Sebagai juara bertahan La Liga, Atletico Madrid justru mengawali musim 2021/22 dengan tidak baik-baik saja. Mereka tertatih-tatih merangsek ke papan atas La Liga musim ini.
Bukan tanpa sebab, sang pelatih Diego Simeone menemui masalah baru di lini bertahan Atletico musim ini yang terbilang keropos.
Kini, dengan pertahanan yang keropos, memang bukanlah gaya khasnya Los Rojiblancos. Apalagi musim-musim sebelumnya, pertahanan pasukan Simeone terbilang kokoh. Jadi, apa dong yang bikin pertahanan Atletico Madrid musim ini keropos?
Materi Pemain di Lini Belakang
Salah satu alasannya adalah komposisi para pemain bertahan dan juga faktor cedera. Beberapa kombinasi pemain bertahan yang berbeda telah digunakan dalam starting eleven Simeone musim ini di semua kompetisi. Baik dengan format tiga atau empat bek.
Tiga bek Stefan Savic, José Giménez dan Mario Hermoso paling sering digunakan dan juga paling menunjukan hasil yang positif dengan hanya satu kekalahan.
Cuidado con los centrales del Atlético de Madrid porque hoy Felipe seguía al margen del grupo y Hermoso, por precaución, hizo trabajo individual
Ahora mismo, Savic y Giménez, que ya jugaron 90′ en Bilbao, podrían repetir en Pamplona. No está la cosa como para tener 2/4 centrales pic.twitter.com/wI2nQOfOlR
— David Vinuesa Malbac (@Dvinuesa) June 15, 2020
Di sisi lain, kehadiran bek Felipe di starting eleven Atletico Madrid menuai kritikan. Pasalnya, dari setiap pertandingan yang dilakoni Felipe, Atletico selalu mengalami kekalahan di semua kompetisi.
Di level individu, mantan pemain Porto ini hanya memenangkan 52,4% dari duelnya musim ini di semua kompetisi, menjadikannya bek Atletico dengan persentase duel terendah yang dimenangkan pada musim 2021/22.
Kehilangan Stefan Savic, Jose Gimenez dan Mario Hermoso sewaktu-waktu karena cedera akan memperparah kondisi pertahanan Atletico. Pilihan amunisi center back Simeone tidak banyak. Bahkan sering kali seorang gelandang seperti Geoffrey Kondogbia sering dijadikan center back.
Perubahan formasi yang dilakukan Simeone di lini pertahanan dengan sistem 3 atau 4 bek terkadang tidak berjalan mulus. Sejak dikalahkan Real Madrid di Desember 2021 dengan skor 2-0, lini pertahanan Atletico jebol 16 kali termasuk terakhir kalah dari Barcelona 4-2.
Komposisi di full back mereka juga timpang. Kehilangan Kieran Trippier sedikit berpengaruh. Sering kali Sime Vrsaljko tidak bisa menjalankan peran itu di bek kanan. Simeone pun sering menyiasatinya dengan menempatkan Marcos Llorente di wing kanan pada format 3-5-2.
Una de Perogrullos, que no parecen tales.
SUBSTITUTO DE TRIPPIER:1) LATERAL DERECHO, no vale Arezo ni David Garcia
2) En el 442 como el 532, deben ser profundos.
3) Deben saber atacar, NO VALE AZPILICUETA
4) Deben saber defender, NO VALE PORROEsas son las premisas. @Atleti pic.twitter.com/N5KiApJyJr
— ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎︎ ︎ ︎ ︎ ︎ 𝘔⌥ (@iamMARTI4N) January 4, 2022
Kehilangan Thomas Partey tampaknya juga berpengaruh. Kedalaman pertahanan Atletico sebelumnya sering dijaga oleh Partey lewat tekel keras maupun intercept canggihnya. Sekarang peran itu sering diemban pemain baru seperti Kondogbia, Rodrigo De Paul, maupun Herrera yang cenderung bertipikal “bukan pembunuh”.
Materi pemain yang menjaga lini belakang Atletico menjadi salah satu faktor Atletico tidak konsisten musim ini. Terlepas dari menang atau kalah, hasil evaluasi pertahanan Atletico perlu disorot. Termasuk kiper sekalipun.
Jan Oblak
Performa salah satu pemain andalan Atletico Madrid di era Simeone adalah kiper mereka Jan Oblak. Penjaga gawang Slovenia ini telah terinfeksi oleh kelemahan sektor bek Atletico, dan jauh dari penampilannya yang luar biasa di musim lalu ketika juara.
Dia hanya menghentikan 48% tembakan yang menghujam gawang Atletico di La Liga musim 2021/22. Ini adalah persentase penyelamatan terburuk dalam kompetisi di antara penjaga gawang lainnya di La Liga.
Oblak telah kebobolan 30 gol dari 22 pertandingan selama ini sampai kekalahan 4-2 atas Barca. Sedangkan Oblak di musim lalu hanya kebobolan 25 gol. Itu adalah rekor terbaik kebobolan kiper di musim lalu di La liga.
Oblak musim ini cenderung lebih sering melakukan head to head langsung dengan pemain lawan. Ia juga sering banyak menerima tendangan langsung yang mengakibatkan persentase kebobolan Atletico lebih banyak.
Crisis defensiva en el Atlético de Madrid.
La última vez que el Atleti terminó La Liga (38 partidos) con más de 30 goles en contra fue en la temporada 2012/13.
15/16: 18
16/17: 27
17/18: 22
18/19: 29
19/20: 27
20/21: 25En la 20/22 ya suman 29, pero en 21 partidos y medio. ❌ pic.twitter.com/PuHgWNRKai
— Iñaqui Sanromán (@SanromanB_) February 6, 2022
Performa menurunnya Oblak berjalan seiring dengan hilangnya lini belakang Atletico dalam membendung serangan dari lawan.
Kehilangan Identitas
Kebobolan Atletico dicatat sebagian besar melalui umpan silang dari flank yang berakhir dengan sundulan. 26% dari gol kebobolan Atletico musim ini di semua kompetisi berasal dari umpan silang lawan, alih-alih dari sektor tengah.
Sering telatnya full back dalam mengantisipasi crossing juga menjadi sebab. Kekompakan antar lini belakang sangat kurang, terlebih dengan pakem 4 bek rentan tereksploitasi lawan yang memanfaatkan longgarnya zona yang dibiarkan oleh lini belakang Atletico.
Identitas bertahan Atletico yang selama ini sangat dikenal sebagai antitesa “tiki taka” Barcelona atau sepak bola menyerang mulai terbaca lawan.
Sistem bertahan dengan 4-4-2 menjadi khas bagi Atletico-nya Simeone. Dengan strategi compact defense atau deep defense, Atletico mampu menasbihkan diri sebagai tim di era modern yang dikenal dengan ciri khusus yakni “bertahan”.
Beda dengan format bertahan ala Jose Mourinho di Madrid ketika itu yang sering dikenal orang dengan “parkir bus”. Sistem bertahan Simeone lebih compact. Dengan mengandalkan pertahanan zona marking.
Di mana pemain menjaga per zona masing-masing dengan memperhatikan arah serangan bola tanpa melakukan man to man marking. Tak jarang sisi sayap serang dan striker diharuskan juga untuk terlibat dalam menjaga kedalaman zona format 4-4-2 Simeone.
Copying from Sam, but how much have Atletico Madrid used ‘442’ over the last 6 seasons in La Liga? https://t.co/PURlBPx8TA pic.twitter.com/qiomT8QvKM
— Spanish Football Analytics (@SF_Analytics_) June 24, 2021
Kedisiplinan menjadi penting bagi kolektivitas permainan Simeone. Karakter sepak bola yang “keras” sering diperagakan Simeone di Atletico. Tak jarang berbuah kartu, tapi juga sukses merusak konsentrasi lawan.
Membunuh mental lawan terlebih dahulu kemudian keluar dengan counter attack cepat setelah lawan frustasi atau deadlock dalam menyerang adalah salah satu trik permainan Simeone.
Pemanfaatan set pieces dengan mengandalkan pelanggaran dari pemain-pemainya sering membuahkan hasil. Tak jarang Atletico diselamatkan oleh gol-gol dari intrik melalui set piece.
Musim ini semuanya hilang. Identitas seni bertahan Simeone di Atletico perlahan mulai luntur seketika. Ketika mereka baru saja meraih juara La Liga musim 2020/2021.
Atletico musim 2021/2022 justru lebih banyak membelanjakan transfernya untuk lini depan seperti membeli Griezmann ataupun Suarez. Menandakan mereka mulai memikirkan lini penyerangan mereka, bukannya pertahanan sebagaimana khas mereka.
Status Atletico sebagai peraih titel juara menjadi beban tersendiri. Mereka sekarang tidak lagi dikatakan underdog. Dengan status juara bertahan, Simeone tampaknya mencoba bermain menguasai bola di musim ini. Namun Simeone lupa kalau ada yang keropos, yaitu lini pertahanan mereka.
Simeone:
Las Crisis siempre las sacó desde la cabezoneria. Pero esta ya se extiende mas de 15 partidos. El equipo necesita laterales al uso, igualar los centrocampistas al rival y desde ahí ir tocando piezas. Lo de Hermoso y Koke es insostenible. @Atleti pic.twitter.com/vMt0fZnjgM— ︎ ︎ ︎ ︎ ︎ ︎︎ ︎ ︎ ︎ ︎ 𝘔⌥ (@iamMARTI4N) February 6, 2022
Faktor materi pemain lini belakang, menurunnya performa Jan Oblak, membuat identitas bertahan Atletico mulai hilang dan imbasnya ke performa Atletico yang kerap tidak konsisten.
https://youtu.be/9SYXreN32Ik
Sumber Referensi : mirror, tellerreport, eurosport


