Urs Fischer Akhirnya Dipecat Union Berlin, Keputusan Tepat atau Terlambat?

spot_img

Setelah melewati 1963 hari dan menjalani 224 pertandingan bersama, Union Berlin akhirnya berpisah dengan pelatih kesayangan mereka, Urs Fischer. Pelatih berusia 57 tahun itu adalah orang yang membawa Die Eisernen mewujudkan mimpi yang sebelumnya sulit untuk dibayangkan.

Datang di musim panas 2018, Urs Fischer langsung mengantar Union Berlin meraih promosi bersejarah ke Bundesliga. Setelah itu, kegilaan demi kegilaan yang harusnya hanya ada di kisah dongeng terjadi di Köpenick, kota kecil yang menjadi rumah bagi Union Berlin.

Diprediksi hanya akan jadi klub yoyo, Union Berlin sukses bertahan di kasta teratas Liga Jerman. Tak hanya sekadar bertahan, Die Eisernen ternyata malah makin berprestasi di tiap musimnya.

Di 3 musim terakhirnya, Union Berlin lolos ke 3 kompetisi Eropa berbeda, yakni UEFA Conference League, UEFA Europa League, dan UEFA Champions League. Sebuah kegilaan yang hingga detik ini baru bisa diwujudkan oleh Union Berlin dan Urs Fischer.

Atas dasar itulah, banyak pihak yang merasa kalau keputusan Union Berlin untuk pisah jalan dengan Urs Fischer adalah keputusan yang tidak adil dan tak tahu terima kasih. Sebab, jasa Urs Fischer selama hampir 5 tahun berada di Stadion An der Alten Försterei runtuh tak bersisa hanya dalam waktu kurang dari setengah musim.

Benarkah demikian?

Perpisahan Haru Union Berlin dan Urs Fischer

Jika ingin melihat roda kehidupan yang berputar amat cepat, maka karier Urs Fischer di Union Berlin musim ini adalah jawabannya. Setelah membawa Union finish di peringkat 4 dan lolos ke fase grup UCL, Urs Fischer mendapat penghargaan Manager Terbaik Jerman Tahun Ini pada bulan Agustus kemarin.

Namun, pada pertengahan November, nasib Union Berlin begitu menggenaskan. Mereka mendekam di dasar klasemen. Di 14 pertandingan terakhirnya, Union menelan 13 kekalahan dan gagal meraih satupun kemenangan.

Union juga sudah tersingkir dari DFB-Pokal dan menjadi juru kunci Grup C Liga Champions. Hasil itulah yang mengantar Urs Fischer ke pintu keluar.

Perpisahan Union Berlin dengan Urs Fischer mungkin tampak seperti sebuah pemecatan. Namun, pada kenyataannya, keputusan pisah jalan tersebut terjadi atas keputusan bersama yang diambil dengan berat hati.

Presiden Union Berlin, Dirk Zingler berkata, “Ini adalah momen yang sangat menyedihkan tidak hanya bagi saya pribadi, tetapi juga bagi seluruh keluarga besar Union. Betapapun menyakitkan perpisahan ini, Urs Fischer akan pergi sebagai seorang teman yang akan selalu kami sambut dengan tangan terbuka.”

Tentu saja, ini bukan perpisahan yang diinginkan oleh kedua belah pihak, termasuk oleh para fans. Namun, Urs Fischer juga sadar kalau ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan perubahan.

“Beberapa pekan terakhir telah menguras banyak tenaga. Kami telah mencoba banyak hal, dan tim telah mengerahkan banyak upaya, namun hal tersebut belum membuahkan hasil.”

“Namun demikian, rasanya tepat untuk melakukan perubahan sekarang. Terkadang, wajah yang berbeda, cara yang berbeda dalam menangani sebuah tim dapat membantu memicu perkembangan.”

Kini yang menjadi pertanyaan, apakah keputusan Union Berlin untuk berpisah dengan Urs Fischer sudah tepat, atau justru malah sudah terlambat?

Sudah Tepatkah Keputusan Union Berlin?

Pada pembahasan sebelumnya, kami sudah sedikit mengulas mengapa Union Berlin bisa terperosok ke dasar klasemen Bundesliga. Salah satunya karena melakukan tindakan di luar kebiasaan, yakni jor-joran dalam belanja pemain.

Union seperti mencoba untuk menyenangkan semua pihak dan berambisi mencapai sesuatu di semua kompetisi yang diikuti. Union yang mencapai prestasi terbaik mereka lewat deretan pemain kurang terkenal, mendatangkan banyak pemain anyar musim ini. Sayangnya, perubahan yang terlalu banyak, atau mungkin terlalu cepat justru jadi bumerang buat mereka.

Tak salah sebenarnya membeli banyak pemain anyar. Toh, rekrutan anyar Union Berlin juga berkelas. Namun masalahnya, langkah transfer yang dilakukan manajemen Union Berlin tampak kurang matang.

Union Berlin menggelar pemusatan latihan pertama pada 6 hingga 9 Juli, lalu pemusatan latihan kedua pada 24 Juli hingga 2 Agustus. Nah, 3 rekrutan terbesar mereka, yakni Robin Gosens, Kevin Volland, dan Leonardo Bonucci datang setelah pemusatan latihan tersebut berakhir.

Maka wajar apabila beberapa pemain anyar mereka tak bisa langsung memberi dampak instan dan tampak belum memiliki chemistry dengan rekan setim lainnya. Perubahan yang terlalu banyak dan chemistry yang kurang terbentuk di dalam skuad yang baru membuat segala upaya yang ditempuh Urs Fischer berakhir sebagai kegagalan.

Urs Fischer adalah tipikal pelatih yang enggan mengganti formula suksesnya. Formasi dasar 3-5-2, pertahanan kokoh sekuat besi, sedikit menguasai bola, dan serangan balik khas sepak bola Jerman adalah gaya mainnya.

Namun, ketika formulanya mulai gagal, Fischer akhirnya luluh dan mencoba skema baru, bahkan pernah mengistirahatkan banyak pemain anyarnya. Seperti di laga vs Stuttgart di DFB-Pokal di mana Union bermain dengan formasi 4-2-3-1 dan hanya memainkan satu pemain anyarnya dalam starting eleven. Akan tetapi, hasilnya Union tetap kalah.

Tak bisa dipungkiri kalau magis Urs Fischer di Union Berlin mulai sirna. Statistik menunjukkan kalau ini adalah awal musim terburuk Union Berlin di Bundesliga.

Hingga pekan ke-11, mereka baru meraih 6 poin. Dalam tiga musim terakhirnya, Union setidaknya bisa menghasilkan 17 poin di periode yang sama. Lebih daripada itu, sembilan kekalahan yang sudah mereka dapat musim ini, jumlahnya sudah lebih banyak dari delapan kekalahan yang mereka derita di sepanjang musim 2022/2023.

Kedigdayaan Union di kandang juga menghilang. Musim lalu, mereka menjadi satu-satunya tim yang tak terkalahkan di kandang. Namun kini, mereka telah kalah 3 kali dari 4 laga kandang. Statistik juga menunjukkan Union sebagai jadi tuan rumah terlemah di Bundesliga musim ini.

Masalah lain dari Union Berlin musim ini adalah lini depan mereka yang tumpul. Di bawah asuhan Urs Fischer, Union memang tidak banyak mencetak gol. Namun masalahnya, mereka telah gagal mencetak gol dalam 7 dari 11 pertandingan Bundesliga musim ini.

Dalam hal ini, para penyerang Die Eisernen juga perlu dikritisi. Sebab, dari 6 striker yang mereka miliki, baru Kevin Behrens yang berhasil mencetak gol di Bundesliga.

Start terburuk di Bundesliga dengan lini serang yang tumpul dan lini bertahan yang mulai mudah ditembus adalah bukti logis dari gagalnya Urs Fischer musim ini. Oleh karena itu, secara teknis, keputusan bersama yang diambil Union Berlin sudah tepat.

Akan tetapi, dari sisi non-teknis, keputusan Union Berlin untuk berpisah dengan Urs Fischer pada 15 November kemarin tampak sedikit terlambat.

Apakah Keputusan Union Berlin Sudah Terlambat?

Union memang sudah memilih jalan yang benar. Namun, ada yang salah ketika mereka baru membuat keputusan akhir ketika tim gagal menang dalam 14 pertandingan terakhirnya dengan 13 di antaranya berakhir dengan kekalahan.

Batu sandungan terbesar Union Berlin adalah romantisme. Baik manajemen maupun fans seperti sangat sulit untuk berpisah dengan pelatih kesayangan mereka. Jasa pelatih asal Swiss itu terlampau besar untuk tim sekelas Union Berlin.

Jika bukan Union, seruan pemecatan hingga kemarahan penonton di tribun sangat wajar terjadi ketika sebuah tim menelan terlalu banyak kekalahan. Namun, di Union Berlin, baik pelatih hingga pemain tetap diperlakukan bak pahlawan meski tiap pekan menelan kekalahan.

Tepat setelah Union Berlin menelan 9 kekalahan beruntun, presiden Dirk Zingler berkata begini, “Kami tidak berada dalam krisis ketika kami kalah dalam pertandingan. Kalah dalam pertandingan adalah bagian dari sepak bola, itu biasa terjadi. Kami berada dalam krisis ketika eksistensi Union terancam, karena tujuan kami adalah menyatukan orang-orang, memberi mereka rumah sosial.”

Sementara di tribun, para fans tak terlihat marah ketika tim mereka kalah dari Napoli yang menjadi kekalahan ke-9 mereka secara beruntun. Yang ada, mereka justru memberi dukungan positif.

Dukungan juga dilontarkan kapten tim, Christopher Trimmel. Pasca Union menelan 11 kekalahan beruntun, sang kapten berkata, “Urs Fischer harus tetap menjadi pelatih. Dia adalah orang yang tepat untuk itu.”

Afirmasi positif kepada Urs Fischer memang baik. Namun, ketika berlebihan jatuhnya “toxic positivity”, kondisi seseorang yang menuntut diri sendiri maupun orang lain agar terus berpikir positif, tetapi menolak emosi negatif. Kondisi itulah yang terjadi di Union Berlin.

Terlalu banyak kalah membuat kondisi ruang ganti memanas. David Datro Fofana pernah diskors seminggu gara-gara bertengkar dengan Urs Fischer. Brendan Aaronson pernah diberitakan tak senang dengan menit bermainnya. Begitu pula dengan Leonardo Bonucci yang pernah geram karena dipasang sebagai cadangan di laga vs Napoli pada 24 Oktober lalu.

Kritik adalah bagian dari profesionalisme. Sayangnya, Urs Fischer terlalu disayang sehingga bencana di luar lapangan tersebut gagal diantisipasi.

Kini, Union juga dihadapkan dengan rekor buruk. Mengutip dari The Analyst, sebelum Union Berlin setidaknya ada 10 tim yang setidaknya pernah menelan sembilan kekalahan beruntun dalam satu musim Bundesliga. Dan dari 10 tim tersebut, hanya Hannover 96 pada musim 2009/2010 yang berhasil selamat dari degradasi.

Oleh karena itu, Union Berlin tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menunggu perubahan dari Urs Fischer. Inilah kenyataan di sepak bola modern.

Union Berlin dan para pendukungnya sepertinya juga lupa akan aturan dasar sebuah klub sepak bola. Yaitu, tidak boleh ada figur yang lebih besar daripada klub itu sendiri.

Maka, di kondisi seperti ini, sikap legowo harus dimiliki oleh seluruh keluarga Union Berlin. Mereka harusnya bersyukur karena momen perpisahan mereka dengan Urs Fischer terjadi di jeda internasional yang panjang. Waktu tersebut bisa digunakan untuk menguatkan fondasi, membentuk chemistry yang lebih kuat, dan mengembalikan jiwa “Eisern Union”.

Untuk sementara ini, Union Berlin akan ditangani pelatih interim, Marco Grote dan asistennya, Marie-Louise Eta hingga batas waktu yang belum ditentukan. Kondisi Union Berlin memang tengah buruk dan dibayangi rekor mengerikan, namun seperti kata Urs Fischer, “Saya mendoakan yang terbaik untuk Union dan yakin bahwa mereka akan mampu bertahan di liga.”


Referensi: FC Union, The Analyst, One Football, Clutch Points, The Guardian, The Athletic.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru