Perwakilan Serie A Italia makin merana di Liga Champions Eropa. Lagi-lagi, Italia kembali gagal mengirim wakilnya ke babak perempat final Liga Champions musim 2021/2022. Ini terjadi setelah perwakilan Liga Italia sudah berguguran sejak babak grup hingga babak 16 besar.
Ini jadi hasil buruk kesekian kalinya yang ditorehkan perwakilan Serie A Italia di Liga Champions Eropa. Terlebih lagi, apa yang ditorehkan wakil Italia di Liga Champions sangat kontras dengan situasi yang terjadi kompetisi Serie A musim ini.
Juventus are knocked out of the Champions League to Villarreal, leaving no Italian sides remaining in the competition 😔
Subscribe to Paramount+ to watch every Serie A match in the USA (Link below for a 7 day free trial) pic.twitter.com/Veq5Td6Up4
— Italian Football TV (@IFTVofficial) March 16, 2022
Balada Klub Italia: Jago di Kandang, Pecundang di Liga Champions
Serie A Italia musim ini berjalan sangat ketat dan begitu kompetitif. Ini ditandai dengan beberapa klub yang masih punya peluang juara. Hingga pekan ke-30, AC Milan yang menjadi pemimpin puncak klasemen Serie A hanya unggul beberapa poin saja dengan para pesaingnya.
Milan memimpin klasemen Liga Italia dengan torehan 66 poin. Mereka hanya unggul 3 angka dari Napoli di posisi kedua, berjarak 6 poin dari Inter yang masih punya 1 pertandingan sisa, dan hanya berjarak 7 poin dari Juventus yang menghuni peringkat 4.
Sayangnya, level kompetisi itu gagal ditularkan para wakil Serie A di Liga Champions musim ini. Serie A yang musim ini diwakili Juventus, Inter Milan, Atalanta, dan AC Milan bertumbangan sejak babak grup hingga mentok di babak 16 besar saja. Bisa dibilang kalau mereka kalah saing dengan perwakilan liga top Eropa lainnya.
Juventus dan Inter Milan terhenti di babak 16 besar. Atalanta yang finish di peringkat 3 babak grup terdampar ke Liga Europa. Sementara itu, AC Milan yang notabene menjadi klub dengan koleksi trofi Liga Champions terbanyak di Italia terhenti di babak grup setelah mereka menjadi juru kunci Grup B.
AC Milan finish 4th in Group B of the Champions League and are knocked out of Europe ❌ #UCL pic.twitter.com/k4XWLFkXJ7
— RouteOneFootball (@Route1futbol) December 7, 2021
Hasil tersebut jelas mencoreng nama baik Serie A Italia yang beberapa tahun lalu pernah menjadi kiblat sepak bola dunia. Apalagi, mereka adalah negara ketiga dengan koleksi trofi Liga Champions terbanyak setelah Spanyol dan Inggris.
Yang lebih ironis lagi, fakta menunjukkan bahwa dalam 4 tahun terakhir yang menjadi wakil terbaik Serie A di Liga Champions adalah AS Roma, klub yang saat ini tengah berkompetisi di Liga Konferensi Eropa. Roma mencapai babak semifinal pada musim 2017/2018.
Setelah itu, dalam 2 musim berikutnya, pencapaian tertinggi wakil Serie A hanyalah mencapai babak perempat final yang ditorehkan Juventus di musim 2018/2019 dan Atalanta di musim 2019/2020. Sementara di musim 2020/2021, perwakilan Serie A sudah habis di babak 16 besar.
Ini berarti dalam 2 musim terakhir Serie A Italia gagal mengirim wakilnya ke babak perempat final Liga Champions. Lalu, apa penyebabnya? Dan mengapa prestasi klub-klub Serie A di Liga Champions terus mengalami penurunan dalam 2 musim terakhir?
Tempo Lambat dan Masalah Finansial Jadi Penyebab Wakil Serie A Merana di Liga Champions
Dari sisi teknis, gaya permainan klub-klub Serie A disinyalir jadi penyebab gagalnya perwakilan Italia di Liga Champions. Seperti yang kita tahu, sepak bola modern begitu mengandalkan intensitas dan tempo yang tinggi. Sementara itu, klub Italia cenderung bermain lebih lambat. Ini pula yang jadi perhatian pelatih legendaris asal Italia, Fabio Capello.
“Tim Italia harus berlari lebih banyak dan memiliki kecepatan lebih cepat. Mereka perlu belajar bermain lebih cepat, menekel lebih banyak, dan meningkatkan teknik mereka,” kata Fabio Capello, dikutip dari Cult of Calcio.
Senada dengan Capello, pelatih AC Milan, Stefano Pioli juga berpendapat demikian. Ia menilai bahwa sepak bola Italia hanya perlu meningkatkan kualitas dan intensitasnya.
“Fakta tidak memiliki tim di perempat final Liga Champions adalah hal yang negatif. Levelnya tinggi, saya tidak berpikir sepakbola Italia kekurangan sesuatu, tetapi kami dapat meningkatkan kualitas dan intensitasnya,” ujar Stefano Pioli, dikutip dari Football Italia.
Kurangnya intensitas ini bisa kita lihat di laga leg 2 babak 16 besar Liga Champions antara Juventus dan Villarreal. Juve yang bermain di kandang sendiri sebenarnya menang penguasaan bola dan lebih banyak melepas tembakan. Namun, Si Nyonya Tua kebobolan 3 gol dalam tempo 15 menit terakhir yang membuat mereka kalah agregat 4-1 dari Villarreal.
Sementara hasil laga Inter Milan melawan Liverpool jadi bukti bahwa sebenarnya klub Serie A mampu bersaing di Eropa. Namun, lagi-lagi mereka masih punya kekurangan yang krusial.
Dari catatan statistik, Inter yang menang 1-0 atas tuan rumah sebenarnya mampu meredam agresivitas Liverpool, khususnya di babak pertama. Namun, di babak kedua, khususnya dalam 30 menit terakhir, intensitas pressing Inter menurun.
Inter tercatat melepas tembakan terakhirnya di menit ke-61 saat Lautaro Martinez berhasil membawa Inter unggul 1-0. Setelah itu, pemain Inter seperti terlihat kelelahan. Alhasil, Liverpool jadi tim yang lebih banyak memberi ancaman.
Lautaro Martinez’ screamer against Liverpool was Inter’s first Champions League knockout goal in 3,647 days 🗓 pic.twitter.com/wrn6p63v0a
— GOAL (@goal) March 8, 2022
Selain dari sisi teknis, penyebab menurunnya performa klub-klub Serie A di Liga Champions juga dipengaruhi oleh urusan nonteknis. Apa lagi kalau bukan kondisi finansial klub Serie A yang tertinggal dari klub-klub La Liga, Bundesliga, apalagi Premier League.
Ada korelasi antara kondisi finansial klub dengan hasil yang diraih perwakilan Serie A di Liga Champions musim ini. Juventus dan Inter Milan yang mencapai babak 16 besar adalah 2 klub Liga Italia yang masuk dalam 20 besar klub Eropa dengan pendapatan tertinggi versi Deloitte Football Money League.
Juventus menempati peringkat 9 setelah mencatat total pendapatan 433,5 juta euro pada musim 2020/2021. Sementara Internazionale yang mencatat total pendapatan 330,9 juta euro pada musim lalu berada di peringkat 14.
Manchester City are the richest football club in the world, according to the Deloitte Football Money League 2022. pic.twitter.com/lE2e5F2CZq
— BelgiumAFTV (@AftvBelgium) March 22, 2022
Kemudian Atalanta yang terdampar ke Liga Europa berada di peringkat 24 dengan total pendapatan 187,6 juta euro. Sementara itu, AC Milan yang tersingkir di babak grup hanya mencatat total pendapatan 161,1 juta euro pada musim lalu dan hanya menempati peringkat 30.
Hasil audit Deloitte ini secara tidak langsung membuktikan betapa berpengaruhnya kondisi finansial klub terhadap prestasi klub Serie A di kancah Eropa. Wajar bukan bila Juventus dan Inter bisa berbicara hingga babak 16 besar Liga Champions, sebab mereka jadi 2 tim terkaya Italia saat ini.
Newcastle are 28th in the Deloitte Football Money League 2022 for the 2020/21 season (Mike Ashley’s last as full campaign owner) with revenues of €170.1m. #nufc pic.twitter.com/6AOAdTNglZ
— Miles Starforth (@milesstarforth) March 21, 2022
Serie A Harus Berbenah!
Kecilnya pendapatan klub-klub Serie A itulah yang membuat mereka sulit untuk merekrut bintang top dunia dengan harga mahal. Yang terjadi justru sebaliknya. Makin ke sini, Serie A seperti menjadi penghasil pemain berkualitas yang kemudian dijual ke klub lain di luar Italia. Ini membuat kekuatan klub Serie A berkurang sekaligus membuat para pesaing mereka di luar Italia makin kuat.
Terlepas dari itu, kecilnya pendapatan klub Serie A musim lalu tak sepenuhnya menjadi salah mereka. Krisis atau masalah finansial pula yang membuat banyak klub Italia yang dinyatakan pailit. Sejak 2002, sudah ada sekitar 157 klub Italia yang terpaksa gulung tikar dan terpaksa dirombak ulang.
Fenomena tersebut jadi bukti kalau ada yang salah dengan sistem dan iklim bisnis di sepak bola Italia. Paling kentara ya soal stadion mereka yang yang sudah usang. Selain itu, hanya sedikit sekali dari klub Italia yang punya stadion sendiri atau minimal punya hak guna penuh untuk mengelola stadion yang mereka pakai.
Sejatinya beberapa klub Serie A, seperti AC Milan dan Inter Milan, serta AS Roma dan Lazio sudah merencanakan untuk membangun dan memiliki stadion sendiri. Namun, sejak bertahun-tahun yang lalu, rencana tersebut selalu kandas di tangan pemerintah kota yang enggan memberi izin.
Ini jelas berdampak kepada kondisi finansial klub Serie A yang mayoritas masih harus membayar uang sewa stadion kepada pemerintah Italia. Kondisi finansial inilah yang menjadikan klub-klub Serie A sulit mendatangkan pemain bintang. Alhasil, Liga Italia kerap kali sepi peminat.
Inilah yang menjadi sebab mengapa prestasi klub-klub Serie A di Liga Champions Eropa juga terus mengalami penurunan. Serie A mesti berbenah, baik dari sisi teknis seperti taktik dan gaya permainan, hingga urusan nonteknis yang terkait dengan finansial.
Mau bagaimanapun juga, panggung Serie A masih kalah bila dibanding dengan La Liga dan Premier League. Pengelola Serie A mestinya menyadari hal ini. Mereka harus segera mengejar ketertinggalan mereka. Sebab, jika wakil Serie A gagal menorehkan prestasi apik di kancah Eropa, bisa-bisa nilai koefisien mereka turun dan jatah tiket ke Liga Champions mendapat pengurangan.
https://youtu.be/0Ba5ritpg6s
***
Sumber Referensi: Cult of Calcio, The Mag, Football Italia, Forza Italian Football, Football Italia, internazionaleanalysis.


