Krzysztof Piatek: Sebatang Lilin dari Polandia

spot_img

Jika berbicara soal persepakbolaan Polandia pasti kalian langsung tertuju pada satu nama striker top dunia yaitu Robert Lewan”Goal”ski, begitulah Thomas Muller menyebutnya. Namun seiring usianya yang tak muda lagi, kerap muncul nama-nama yang digadang-gadang akan menjadi suksesornya kelak.

Pertengahan tahun 2018 sempat muncul nama Krzysztof Piatek striker muda produk asli Polandia. Ia menunjukkan performa menjanjikan di negeri Pizza bersama Genoa. Tak ayal publik Polandia pun berharap banyak pada pemuda yang namanya sulit ditulis itu.

Perjalanan Awal Karir Seorang Krzysztof Piatek

Krzysztof Piatek adalah pesepakbola asal Polandia yang lahir pada 1 Juli 1995, sekarang usianya menginjak 26 tahun. Piatek memulai karier juniornya pada awal tahun 2012, dengan membela klub asal kota kelahirannya bernama Lechia Dzierżoniów. Semusim kemudian ia pindah ke kasta tertinggi Liga Polandia bersama Zagłębie Lubin.

Pemain yang berposisi sebagai striker ini menghabiskan empat musim lamanya bersama klub profesional pertamanya, sebelum akhirnya pindah ke klub polandia lainnya, yaitu Cracovia Krakow pada tahun 2016.

Setelah mencatatkan 32 gol dari 63 pertandingan bersama Cracovia, Piatek mendapat kontrak jangka panjang selama empat musim dari tim Serie A, Genoa. Baru tampil selama setengah musim di Italia, Piatek sudah menjadi top skor sementara kompetisi dengan menorehkan 13 gol.

Fenomena ini langsung menarik perhatian awak media dari seluruh belahan dunia, mereka membumbui berita dengan mengaitkan nama Piatek dengan kebesaran Robert Lewandowski, yang lebih dulu terjun di kancah persepakbolaan Eropa.

Tak heran, apabila klub klub papan atas Liga top Eropa pun akhirnya berminat untuk menggunakan jasanya. Salah satu yang menyatakan minatnya adalah klub legendaris Italia, AC Milan. Namun, justru dari situlah awal mula petaka karier seorang Piatek.

Sempat Jadi Idola Baru San Siro

Meski durasi kontrak Piatek bersama Genoa belum usai, striker berpaspor Polandia ini memutuskan untuk meninggalkan Genoa. Ia tercatat hanya bermain selama setengah musim saja, dan akhirnya melanjutkan separuh musim 2018/2019 kompetisi Serie A bersama AC Milan.


Usia Piatek kala itu boleh dibilang masih muda. Akan tetapi, keputusannya memilih AC Milan dianggap tergesa-gesa, dan seakan-akan mengabaikan tawaran dari klub-klub Liga Inggris, semacam Tottenham dan Chelsea, dan Liga Top Eropa lainnya.

Walaupun begitu, tekadnya bulat untuk meneken kontrak dengan AC Milan, dan akan bertahan di San Siro hingga 2023. Apalagi ketika itu, AC Milan memang sedang membutuhkan striker, usai Gonzalo Higuain dipinjam Chelsea setelah mengakhiri masa peminjaman dengan Juventus. Kedatangan Piatek diharapkan menjadi amunisi baru bagi AC Milan.

Di Milan, Piatek mengenakan jersey bernomorkan 19, angka yang sebelumnya dipakai oleh Leonardo Bonucci. Melalui selebrasi ‘Pistol’ khasnya, Piatek langsung menjadi idola baru San Siro. Terlebih ia adalah ujung tombak AC Milan.

Marco Giampaolo jadi Biang Kerok Menurunnya Performa Piatek

Performa Piatek di paruh kedua musim 2018/2019 cukup baik, meski ada penurunan dari paruh musim pertama sewaktu ia masih di Genoa. Walau begitu, Piatek tetap mampu melahirkan gol demi gol bersama tim asuhan Gennaro Gattuso tersebut. Hingga akhir musim, tercatat ia mampu melesatkan 9 gol dari 18 pertandingan di semua kompetisi.

Di musim keduanya bersama Milan, perjalanan karier pemuda Polandia itu sedikit menemui jalan yang terjal. Pasalnya, di musim 2019/2020 Milan memutuskan untuk menyudahi kerja samanya dengan legenda sekaligus pelatih Rossoneri saat itu, Gennaro Gattuso, dan justru menggantikannya dengan pelatih medioker, Marco Giampaolo.

Dengan berbekal pengalaman dan torehan golnya musim lalu, Piatek berambisi ingin mengulangi prestasi tersebut. Namun naas, Piatek hanya bisa berencana, namun Marco Giampaolo lah yang menentukan.

Marco sebagai juru taktik baru milik AC Milan senang merotasi pemain beserta posisinya. Imbasnya, Marco malah gemar memposisikan Piatek agak mundur jauh dari gawang, padahal Piatek adalah striker bertipikal finisher. Jadi, memosisikan Piatek agak menjauh dari gawang ibarat masak air tapi gasnya abis.

Benar saja, Piatek agak kesulitan untuk beradaptasi dengan posisi barunya itu Ia lamban beradaptasi dengan pola permainan si juru taktik. Hal itu pada akhirnya mempengaruhi performa Piatek selama paruh pertama musim 2019/2020.

Korban Kutukan Nomor “9” AC Milan

Tentu saja tidak ada yang namanya kutukan dalam sepak bola, tapi percaya atau tidak, memanglah sulit untuk menjelaskan soal begitu keramatnya angka 9 milik AC Milan ini.

Setelah era Filippo Inzaghi, tidak ada lagi penyandang nomor 9 yang mampu mengalahkan produktivitas dari striker nyentrik yang satu ini.

Total, kakak dari Simone Inzaghi ini menorehkan 126 gol dari 300 pertandingan. yang berarti jika di rata-rata Pippo mampu mencetak 1 gol setiap 144 menit.

Namun setelah itu, banyak striker top yang mampet di AC Milan setelah memakai nomor “9”. Sebut saja seperti Alexandre Pato, Fernando Torres, sampai Andre Silva.

Akan tetapi, walaupun masih diselimuti kekeramatan, di musim keduanya bersama Milan, Piatek justru memutuskan mengganti nomor punggungnya menjadi nomor 9.

Entah terkena kutukan atau tidak, nasib Piatek seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Setelah posisinya diubah oleh Marco Giampaolo, pemberitaan tentang kutukan ini pun selalu dikaitkan dengan performanya yang anjlok.

Kembalinya Lord Zlatan Ibrahimovic ke AC Milan

Dengan tidak berkembangnya performa Piatek setelah 6 bulan mengarungi musim 2019/2020, AC Milan memutuskan untuk reuni dengan striker lamanya Zlatan Ibrahimovic. Kedatangan striker Swedia di awal tahun 2020 dari LA Galaxy itu menenggelamkan ambisi Piatek.

Dengan kedatangan Lord Ibra, Piatek merasa tak ada tempat lagi bagi dirinya. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa ia hanya menjadi penghias bangku cadangan selama lima atau enam pertandingan berturut-turut.

Setelah melewati penantian panjang, saat pertandingan Coppa Italia, kesempatan bagi Piatek pun datang. Ia berusaha tampil sebaik mungkin dan mencatatkan satu gol dan satu assist dalam pertandingan tersebut. Namun, itu semua belum cukup, ia pun kembali diletakan di bangku cadangan.

Meskipun sudah pensiun dari Timnas Swedia, sosok Ibra adalah pesepakbola yang seperti tidak kenal usia. Ketika ia bermain bagus dan nyetel dengan permainan juru taktik, niscaya gol pun akan tercipta dengan mudahnya. Ibra bak terlahir kembali ketika berseragam merah hitam khas AC Milan untuk kedua kalinya.

Kehadiran Ibra ke San Siro, membuat Piatek makin habis. Sampai tawaran dari Hertha Berlin pun muncul. Klub Bundesliga itu menawar 27 juta euro(Rp 405 juta) untuk Piatek yang lebih rendah dari harga belinya. Demi bisa bermain di Polandia pada EURO 2020 kemarin, kesepakatan itu pun terjalin.

Begitulah sosok Piatek. Ia ibarat sebatang lilin yang pelan-pelan namun pasti terbakar habis. Piatek yang digadang-gadang sebagai penerus Robert Lewandowski, justru kariernya perlahan pupus. Namanya tak terdengar lagi bak seseorang yang sudah sangat lama hiatus.

Sumber: Transfermarket.co.id, Bleacherreport.com, acmilaninfo.com, Indosport.com

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru