Bursa transfer biasanya selalu digunakan klub untuk memperkuat skuadnya. Tak ayal beberapa klub sultan kerap menggelontorkan dana banyak, demi mendapatkan pemain incaran.
Namun, pemain yang mereka beli tak semuanya sukses, ada juga pemain yang sudah dibeli dengan harga mahal tapi performanya masih jauh dari ekspektasi. Hal semacam itu pula yang menyebabkan klub-klub tersebut rugi besar dalam hal transfer pemain.
Hal itu seperti yang diungkapkan CIES Football Observatory, sebuah lembaga penelitian yang didirikan tahun 2005 di Centre International d’Étude du Sport (CIES) yang berbasis di Swiss. CIES Football Observatory mengkhususkan diri dalam menganalisa statistik sepak bola, khususnya di bidang demografi, nilai transfer, dan kinerja klub.
Baru-baru ini mereka merilis daftar klub paling merugi di bursa transfer selama sepuluh tahun terakhir. Siapa saja klub-klub tersebut?
Daftar Isi
Manchester United (Rugi Rp 17,7 Triliun)
Sebuah studi dari CIES Football Observatory menempatkan Manchester United di urutan pertama sebagai klub paling merugi selama kurang lebih satu dekade terakhir. Kerugian Setan Merah bahkan mencapai 1,075 miliar euro atau sekitar Rp 17,7 triliun.
Laporan itu juga mengungkap bahwa sejak 2012, MU telah menghabiskan setidaknya 1,5 miliar euro atau sekitar dengan Rp 25,3 triliun untuk mendatangkan pemain. Sedangkan uang yang didapat MU hanya 470 juta euro atau kira-kira Rp 7,7 triliun.
Not the result that your support deserved, Reds.
Thanks for your magnificent backing, as always.#MUFC | #BURMUN pic.twitter.com/5iGeMs0c3h
— Manchester United (@ManUtd) February 8, 2022
Paul Pogba jadi pemain termahal yang pernah didatangkan Manchester United, meski ia sejatinya produk asli akademi Setan Merah. Namun, pada tahun 2012, Pogba dilepas ke Juventus dengan status bebas transfer. Lucunya, MU menebusnya kembali dengan mahar mencapai 89,5 juta poundsterling atau sekitar Rp 1,7 triliun.
Pemain mahal yang gagal milik United juga tak sedikit, contohnya Anthony Martial yang dibeli dengan biaya sekitar Rp 700 miliar pada tahun 2015 dan Donny Van de Beek dengan biaya Rp 779,5 miliar pada tahun 2020 kemarin, kini mereka hanya dipinjamkan ke Sevilla dan Everton.
Apesnya lagi hal tersebut diperparah dengan performa MU yang angin-anginan selama sepuluh tahun terakhir. Praktis, sejak kepergian Sir Alex Ferguson dari kursi kepelatihan pada 2013, MU belum pernah sekalipun kembali meraih gelar juara Liga Inggris.
Manchester City (Rugi Rp 16,2 Triliun)
Sementara itu, di urutan kedua ada rival sekota Manchester United, Manchester City. Menurut statistik sepuluh tahun terakhir, City telah menanggung kerugian sebesar 984 juta euro atau sekitar Rp 16,2 triliun.
Manchester City memang lebih boros dari United. Tercatat selama sepuluh tahun terakhir, City mengeluarkan dana untuk membeli pemain sekitar 1,6 miliar euro atau Rp 27,9 triliun. Namun, City hanya memperoleh pemasukan dari penjualan pemain sebesar 715 juta euro atau sama dengan Rp 11,7 triliun.
Pengeluaran terbesar Manchester city terjadi kala mereka mendatangkan Jack Grealish dari Aston Villa. Kala itu, City harus merogoh kocek sedalam 100 juta poundsterling atau sekitar Rp 2 triliun. Dengan harga yang cukup fantastis, beberapa pihak sedikit meragukan kualitas Grealish, terlebih hingga saat ini ia baru mencetak dua gol saja bagi City.
Pengeluaran besar lainnya kala mendatangkan beberapa pemain belakang seperti, Ruben Dias, Joao Cancelo serta Aymeric Laporte dengan biaya masing-masing sekitar Rp 1,1 triliun.
Beda dengan United, meski menanggung kerugian yang cukup besar. Investasi besar-besaran mereka juga diiringi dengan prestasi. Selama sepuluh tahun terakhir, mereka telah memenangi 15 trofi, termasuk Liga Inggris.
PSG (Rugi Rp 15,5 Triliun)
Urutan ketiga ada Paris Saint-Germain. Menurut analisa CIES Football Observatory, selama sepuluh tahun terakhir PSG telah mengalami kerugian dalam hal transfer pemain sebesar 941 juta euro atau sekitar Rp 15,5 triliun.
Dalam kurun waktu sedekade, PSG sudah membelanjakan uangnya tak kurang dari 1,4 miliar euro atau sekitar Rp 23,7 triliun. Namun, PSG hanya menghasilkan Rp 8,2 triliun dari penjualan pemain mereka.
Pengeluaran Terbesar PSG tentu datang dari mega bintang mereka Neymar. Pada 2017, PSG mendatangkan pemain Brazil tersebut dari Barcelona dengan biaya transfer hingga Rp 3,8 triliun. Biaya transfer tersebut menjadikannya pemain termahal sepanjang sejarah sepak bola.
Step by step 🔥 pic.twitter.com/rBVyFENSzc
— Neymar Jr (@neymarjr) February 8, 2022
Pengeluaran besar lainnya terjadi kala PSG mendatangkan Kylian Mbappe dari AS Monaco dengan biaya sekitar Rp 2,5 triliun dan Achraf Hakimi dari Inter Milan dengan biaya mencapai Rp 1,1 triliun.
PSG sering mengalami kerugian soal transfer pemain karena mereka kerap menjual rugi pemain-pemain mereka. Misalnya, Edinson Cavani yang mereka beli dari Napoli dengan harga Rp 1,12 triliun, namun hanya dilepas secara gratis ke Manchester United.
Barcelona (Rugi Rp 10,7 Triliun)
Di urutan keempat ada klub Liga Spanyol, Barcelona. Krisis finansial yang melanda Barcelona cukup parah. Meski sempat mendapat pemasukan yang sangat fantastis kala berhasil menjual Neymar ke PSG, tapi masih belum bisa menghindarkan Barca untuk masuk daftar lima klub paling merugi.
Menurut data statistik dalam kurun sepuluh tahun terakhir, Barcelona sudah mengalami kerugian sebesar 650 juta euro atau sekitar Rp 10,7 triliun. Barcelona sejatinya terkenal sebagai klub yang jarang membeli pemain.
Mereka lebih mengandalkan pembinaan usia muda, tak jarang mereka mempromosikan pemain akademi ke skuad utama, contoh paling suksesnya tentu Lionel Messi.
Musim ini pun mereka tetap berpegang teguh dengan pendirian klub yang selalu mengorbitkan pemain-pemain muda ke skuad utama. Nama-nama seperti Gavi dan Riqui Puig pun muncul. Namun, beberapa tahun terakhir Barcelona cukup apes karena membeli beberapa pemain dengan harga mahal tapi hasilnya zonk.
Contohnya, Philippe Coutinho dibeli dengan harga Rp 2,3 triliun dan Ousmane Dembele yang dibeli dari Borussia Dortmund dengan bandrol mencapai Rp 2,4 triliun. Ketika di Barcelona, Coutinho tak menunjukan sihirnya seperti yang ia lakukan kala berseragam Liverpool dan akhirnya harus pindah ke Aston Villa.
Sedangkan Ousmane Dembele berstatus sebagai pembelian termahal sepanjang sejarah Barcelona. Ia memang beberapa kali meraih trofi bersama Barca. Namun, Dembele malah lebih sering menghabiskan waktu di rumah sakit lantaran cedera. Hal itu menyebabkan Dembele harus kehilangan banyak laga bersama Barca.
Arsenal (Rugi Rp 9,6 Triliun)
Di urutan kelima ada klub London Utara, Arsenal. Meski musim ini Arsenal banyak melepas pemainnya, Namun, Menurut data CIES Football Observatory dalam sepuluh tahun terakhir, Arsenal sudah menanggung kerugian 583 juta euro atau sekitar Rp 9,6 triliun.
⚡️ @Auba pic.twitter.com/uZCKyqQ6bT
— FC Barcelona (@FCBarcelona) February 8, 2022
Arsenal sudah menghabiskan setidaknya 1,029 miliar euro atau Rp 16,8 triliun, dan pemasukan klub dari penjualan pemain hanya Rp 7,3 triliun. Angka tersebut bahkan lebih kecil dari pemasukan Manchester United dalam sepuluh tahun terakhir.
Salah satu kerugian yang cukup terasa baru terjadi kemarin, ketika Arsenal melepas sang bomber Pierre-Emerick Aubameyang ke barcelona secara gratis. Padahal Arsenal mendatangkan Aubameyang dari Dortmund pada awal tahun 2018 dengan harga Rp 1,1 triliun.
Sumber: ESPN, Football Observatory, Transfermarkt


