Sepak bola memang menjadi permainan yang layak dinantikan. Seolah tak pernah habis dimakan zaman, kran sejarah akan selalu tercipta dari olahraga sebelas lawan sebelas.
Dari sudut kota terkemuka di Brasil, Bruno Guimaraes tersenyum bahagia kala dirinya berhasil mewujudkan mimpinya sebagai seorang pesepakbola. Layaknya pemain asal Brasil lainnya, Guimaraes dianugerahi bakat olah bola. Ia kerap memainkan si kulit bundar di daerah dekat rumahnya.
Lahir pada 16 November 1997, Guimaraes mengisi daftar pemain muda berbakat yang tersebar di seluruh belahan bumi. Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, ia sudah bergabung dengan klub bernama Audax. Tepat pada April 2015, ia lalu memainkan debut profesional nya dengan klub tersebut.
Namun begitu, ia tidak bisa bertahan lama membela klub kesayangannya itu. Pasalnya, air mata tak mampu dibendung ketika mengetahui fakta bahwa Audax harus turun kasta ke divisi kedua sepak bola Brasil.
Dirinya yang memang menjadi salah satu pemain berbakat pun sudah diintai oleh sejumlah klub seantero negeri. Pemain yang berposisi sebagai seorang gelandang itu telah menyadari bahwa seiring dengan terjungkalnya Audax ke divisi kelas bawah, langkah nya akan segera pergi ke sebuah klub yang tentunya bermain di kompetisi tertinggi.
Kehebohan akhirnya tercipta di kompetisi sepak bola Brasil setelah Guimaraes putuskan hengkang ke klub Athletico Paranaense. Perlu dicatat bahwa saat itu, Guimaraes digaet dengan status sebagai seorang pemain pinjaman. Meski saat itu banyak yang ingin membajaknya, sang pemain tetap percaya bahwa Athletico merupakan tempat yang pas baginya untuk berkembang.
Sebagai tambahan, ia juga tidak tergoda dengan tawaran yang diberikan rival Athletico, Coritiba FC. Padahal, klub tersebut telah memberinya tawaran menarik berupa gaji yang besar nya empat kali lipat dari yang ditawarkan Athletico. Namun sekali lagi, ia sudah teguh pada pilihannya.
Sejak keputusan besar tersebut, Guimaraes akhirnya menikmati masa-masa yang begitu indah. Bersama Athletico, namanya kian dikenal hingga ke seluruh dunia. Ia menjadi salah satu pemain kunci Athletico dalam berbagai ajang yang diikuti, seperti Copa Sudamericana dan Copa do Brasil. Namanya bahkan sudah banyak dibicarakan para penggemar meski dirinya masih tergolong sangat muda.
Di Athletico, Guimaraes yang awalnya ditugaskan untuk mengisi tim muda benar-benar menciptakan sebuah fenomena besar. Ia yang sudah mulai diturunkan di tim senior pun sama sekali tak mengecewakan. Malah klub-klub besar Eropa sudah mulai pasang mata untuk terus mengikutinya.
Pada pertengahan 2019 lalu, sejumlah klub Italia sudah mulai bergerak untuk mendapatkan jasanya. Trio raksasa Serie A Italia, Inter Milan, Juventus, dan Napoli, ingin mendapatkan jasa gelandang muda asal Brasil itu.
Semua nya memang terlihat nyata. Ketertarikan semua klub tersebut kepada Bruno Guimaraes sangat bisa dipahami. Pemain yang kini berusia 22 tahun itu memiliki kemampuan penguasaan bola yang cukup baik. Hampir seluruh umpan yang diberikan kepadanya dapat ia terima dengan baik. Selain itu, ia juga punya kecepatan lari yang amat luar biasa.
Tak berhenti sampai disitu saja, kabar mengenai talenta berbakat asal Brasil itu pada akhirnya tercium hingga ke seluruh pelosok Eropa. Pada akhir 2019, klub asal Spanyol, Atletico Madrid bahkan mengklaim bahwa mereka telah sepakat untuk datangkan sang gelandang menuju Wanda Metropolitano.
Namun disaat klub tersebut dikabarkan sudah siap menggelontorkan dana senilai 480 milliar rupiah, berita itu langsung dibantah oleh sang pemain. Pasalnya, ia mengatakan bahwa tidak ada keseriusan berarti dari klub berjuluk Los Rojiblancos.
Yang tak kalah menghebohkan, dua klub London, Chelsea dan Arsenal juga begitu tertarik kepada sang pemain. Diceritakan, salah satu perwakilan Chelsea yang punya hubungan baik dengan agen Guimaraes, Giuliano Bertolucci, telah melakukan pembicaraan. Setelah itu, Arsenal melalui Edu Gaspar juga bersiap melakukan negosiasi.
Akan tetapi, semua khayalan itu tidak pernah terwujud. Chelsea dianggap tidak pernah serius mendatangkan Guimaraes. Sementara Arsenal, diklaim belum siap melakukan pembelian pemain pada bursa transfer musim dingin lalu.
Padahal, Bruno Guimaraes sempat berujar siap menjajal kompetisi Inggris. Di klubnya saat itu, ia bahkan sudah menghadiri kursus bahasa Inggris. Namun sayang, langkahnya tidak pernah menjadi nyata.
Pada akhirnya, setelah banyak raksasa dikabarkan berlomba-lomba mendapatkan jasanya, klub asal Prancis, Lyon, menjadi pemenangnya.
Lyon memboyong Bruno Guimaraes dari Athletico Paranaense dengan kontrak 4,5 tahun melalui kesepakatan biaya transfer senilai 20 juta euro, atau setara 299 milliar rupiah. Kapten timnas Brasil U-23 ini merasa sangat senang bergabung dengan Lyon. Menurutnya, penyambutan orang-orang disana sangatlah luar biasa.
Berbekal 10 gol dalam 105 pertandingan untuk Athletico Paranaense dan membantu mereka memenangi Copa Sudamericana pada 2018 dan Copa do Brasil pada 2019, Bruno Guimaraes, tanpa pikir panjang, rela terbang ke Prancis untuk segera tampil bersama Lyon.
Dibalik keberhasilan Lyon dalam dapatkan jasa Guimaraes, ternyata ada satu sosok yang begitu penting dalam perekrutan ini. Adalah Juninho Pernambucano. Kita semua tahu kalau Juninho yang kini menjabat sebagai Direktur Olahraga Lyon merupakan legenda sepak bola asal Brasil yang begitu berjaya bersama klub asal Prancis tersebut.
Pemilik kaki kanan mematikan ini menelpon Bruno Guimaraes secara langsung, dan mengajaknya bergabung ke Lyon sembari merayu dengan menyebutnya sebagai gelandang yang bakal melegenda.
Saat itu, langkah Juninho yang benar-benar ingin merekrut sang pemain terlihat nyata. Tidak hanya mengandalkan gembar-gembor media seperti yang dilakukan yang lainnya. Juninho mengirimkan delegasi klub ke turnamen pra Olimpiade di Kolombia guna memantau sekaligus membujuk Guimaraes ke Prancis menuju Lyon. Tak lama berselang, pemain berusia 22 tahun itu terbang, bukan lewat penerbangan komersil, tapi jet pribadi yang dipesankan manajemen klub.
Benar saja, semua langkah yang dilakukan tak berakhir sia-sia. Juninho merasa bahagia karena targetnya berhasil didapat. Pun dengan Guimaraes yang telah resmi menginjakkan kaki di Eropa.
“Kecuali Juninho, tidak ada pihak mana pun yang benar-benar serius mengajakku bergabung,”
“Juninho telah membuat perbedaan. Sejak pertama kali menghubungiku, dia langsung bicara padaku, agen, sekaligus keluargaku. Ia memberiku keyakinan penuh dan menjelaskan proyek yang akan dilakukan klub,”
“Pendekatan itulah yang membuatku yakin untuk pergi bersamanya.” ucap Guimaraes (via bleacher report)
Saat tiba di Lyon, Guimaraes juga memiliki satu permintaan khusus. Kala itu, ia ingin memakai nomor punggung 39. Nomor itu dipilih karena merupakan nomor taksi ayahnya yang sudah bekerja selama kurang lebih 20 tahun sebagai seorang driver. Guimaraes ingin mendedikasikan segalanya untuk keluarga atas apa yang telah diberikan selama ini.
Mendengar permintaan tersebut, Juninho sempat merasa bingung, karena Ligue One tidak memperbolehkan pemain menggunakan angka diatas 30. Setelah melakukan diskusi, beruntung, permintaan Guimaraes pun terkabul.
Pertama kali tampil bersama Lyon, Guimaraes langsung berikan kesan mendalam bagi para penggemar. Ia tampil begitu memukau dalam setiap pertandingan, tepat sebelum sepak bola Eropa terhenti karena wabah mematikan.
Malah, ada satu rekan setimnya yang begitu terkesan dengannya. Dia adalah Houssem Aouar.
“Dia sangat penting untuk tim ini. Dia berusaha keras, dan selalu memberikan solusi bagi pemain untuk bertahan. Permainan tim jadi lebih cair dengan keberadaannya,” ujar Aouar. (via brfootball)
Salah satu penampilan terhebatnya tentu kala Lyon berhasil melibas Juventus di ajang Liga Champions Eropa. Saat itu, Lyon berhasil menang dengan skor 1-0.
Pemain berusia 22 tahun itu bermain penuh 90 menit dan mendominasi lini tengah permainan bersama Lucas Tousart. Statistik bahkan mencatat Guimaraes berhasil merampungkan 42 umpan dengan tingkat akurasi mencapai 86 persen dalam laga tersebut. Tak hanya itu, saat bertahan, ia juga mampu tampil berani dengan mencatatkan empat tekel sempurna dan tiga intersep.
Guimaraes tampak sama sekali tak terpengaruh dengan fakta bahwa dia berhadapan dengan pemain-pemain kelas dunia Juventus. Ia tampil apik dan begitu percaya diri. Penampilannya yang sangat baik saat itu pun lagi-lagi mengundang komentar luar biasa dari Juninho.
“Bruno Guimaraes, dia terlatih oleh sesuatu yang tak lazim di Brasil. Maksud ku, dia mau beradaptasi, belajar memahami situasi di klub ini. Pernah saat aku datang ke sesi latihan, aku berkata padanya, Lyon butuh seseorang yang mau beroperasi di pertahanan juga, penyeimbang, mengatur ritme, rotasi, dan tahu bagaimana menguasai jalannya pertandingan,”
“Dia pemain yang sangat bagus dan punya potensi untuk menjadi gelandang terbaik dunia, seperti dia sekarang,” kata Juninho (via brfootball).
Yang terbaru, raksasa Katalan, FC Bercelona, berniat mendatangkannya pada bursa transfer musim panas mendatang. Walau baru beberapa bulan merumput di Eropa, Barca nyatanya tetap menaruh minat untuk mendatangkan Guimaraes. Manajemen Barca menilai Guimaraes adalah sosok yang pas untuk masuk dalam proyek jangka panjang mereka.
Namun entah bagaimana alur ceritanya nanti, yang pasti, Bruno Guimaraes masih ingin fokus bersama raksasa Prancis. Mimpi besar nya juga memberi ledakan energi bagi timnas Brasil, agar bisa kembali kuasai bumi.


