Wejangan Taktik Guardiola untuk Messi Agar Bisa Hancurkan Madrid

spot_img

Kita sudah mengenal Pep Guardiola kurang lebih selama sebelas tahun terakhir. Selama itu, ia berhasil memukau publik dunia dengan menyuguhkan sepak bola indah yang diperagakan anak asuhnya. Barcelona, Bayern Munich, dan Manchester City amat beruntung bisa mempekerjakannya.

Bila kita merunut pada musim pertama Pep Guardiola sebagai pelatih, kita jelas bisa melihat seorang pelatih penakluk yang akan jadi legenda dunia kepelatihan. Pada musim 2008/09, ia membawa Barcelona tampil sempurna, mendatangkan enam gelar sekaligus dalam setahun. Tak ada klub mana pun yang mampu mengulangi catatan ini.

Di antara banyak laga di musim itu yang bisa kita saksikan dengan terkagum-kagum, ada satu pertandingan yang membuat Real Madrid harus bertekuk lutut, terpaksa mengakui bahwa Barcelona akan lebih susah ditaklukkan di tahun-tahun mendatang.

Adalah laga El Clasico pada 2 Mei 2009 di Santiago Bernabeu, gelanggang yang menyaksikan pembantaian terhadap Real Madrid dengan skor 2-6. Di laga tersebut, Lionel Messi tampil tanpa cela dengan menghancurkan susunan lini pertahanan Madrid.

Melalui wejangan taktik Guardiola sehari sebelum laga, Messi resmi memangku posisi false nine, posisi yang membuatnya menjadi pemain terbaik dunia. Lantas, Apa yang dikatakan Guardiola pada Messi saat itu?

Sehari sebelum laga, Guardiola menghabiskan malam di kompleks latihan, kebiasaan yang ia lakukan hingga kini. Ia menganalisis tim lawan, di mana kekuatan dan kelemahan mereka. Ia sendirian di ruang kerjanya, menyetel musik dan mempersiapkan taktik untuk laga El Clasico keesokan harinya.

Dua-tiga video telah ia tonton, ia lalu mencatat. Dan Eureka! Inspirasi itu datang. Guardiola mendeskripsikan momen itu sebagai “Momen yang membuat pekerjaanku terasa bermakna.”

Ia menyaksikan bahwa duet bek tengah Madrid, Fabio Cannavaro dan Cristoph Metzelder, selalu berdiri di dekat kiper Iker Casillas. Di saat bersamaan, barisan gelandang mereka, Guti, Fernando Gago, dan Royston Drenthe selalu berada di posisi Xavi dan Yaya Toure.

Ia melihat celah di depan pertahanan Madrid, lalu menelepon Messi. Saat itu sudah pukul 10 malam. Messi datang setengah jam kemudian. Guardiola segera memberinya kuliah.

“Aku ingin kau tampil di posisi sayap seperti biasanya. Tapi ketika aku memberimu kode, aku ingin kau bergeser ke (belakang barisan) gelandang dan mengisi celah yang aku tunjukkan padamu. Xavi dan Iniesta akan menerobos dan memberimu bola.”

Keesokan harinya di hotel tim, giliran Xavi dan Iniesta yang ia beritahu agar memberi layanan pada Messi. Ia juga menginstruksikan Thierry Henry dan Samuel Eto’o, dua penyerang Barca lainnya, agar mengeksploitasi ruang di antara bek tengah dan bek sayap Madrid.

Pertandingan berlangsung sesuai keinginan Guardiola. Messi mengirim assist ke Henry tepat seperti yang dibayangkan Guardiola di ruang ganti. Messi pun diuntungkan dengan perubahan posisi sebagai false nine, mengingat dua bek tengah Madrid lebih terfokus mengawal pergerakan Henry dan Eto’o.

Seusai laga, Messi berujar, “Kami punya kebebasan (menyerang) saat aku mundur (menjadi false nine) dan ketika bek tengah lawan harus mengawal Eto’o dan Henry.”

Henry menyaksikan kejeniusan pelatihnya dalam menciptakan sistem baru, seraya mengkonfirmasi, “Itu adalah hari ketika posisi false nine ditemukan.”

Messi lalu menjadi pemain terbaik dunia lima kali dari posisi false nine.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru