Kamerun, Piala Afrika, dan Cerita Unik yang Tak Terlupakan

spot_img

Ajang perhelatan sepakbola antarnegara Benua Afrika akan tersaji tahun ini. Kamerun, negeri pencetak pemain berbakat dari Afrika didapuk menjadi tuan rumah untuk kedua kalinya semenjak tahun 1972.

Penunjukan kamerun sebagai tuan rumah AFCON (Africa Cup of Nation) bukan tanpa alasan. Karena sebelumnya Kamerun sudah menjadi kandidat tuan rumah pada edisi 2019. Namun, kala itu, CAF ( Confederation Africa de Football ) membatalkannya dan memilih Mesir sebagai tuan rumah.

Kompetisi tersebut sejatinya akan dihelat pada 2021, namun karena pandemi maka harus diundur hingga 2022. Awalnya pihak CAF menginginkan agar kompetisi itu digelar pada Juni-Juli, tapi pihak Kamerun menolak. Alasannya karena pada bulan itu, cuaca di Kamerun cenderung sering hujan. Maka gelaran AFCON kali ini akan digelar pada Januari 2022.

Kamerun menyatakan siap untuk menggelar AFCON edisi ke-33, pada 9 Januari hingga 6 Februari 2022 mendatang. Semua dilakukan agar AFCON ini bisa terlaksana di tengah ancaman Omicron.

Pihak Kamerun juga akan memberi penjagaan ketat selama masa AFCON. Mengingat di Kamerun masih terjadi konflik antar kelompok bersenjata yang ingin memisahkan diri sejak 2017.

Selain itu, Kamerun juga menargetkan prestasi mentereng di AFCON kali. Apalagi dengan status tuan rumah dan menjadi salah satu kekuatan terbesar Benua Hitam. Namun begitu, Timnas Kamerun punya catatan tidak menyenangkan ketika melakoni AFCON di rumah sendiri.

Juara 5 Kali Piala Afrika

Tim Nasional sepak bola Kamerun di bawah Fédération Camerounaise de Football pernah menjadi tuan rumah apsa 1972. Namun kala itu, Kamerun sendiri justru hanya mampu menjadi juara ketiga.

Nah, baru pada Piala Afrika 1984 di Pantai Gading, Kamerun mampu meraih gelar pertamanya, usai di final mengalahkan Nigeria 3-1. Sayangnya hal tersebut tidak mampu diulangi pada edisi 1986. Kala itu, Kamerun hanya mampu menjadi runner-up usai kalah dari Mesir. Padahal ketika itu, Kamerun diperkuat pemain bintang, Roger Milla.

Kamerun berhasil meraih kembali gelar di edisi ke-16. Pada Piala Afrika 1988 yang digelar di Maroko kembali menundukkan Nigeria di final dengan skor 1-0. Namun setelah gelar di 1988, Kamerun tidak mendapatkannya lagi sampai tahun 1998. Lions Indomptables paling mentok sampai ke perempat final.

Memasuki medium 2000-an, Kamerun kembali meraih kejayaan. Pada Piala Afrika 2000 yang dihelat di Ghana dan Nigeria, Kamerun menjadi kampiun. Lagi-lagi, Nigeria lah yang kembali dikalahkan Kamerun di partai final lewat adu penalti usai bermain imbang 2-2 di Stadion Nasional, Lagos.

Berkat gelar Piala Afrika 2000, Kamerun berkesempatan mewakili Afrika pada Piala Konfederasi FIFA Tahun 2001. Itu adalah turnamen yang diselenggarakan FIFA yang mempertemukan negara antar juara di beberapa benua.

Setahun setelah itu, Piala Afrika kembali digelar di Mali. Di Piala Afrika 2002 ini Kamerun kembali raih trofi. Giliran Senegal yang dikalahkan Kamerun di partai final lewat adu penalti. Saat itu Timnas Kamerun dihuni para pemain emas, seperti El Hadji Diouf dan Papa Bouba Diop.

Kesuksesan itu tidak menular di Piala Afrika 2008 di Ghana. Kala itu, kembali lagi Mesir sukses mengalahkan Kamerun 1-0 di partai puncak. Ironisnya, setelah itu keperkasaan Kamerun di Afrika seolah pudar. Di Piala Afrika 2010, Kamerun hanya mampu sampai babak 8 besar.

Kamerun makin terpuruk di tahun-tahun berikutnya. Pada Piala Afrika 2012 dan 2013, Kamerun bahkan tidak lolos kualifikasi. Nasib buruk masih menimpa Lions Indomptables di Piala Afrika 2015, yang lolos fase grup saja tak mampu.

Titik balik kesuksesan Kamerun di Piala Afrika terjadi pada tahun 2017. Kamerun berhasil menjuarai Piala Afrika 2017 di Gabon, sekaligus membayar lunas dendamnya pada Mesir. Meskipun waktu itu, skuad asuhan Hugo Broos dianggap yang terburuk sepanjang sejarah.

Penuh Intrik

Kisah Kamerun di partai final Piala Afrika juga penuh dengan intrik. Terutama ketika Piala Afrika 1986. Pemain legendaris Afrika kala itu yang juga pernah bermain di Indonesia, Roger Milla bilang bahwa Kamerun bisa saja juara, kalau tidak ada serangan psikologis pada pemain.

Apalagi Piala Afrika 1986 digelar di tengah situasi politik yang sedang berkecamuk di Mesir. Ketika itu Mesir sedang diterpa serangan teroris yang kontra terhadap rezim pemerintahan otoriter Presiden Hosni Mubarak.

Hal itu, kata Roger Milla, berpengaruh pada psikologis pemain. “Piala Afrika 1986 berlangsung saat situasi politik Mesir sedang tidak kondusif dan membahayakan,” cetus Roger Milla seperti dilansir Le Point Sports.

“Kami sungguh ketakutan saat itu, terutama para pemain muda. Kami gagal juara bukan semata-mata lantaran kalah adu penalti di final, melainkan juga teror psikologis,” pungkasnya.

Jersey Unik Kamerun di Piala Afrika 2002 dan 2004

Selain prestasi dan intrik, Kamerun sendiri juga terkenal dengan desain jersey yang unik dalam setiap gelaran Piala Afrika. Misalnya, pada Piala Afrika 2002. Saat itu, Eto’o dkk mengenakan jersey yang lebih pas disebut seragam pemain bola basket, dengan ketiak yang kelihatan. Timnas Kamerun waktu itu masih didukung apparel dari Jerman, Puma.

Hal itu, konon katanya, dilakukan untuk menimbulkan kesan gagah dari para pemain. Namun, pada Piala Afrika 2004, desain jersey Kamerun berubah lagi. Tidak lagi seperti baju pemain basket, tapi dengan model yang ketat bak mau berenang. Karena ketatnya, lekuk tubuh pemain jadi kelihatan.

Jersey tak lazim ini berwujud one-piece kit. Meski sekilas terlihat seperti jersey sepakbola pada umumnya, kaos dan celana Kamerun itu ternyata dijahit menjadi satu layaknya seragam unitard ala penari balet. Hal ini tentu saja mengundang kontroversi, sampai-sampai FIFA menjatuhkan sanksi.

Dukun dan Sihir di Kamerun

Sepanjang perhelatan Kejuaraan Afrika tahun 2019, Kamerun pernah dituding menggunakan sihir atau dukun. Pelatih Zimbabwe, Zdravko Logarusic menemukan hal yang janggal sebelum mendampingi anak asuhnya berlaga kontra Kamerun di ajang tersebut.

Zdravko Logarusic menduga jika Kamerun sengaja main dukun agar dapat memenangkan pertandingan di Kejuaraan Bangsa Afrika. Entah hanya kebetulan atau tidak, pasukan Zdravko Logarusic hari itu benar-benar mengalami hal apes. Mereka kalah 0-1 atas Kamerun.

Tudingan pelatih Zimbabwe dikarenakan ia menemukan seekor kelelawar mati di tengah lapangan pertandingan. Bangkai kelelawar itu disebutnya sebagai jejak praktik ilmu hitam.

Terpilihnya Samuel Eto’o sebagai Presiden FECAFOOT

Pada edisi tahun ini, ada hal yang juga istimewa dari Kamerun. Legenda mereka, Samuel Eto’o sudah menjadi Presiden Federation of Cameroon Football (FECAFOOT). Ia unggul dari pesaingnya, Seydou Njoya dengan 43 Suara dari 74 suara yang diperebutkan.

Tugas berat jelas sudah menanti Eto’o, AFCON 2021 di depan mata, kesiapan sebagai host harus menjadi prioritas utamanya. Kesuksesan sebagai penyelenggara menjadi tolak ukur penilaian kinerja Eto’o. Selain itu, sebagai tuan rumah, ada target khusus untuk Timnas Kamerun.

Bagaimanapun, jika Kamerun menjuarai Piala Afrika kali ini, akan menjadi hal yang baik bagi Eto’o. Setidaknya, di masa-masa awal sebagai presiden federasi, ia sukses menggelar Piala Afrika plus menjuarainya. Lantas, apakah Kamerun mampu menjuarai AFCON kali ini?

Kekuatan Kamerun di Piala Afrika 2022

Jika dilihat dari keikutsertaan dalam turnamen Piala Afrika tahun ini, Kamerun sebenarnya bisa saja berbicara banyak pada ajang yang dihelat di rumah sendiri ini. Skuad yang merata dan permainan secara kolektif bisa menjadi andalan.

Di bawah asuhan pelatih asal Portugal Antonio Conceicao, Kamerun berada di Grup A bersama Cape Verde, Ethiopia, dan Burkina Faso. Tentu di atas kertas bukan perkara rumit bagi Kamerun untuk melewati fase grup ini.

Antonio Conceicao masih mengandalkan sejumlah pemain yang berkarier di kompetisi Eropa seperti kiper Andre Onana (Ajax Amsterdam), gelandang Andre Zambo Anguissa (Napoli), penyerang Eric Maxim Choupo-Moting (Bayern Muenchen) dan Karl Toko-Ekambi (Olympique Lyon).

Dari nama-nama di atas memang tak seharum bintang dari negara pesaing seperti Mesir yang diperkuat Mohammad Salah, dan Aljazair dengan Riyad Mahrez. Pertarungan Kamerun sesungguhnya adalah ketika fase knockout, di situlah taktik kolektivitas anak asuh Conceicao diuji.

Sumber Referensi :espn, cnn, tranfermarket, thesportsman.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru