“Biasanya tim yang meraih hasil imbang berturut-turut akan susah untuk mendapatkan gelar juara”. Pernyataan itu terdengar dari corong televisi saat komentator pertandingan, Bung Kusnaini mengomentari jalannya laga antara Persib Bandung menghadapi PSM Makassar pada lanjutan BRI Liga 1, Sabtu, 2 Oktober 2021. Kala itu laga berakhir imbang.
PSM Makassar menahan imbang Persib 1-1 sekaligus melengkapi catatan remis Maung Bandung di empat laga terakhir. Sejak kick off babak pertama, Persib memang tidak begitu meyakinkan bisa menang menghadapi skuad Coach Milo. Apalagi sepanjang pertandingan tersebut, PSM Makassar justru yang menguasai jalannya pertandingan.
Skuad asuhan Milomir Seslija berkali-kali merepotkan lini belakang Persib Bandung. Di laga itu, PSM Makassar mengemas 6 shoot on target, sedangkan Persib cuma sebiji. PSM juga mencatatkan 288 operan sukses, dan Persib 264. Di laga tersebut, jika dihitung ball possession PSM unggul 53% sedangkan Persib Bandung hanya 47%.
Gol Persib di laga itu pun tidak murni dari Wander Luiz, Marc Klok, Febri Hariyadi maupun pemain Persib lainnya, melainkan mendapat voucher dari pemain PSM, Serif Hasic menit 60. Lalu, 17 menit berselang, PSM mampu menyamakan kedudukan lewat skema cerdas coach Milo. Berawal dari set piece Bektur Talgat, Saldi Amiruddin yang tak terkawal membuat Teja Pakualam harus memungut bola dari gawangnya sendiri.
Andai Serif Hasic tak melakukan kesalahan, maka boleh jadi Persib akan mengalami kekalahan di laga itu. Sebab satu-satunya keunggulan Persib di laga tersebut hanyalah catatan fouls. Persib tercatat melakukan pelanggaran 17 kali dan 3 di antaranya kena kartu kuning. Sedangkan PSM hanya 13 kali fouls dan 2 di antaranya kartu kuning.
Dengan hasil imbang itu, Persib kini sementara menempati posisi lima klasemen BRI Liga 1. Skuad Robert Rene Alberts mencatat 2 kemenangan dan 4 hasil imbang, dan itu artinya mengoleksi 10 poin. Berada di peringkat kelima setidaknya Persib masih jauh di atas zona degradasi. Namun begitu, tampaknya penggemar Persib Bandung alergi kalau tim kebanggaannya itu harus berada di posisi lima.
Terus berjuang! #PERSIBDAY pic.twitter.com/n6NOtcz4xI
— PERSIB (@persib) October 2, 2021
Ya mungkin saja, Persib seharusnya minimal berada di posisi ketiga atau kedua. Lha ini, masak Persib kalah sama PSIS yang notabene pelatihnya bukan lisensi UEFA Pro? Sekadar informasi, PSIS kini menduduki peringkat kedua dengan torehan 12 poin.
Ujungnya pun gampang ditebak. Bobotoh menginginkan kalau Robert Rene Alberts dipecat. Pelatih asal Belanda itu dianggap kerasukan Ronald Koeman. Padahal kalau dilihat dari statistik pelatih Persib Bandung itu jauh lebih baik. Paling tidak, di musim ini Persib belum terkalahkan hingga sebelum bergulirnya seri kedua BRI Liga 1.
Namun mau bagaimana lagi? Sepak bola Indonesia tetap lah sepak bola Indonesia. Jika klub dirasa buruk, rekor kemenangannya masih diragukan, solusi yang tepat adalah memecat pelatih. Seolah setelah itu terpenuhi, kondisi akan membaik. Begitulah.
🚨⚠️ | Ratusan Bobotoh melakukan demo di depan kantor Persib, Minggu (10/10). Mereka menyampaikan petisi yang salah satunya menuntut pelatih Persib, Robert Rene Alberts, dipecat. Sambil menyalakan flare dan membakar ban, hingga pukul 17.30 WIB, bobotoh masih bertahan. pic.twitter.com/5GJpVgPTbj
— Bola Abis (@bola_abis) October 10, 2021
Daftar Isi
Catatan Buruk?
Ternyata bukan hanya federasi yang hobinya minta instan. Fans klub lokal juga punya tabiat yang sama. Dan lucunya, solusi yang disodorkan juga sama: memecat pelatih. Robert Rene Alberts didesak untuk mundur dari kursi kepelatihan Persib Bandung.
Mantan pemain Ajax junior tersebut dianggap telah membuang-buang poin. Betapa tidak? Di laga yang harusnya Maung Bandung bisa menang, justru hanya berakhir imbang. Marah lah para pendukung Persib. Bahkan sampai muncul meme Robert Rene Alberts yang dijual di Shopee.
Hebatnya, manajemen Persib langsung menanggapi hal itu. Pihak manajemen akan meninjau performa Robert Rene Alberts di seri kedua BRI Liga 1 nanti. Jika masih pula melempem dan malah melanggengkan tradisi imbang, boleh jadi tuntutan untuk memecat Robert Alberts akan dipenuhi.
Namun kalau kita mau fair, catatan Robert Rene Alberts ini sebetulnya tidak terlalu buruk. Musim ini saja, di tangan Alberts, Persib baru kebobolan 4 gol dan sukses mencetak 6 gol. Artinya, pertahanan Persib masih sulit untuk ditembus.
Seberapa Hebat Robert Rene Alberts?
Selain itu, Alberts bukan lah pelatih remeh-temeh. Rekam jejaknya terbukti menoreh prestasi. Tahun 1993, Alberts memenangkan liga dan Piala Malaysia saat melatih Kedah FA. Ia juga pernah melatih Timnas Korea Selatan U-19 dan Timnas Malaysia U-19. Musim 2008/09 ia melatih Serawak FA.
Sebelum ke Serawak FA, Alberts sempat merasakan gelar juara Liga Singapura bersama Home United tahun 1999. Karier di Serawak FA tak cukup bagus, Robert Rene Alberts hijrah ke negeri +62. Ia melatih Arema FC musim 2009/10.
Selain turut menelurkan tulang punggung Timnas Indonesia, seperti Ahmad Bustomi dan Kurnia Meiga, Alberts juga membawa Singo Edan menjuarai Liga Super Indonesia musim 2009/10 dan mengamankan posisi Runner up Piala Indonesia 2010.
Ia juga sempat melatih PSM dua kali, musim 2010/11 dan 2016-2019. Jeda dua periode tersebut, Alberts kembali menangani Serawak FA dan sukses membawa klub tersebut juara Liga Primer Malaysia tahun 2013. Kendati tak mempersembahkan gelar untuk PSM Makassar, Alberts dianggap mampu membuat tim berjuluk Juku Eja turut memanasi persaingan di puncak klasemen.
Robert Rene Alberts juga pernah disebut-sebut sebagai pelatih terbaik di Liga Indonesia. Hal itu ia buktikan dengan meraih gelar pelatih terbaik ajang Torabika Soccer Championship tahun 2016. Bahkan dengan kualitasnya itu, ia sempat diisukan bakal menangani Timnas Indonesia.
RESMI…. Robert Rene Alberts gantikan posisi Miljan Radovic sebagai juru taktik Persib Bandung musim ini pic.twitter.com/qZ3TV6AwMY
— Football Fandom (@Fandom_ID) May 3, 2019
Alberts Kehilangan Magis, Persib Melempem?
Persib Bandung memang, tak dipungkiri adalah salah satu kekuatan Liga Indonesia. Persib tidak hanya kuat di dalam, tapi juga di luar, tentu saja yang dimaksud adalah suporternya. Saat diasuh Janur sampai Rene Alberts, Persib sebetulnya cukup konsisten jadi tim garang.
Ketika Alberts datang tahun 2019, sudah 52 laga ia mendampingi Persib Bandung. Hampir separuhnya meraih kemenangan, yaitu 23 kali. Sementara Alberts merasakan hasil imbang bersama Persib 18 kali, dan 11 sisanya kalah.
Musim 2020/21, Alberts sejatinya mampu memancing Maung Bandung untuk mengaum. Mereka bahkan memuncaki klasemen dengan torehan 9 poin berkat 3 kali menang. Sayangnya, kala itu liga harus disetop karena pandemi. Usai liga digelar kembali musim 2021/22, Alberts seperti kehilangan magisnya. Persib pun tak lagi garang.
Salah satunya menuntut agar Robert Rene Alberts mundur dari jabatannya sebagai pelatih kepala Persib.
Tuntutan tersebut merupakan imbas dari performa kurang memuaskan Persib selama Seri 1 Liga 1 2021.
.#kesempatan #target #mintul #liniserang #strikerpersib pic.twitter.com/I85qG8PDYL
— MAUNG TEMPUR (@maung_tempur) October 11, 2021
Alberts Miskin Taktik?
Digelar kembali kompetisi liga domestik di Indonesia, bagi pelatih 66 tahun itu seperti mendengar suara senapan. Robert Rene Alberts wajib langsung beradaptasi. Namun Alberts dan Persib Bandung terkesan lambat dan terkejut musuh-musuh yang dihadapi tak selemah 4-5 tahun lalu.
Disadari atau tidak, persaingan di Liga 1 Indonesia makin ketat. Ada Bali United sang juara bertahan, Bhayangkara FC yang siap tempur dengan pemain bekas Timnas U-19 Indra Sjafri, dan jangan lupakan PSIS Semarang yang tengah naik daun. Belum lagi PSM dengan permainan khas Eropa-nya.
Pembaruan taktik adalah langkah mutlak jika tidak ingin tertinggal. Selama ini Alberts tampak nyaman dengan formasi 4-4-2 untuk Persib. Dalam membangun serangan Alberts mengandalkan dua sektor flank. Febri Hariyadi di kanan dan Fretz Butuan di seberangnya. Sedangkan Klok dan Rashid ditempatkan sebagai jenderal lapangan tengah.
Namun itu tidak efektif. Apalagi Alberts selalu mengandalkan manuver dari dua sayap. Jika tidak menusuk ke jantung pertahanan, kedua sayap akan memberikan crossing khas sepak bola Indonesia. Ironisnya, striker Persib seperti Wander Luiz tumpul. Jadi usaha semacam itu boleh jadi sia-sia belaka.
Pelatih Persib Bandung, Robert Rene Alberts, punya ide untuk melanjutkan Liga 1 2020
Robert :”Saya pikir, kita bisa menggelar pertandingan tanpa penonton di bulan Juli. Tak masalah kita bertanding di stadion yang kosong” pic.twitter.com/9e3KzdjxaU
— Edan Bola RCBFM (@EdanBolaRCBFM) April 21, 2020
Tapi Alberts punya alternatif lain. Beberapa kali ia membiarkan Marc Klok melakukan shoot dari luar kotak penalti. Selain itu juga ada opsi menempatkan Beckham Putra di lini tengah. Dan terbukti, ketika pemain nomor punggung tujuh itu dimasukkan, ia kerap mencetak gol.
Akan tetapi, Alberts perlu diingatkan, kalau dirinya bukan pelatih klub futsal. Tidak selamanya pemain Persib bisa menembak dari luar kotak penalti atau jarak jauh. Disamping menyerang juga ada konsekuensi diserang balik.
Nahasnya Persib acap kali keteteran saat di-counter-attack. Apalagi kalau lawan langsung melakukan direct pass, seperti gol Yabes Roni ketika Persib menghadapi Bali United. Pemain Persib juga sering lupa mengawasi pergerakan tanpa bola pemain lawan.
Walaupun begitu, Alberts masih bisa kok memperpanjang nafasnya di Persib Bandung. Ia tak perlu diganti. Tentu dengan catatan, kendati sama-sama berpaspor Belanda, Robert Rene Alberts tak perlu mengikuti cara Ronald Koeman melatih Barca.
Sumber referensi: goal.com, lapangbola.com, cnnindonesia.com, bolasport.com, indosport.com


