“Seorang pesepakbola yang sangat modern, yang bermain dengan dan untuk timnya sepanjang waktu dan di seluruh lapangan.”
Kalimat itu keluar dari mulut pelatih legenda asal Italia, Arrigo Sacchi ketika mengomentari Domenico Berardi. Pemain yang kini masih setia berseragam Sassuolo itu dipandang sebagai pria modern dengan kemampuan ciamik.
Meski kecepatan tidak menjadi spesialisasinya, Berardi punya kaki kiri yang sangat mematikan. Dia akan mencari ruang yang tepat untuk menembak, sebelum kaki kiri menjadi penyempurna dari gol yang diciptakannya.
Lika-liku Perjalanan Karir Domenico Berardi
Lahir di Cariati pada 1 Agustus 27 tahun silam, Berardi yang memang gemar bermain bola langsung berhasil menarik minat banyak pemandu bakat asal Italia. Tepat di tahun 2006, Juventus menjadi tim yang pertama kali menemukan Berardi.
Di usianya yang baru 12 tahun saat itu, Berardi sudah ditawari untuk pindah ke Turin. Namun tawaran dari raksasa Italia itu tidak mentah-mentah. Tentu bukan soal bayaran, tapi Berardi tak mau kalau kepindahannya ke Turin menjadikannya jauh dari keluarga. Alhasil tahun 2008, ia lebih memilih menerima pinangan Cosenza.
Dua tahun berselang, Berardi bergabung ke klub Sassuolo. Keputusan itu membuat semua orang bergidik. Bagaimana mungkin seorang Berardi menolak Juventus dan malah memilih Sassuolo yang bergulat di Serie B? Sayangnya, alasan yang disampaikan Berardi sangat remeh. Ia terkesan dengan Sassuolo.
Ajaibnya, karier Berardi di Sassuolo makin menanjak. Tak butuh waktu puluhan tahun bagi Berardi untuk masuk ke tim utama Sassuolo. Keajaiban berikutnya adalah, Berardi turut membawa Sassuolo melenggang ke Serie A setelah finis di posisi pertama di Serie B musim 2012/2013.
Tahun 2013, seolah belum puas Juventus kembali memberi tawaran pada Berardi. Namun, kali ini Si Nyonya Tua agak cerdik dengan menawarkan kontrak kepemilikan bersama kepada Sassuolo, alih-alih membelinya langsung. Jadi, seandainya Sassuolo berniat menjual Berardi, Juventus adalah tim pertama yang berhak memboyong pemain 18 juta euro atau setara 310 miliar rupiah tersebut.
Persis di tahun yang sama, Berardi juga mendapat masalah. Dia yang dipanggil Timnas Italia U-19 justru dilarang tampil untuk mewakili Italia di segala level selama sembilan bulan. Penyebabnya Berardi tidak menghadiri undangan FIGC untuk pelatnas Euro U-19 Tahun 2013.
Domenico Berardi for Italy:
3 games, 3 goals 🇮🇹⚽️ pic.twitter.com/DAEIOvKd0N
— Italian Football TV (@IFTVofficial) March 25, 2021
Karena itu pula, Berardi masuk daftar hitam FIGC. Belum cukup sampai di situ, Berardi kembali mendapat hukuman dengan tidak boleh membela Timnas Italia U-21 karena dia mendapat kartu merah saat bermain untuk Sassuolo. Meski alasan itu terbilang konyol Berardi tetap menerima dan mengakui kalau dirinya memang bersalah.
“Harus diakui bila aku memang membuat beberapa kesalahan. Tapi, itu justru membantuku berkembang. Aku mencoba untuk terus meningkatkan kontrol diriku. Tapi, itu memang tidak selalu mudah. Aku akan terus berusaha untuk lebih baik lagi,” kata Berardi.
Perubahan positif kemudian didapat Berardi ketika tim yang dibelanya kedatangan pelatih hebat bernama Roberto de Zerbi. De Zerbi memberi kepercayaan penuh bagi Berardi untuk berkreasi di atas lapangan. Dia pun tampil bagus dan terlihat kian dewasa.
Ketika banyak rumor yang terus mengganggu hari-harinya, Berardi tetap tegas mengatakan bahwa dia ingin bertahan di Sassuolo. Bahkan ketika Juventus datang untuk mengambil seluruh hak kepemilikan Berardi pada tahun 2015, sang pemain lah yang kemudian membantu Sassuolo untuk bisa mempertahankan dirinya agar tetap berada di Mapei Stadium.
Hal itu diungkap langsung oleh sang presiden Sassuolo, Giorgio Squinzi. Menurut Squinzi, Berardi lah yang menolak untuk hijrah ke Juventus. Padahal tim asal Turin tersebut telah memenangkan lelang untuk bisa mengambil kepemilikan penuh sang pemain.
“Berardi sendiri yang memutuskan untuk bertahan di Sassuolo. Padahal jujur saja, ketika itu aku sangat yakin dirinya akan membela Juve,”
“Namun Berardi memutuskan untuk tinggal bersama kami. Ia bahkan mau merogoh koceknya sendiri untuk mewujudkan hal tersebut. Aku sungguh terkejut, karenanya Berardi harus jadi simbol Sassuolo,” kisah Squinzi, seperti dikutip Il Resto del Carlino. (via goal)
Giorgio Squinzi: “Berardi? My dream is to hold onto him and turn him into a symbol, but we have to assemble a team that is up to his level.” pic.twitter.com/H569LF2jtb
— Squawka News (@SquawkaNews) October 11, 2016
Kesetiaan Berardi kemudian diuji ketika sang pelatih, De Zerbi pindah ke Shakhtar Donetsk. De Zerbi mendorong Berardi untuk bergabung ke klub Ukraina dengan iming-iming 30 juta euro atau Rp 515 miliar.
Namun, Berardi enggan pergi. Apalagi Sassuolo yang memang ngotot mempertahankan pemain andalannya itu mematok harga sang pemain di angka 40 juta euro atau setara 687 miliar rupiah kepada klub yang menginginkannya.
Berkat deretan kesetiaan yang ditunjukkan Berardi kepada I Neroverdi, publik kemudian menjulukinya sebagai Francesco Totti-nya Sassuolo.
Kegemilangan Berardi Berujung Pada Trofi Piala Eropa 2020
Tampil bersama Sassuolo bukan sekadar pekerjaan biasa bagi Berardi. Selain karena kesetiaannya yang telah teruji, Berardi juga menunjukkan performa gemilang ketika tampil di atas lapangan.
Sejak musim 2018/19, torehan gol nya selalu menyentuh angka 10 biji. Musim berikutnya Berardi yang mencatatkan expected goal di angka 9,8 dan membukukan 14 gol. Kemudian pada musim 2020/21, catatan yang ditunjukkan lebih gila lagi. Nilai expected goal Berardi meningkat tajam hingga menyentuh angka 14,6, dan mampu mencetak 17 gol untuk Sassuolo.
Faktor kegemilangan Berardi juga sedikit banyak dipengaruhi oleh gaya permainan Sassuolo yang mempercayakan sepenuhnya sisi sayap dari garis tengah hingga ke depan kepada para winger. Dengan ini, Berardi menjadi aktor utama Sassuolo dalam membangun serangan dari sektor sayap.
Kualitas yang dimiliki Berardi plus catatan golnya yang luar biasa, membuat Roberto Mancini tak ragu untuk memasukkan namanya ke dalam daftar Timnas Italia yang berlaga di ajang Piala Eropa 2020.
Bermain selama 375 menit dalam 8 laga, Berardi memang tak menorehkan gol. Akan tetapi, dia berhasil ciptakan dua assist dan melakukan percobaan tembakan sebanyak 14 kali ke gawang lawan.
Lebih dari itu, Berardi juga berkontribusi di lini pertahanan Timnas Italia, dengan catatan 5 ball recovery dan melakukan sebanyak tiga kali sapuan bersih.
Berardi? Not a problem 👌📱#Azzurri 🇮🇹 #EURO2020 #VivoAzzurro https://t.co/v8SXbwWxxV pic.twitter.com/benOIiM60u
— Italy ⭐️⭐️⭐️⭐️ (@Azzurri_En) July 14, 2021
Hasilnya, Berardi yang mulai masuk di menit ke 54 di laga final melawan Inggris, berhasil membawa timnas Italia meraih gelar juara melalui drama adu penalti. Dia yang bertindak sebagai algojo pertama Timnas Italia berhasil menuntaskan tugasnya dengan sangat baik.
Usai kembali dari Euro 2020, Berardi masih mampu tampil konsisten di kompetisi Serie A musim ini. Dia masih menjadi andalan di setiap laga dan berhasil menciptakan gol serta assist penting, untuk setidaknya mempertahankan status Sassuolo sebagai tim yang jadi ancaman bagi kontestan lainnya.
Sumber referensi: libero, goal, the flanker


