4 Kontroversi Copa America 2024

spot_img

Bukan Copa America namanya jika tidak ada kontroversi yang menyertainya. Ya, sudah jadi rahasia umum bila turnamen terakbar di wilayah Amerika Selatan tersebut selalu dibumbui dengan kontroversi di hampir setiap gelarannya.

Begitu pula dengan Copa America 2024. Copa America edisi ke-48 juga tak luput dari kontroversi. Setidaknya, kami menemukan 4 kontroversi yang terjadi di turnamen tim nasional tertua di dunia tersebut. Lalu, apa saja kontroversinya? Berikut ulasannya.

1. Terpilihnya Amerika Serikat Sebagai Tuan Rumah

Pada awalnya, Copa America 2024 akan diselenggarakan di Ekuador, sesuai dengan rotasi tuan rumah yang sudah jauh-jauh hari ditetapkan oleh CONMEBOL. Namun, pada November 2022, presiden Federasi Sepak Bola Ekuador, Francisco Egas, mengklarifikasi kalau negaranya menolak untuk jadi tuan rumah. Tak ada alasan yang jelas, Egas hanya mengatakan kalau “ada banyak hal yang lebih penting daripada sepak bola bagi negara Ekuador.”

Setelah Ekuador menolak menjadi tuan rumah, Peru dan Amerika Serikat sama-sama menyatakan ketertarikannya untuk menjadi tuan rumah Copa America 2024. Nama yang terakhir jadi yang paling serius. Negeri Paman Sam begitu berambisi untuk kembali menjadi tuan rumah, apalagi ketika pembicaraan antara CONMEBOL dan Concacaf makin serius. Mereka juga ingin menjadikan turnamen tersebut sebagai ajang pemanasan sebelum menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026.

Singkat cerita, pada 27 Januari 2023, CONMEBOL dan Concacaf resmi mengungumkan telah menjalin kolaborasi. Salah satu kolaborasinya adalah dengan menggelar bersama Copa America 2024. Sesuai kesepakatan, Copa America edisi ke-48 tersebut bakal diikuti oleh 10 anggota CONMEBOL dan enam tim tamu dari Concacaf.

Selain itu, Copa America 2024 juga akan dimainkan di wilayah Concacaf. Nah, dari sinilah kemudian Amerika Serikat terpilih sebagai tuan rumah. Keputusan inilah yang kemudian menimbulkan perdebatan.

Menggelar turnamen milik CONMEBOL di zona Concacaf saja sudah terdengar sangat aneh bukan? Apalagi, yang terpilih menjadi tuan rumah adalah Amerika Serikat. Mereka yang kontra menilai kalau keputusan tersebut bakal merusak esensi, tradisi, dan melunturkan identitas dari Copa America yang merupakan turnamen bersejarah dan perayaan akbar bagi insan sepak bola Amerika Selatan.

Ini memang bukan kali pertama bagi Amerika Serikat untuk menjadi tuan rumah Copa America. Sebelumnya, mereka sudah lebih dulu menjadi tuan rumah Copa America Centenario pada 2016 silam.

Asal kalian tahu, pada Copa America Centenario, Amerika Serikat sukses mengantongi keuntungan tak kurang dari 75 juta USD. Pada gelaran Copa America 2024, Amerika Serikat tak akan mampu mengulang jumlah tersebut karena adanya kerja sama antara CONMEBOL dan Concacaf. Amerika Serikat diprediksi hanya akan memperoleh 20 hingga 25 USD saja. Meski menurun drastis, tetapi keuntungan finansial ini juga disinyalir jadi salah satu sebab mengapa Negeri Paman Sam begitu ngotot untuk menjadi tuan rumah Copa America 2024.

2. Drawing Babak Grup Copa America

Seperti yang football lovers ketahui, gelaran Copa America 2024 diikuti oleh 16 negara. 10 negara dari zona CONMEBOL dan 6 negara dari zona Concacaf. Meski ini bukan kali pertama, tetapi rasanya begitu aneh menyaksikan negara yang bukan anggota CONMEBOL, tetapi menjadi peserta dari turnamen CONMEBOL.

Ini juga bukan kali pertama Copa America diikuti oleh 16 tim. Sebelumnya, format semacam ini pernah terjadi di Copa America Centenario 2016. Akan tetapi, kejanggalannya bukan hanya itu saja.

Tidak banyak yang tahu kalau undian babak grup Copa America 2024 juga sempat diwarnai insiden kontroversial. Undian babak grup Copa America 2024 yang dilakukan pada 7 Desember 2023 di Miami, Florida itu diwarnai blunder panitia yang mengubah hasil undian secara live.

Blunder tersebut terjadi ketika panitia melakukan kesalahan di Pot 4 yang berisi Jamaika, Bolivia, dan para pemenang play-off dari Concacaf, yakni Kanada dan Kosta Rika. Panitia sebelumnya menyatakan kalau Bolivia masuk dalam Grup C, sedangkan Jamaika masuk dalam Grup B.

Yang jadi masalah adalah, hasil undian sebelumnya sudah menempatkan dua tim dari zona Concacaf, yakni Amerika Serikat dan Panama berada di Grup C. Aturannya, tidak boleh ada lebih dari dua negara Concacaf dalam satu grup. Alhasil, panitia secara dadakan menukar posisi Jamaika dan Bolivia. Insiden memalukan tersebut harusnya tidak terjadi apabila panitia cukup profesional dan mempersiapkan undian dan segala peraturannya dengan serius.

3. Permukaan Lapangan yang Tidak Rata

Salah satu faktor yang membuat gelaran Copa America tahun ini menjadi menarik adalah stadion-stadion yang dipakai terbilang megah, mewah, dan high-tech. Beberapa di antaranya bahkan sudah dipastikan bakal jadi venue Piala Dunia 2026. Akan tetapi, disinilah letak permasalahannya.

Banyak stadion yang dipakai di Copa America 2024 adalah stadion american football. NFL memakai rumput sintetis, sedangkan sepak bola lebih biasa digelar di lapangan rumput. Penilitian juga menunjukkan kalau penggunaan rumput alami jauh lebih aman untuk pencegahan cedera.

Panitia sebenarnya sudah mengganti beberapa rumput sintetis dengan rumput alami. Namun, sifatnya hanya sementara dan dilakukan tepat sebelum turnamen dimulai. Alhasil, rumput yang dipakai tidak tumbuh cukup.

Mantan pemain MLS, Nedum Onuoha mengatakan, “Rumput yang mereka siapkan untuk pertandingan seperti di Copa bisa sangat tidak konsisten untuk pergerakan bola dan mengubah arah bisa menjadi sulit. Ditambah lagi dengan suhu 30oC dan lapangan yang sangat lembut di beberapa bagian dan tidak rata di bagian lain dan Anda bahkan tidak tahu bagaimana bola akan memantul.”

Maka, tak heran jika permukaan lapangan yang dipakai di Copa America 2024 kini jadi bahan kritik bersama. Pelatih timnas Argentina, Lionel Scaloni mengkritik kualitas lapangan di Mercedes-Benz Stadium yang menurutnya “tidak memenuhi standar untuk pemain”. Kritik serupa juga dilontarkan oleh pelatih timnas Peru, Jorge Fossati. Fossati bahkan mengatakan kalau kondisi lapangan jadi sebab Luis Advincula harus diganti karena mengalami nyeri pada tendon Achilles.

“Saya menyadari bahwa ini adalah lapangan rumput, tetapi ini bukan rumput biasa. Ini bukan rumput yang lahir dan tumbuh secara alami. Ini adalah rumput yang mereka bawa dari tempat lain. Itu bisa menjadi permukaan yang sedikit lebih keras dan cedera Achilles juga bisa disebabkan oleh hal tersebut.”

Kritik pedas juga dilontarkan oleh pemain tuan rumah, Weston McKennie. “Ini membuat frustrasi, terutama sebagai pemain. Anda bermain di lapangan sepak bola, dengan rumput yang tidak rata dan itu memecah setiap langkah yang Anda ambil. Itu membuat frustrasi.”

Amerika Serikat sebenarnya punya banyak stadion yang khusus dipakai untuk sepak bola. Misalnya saja Chase Stadium milik Inter Miami. Namun, stadion semacam itu kapasitasnya dianggap terlalu kecil oleh panitia.

4. Copa America Dibuka Dengan Doa yang Dipimpin Pastur Kontroversial

Ada yang tidak biasa dari upacara pembukaan Copa America 2024. Dalam opening ceremony yang digelar di Mercedes-Benz Stadium pada 20 Juni lalu, panitia menghadirkan seorang pendeta untuk memberi ceramah dan doa dalam agama Kristen.

Maksud dari CONMEBOL dan Concacaf bisa saja baik, yakni mengharap keberkahan dan keselamatan bagi setiap pihak yang terlibat di Copa America 2024. Namun, langkah tersebut menimbulkan kontroversi, sebab dianggap telah melanggar aturan.

Dalam pasal 4 dari Statuta FIFA dijelaskan bahwa tidak boleh ada pesan politik, agama, atau pesan pribadi yang ditampilkan pada pakaian pemain. Organisasi yang berafiliasi dengan FIFA juga dituntut netralitasnya dari isu-isu politik dan agama.

Pemandangan semacam tersebut sebenarnya bukan yang pertama terjadi di dunia olahraga Amerika Serikat. Acara inagurasi NASCAR juga diketahui punya tradisi untuk memulai dengan doa untuk keselamatan para pembalap. Mereka yang pro dengan acara tersebut juga membandingkannya dengan doa-doa Islam yang dilantunkan saat gelaran Piala Dunia 2022 lalu.

Akan tetapi, kontroversi yang terjadi tak hanya sebatas itu. Emilio Aguero Esgaib, pendeta yang membacakan doa pada upacara pembukaan Copa America 2024 adalah seorang pendeta yang tak asing dengan kontroversi.

Emilio, pendiri gereja “Más que Vencedores” di Argentina, sebelumnya telah dituduh homofobia dan transfobia. Emilio yang “menentang ideologi gender dan keragaman seksual” jelas dianggap sosok kontroversial yang punya banyak pembenci di sana, khususnya dari kaum pelangi.

Penunjukan Emilio Aguero Esgaib sebagai pengkhotbah pada upacara pembukaan Copa America 2024 juga tak lepas dari kedetakannya dengan presiden CONMEBOL, Alejandro Domínguez. Pria asal Paraguay tersebut diketahui juga menghadiri gereja milik Emilio.

Itulah 4 kontroversi yang terjadi di Copa America 2024. Tentu saja, masih akan ada kontroversi berikutnya yang mungkin bakal terus terjadi di sepanjang turnamen. Saat tulisan ini dibuat, sudah ada beberapa kontroversi berikutnya yang terjadi.

Misalnya saja para pemain Argentina yang terlambat masuk kembali ke dalam lapangan usai jeda antarbabak pada pertandingan pembuka kontra Kanada. Pada saat itu, para pemain Kanada yang sudah kembali tepat waktu harus menunggu Lionel Messi dan kolega selama sekitar 5 menit. Meski mendapat protes dari pelatih Kanada, Jesse Marsch, tetapi hingga konten ini dibuat, belum ada hukuman apapun yang dijatuhkan kepada Argentina.

Kasus dari timnas Argentina itu hanyalah satu contoh. Masih ada beberapa kontroversi lainnya yang terjadi, khususnya yang melibatkan keputusan wasit maupun VAR. Sekali lagi, bukan Copa America namanya jika tidak ada kontroversi.
***
Referensi: NY Times, Essentially Sports, Eluniverso, World Soccer, New Indian Express, MLS Multiplex.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru