7 Transfer Pertukaran Pemain Paling Aneh

spot_img

Normalnya, pertukaran pemain tak memberikan cerita menarik. Karena pasti begitu-begitu saja. Pertukaran pemain biasanya melibatkan klub yang sedang mengalami kesusahan finansial. Tapi harus tetap mendatangkan pemain baru guna memperbaiki performa klub.

Namun, pertukaran pemain tak selamanya kurang dilirik. Beberapa pertukaran justru meninggalkan cerita unik. Bahkan terkadang alasan dari klub-klub yang rela menukar pemainnya itu cukup aneh dan tak masuk di akal. Nah, berikut daftar transfer pertukaran pemain paling aneh yang pernah terjadi.

Alexis Sanchez Tukar Henrikh Mkhitaryan

Yang pertama dan mungkin jadi yang paling terkenal adalah pertukaran Alexis Sanchez dengan Henrikh Mkhitaryan pada tahun 2018. Pertukaran aneh ini jadi buah bibir di seantero negeri lantaran melibatkan dua klub raksasa Inggris, Manchester United dan Arsenal.

Ketika pertukaran terjadi, semua pasang mata tertuju pada Manchester United yang mendapatkan Sanchez. Pengumuman kedatangan yang berlebihan itu menimbulkan ekspektasi yang menjulang tinggi. Ia digadang-gadang bakal jadi the next Robin Van Persie yang berhasil membantu MU menjuarai liga setelah pindah dari Arsenal pada awal musim 2012/2013. 

Namun, Sanchez malah gagal memenuhi ekspektasi publik. Ia hanya mencetak 5 gol dari 45 pertandingan. Mkhitaryan juga demikian, ia kesulitan di London dan akhirnya dilepas ke AS Roma. Tentu ini kesepakatan yang merugikan bagi kedua klub. Terutama bagi United, mereka telah sia-sia mengeluarkan uang banyak (350 ribu pound/Rp6 miliar) untuk menggaji Sanchez.

Nemanja Matic Tukar David Luiz

Pertukaran ini terjadi hanya karena Chelsea ingin mendapatkan David Luiz dengan lebih mudah dari Benfica pada 2011. Maka, The Blues menawarkan mahar sebesar 25 juta euro atau sekitar Rp391 miliar plus Nemanja Matic yang kala itu masih berusia 22 tahun. 

Matic jadi korban kesekian Chelsea yang kerap menimbun pemain namun tak mampu memberikan kepastian pada sang pemain. Transfer pun berhasil, dan Chelsea tentu saja merasa beruntung bisa mendatangkan bek tengah kaliber David Luiz.

Bek Brasil itu sukses mengantarkan Chelsea menjuarai Liga Champions 2011/2012 dan Liga Europa musim berikutnya. Namun, Benfica juga untung ketika mendapatkan Matic lantaran sang pemain membantu Benfica menjuarai Liga Portugal 2013/2014. 

Yang jadi masalah adalah Chelsea malah kembali mendatangkan Matic pada tahun 2014. Anehnya lagi, mereka rela menebus pemain Serbia itu dengan 25 juta euro, uang yang sama untuk mendatangkan Luiz. Jika pada akhirnya dibeli lagi, kenapa dimasukan dalam kesepakatan? Berkat transfer ini, Benfica untung dua kali lipat.

Cillessen Tukar Neto

Pertukaran pemain antara penjaga gawang yang memiliki kualitas sama baiknya cukup jarang terjadi di sepakbola. Toh jika kualitasnya tak jauh berbeda, ngapain ditukar? Buang-buang waktu saja.

Nyatanya ada alasan tertentu yang membuat pertukaran Jasper Cillessen dari Barcelona dan Neto dari Valencia harus dilakukan. Alasannya karena Valencia pada tahun 2019 berpotensi melanggar aturan Financial Fair Play lantaran melewati ambang batas kerugian.

Oleh karena itu, Valencia berniat menjual Neto. Soal siapa yang akan menggantikannya itu urusan nanti. Prioritas Valencia adalah mendapat uang sebelum musim berakhir. Barcelona ternyata mau membeli Neto dan merampungkan transaksi sebelum musim tanggal 1 juli. Dan beruntungnya, Blaugrana juga ingin menjual Cillessen yang cuma jadi pelapis Ter Stegen.

Skemanya adalah Barcelona membayar 35 juta euro (Rp548 miliar) termasuk bonus terlebih dahulu untuk Neto. Transaksinya dilakukan pada 30 Juni. Sementara itu, Valencia membeli Cillessen senilai 35 juta euro pada 1 Juli, atau setelah masuk tahun fiskal baru. Dengan skenario seperti itu Valencia berhasil lolos dari sanksi FFP.

Samuel Eto’o Tukar Zlatan Ibrahimovic

Pertukaran aneh ini juga melibatkan Barcelona. Keputusan El Barca untuk menukar Samuel Eto’o dengan striker Inter Milan, Zlatan Ibrahimovic menimbulkan pertanyaan. Padahal Eto’o baru saja membantu klub meraih treble dan menyumbang 36 gol musim 2008/2009. 

Terlebih, kesepakatan ini mengharuskan Barca menambahkan uang sebesar 69 juta euro atau sekitar Rp1 triliun lebih apabila dikonversi berdasarkan kurs sekarang. Jika Eto’o dirasa sukses, kenapa harus diganti sehingga mengeluarkan uang yang begitu banyak? begitu kira-kira.

Dengan uang sebesar itu, Ibra hanya bertahan semusim di Barca. Mereka harus rela menjual rugi sang pemain ke AC Milan yang hanya mau membayar 24 juta euro (Rp376 miliar) untuk sang pemain. Klub Catalan itu juga harus rela melihat sang mantan berjaya bersama Inter. Eto’o kembali meraih treble di musim debutnya bersama Inter.

Francesco Coco Tukar Clarence Seedorf

Dua musim sebelum transfer pertukaran Eto’o dan Ibrahimovic terjadi, Inter sudah lebih dulu merugi dalam transfer barter. Kala itu Inter merasa tertipu ketika menukar gelandang sarat pengalaman, Clarence Seedorf dengan bek kiri AC Milan, Francesco Coco. 

Tentu ini kesepakatan yang tak masuk akal bagi Nerazzurri. Bisa-bisanya mereka menukar gelandang kuat nan kreatif dengan pemain yang masih berjuang dengan permasalahan cederanya. Dan benar saja, Coco yang rawan terkena cedera ternyata tak berguna sama sekali. Ia hanya mencatatkan 40 penampilan selama 3 musim membela Inter.

Sedangkan di sisi lain kota Milan, betapa beruntungnya mereka mendapatkan pemain macam Seedorf. Pemain Belanda itu menjadi pemain andalan Milan. Ia menjadi legenda tim setelah bermain selama 10 musim dan turut mempersembahkan 9 trofi termasuk trofi Serie A dan Liga Champions untuk Rossoneri

Fabio Cannavaro Tukar Fabian Carini

Pertukaran tak masuk akal kali ini berawal dari akal-akalan guru transfer Juventus di masa lalu, yaitu Luciano Moggi. Lagi-lagi pertukaran ini melibatkan Inter yang berhasil ditipu habis-habisan lantaran mau merelakan bek kelas dunia Fabio Cannavaro ke klub rival pada 2004. 

Kala itu, Fabio Cannavaro memang kerap dibekap cedera, sehingga Inter mau melepasnya  dengan tebusan uang 10 juta euro (Rp154 miliar) ditambah kiper Uruguay, Fabian Carini yang keadaannya di Juve juga sudah terpakai.

Dari tanpa trofi selama dua musim bersama Inter, Cannavaro pun sukses merengkuh scudetto Serie A dua musim beruntun bersama Juve. Meski akhirnya kedua piala itu ditarik dan salah satunya diberikan pada Inter karena Juventus tersangkut skandal Calciopoli 2006, Permainan Cannavaro jauh meningkat selama membela La Vecchia Signora

Selain itu, Cannavaro juga berhasil memimpin tim nasional Italia menjuarai Piala Dunia 2006, meraih Ballon d’Or di tahun yang sama. Sementara itu, Inter hanya memasang Carini sebagai kiper ketiga.

Arthur Melo Tukar Miralem Pjanic

Pertukaran pemain antara Barcelona dan Juventus yang melibatkan Arthur Melo dan Miralem Pjanic, pada musim panas 2020 ternyata menjadi kesepakatan pertukaran yang tidak menguntungkan bagi pihak mana pun.

Dilansir The Guardian, meski pada akhirnya klub Catalan itu mendapatkan tambahan uang tunai sekitar 10 juta euro atau Rp156 miliar, tetapi dari sudut pandang sepakbola, menukar Pjanic dengan Arthur adalah keputusan yang aneh.

Kesepakatan jadi aneh lantaran Arthur saat itu dianggap memiliki masa depan yang cerah bersama Blaugrana. Pemain berusia 25 tahun itu telah mengantongi 70 penampilan untuk Barcelona. Sementara itu, pemain muda potensial justru ditukar dengan gelandang 30 tahun yang tak lagi jadi pilihan utama di lini tengah Juventus.

Allhasil, Arthur kesulitan beradaptasi dengan permainan Juventus. Hal serupa juga dialami oleh Pjanic di Barca. Bahkan ia hanya bertahan semusim sebelum akhirnya dipinjamkan ke Besiktas.

Sumber: Sportskeeda, Ligalaga, Fourfourtwo, Bolaskor, Transfermarkt

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru