Setelah sempat tertunda karena pandemi, gelaran sepak bola paling bergengsi di negara-negara ASEAN, Piala AFF 2020 akhirnya digelar pada tahun 2021.
Sebelum gelaran ini berlangsung, sempat muncul kabar yang menyebut Egy Maulana Vikri tidak diizinkan FK Senica untuk tampil bersama timnas Indonesia di ajang Piala AFF pada babak penyisihan. Hal itu karena Egy harus membela FK Senica sampai kompetisi di Slovakia libur. Sementara, Liga Slovakia baru masuk ke libur musim dingin pada 20 Desember 2021 hingga pertengahan Februari 2022.
Egy Maulana Vikri received Fortuna Liga’s Goal of the Month award yesterday, as it was also the last FK Senica’s match for this year.
He will join Indonesia NT in Singapore for the AFF Cup 2020 semifinals. pic.twitter.com/gTHsKv2j3F
— footballIndonesia (@footballinanews) December 19, 2021
Artinya, Egy baru bisa bergabung apabila timnas berhasil melangkah ke semifinal, yang kita tahu baru akan digelar pada tanggal 22 Desember 2021.
“Egy Maulana Vikri akan dilepas untuk memperkuat timnas Indonesia di Piala AFF setelah laga terakhir FK Senica pada 18 Desember 2021,” kata David Balda dikutip dari akun Instagram pribadinya.
Sejatinya, FIFA mewajibkan klub untuk melepas pemainnya apabila ada panggilan tim nasional. Namun, aturan ini seolah tidak ada karena Piala AFF tidak masuk ke dalam kalender FIFA. Mengapa begitu?
Sejarah Singkat dan Alasan Piala AFF Tidak Masuk Kalender FIFA
Piala AFF sendiri pertama kali diselenggarakan pada tahun 1996 silam, dengan nama Piala Tiger. Nama Tiger tersemat setelah perusahaan bir asal Singapura menjadi sponsor utama dari gelaran ini. Baru pada tahun 2008, perusahaan asal Jepang Suzuki muncul sebagai sponsor baru, dan praktis membuat turnamen berubah menjadi AFF Suzuki Cup.
Meski sudah berubah nama sampai sponsor turnamen ini tidak masuk kalender FIFA karena pertandingan di ajang Piala AFF hanya dianggap sebagai laga persahabatan saja. Artinya kemenangan yang diraih oleh sebuah tim tidak berpengaruh sama sekali terhadap ranking FIFA.
Seperti dilansir situs goal, FIFA baru memberi ganjaran poin terhadap pertandingan di ajang AFF pada tahun 2016 lalu. Namun, meski sudah mendapat pengakuan dari FIFA, Piala AFF sebenarnya belum pernah dimasukkan sebagai turnamen yang masuk dalam jadwal resmi.
Hal itu bisa dilihat dari jadwal agenda pertandingan resmi yang pernah dikeluarkan FIFA dari kurun waktu 2016 hingga 2022. Terlihat tak ada pencantuman Piala AFF dalam daftar turnamen resmi FIFA.
Tak cuma jadwal saja yang belum diakui, tentang bobot poin yang telah diberikan pun tidak memiliki nilai yang berarti. Pada Piala AFF 2018 lalu, bobot poin pertandingan hanya dihitung 5 poin, masih kalah dari laga uji coba di jadwal resmi FIFA yang nilainya mencapai 10 poin.
#Jinro FT | 🇲🇾 Malaysia 1-4 Indonesia 🇮🇩
🦅 A stellar performance from the Garuda sees them finish 🔝 of Group 🅱️!
#AFFSuzukiCup2020 | #RivalriesNeverDie | #MASvIDN pic.twitter.com/gFsapMRL3M— AFF Suzuki Cup (@affsuzukicup) December 19, 2021
Walaupun FIFA tak menganggap AFF sebagai turnamen resmi, nyatanya jumlah penonton turnamen ini tergolong tinggi. Misalnya, ketika 2010 silam, jumlah penonton Piala AFF bahkan menyentuh 192 juta penonton di televisi. Laga final Piala AFF 2010 antara Indonesia melawan Malaysia, dari dua leg yang digelar, masing-masing disaksikan oleh sekitar 15 juta penonton televisi.
Lantaran animo penonton yang kian membludak, kabarnya FIFA mulai tertarik memasukkan Piala AFF ke kalender resmi mereka. Menarik dinanti, lebih cepat mana FIFA memasukkan Piala AFF ke kalender resmi, dengan Indonesia yang meraih juara Piala AFF untuk pertama kalinya?


