Inter Milan masih terus menatap scudetto. Klub yang bermarkas di Giuseppe Meazza diambang gelar juara musim 2020/21. Setelah musim sebelumnya hanya berposisi sebagai runner up, kini, mereka akan benar-benar mewujudkan mimpi meraih gelar juara di tanah Italia.
Hal ini terasa sangat spesial bagi Inter Milan. Betapa tidak, klub yang kini dibesut oleh Antonio Conte terakhir kali merasakan gelar juara di kompetisi Serie A adalah pada tahun 2010 lalu. Ketika itu, mereka bahkan berhasil mengumpulkan sebanyak tiga gelar prestisius dalam satu musim kompetisi.
Untuk mengingatkan football lovers tentang masa kejayaan Inter sekitar lebih dari sepuluh tahun lalu, kami akan menyajikan susunan pemain Inter Milan ketika terakhir kali merengkuh trofi scudetto. Bagaimana nasib mereka sekarang?
Daftar Isi
Kiper: Julio Cesar
Pada musim 2009/10, Julio Cesar menjadi andalan di bawah mistar La Beneamata. Dia tercatat kebobolan sebanyak 34 kali. Dengan penampilan superior ketika itu, Cesar terus menjadi andalan sampai Inter memenangkan tiga gelar termasuk trofi Serie A.
Setelah melewati masa kejayaan bersama Inter Milan, kiper asal Brasil ini lalu hijrah ke Liga Primer Inggris dan bergabung dengan Queens Park Rangers pada tahun 2012. Sempat dipinjamkan ke Toronto, Julio Cesar lalu bergabung dengan Benfica pada 2014, sebelum akhirnya putuskan untuk pulang ke Brasil.
Lalu, tepat pada tahun 2018 lalu, Julio Cesar resmi putuskan pensiun. Dia tampak masih menikmati masa pensiunnya dan belum terlihat kembali di dunia sepakbola.
He was a pillar of @Inter_en when the team won its Treble, becoming an absolute symbol for black-and-blue fans. 🔵⚫️
Happy birthday Julio Cesar! 🎂#SerieATIM #WeAreCalcio pic.twitter.com/UMMH0hPJvY
— Lega Serie A (@SerieA_EN) September 3, 2020
Bek Kanan: Maicon
Maicon, bek asal Brasil, pernah disebut sebagai yang terbaik pada masanya. Dia merupakan andalan di sisi kanan Inter Milan. Dengan kecepatan dan kekuatan yang dimiliki, Maicon akan selalu diingat sebagai salah satu bek kanan terbaik yang pernah dimiliki klub asal kota Milan.
Maicon tercatat telah membela Inter selama kurang lebih enam tahun. Raihan prestasinya tak perlu diragukan lagi. Pasca menjadi andalan di Inter, dia lalu putuskan hengkang ke Manchester City pada tahun 2012 silam.
Sampai saat ini, di usia 39 tahun, Maicon masih tercatat sebagai pemain aktif. Dia berstatus sebagai pemain ASD Sona Calcio yang tampil di Serie D Italia.
Maicon – Lateral 2006-2012
“Queria dar um alô na Pinetina mas não me deixaram entrar: será da próxima vez! Esta é uma história nova, mas a emoção é sempre forte! Parabéns a todos!” pic.twitter.com/1rj5v0UneC— FC Internazionalizando🏆🇮🇹 (@InterNZlizando) May 3, 2021
Bek Tengah: Walter Samuel
Walter Samuel berhasil pulihkan kembali ketajamannya sebagai seorang bek setelah sempat meredup bersama Real Madrid. Pada tahun 2005, dia bergabung dengan Inter Milan dan langsung menjadi andalan disana. Walter Samuel merupakan sosok penting selama dia berseragam Inter Milan. Setidaknya, selama nyaris sepuluh tahun lamanya, sudah banyak trofi yang disumbangkan termasuk tiga diantaranya didapat pada musim 2009/10.
Samuel lalu pergi tinggalkan Inter pada tahun 2014 untuk bergabung dengan FC Basel. Dua tahun berselang, dia putuskan pensiun di tim yang sama. Kini, di usia 43 tahun, Samuel bekerja sebagai asisten manajer di tim nasional Argentina.
Wish Inter hero & 2010 #UCL winner Walter Samuel a happy birthday! 🎁🎂🎉
‘The Wall’ is 39 today 💪 pic.twitter.com/gUrB2G5e8X
— UEFA Champions League (@ChampionsLeague) March 23, 2017
Bek Tengah: Lucio
Lucio membuktikan diri sebagai salah satu bek terbaik setelah kontraknya tidak diperpanjang oleh FC Bayern. Pada tahun 2009, Lucio yang bergabung dengan Inter Milan langsung dijadikan sebagai andalan. Dengan tubuh besarnya, Lucio bisa dengan mudah menghalau serangan lawan.
Maka dari itu, bukan sesuatu yang mengejutkan bila dia menjadi salah satu pemain yang masuk ke dalam daftar skuad juara Inter Milan.
Pada tahun 2012, setelah dirasa cukup mengukir cerita bersama Inter, Lucio putuskan hengkang ke Juventus dan bergabung di sana selama semusim saja, sebelum akhirnya pulang ke Brasil. Lucio sejak saat itu menjadi pemain yang kerap berganti klub, termasuk menjajal Liga Super India bersama FC Goa. pada awal 2020 lalu, setelah berstatus sebagai pemain tanpa klub, pria Brasil ini pun putuskan pensiun dari dunia sepakbola.
🎂 | Happy Birthday to Lucio, who turns 4⃣1⃣ today! 🥳
🧱 A defensive pillar during our Treble-winning campaign! 🏆🏆🏆 pic.twitter.com/KYL6qX6hgd
— Inter 🏆🇮🇹 (@Inter_en) May 8, 2019
Bek Kiri: Cristian Chivu
Cristian Chivu layak disebut sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Inter Milan. Berposisi sebagai seorang bek tengah namun lebih sering ditempatkan di sisi kiri, Chivu begitu diandalkan oleh tim bercorak biru hitam.
Chivu bergabung dengan Inter Milan pada tahun 2007 dari AS Roma dan bertahan disana sampai tahun 2014, untuk kemudian putuskan berhenti dari dunia sepakbola. Kini, Chivu masih menjadi bagian dari Inter namun dengan peran yang berbeda. Dia ditugaskan sebagai manajer Inter Milan di level usia 18 tahun.
✍️ | LETTERS TO INTER
“I put everything into that trophy: the fears, the doubts, the sacrifices I had faced. It all ended with the greatest dream coming true.” 💭
Read Cristian #Chivu‘s words to Inter 👉 https://t.co/XP4Z8K5S8M pic.twitter.com/pRHrKyUi1X
— Inter 🏆🇮🇹 (@Inter_en) April 13, 2020
Gelandang: Javier Zanetti
Nama Javier Zanetti tentu tak boleh disingkirkan dari daftar ini. Dia menjadi andalan sekaligus kapten yang membawa Inter menuju puncak kejayaan.
Sejak bergabung dengan Inter Milan pada 1995, Zanetti lalu putuskan untuk selalu membela klub tersebut sampai akhir karirnya pada tahun 2014 silam. Usai pensiun, dia masih terus menjadi bagian dari Inter Milan, dimana kini jabatan wakil presiden menjadi status barunya.
858 games. 15 seasons as captain. 16 trophies.
Inter legend Javier Zanetti turns 47 today. 🙌 pic.twitter.com/jAes3UR3uA
— B/R Football (@brfootball) August 10, 2020
Gelandang: Esteban Cambiasso
Esteban Cambiasso menemani Javier Zanetti yang berposisi sebagai gelandang bertahan. Dia juga bisa dibilang sebagai salah satu pilar terbaik dalam kejayaan Inter Milan di tahun 2010. Dibawah asuhan Mourinho, Cambiasso benar-benar menjadi pemain yang semakin komplit.
Setelah meninggalkan Inter pada tahun 2014, Cambiasso lalu bergabung dengan Leicester dan bermukim di Olympiacos selama dua musim. Pada tahun 2017, Cambiasso putuskan pensiun. Kini, dia tercatat sebagai asisten manajer tim nasional Kolombia.
2010 #UCL winner Esteban Cambiasso is 34 today. Retweet to wish the former @Inter midfielder happy birthday! pic.twitter.com/jU2guLncv6
— UEFA Champions League (@ChampionsLeague) August 18, 2014
Gelandang: Wesley Sneijder
Sang kreator serangan asal Belanda, Wesley Sneijder, menjadi pemain kunci dari keberhasilan Inter Milan di musim 2009/10. Perannya sebagai seorang gelandang serang sungguh luar biasa. Dia mampu membaca permainan sekaligus mengambil keputusan tepat dalam pertandingan.
Dalam musim terbaik Inter tersebut, Wesley Sneijder terlibat dalam 23 gol yang diciptakan skuad asuhan Jose Mourinho. Sekali lagi, Sneijder pantas disebut sebagai pilar utama dari era kejayaan Inter Milan ketika itu.
Setelah sempat bergabung dengan Galatasaray, Wesley Sneijder putuskan pensiun pada tahun 2019 lalu bersama dengan klub Al Gharafa.
🏆 UEFA Club Midfielder of the Year 2010: Wesley Sneijder (Inter Milan) 👍#UCLdraw pic.twitter.com/miHBB8wDms
— UEFA Champions League (@ChampionsLeague) August 29, 2019
Penyerang: Mario Balotelli
Jarang mendapat sorotan, Mario Balotelli menjadi pemain yang melewati salah satu masa terbaik dalam karirnya bersama Inter Milan. Di musim treble yang diraih Inter era Mourinho, Balotelli berhasil mencetak sebanyak 11 gol di semua kompetisi.
Dia bertahan di klub selama setidaknya tiga tahun sebelum akhirnya hijrah ke Manchester City pada tahun 2010. Sempat bergonta ganti klub setelahnya, Mario Balotelli kini tercatat sebagai pemain AC Monza yang berkompetisi di Serie B Italia.
Mario Balotelli:
🗣️ “When I was young, I admired Ibra but he told me that I would never be in the first team, that I would never be good enough for Inter. But a few days later, he asked Raiola to sign me because he told him I was better than him.” pic.twitter.com/3Mx65wJydT
— Football Tweet (@Football__Tweet) June 10, 2020
Penyerang: Diego Milito
Pencetak gol terbanyak Inter di musim treble, Diego Milito, berdiri kokoh di barisan depan I Nerazzurri. Dia berhasil mencetak 30 gol sepanjang musim untuk membawa skuad asuhan Jose Mourinho berjaya.
Setelah putuskan pergi dari Inter pada tahun 2014, Diego Milito lalu pulang ke klub masa kecilnya, Racing Club. Pemain yang putuskan pensiun pada tahun 2016 itu pun saat ini tercatat sebagai direktur oleh laga klub yang bermarkas di Estadio Presidente Juan Domingo Perón.
Inter Legend Diego Milito: “Serie A Title An Exceptional Achievement, Lautaro Martinez A Top Striker” https://t.co/vMDhAQgDu4 #FCIM #InterMilan #ForzaInter pic.twitter.com/Mb96kBHjgd
— SempreInter (@SempreIntercom) May 3, 2021
Penyerang: Samuel Eto’o
Siapa pemain yang lebih beruntung dari Samuel Eto’o, yang berhasil merebut treble winner dalam dua musim beruntun, bersama dua klub berbeda?
Ya, setelah berjaya bersama FC Barcelona, Eto’o yang dilepas ke Italia langsung mampu lanjutkan kejayaan. Bersama Inter Milan, Eto’o juga menjadi salah satu andalan Jose Mourinho. Dia mampu mencetak 16 gol di musim 2009/10. Kontribusi besarnya pun sukses membawa Inter jadi tim terbaik di Italia sekaligus Eropa.
Setelah putuskan pergi dari Italia pada tahun 2011, pemain asal Kamerun ini pun bergabung dengan klub kaya raya Anzhi Makhachkala, untuk kemudian berkelana ke berbagai negara. Eto’o yang kini telah menginjak usia 40 tahun, sudah memutuskan untuk berhenti dari hingar bingar lapangan hijau sejak tahun 2019 lalu.
Happy birthday to Samuel Eto’o, the only man to win back-to-back trebles with two different clubs.
Barcelona 2009 🏆🏆🏆
Inter Milan 2010 🏆🏆🏆
The best African player ever? pic.twitter.com/5aMxvP0TvY
— FootballJOE (@FootballJOE) March 10, 2021


