Brentford hampir saja masuk ke daftar ini, jika di musim ini tidak turut memeriahkan pentas Premier League. Klub berlogo lebah itu sudah cukup lama tidak masuk ke Premier League. Padahal Brentford termasuk tim besar yang kekuatannya tentu tak bisa dianggap remeh.
Hal itu tampak sangat nyata, ketika Brentford justru tampil begitu menawan di Premier League, meski berstatus sebagai klub promosi. Brentford bahkan bisa mengungguli seniornya di Premier League, seperti The Magpies dan Watford.
Sejak menjadi kompetisi teratas di Inggris pada 1992, Premier League menjadi semacam cita-cita yang selalu dikejar oleh klub-klub di Britannia Raya. Tak kurang dari 49 klub, termasuk Brentford pernah mencicipi persaingan di Premier League. Dari klub semenjana seperti Hull City, sampai klub yang sudah mapan dan penuh sejarah seperti Manchester United.
Namun, dari banyaknya klub-klub besar di Liga Inggris, masih ada beberapa yang belum pernah mencicipi persaingan di Premier League. Bahkan di antara klub-klub tersebut merupakan pencetus Liga Divisi Utama Inggris pada tahun 1888. Siapa saja mereka? Berikut ini klub besar di Inggris yang tidak pernah masuk Premier League.
Daftar Isi
Notts County
Orang ketika melihat plastik hitam putih akan teringat pada jersey Juventus atau klub di Inggris, Newcastle United. Namun, jauh sebelum Juventus ada dan Newcastle berdiri, di Inggris sudah lahir Notts County. Klub asal Nottingham itu sudah berdiri sejak sekitar 1,6 abad silam, tepatnya tahun 1862.
Notts County bisa dibilang sebagai klub pertama yang menggunakan jersey seperti plastik kresek hitam-putih. Bukan hanya itu, Notts County adalah salah satu pendiri Liga Divisi Pertama di Inggris pada 1888.
Notts County have broken the National League attendance record this afternoon with a crowd of 12,843! pic.twitter.com/u6CayNlp4C
— The Non-League Paper (@NonLeaguePaper) November 13, 2021
Klub yang juga berjuluk The Magpies itu menghabiskan awal berdirinya klub dengan berkompetisi di Divisi Pertama Liga Inggris. Namun, sungguh malang nasib Notts County. Saat klub-klub di Divisi Pertama melepaskan diri dari English Football League, dan membentuk Premier League, Notts County justru terdegradasi.
Musim 1991/1992, alih-alih bertahan di Divisi Pertama Liga Inggris dan ikut ke Premier League, Notts County justru terdegradasi ke Divisi Kedua. Sejak saat itu, klub yang pernah diperkuat Lee Hughes itu hanya berkutat di kasta kedua, ketiga, bahkan keempat di Inggris. Padahal Notts County pernah menjuarai Piala FA Tahun 1894.
Millwall FC
Jika ngomongin tentang tim besar di Inggris yang tidak pernah berkompetisi di Premier League, tentu Millwall FC tidak boleh luput dibahas. Millwall FC merupakan salah satu pendiri Liga Selatan Inggris.
Klub yang turut melahirkan sosok pemain kaliber Teddy Sheringham itu hanya bermain di English Football League. Namun jangan salah, meski tak pernah bermain di Premier League, Millwall punya segudang prestasi.
📲 Time to refresh those wallpapers!
⬇️ Save to your phone now…#Millwall pic.twitter.com/Eu3Ox9nCVQ
— Millwall FC (@MillwallFC) January 12, 2022
Millwall menjuarai Liga Selatan dua kali, di tahun 1895 dan 1896. Ketika Millwall memutuskan bergabung ke English Football League pada 1920, gelarnya makin bertambah. Millwall menjuarai divisi kedua EFL atau kasta ketiga pada 1928, 1938, dan 2001.
Millwall juga pernah menjuarai kompetisi teratas EFL atau yang sekarang Championship pada 1988. Ketika Premier League menjadi kompetisi tertinggi pada 1992, Millwall sebenarnya memiliki kesempatan untuk bermain di sana. Namun, di musim sebelumnya, The Lions terhenti di semifinal play off Championship.
Kini, Millwall masih mendekam di EFL Championship. Namun begitu, Millwall tetap dikenal sebagai klub yang turut membesarkan pemain seperti Sam Allardyce, Tim Cahill, Dennis Wise, dan tentu saja Teddy Sheringham.
Luton Town
Luton Town berdiri sejak 1885, akibat “persetubuhan” antara dua klub: Wanderers dan Excelsior. Namun, dari awal lahir ke muka bumi, Luton Town belum pernah mencicipi panasnya persaingan Premier League. Walau sebetulnya, mereka punya kesempatan untuk itu.
Jadi, semusim sebelum Premier League menjadi liga tertinggi di Inggris, Luton Town harus terdegradasi. Bahkan Luton Town pernah bermain di kompetisi non-liga selama 10 tahun, sebelum akhirnya kembali ke EFL.
Selain lahir di salah satu kota besar di Inggris, Luton Town layak disebut klub besar karena koleksi trofinya yang banyak. Klub yang bermarkas di Kenilworth Road pernah menjuarai Piala Liga pada 1987/88, juga menjuarai Divisi Dua pada musim 1981/82.
📅 Tuesday 28th January 2020 – 3-2 win – 86th minute winner.
📅Tuesday 29th January 2019 – 3-2 win – 86th minute winner.#COYH pic.twitter.com/geSESimDeT
— Luton Town FC (@LutonTown) January 29, 2020
Luton Town juga menjuarai EFL League One pada 1937, 2005, dan 2019. Trofi EFL League Two juga pernah diraih Luton Town pada 1968. Tak hanya itu, Luton Town juga menjuarai Football League Trophy pada 2009.
Namun, selain gagal menembus Premier League sejak 1992, Luton Town juga tak pernah membawa pulang Piala FA. Terakhir, pada 1959, klub yang selalu mendatangkan 10 ribu penggemar saat berlaga di kandang itu, hanya mampu menembus partai final.
Plymouth Argyle
Dari klub-klub tadi, nasib Playmouth Argyle boleh dikatakan paling menyedihkan. Betapa tidak? Klub asal Kota Playmouth itu tak pernah merasakan bermain di kompetisi tertinggi di Inggris, entah saat masih Football League maupun Premier League.
Playmouth Argyle sejatinya memiliki kesempatan untuk tampil di Divisi Pertama Football League pada musim 1953/54 andai tidak finis di posisi keempat. The Pilgrims kalah 9 poin dari peringkat kedua, Huddersfield Town. Kegagalan itu pun seolah pertanda bahwa The Pilgrims memang habitatnya di kasta ketiga.
Playmouth Argyle mampu 4 kali juara divisi kedua, atau kasta ketiga yang sekarang jadi EFL League One. The Pilgrims juga pernah menjadi runner-up League Two musim 2016/17, dan membuatnya naik lagi ke League One.
Meskipun hanya bermain di kasta kedua, ketiga, atau keempat, dan bahkan tidak pernah masuk final Piala Liga atau FA Cup, Playmouth Argyle punya penggemar yang sangat militan. Setidaknya, jika The Pilgrims bermain di kandang, 10 ribuan penggemarnya itu akan memadati Home Park.
⌚The full-time whistle went at 8.04pm.
🚂 The last train to Plymouth left Birmingham New Street at 8.12pm. 😬
Wherever you’ve ended up, enjoy your night, Green Army. 💚#pafc pic.twitter.com/kndX710Blb
— Plymouth Argyle FC (@only1argyle) January 8, 2022
Bristol City
Bristol City pernah menjadi runner-up kompetisi tertinggi di Inggris. Namun, itu bukan Premier League, melainkan Football League Divisi Pertama. Itu pun sudah sangat lama sekali, yaitu musim 1906-1907.
Bristol City menghabiskan 11 tahun di kasta kedua dan ketiga. Meski begitu, dari 11 musim berada di kasta kedua dan ketiga, 9 di antaranya finis di peringkat teratas. Bahkan Bristol City menjuarai Divisi Kedua pada 1906. Sementara di kompetisi di bawahnya, The Robins meraih 4 kali titel juara pada 1923, 1927, 1955, dan 2015.
@bcfctweets Bristol City Championship Play-off team 2008 #BristolCity pic.twitter.com/IQCboLbW4h
— Bristol City Gr8s (@BristolCityGr8s) March 10, 2016
Semenjak kehadiran Premier League tahun 1992, Bristol City punya kesempatan bagus untuk tampil di kasta tertinggi Liga Inggris tersebut. Tepatnya pada Championship 2008. Saat itu, Bristol City melakoni laga final play off kontra Hull City. Akan tetapi, aksi Dean Windass menenggelamkan harapan Bristol City. The Robins kalah tipis 0-1 atas Hull City.
Preston North End
Preston North End bisa dikatakan yang paling hebat dari klub-klub tadi. Baru-baru ini saja Preston North End mampu mengalahkan Stoke City di EFL Championship. Stoke City sudah pernah ke Premier League, sedangkan yang mengalahkannya justru belum pernah.
Namun soal torehan gelar, jangan sesekali meremehkan Preston North End. Preston dua kali juara Divisi Pertama Football League secara beruntun pada 1889 dan 1890. Klub yang juga sering disebut The Lilywhites ini juga memenangi dua kali Piala FA, pada tahun 1889 dan 1938.
It’s just the 83 years to the day since we last won a major trophy.
Preston North End. FA Cup Winners 1938.
Them were the days, ey? pic.twitter.com/jDNtFoD5X7
— North End Report (@northendreport) April 30, 2021
Di Divisi Kedua, Preston North End berhasil kampiun 3 kali pada 1904, 1913, dan 1951. Gelar-gelar tadi, termasuk dua kali Piala FA jelas mengukuhkan Preston North End sebagai satu-satunya pemenang kompetisi papan atas yang tidak pernah bermain di Premier League.
Sebagai perbandingan, Burnley dan Southampton yang masing-masing hanya mampu meraih satu Piala FA sudah bermain di Premier League. Bahkan Crystal Palace, Watford, Fulham, Brighton and Hove Albion, sampai Stoke City belum pernah menjuarai Piala FA, tapi sudah merasakan panasnya Premier League. Sedangkan Preston? Mungkin harus menunggu Tottenham Hotspur juara Liga Champions Eropa.
Sumber referensi: hitc.com, quora.com, wikipedia.org


