Inilah Cara Menghitung Poin dan Menentukan Pemenang Ballon d’Or

spot_img

Anugerah paling bergengsi bagi pemain sepak bola, Ballon d’Or nominasinya resmi diumumkan. Dilansir situs Anadolu Agency ada 30 nama yang masuk nominasi peraih Ballon d’Or tahun 2021. Nominasi itu diumumkan pada Jumat, 8 Oktober 2021.

Adapun nama-nama pesepak bola yang masuk nominasi di antaranya Robert Lewandowski, Jorginho, N’Golo Kante, Ruben Dias, Raheem Sterling, Phil Foden, Riyad Mahrez, Kylian Mbappe, Neymar, Bruno Fernandes, Giorgio Chiellini, Simon Kjaer, Gerard Moreno, Harry Kane, Erling Haaland sampai Mohamed Salah. Tentu kalian nggak perlu bertanya, kok nggak ada Messi dan Ronaldo? Sebab dua nama itu sudah pasti masuk.

Well, melihat nama-nama tadi tentu yang jadi pertanyaan adalah siapakah yang bakal meraih Ballon d’Or tahun ini? Apakah Messi lagi, atau Ronaldo lagi? Namun perlu diingat, dua pemain tersebut sedang tidak cukup baik performanya di klub terbarunya.

Meskipun begitu, untuk menentukan siapa yang bakal mengangkatnya trofi ajang bergengsi seperti Ballon d’Or bukan sekadar statistiknya bagus. Oke, statistik memang salah satu indikatornya. Tapi ada indikator lain yang membuat seorang pemain itu membawa pulang Ballon d’Or. Hebatnya lagi, ada indikator yang boleh jadi tidak terduga.

Nah, tapi sebelum itu, kira-kira kalian tahu nggak sih gimana caranya menghitung poin Ballon d’Or, hingga muncul satu nama pemenang? Kenapa nggak pakai jumlah gol saja biar gampang?

Sekelumit Tentang Ballon d’Or

Nah, perlu kalian tahu ya, trofi Ballon d’Or itu bentuknya bola bukan sepatu. Maknanya, gelar Ballon d’Or ini ditunjukkan bukan hanya untuk para pencetak gol. Melainkan untuk seluruh pemain. Boleh dibilang Ballon d’Or adalah penghargaan pemain terbaik, khususnya di Benua Eropa.

Majalah asal Prancis, France Football adalah pihak yang pertama kali memberikan penghargaan ini sejak tahun 1956. Pada 2010, Ballon d’Or versi France Football ini pernah “bercumbu mesra” dengan penghargaan Pemain Terbaik FIFA. Hingga muncul FIFA Ballon d’Or dari tahun 2010-2015. Selepas 2015, FIFA dan Ballon d’Or memutuskan bercerai.

France Football tetap dengan penghargaan Ballon d’Or sedangkan FIFA dengan Penghargaan Sepak bola Terbaik FIFA. Lionel Messi adalah pemain terakhir gelar FIFA Ballon d’Or tahun 2015. Kala itu, tentu saja saat La Pulga masih berseragam Blaugrana.

Bagaimana Memunculkan Nominasi?

Lalu, bagaimana memunculkan nominasinya? Kok bisa muncul 30 pesepak bola? Nah, for your information saja nih, pihak yang mengeluarkan nominasi adalah France Football. Mengapa?

Karena France Football lah yang memberikan penghargaan tersebut dan menginisiasinya. Sebagai majalah yang berfokus di dunia sepak bola, editorial memilih para pemain yang menurut mereka cocok masuk nominasi. France Football sendiri adalah publikasi sepak bola yang paling dihormati di Eropa.

Namun kita tidak tahu apa kriteria editorial France Football untuk menyusun daftar nominasi. Ini boleh jadi wajar saja. Sebab jika kalian sering menonton acara awarding di televisi sudah tentu tidak dijelaskan bagaimana menyusun daftar nominasi, bukan? Yang ada hanya cara memilih siapa pemenangnya.

Menentukan Poin Ballon d’Or

Metode yang dipakai untuk menentukan pemenang Ballon d’Or adalah menggunakan voting. Akan tetapi, juga menggunakan poin. Lha bagaimana coba itu? Maksudnya begini, voting itu dihitung bukan satu voting satu poin. Melainkan ada ketentuan poin yang sudah ditentukan. Lantas, siapa yang berhak memilih?

Penyelenggara akan menunjuk juri internasional yang memiliki latar belakang beragam. Juri yang ditunjuk adalah pelatih dan kapten dari sekitar 209 asosiasi sepak bola nasional yang di bawah naungan FIFA. Selain itu ada jurnalis spesialis. Artinya, yang dipilih bukan wartawan yang biasa meliput korupsi sampai PSSI, bukan juga wartawan bodrex. Tetapi jurnalis yang punya fokus pekerjaannya di isu sepak bola Eropa.

Namun perlu dicatat, hanya satu jurnalis saja per negara yang berhak memberikan suaranya. Ini bukan karena pembungkaman pers, tapi aturannya memang gitu. Ajaibnya lagi, para jurnalis ini dibolehkan memilih pemain yang berafiliasi atau berasal dari negaranya sendiri.

Sementara, untuk kapten Tim Nasional, jika dia juga masuk nominasi, dia tidak berhak memilih dirinya sendiri. Namun begitu, dia diizinkan memilih kerabatnya atau rekan satu timnya.

Bagaimana prosesnya?

Proses penentuan, penghitungan, dan pemutusan siapa pemenangan Ballon d’Or di satu edisi memang tidak cepat, alias butuh waktu. Sekalipun tentu saja masih kalah rumit dari birokrasi di Indonesia. Setelah nominasi diumumkan, juri diminta untuk membuat daftar lima pemain pilihannya, untuk kemudian diurutkan dari urutan pertama sampai kelima.

Hal itu sedikit berbeda ketika masih FIFA Ballon d’Or, yang mana pada saat itu masing-masing juri diminta mendaftar tiga pemain. Pemain yang menempati urutan pertama yang dipilih juri akan mendapat 6 poin. Sedangkan pemain di peringkat kedua mendapat 4 poin, di peringkat ketiga 3 poin, peringkat keempat 2 poin, dan peringkat kelima 1 poin.

Tapi terdapat juga ketentuan-ketentuan yang mestinya sih diperhatikan oleh para juri dalam memilih pemain. Juri harus memperhatikan sikap pemain di dalam maupun di luar lapangan. Mereka juga harus mempertimbangkan penampilan individu dalam kurun setahun, bakat dan fair play, serta penilaian keseluruhan karier si pemain.

Setelah masing-masing juri sudah membikin daftarnya, kemudian poin setiap pemain dijumlahkan. Lalu pemain yang memperoleh poin paling banyak berhak menjadi pemenang. Namun, apabila terjadi seri di tempat pertama, maka bakal ditentukan dari seberapa sering si pemain dipilih di tempat pertama.

Jika hasilnya masih pula seri, tie-breker akan mempertimbangkan poin yang dimiliki pemain pada tempat kedua dan ketiga. Tapi seandainya masih juga terjadi seri, pemungutan suara mau nggak mau harus diulang, tapi khusus pemain yang seri. Nah, jika hasilnya masih juga seri, direktur France Football secara otoritatif akan memilih pemenang Ballon d’Or.

Apakah Fair?

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah metode semacam itu fair? Seperti kok bisa pemain-pemain yang kita lihat performa mentereng selama setahun, tapi masih gagal juga meraih Ballon d’Or? Atau boleh jadi, di antara kalian ada yang heran, bagaimana seorang Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo selalu mendominasi sebagai pemenang? Padahal mereka nggak bagus-bagus amat selama setahun?

Hal itu karena statistik dan performa bukan lah penentu pemenang Ballon d’Or. Lebih dari itu ada popularitas. Jika si pemain punya catatan yang bagus, tapi tak cukup populer maka boleh jadi ia tak bisa menang. Sebaliknya, kalau si pemain itu populer, meski performanya jelek, peluang dia mendapat anugerah Ballon d’Or masih terbuka lebar.

Sistem voting dan perwakilan juga rentan menimbulkan kolusi dan nepotisme. Tentu setiap juri akan memilih koleganya sendiri. Seperti Lionel Messi yang pada 2012 memilih Sergio Aguero, rekan senegaranya. Messi juga memilih Xavi dan Andres Iniesta rekan setimnya FC Barcelona.

Ketika ditanya “Kenapa tidak memilih Ronaldo?” Messi mengatakan kepada Marca, bahwa “Akan sangat bodoh jika tidak menganggap Ronaldo adalah calon terkuat. Saya hanya berpikir mereka (Aguero, Xavi, dan Iniesta) adalah pemain yang harus saya pilih”.

Sifat juri yang mengglobal juga dinilai tidak efektif. Bagaimana mungkin orang bisa menilai pemain, apalagi kepribadiannya jika dia tidak bertemu dengan si pemain tersebut? Sungguh sistem yang sangat aneh. Tapi lebih aneh lagi karena ketika diumumkan, kita lupa kalau sistem voting untuk Ballon d’Or ini aneh.

Kita tunggu saja nanti. Kabarnya pemenang akan diumumkan pada 29 November 2021. Seandainya Messi kembali meraih gelar Ballon d’Or, pendukungnya dan pendukung Paris Saint-Germain tentu akan bersuka cita. Kendatipun nggak menutup kemungkinan pemilihan itu dihiasi nepotisme dan kolusi.

Sumber referensi: bleacherreport.com, goal.com, mirror.co.uk, aa.com

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru