Walau Digembosi, Feyenoord Buktikan Bisa Lolos ke 16 Besar Liga Champions Pertama Kalinya

spot_img

Di Feyenoord para pemain muda yang kalah akan dihukum menyajikan makanan kepada yang menang. Ini bukan saat bertanding sungguhan, melainkan di pertandingan latihan.

Budaya itu membentuk mentalitas pemenang para pemain. Mentalitas ini pada gilirannya turut mengantarkan  Feyenoord ke babak 16 besar Liga Champions musim 2024/25. Dan ini adalah kali pertama Feyenoord melakukan itu.

Bagaimana mereka melakukannya?

Menyingkirkan AC Milan

Kemarin, tepatnya beberapa hari lalu, Feyenoord datang ke San Siro. Laga menghadapi AC Milan tak ubahnya pertandingan hidup mati. Bukan hanya buat Feyenoord, tapi juga untuk Rossoneri. Terkesan berlebihan, tapi memang demikianlah adanya.

Saat bermain di Rotterdam, AC Milan dibekuk. Jadi mau tak mau, mereka harus menang di depan pendukung sendiri. Tapi justru bukan kemenangan yang didapat, melainkan hasil imbang. Diving konyol Theo Hernandez membawa petaka.

Babak pertama Feyenoord diobok-obok Milan. Di babak kedua juga diobok-obok. Tapi setelah Theo diusir, klub asal Rotterdam itu membalas gol kepagian mantan pemainnya. Lewat sebuah skema menawan, pemain pengganti, Julian Carranza mencomot umpan silang yang dilepas pemain pinjaman dari Wolves, Hugo Bueno. Gol pun tercipta.

Perjalanan Menakjubkan

Feyenoord menang lewat agregat 2-1. AC Milan pun tersingkir. Sementara klub dari Sungai Meuse untuk kali pertama lolos ke 16 besar. Feyenoord sendiri baru lolos ke Liga Champions lagi pada musim lalu, usai terakhir kali melakukannya pada musim 2017/18.

Ketimbang Liga Champions, Feyenoord lebih sering berkutat di Liga Eropa. Malahan mereka sempat terpelanting ke Liga Konferensi Eropa atau turnamen kasta ketiga. Yang cukup mengesankan, di turnamen itu, Feyenoord nyaris menjuarainya.

Musim ini adalah kedua kalinya secara beruntun Feyenoord bermain di Liga Champions, sebagai hadiah karena mampu finis di posisi kedua di Eredivisie musim lalu. Setelah gagal musim lalu, musim ini Feyenoord masuk 16 besar menenteng status The Giant Killer

AC Milan cuma salah satu penyintasnya. Sebelum Milan, Bayern Munchen dan Manchester City sudah merasakan alotnya perlawanan Feyenoord. City ditahan 3-3, sedangkan Bayern lebih ngenes: kalah telak 3-0!

Digembosi

Sejak musim belum bergulir, kekuatan Feyenoord sebenarnya telah digerogoti. Arne Slot, sang pelatih, dibajak Liverpool. Slot bagaimanapun sosok pelatih yang tak hanya membawa Feyenoord juara Eredivisie, tapi juga menuntun mereka ke arah lebih baik. 

Datang 2020 lalu menggantikan pelatih kaliber Dick Advocaat, Slot diminta membangun tim dengan gaya permainan yang jelas dan dapat dikenali. Slot diberi keleluasaan memilih asisten. Marino Pusic, John de Wolf, hingga Robin van Persie pun diangkut menjadi asistennya. Slot meloloskan tim ke Liga Konferensi Eropa di musim pertamanya.

Di kompetisi tersebut, Feyenoord bahkan dibawanya ke final. Sementara Brian Priske, pengganti Slot, tak lebih baik dari pelatih Liverpool itu. Justru Feyenoord kian menderita. Selama melatih, Priske konsisten menyumbang hasil buruk.

Feyenoord yang terpontal-pontal di awal musim juga harus kehilangan pemain andalannya. Santiago Gimenez, sang mesin gol, dibajak oleh AC Milan. Feyenoord tergoda dengan uang 32 juta euro (Rp547,4 miliar) yang disodorkan Milan.

Dilatih Pelatih Minim Pengalaman

Kembali ke penampilan Feyenoord di tangan Priske. Walau menghabisi Bayern Munchen, tapi performa Feyenoord di tangan Priske masih jauh panggang dari api. Menghadapi lawan selevel, belang Feyenoord kelihatan.

Berjarak tujuh hari dari kemenangan atas Die Roten, Feyenoord terkapar oleh Lille. Kekalahan ini membuka keran kekalahan bagi Feyenoord. Di dua laga setelahnya, mereka menuai hasil buruk. Kalah dari Ajax Amsterdam, lalu kalah lagi dari PSV di perempat final Piala KNVB. Meski memenangkan derbi Rotterdam di laga berikutnya, Brian Priske tak dapat mengelak dari pemecatan.

Seperti mencari jarum di tumpukan jerami, mencari pelatih baru yang available di pertengahan musim tidak pernah mudah. Karena kesulitan mencari pelatih nganggur, sementara tak mungkin memboyong Coach Justin, Feyenoord menunjuk pelatih interim, Pascal Bosschaart.

Kalau kita buka profilnya di Wikipedia, portofolionya tak sepanjang Graham Potter. Tapi tak apalah, cuma interim ini. Dan memang benar kata orang, sepak bola itu seperti perempuan, sulit ditebak.

Di tengah badai kritik, Bosschaart yang cuma pelatih ganjel, sanggup membawa Feyenoord ke 16 besar Liga Champions kurang dari sebulan setelah ditunjuk. Mengalahkan AC Milan pula. Belakangan Bosschaart akan dikembalikan ke asalnya, yakni tim muda. Feyenoord kabarnya menunjuk Robin van Persie.

Feyenoord Bermain Secara Tim, Bukan Individu

Van Persie dan Bosschaart sama-sama masih kering pengalaman melatih. Tapi bukan berarti eks pemain Manchester United itu akan gagal sebagaimana yang ia lakukan di Heerenveen. Feyenoord adalah tim yang berbeda.

Seperti disebutkan di awal tadi, mentalitas pemenang sudah dibentuk di Feyenoord. Van Persie, jika ia betulan melatih Feyenoord, cuma perlu mempertahankan mentalitas itu. Feyenoord sendiri tambang emas sepak bola. Di sana para calon pemain diterima dan dikembangkan.

Selain yang sudah disebutkan, Feyenoord juga menciptakan sistem baru dalam metode latihannya. Sistem itu dibawa Dirk Kuyt saat kembali ke Feyenoord untuk melatih Tim U-19. Mengutip These Football Times, nama sistemnya adalah pertemanan. Apa maksudnya?

Sistem ini menghapus sekat antar generasi. Kuyt memang pelatih Feyenoord U-19, tapi dalam latihan, ia juga mengundang pemain-pemain yang usianya di atas 19 tahun. Tak terkecuali para pemain yang usia 30 tahunan. Untuk apa? Ya untuk bermain bersama.

Pemain yang secara usia lebih tua akan membimbing langsung adik-adiknya di lapangan. Mereka akan menjadi teman satu tim. Misalnya, dalam satu tim akan ada satu pemain sayap kiri berusia 7 tahun dipasangkan dengan pemain sayap kiri lain yang berusia 12 tahun. Sistem ini mengalir di tim muda Feyenoord. 

Lewat sistem ini, pemain muda Feyenoord yang bahkan baru 18 tahun seperti Givairo Read dapat menembus tim senior. Sehingga Feyenoord pun menjelma itm yang dipenuhi pemain muda. Musim ini saja, di skuad Feyenoord rata-rata pemainnya berusia 24 tahun.

Kemampuan Melacak Pemain Hebat

Sudahlah punya akademi dengan sistem bagus, Feyenoord juga ahli merekrut pemain. Pemain muda potensial di seluruh dunia mampu dilacak. Dan Feyenoord tak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk merekrut para pemain itu.

Feyenoord telah lama bekerja sama dengan SciSports, sebuah platform canggih yang mampu melacak lebih dari 90 ribu pemain di seluruh dunia. Feyenoord mengidentifikasi lewat platform ini, sehingga kerjanya lebih efisien dan presisi. Sejumlah pemain berhasil ditemukan lewat platform ini.

Pencetak gol ke gawang AC Milan kemarin, Julian Carranza contohnya. Carranza dibeli gratis dari Philadelphia Union. Santiago Gimenez yang dibajak Milan itu pun termasuk hasil SciSports. Gimenez ditemukan saat masih berseragam klub Meksiko, CD Cruz Azul.

Dulu Feyenoord membelinya seharga 6 juta euro saja pada 2022. Tapi tiga tahun berselang, Feyenoord bisa untung 26 juta setelah sang pemain dibeli AC Milan. Igor Paixao yang dibeli cuma 4,5 juta euro dari Coritiba dan Ayase Ueda yang dibeli 8 juta euro dari Cercle Brugge juga hasil kerja sama dengan SciSports.

Pengembangan pemain muda yang disokong sistem yang bagus, serta kecanggihan dalam melacak pemain, plus budaya kerja tim dan anti kekalahan menjadikan Feyenoord tangguh.

Lolos ke 16 besar Liga Champions adalah perlambang sesuatu yang dibangun serius. Tak peduli siapa lawan di 16 besar. Sebab sampai di 16 besar Liga Champions saja lebih dari cukup membuat klub kaya raya seperti Manchester City ngiri.

Sumber: Fotmob, beinSPORTs, detikSport, Linkedin, TheseFootballTimes, Linkedin

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru