Valencia dan Sebuah Era Dimana Semua Masih Bisa Tertawa

spot_img

Estadio Mestalla memiliki reputasi terbaik sebagai salah satu ajang pertempuran di kompetisi sepak bola Spanyol. Selalu ada banyak cerita disana. Para penggemar akan selalu menantikan dan menemani para pahlawan Valencia. Dalam sejarahnya, mereka sudah banyak sekali raih gelar. Seperti La Liga, Copa del Rey, dan yang lainnya.

Selain itu, di kancah Eropa, mereka juga masih bisa bicara. Dalam sejumlah turnamen besar, ada rentetan piala yang berhasil dibawa pulang.

Valencia bukanlah klub sembarangan. Meski sekarang masih berada dalam kondisi yang tidak diinginkan, setidaknya, mereka masih punya wibawa untuk bersaing dalam perebutan gelar.

Valencia tumbuh menjadi klub yang kaya akan sejarah. Didirikan pada 1919, Valencia terus berkembang menjadi sebuah kesebelasan dengan reputasi atraktif dan menarik. Era 1960 an seolah menjadi awal dari kejayaan mereka. Tercatat ada sejumlah gelar yang didapat. Seperti misalnya Inter-Cities Fairs Cup. Sebelumnya, mereka memang telah berhasil menaklukkan kompetisi liga, namun satu piala di panggung Eropa itu menjadi penanda kekuatan yang mereka punya.

Kemudian, Valencia pernah berjaya kala dibesut mantan pemain Real Madrid, Alfredo Di Stefano. Namun setelah ia pergi, tim kelelawar sempat kehilangan masa keemasannya. Mereka dianggap telah kehilangan jiwa ksatria kala tampil diatas lapangan.

Barulah saat Claudio Ranieri menduduki kursi kepelatihan tim, Valencia bisa kembali sedikit bicara. Setelah menyelesaikan musim 1996/97 dengan menduduki posisi ke 10, Ranieri datang untuk memperbaiki keadaan. Memainkan pola 4-4-2, Valencia berhasil temukan performa terbaik mereka.

Di musim 1998/99, pemain muda seperti Gaizka Mendieta dan Claudio Lopez kian menjadi andalan Valencia. Mereka berdua menjadi pemikul utama dari era kebangkitan Valencia di panggung Eropa. Seperti halnya, Jamie Vardy dan Riyadh Mahrez di Leicester City, Ranieri menjadikan kedua pemain tersebut sebagai ikon dari berdirinya sebuah skuad ternama asal Eropa.

Mendieta diubah menjadi salah satu gelandang terbaik di kompetisi Spanyol. Ranieri benar-benar mampu memanfaatkan kejeniusan yang sebetulnya sudah dimiliki sang pemain. Sementara Claudio Lopez, pemain asal Argentina itu bertransformasi menjadi seorang penyerang handal. Ia yang sebelum nya hanya mencetak tiga gol pada musim 1996/97, berhasil mencetak 21 gol di musim 1998/99.

Selain berhasil membawa Valenca bercokol di posisi keempat klasemen akhir, Ranieri sukses membawa klub tersebut menjuarai turnamen Copa del Rey sekaligus memastikan diri lolos ke Liga Champions Eropa.

Setelah Claudio Ranieri pergi pada akhir musim 1998/99, seorang pria berwibawa bernama Hector Cuper datang dengan segudang asa.

Hector Cuper berhasil kembangkan pondasi yang telah dibangun oleh Claudio Ranieri. Tim nya saat itu dikenal sebagai pasukan yang punya pertahanan spektakuler. Meski catatan kebobolan Valencia sama seperti saat mereka dilatih Ranieri, serangan psikis terhadap para lawan yang coba menyerang jelas terasa.

Dari sini, era emas Valencia mulai tumbuh melegenda.

Lini pertahanan kuat Valencia saat itu diisi oleh nama-nama seperti Mauricio Pellegrino, Miroslav Dukic, Jocelyn Angloma dan Amedeo Carboni. Valencia menyelesaikan musim dibawah Cuper dengan hanya lima poin di belakang sang juara Deportivo La Coruna. Mereka kebobolan 39 gol dengan nama Alaves yang menjadi lebih sedikit.

Tak hanya lini belakang saja yang patut dinantikan. Namun juga peran para pemain tengah hingga sampai ke lini serang. Gaizka Mendieta, Gerard Lopez, dan sayap Fran Farinos serta Kily Gonzales, membuat nama Valencia terus dikumandangkan. Terlebih, di lini depan mereka punya Claudio Lopez dan bomber Romania, Adrian Ilie.

Selain kian menjadi kuat di kompetisi liga, mereka juga berhasil menginvasi kompetisi Eropa. Siapa sangka jika Valencia yang sebelumnya tidak diperhitungkan berhasil merangsak hingga ke partai final. Perjalanan mereka pun tak bisa diremehkan.

Menjadi jawara grup F dengan kalahkan FC Bayern, mereka sukses kalahkan Lazio dan FC Barcelona di babak selanjutnya. Uniknya, mereka mampu menang dengan skor sama, yaitu 5-3.

Mengalahkan FC Barcelona dengan skor tersebut jelas menjadi prestasi luar biasa. Apalagi, raksasa Katalan berdiri diatas Valencia dalam perebutan gelar La Liga.

Di partai final, mereka harus berhadapan dengan rival Barcelona, Real Madrid. Meski Madrid menempati posisi kelima klasemen liga, mereka berhasil menghajar Valencia dengan skor telak. Ya, catatan manis Hector Cuper bersama Valencia hancur setelah tim asal ibukota bermain begitu membara. Melalui gol Fernando Morientes, Steve McManaman, dan Raul Gonzales, Valencia harus mengakui kedigdayaan klub senegara.

Kegagalan itu pun membuat sejumlah pemain memilih pergi. Seperti halnya klub kejutan lainnya, banyak tim-tim raksasa yang mengambil bakat-bakat yang dimiliki Valencia. Gerard Lopez hijrah ke Barcelona, hingga Claudio Lopez yang terbang ke Italia untuk membela Lazio.

Dengan kepergian para pemain andalan tersebut, beruntung Valencia sukses dapatkan gantinya. Nama-nama sekaliber Pablo Aimar, John Carew, Ruben Baraja, dan Roberto Ayala, didatangkan dan siap meneruskan tongkat kesuksesan tim kelelawar.

Benar saja, meski di kompetisi liga langkah mereka tidak sempurna, dunia kembali dikejutkan dengan performa Valencia di kancah Eropa. Mereka kembali merangsak ke partai final, setelah di edisi sebelumnya dihajar oleh Real Madrid.

Kali ini, lawan mereka adalah FC Bayern. Kembali lagi, jika menilik perjalanan mereka dalam mencapai partai final, nama-nama yang disingkirkan tak sembarangan. Mereka menjadi raja di grup C dan singkirkan Arsenal serta Leeds United di babak selanjutnya.

Sayang, Dewi Fortuna kembali mengecewakan Hector Cuper, yang sudah siap terpampang di halaman depan tiap media. Di waktu normal, keduanya bermain imbang 1-1. Setelah memasuki babak adu tendangan 12 pas, Bayern yang saat itu memiliki kiper bernama Oliver Kahn tak mampu dibendung langkahnya. Pria garang yang berada dibawah mistar masih lebih tangguh dari kiper ternama milik Valencia, Santiago Canizares.

Valencia kalah dengan skor 5-4, dimana pemandangan Oliver Kahn yang tengah menenangkan tangis Canizares usai pertandingan menjadi viral.

Nasib sial yang menimpa Cuper pada dua laga final akhirnya membuatnya hengkang. Ia putuskan pergi ke Italia dan membesut Inter Milan, sementara Valencia, yang ditinggalkan sang pelatih asal Argentina, kedatangan sang jenius lainnya, yaitu Rafael Benitez.

Bersama Benitez, reputasi Valencia terus terjaga. Pelatih asal Spanyol itu berhasil persembahkan dua gelar La Liga dalam tiga musim masa jabatannya. Setidaknya hingga tahun 2004, Valencia masih berstatus sebagai salah satu klub terbaik Eropa.

Mengusung pola 4-2-3-1, Benitez menempatkan dua gelandang bertahan, dua winger dan salah satu penyerang yang bermain lebih dalam. Saat itu, Pablo Aimar menjadi nama yang turut membantu Benitez raih kesuksesan. Gelandang serang asal Argentina itu memiliki dribbling skill, visi permainan, kemampuan mengoper dan kreativitas mengagumkan.

Dengan nama-nama yang masih populer lainnya, Valencia berhasil menjadi jawara La Liga di musim 2001/02, setelah 31 tahun lamanya. Musim itu, Valencia berhasil mencetak total 51 gol. Meski secara produktivitas gol masih kalah dengan Real Madrid, Barcelona dan Celta Vigo, Valencia terkenal dengan kemenangan konsisten 1-0. Hal itulah yang membuat mereka terus berjalan dalam jalur yang diinginkan.

Memiliki gelandang dengan keahlian mengumpan seperti Ruben Baraja dan David Albelda, semakin memudahkan nama Mista dalam mengambil peran sebagai penyerang.

Kegemilangan Valencia tak sampai dimusim itu saja. Pada 2003/04, mereka berhasil meraih dua gelar sekaligus. Tak banyak perubahan dalam skuad, mereka kembali menjuarai La Liga, dan kali ini bahkan ditambah dengan trofi UEFA Cup.

Valencia musim itu finish sebagai juara dengan keunggulan lima poin atas Barcelona. Mereka mampu mencetak 71 gol dan kebobolan 27 gol. Sungguh angka yang sangat mencengangkan. Maka wajar bila kekuatan mereka mampu melebar hingga ke kompetisi Eropa.

Kala itu, di final UEFA Cup, mereka berhasil kandaskan perlawanan wakil asal Prancis, Marseille, dengan skor akhir 2-0.

Mengandalkan pertahanan kuat, operan cepat, serta kombinasi sentuhan para pemain ofensif, Valencia memang layak ditakuti.

Pada akhirnya, setelah berhasil persembahkan itu semua, Rafael Benitez mundur setelah muncul permasalahan dengan manajemen. Ia pergi dan terbang ke Anfield untuk kemudian persembahkan gelar Liga Champions Eropa.

Untuk Valencia, itu menjadi akhir dari masa dominasi di kompetisi La Liga. Sampai saat ini, mereka belum lagi naik ke panggung juara. Yang terbaru, mereka hanya berhasil sumbangkan satu gelar Copa del Rey di musim 2018/19.

Valencia yang saat itu dilatih oleh Marcelino sukses memimpin dua gol di babak pertama dan hanya bisa dibalas dengan sebiji gol oleh Lionel Messi.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru