, Rabiot, Arthur, didatangkan dengan gaji yang mahal. Performanya pun sering naik turun bahkan Ramsey sekarang sudah dilepas ke Rangers. Ditambah keputusan kontroversial Paratici ketika mendatangkan Cristiano Ronaldo untuk merengkuh Champions League justru berbalik 180 derajat.
Kedatangan Ronaldo justru menjadi beban tim, apalagi dari segi keuangan. Juventus memang punya uang untuk menggaji mahal Ronaldo ketika itu, namun sisa uang Juve pun menjadi sedikit.
🗣 Juventus Sportif Direktörü Fabio Paratici: “Ronaldo’yu transfer etmek çok kolaydı. Zaten buraya gelmek istiyordu.” pic.twitter.com/dVsvpTwJpa
— Fooball (@fooballnet) December 25, 2018
Alhasil mereka kekurangan dana untuk membeli pemain di posisi lain yang berkualitas. Keputusan Paratici itu membuat keadaan Juventus menjadi seperti sekarang. Meskipun dia sudah keluar, tetapi Juve harus mulai dari nol lagi.
Cherubini yang ditunjuk sebagai direktur olahraga yang baru menggantikan Paratici harus berproses membenahi keuangan dan perekrutan Juve. Sayangnya, Cherubini juga tak mampu berbuat banyak. Pemain yang ia datangkan seperti Vlahovic, Zakaria, sampai Locatelli belum cukup. Terlebih pemain-pemain tersebut bukan kelas Liga Champions.
Locatelli ✅
Vlahovic ✅
Zakaria 👀⏳Nothing, just a Cherubini appreciation tweet. pic.twitter.com/tN31xnURiz
— Football Directive (@FootyDebates1) January 29, 2022
Bagaimanapun peninggalan beberapa transfer pemain terlanjur carut marut. Hal itu membuat langkah dan target Juventus berprestasi lebih jauh di Champions League kembali mengalami kegagalan.
Regenerasi Pertahanan
Kegagalan lainnya yakni beberapa transfer dan pembenahan di berbagai lini dari zaman Conte hingga Allegri sekarang, jarang berfokus di lini pertahanan. Padahal, justru lini belakanglah yang harus serius dibenahi.
Juventus harus segera lepas dari bayang-bayang Chiellini dan Bonucci sebagai tembok pertahanan mereka. Juventus harus mencari beberapa regenerasi bagi defender-nya.
Meskipun sudah membeli mahal Matthijs De Ligt dari Ajax, namun performanya sering naik turun lantaran sering menjadi bayang-bayang Chiellini dan Bonucci selama beberapa musim terakhir.
Juventus butuh pelapis sepadan. Keberadaan duo pelapis De Ligt dan Rugani sudah tepat. Akan tetapi, menit bermain mereka juga harus terus ditambah. Duet itu tercatat melakukan clean sheet terakhirnya di partai Serie A melawan Spezia 1-0, di 7 Maret 2022 setelah sebelumnya pernah juga meraih clean sheet di partai melawan Udinese dan AC Milan di Januari 2022.
Comunque la coppia de ligt rugani non mi sta facendo rimpiangere bonucci e chiellini. Manca solo un terzino sinistro forte pic.twitter.com/BsHgVd5brf
— sofi🦓 (@giuventinaa_) March 14, 2022
Duet Rugani-De Ligt sudah dicoba beberapa kali oleh Allegri termasuk di beberapa match terakhir seperti saat kalah dari Villarreal. Namun hasilnya negatif.
Setelah kebobolan tiga gol atas Villareal, bek Juve di pertandingan berikutnya diubah komposisinya menjadi De Ligt-Chiellini dan berhasil lagi meraih clean sheet melawan Salernitana 2-0. Artinya masih banyak PR yang harus dikerjakan De Ligt maupun Rugani.
Di sektor fullback juga masih bermasalah. Keberadaan De Sciglio, Danilo, Luca Pellegrini dan Alex Sandro harus ditambah pemain pelapis lain yang kualitasnya di atas mereka.
Satu hal lagi kesalahan terbesar Juventus selama beberapa musim terakhir ini di Champions League adalah posisi kiper. Semenjak ditinggalkan sang legenda Buffon, Juventus hampir belum menemukan penggantinya yang sepadan. Isu Donnarumma yang digadang-gadang akan menjadi suksesor malah pergi ke PSG.
Wojciech Szczęsny yang diplot sebagai kiper nomor satu hanya semacam ironi. Apalagi ia yang notabene kiper buangan dari Arsenal. Kiprahnya dalam menjaga gawang Juve di liga domestik sepertinya berjalan baik. Namun, jangan samakan juga Serie A dengan kompetisi Champions League. Keberadaan kiper asal Polandia yang sering blunder itu, sering diabaikan manajemen untuk segera bergerak mencari kiper baru.
Wojciech Szczęsny vented for three goals last night as Villarreal thump Juventus in Turin. 😂 pic.twitter.com/K8eoeMIDFb
— McLean 🏴 (@spursmaca) March 17, 2022
Gonta – Ganti Pelatih dan Gaya Permainan
Juventus juga sering gonta-ganti pelatih. Dari Conte, Allegri, Sarri, Pirlo dan sekarang Allegri lagi. Gonta-ganti pelatih memang wajar, tetapi seiring perubahan yang terjadi harus memiliki benang merah yang sama. Misalnya, Inter yang berganti pelatih dari Conte ke Simone Inzaghi yang sama secara formasi permainan.
🚨 Juventus are set to sack Andrea Pirlo and bring back former manager Max Allegri, according to @FabrizioRomano pic.twitter.com/Mip3wYITDk
— FootballJOE (@FootballJOE) May 27, 2021
Perubahan pelatih berpengaruh pada skema dan filosofi Juventus. Perubahan itu akan sulit dicapai ketika keberadaan pemain tidak cocok dengan arus perubahan tersebut. Apalagi di bawah Allegri sekarang, skuadnya tidak semewah dulu ketika Conte maupun Sarri.
Juventus sekarang terombang-ambing dalam proses instan yang diharapkan presiden Agnelli dan fans. Penunjukan pelatih dan cara main yang baru bagi Juventus dipikirnya akan merubah nasib Juventus di Champions League.
Rotasi Pemain Dan Taktik Pelatih
Rotasi pemain Juventus juga sering menjadi kunci kegagalannya di Champions League. Dengan tidak hadirnya satu pilar penting, mereka akan kesulitan. Apalagi taktik beberapa pelatih seperti Allegri sering mengandalkan kemampuan individu pemainnya bukan sebuah sistem.
Rotasi pemain dari pelatih yang sering gonta-ganti itu menyebabkan Juventus kesulitan. Beberapa pemain sering tidak mampu dioptimalkan pelatih ketika di pertandingan Champions League. Karena sebagian besar pemain inti sudah berjuang penuh di Serie A memperbaiki kemerosotan Juve di beberapa musim terakhir.
Juventus juga tak punya visi yang jelas. Kadang melakukan teknik menyerang, namun lain kesempatan bertahan sangat ketat. Maka dari itu, Juventus juga sangat jarang membantai musuh-musuhnya. Bahkan lebih dari setengah dari 24 kemenangan Juventus musim ini diraih dengan satu gol.
Lucunya, masih belum ada upaya serius untuk memperbaiki segala masalah-masalah tadi. Padahal fans sangat ngebet agar Juventus bisa meraih Liga Champions. Mereka juga tak pernah memikirkan proyek jangka panjang.
Yang dilihat adalah jangka pendek, pokoknya menang, menang dan menang. Akibatnya mereka lalai dan selalu menyalahkan sepihak biang kegagalan Si Nyonya Tua sesaat. Padahal itu semua adalah sebuah akumulasi penyebab kegagalan yang diabaikan mereka sendiri.
Sumber Referensi : theathletic, bleacherreport, dailymail


