Hidup adalah tentang dua perkara. Terus mencari zona nyaman atau keluar dari zona nyaman dan terus mengeksplor kemampuan diri. Dan Matheus Cunha tampaknya memilih opsi yang kedua. Sudah nyaman, menjadi pusat permainan, dan bahkan bisa jadi legenda di Wolverhampton, Cunha justru dengan gagah dan berani mempertaruhkan karirnya untuk bergabung dengan Manchester United.
Tak berlebihan menyebut demikian, karena Manchester United saat ini bak sebuah kapal yang berisikan sekumpulan badut. Mereka memang tahu bagaimana caranya untuk menghibur dan membuat fans-fans rival tertawa oleh tingkah laku mereka. Namun, mereka tak tahu caranya mengendarai kapal. Manchester United dibuat terombang-ambing di lautan.
Cukup aneh. Toh, Cunha bukan pemain yang sepi peminat. Yang mau pake jasanya pun bejibun. Tapi namanya juga hidup. Cunha harus memilih dari banyaknya opsi. Tapi, kok ya yang dipilih MU? Apa yang bikin Cunha mau meninggalkan seluruh kenyamanan di Molineux demi Old Trafford yang sebentar lagi mungkin akan dibakar oleh fansnya sendiri itu?
Daftar Isi
Cunha Diminati Banyak Klub
Matheus Cunha jadi salah satu talenta Brazil paling menarik perhatian di musim 2024/25. Bersama Wolverhampton, Cunha tampil seperti pemain yang memiliki atribut komplit. Sebagai pemain Brazil, ia tak hanya piawai mengolah bola, tetapi juga tajam dalam memanfaatkan peluang di momen-momen krusial.
Secara statistik, Cunha telah mengemas 15 gol dan enam assist di Premier League musim ini. Total, ia telah mengemas 33 gol dan 15 assist dari 95 pertandingan untuk Wolves di semua kompetisi. Melalui catatannya ini, Cunha sekali lagi membuktikan bahwa dirinya bukan hanya seorang finisher, tapi juga bisa mengemban peran sebagai kreator serangan.
Dari cara bermainnya, Cunha terlihat cepat, visioner, dan memiliki determinasi tinggi. Dia adalah definisi dari perpaduan sepakbola indah khas Amerika Selatan dan efektifitas khas Eropa. Di usianya yang baru menginjak 26 tahun, sinar Cunha pun berhasil membuat publik silau. Tak terkecuali para klub-klub top Eropa.
Sebelum akhirnya jatuh ke pelukan Manchester United, Cunha merupakan komoditas panas di bursa transfer. Tim-tim papan atas macam Arsenal, Newcastle United, Tottenham, hingga Manchester City, rela antri untuk mendapatkan tanda tangannya.
Jika kalian jadi Cunha, pasti dengan kesadaran penuh akan memilih Arsenal, atau Manchester City. Yang satu tim langganan UCL, yang satunya tim langganan juara. Tapi, kenyataannya Cunha punya lebih banyak alasan untuk tidak memilih klub-klub yang lebih menjanjikan itu.
Gaji Tinggi
Dari yang paling realistis tentunya perkara gaji. Benar, uang bukan segalanya. Namun, in this economy, uang adalah elemen yang fundamental dalam kehidupan seorang pesepakbola. Di Wolverhampton, Matheus Cunha menerima gaji yang terbilang kompetitif untuk ukuran klub papan tengah Premier League.
Ia mendapat sekitar 90 ribu pound per pekan. Bagi sebagian pemain, itu sudah cukup untuk hidup nyaman di Inggris, bahkan tergolong mapan. Tapi, bagi pemain yang sedang menapaki puncak karier seperti Cunha, gaji bukan sekadar soal uang, melainkan pengakuan dan pencapaian.
Dilansir Sportbible, Manchester United berani menggandakan gaji Cunha menjadi 180 ribu pound per pekan. Bahkan, Cunha bisa mendapat 200 ribu pound per pekan di musim selanjutnya. Ini sebuah lonjakan yang tak hanya mencerminkan kemampuan finansial klub, tetapi juga menunjukkan seberapa besar mereka menginginkannya.
Loh, katanya MU lagi ngirit? Memang, namun, sengirit-ngiritnya MU, finansial mereka termasuk stabil. Pemasukan klub per tahun sangat besar. Itu dari penjualan merchandise, tiket, dan hak siar. Maka dari itu, meski media terus menggoreng keadaan finansial yang sedang rapuh, MU tetap bisa memenuhi gaji pemain secara utuh.
Peran Sentral
Kenaikan gaji yang signifikan sebetulnya sudah cukup menjawab mengapa Matheus Cunha mau gabung Manchester United. Namun, gaji segitu mah klub lain juga bisa. Sepele bagi klub kayak Manchester City atau Arsenal. Lantas, apa yang istimewa dari tawaran United? Cunha kabarnya mempertimbangkan soal perannya sebagai pemain baru.
Cunha tidak datang ke Manchester United hanya sebagai pemain tambahan. Pemain asal Brazil itu datang sebagai bagian dari pondasi baru. Dalam proyek ambisius yang tengah dibangun ulang oleh Rúben Amorim, Cunha bukan sekadar opsi di lini depan, ia adalah pion utama yang akan ditarik ke tengah papan permainan Setan Merah.
Dikenal sebagai penyerang serba bisa yang mampu menghubungkan lini tengah dan lini depan secara dinamis. Dikenal karena mobilitas, visi permainan, dan kemampuan dribelnya, Cunha bisa ditempatkan sebagai pemain nomor 10 atau second striker untuk mendukung striker utama. Keunggulannya dalam transisi cepat dan tekanan tinggi juga sejalan dengan gaya pressing yang diinginkan Ruben Amorim.
Kita semua tahu, dua gelandang serang dalam skema permainan Ruben Amorim adalah pemegang peran vital di lapangan. Mereka adalah otak dan penuntun arah bola. Berduet dengan Bruno Fernandes di posisi tersebut, maka Cunha akan jadi pelengkap. Bruno akan berperan lebih kreatif dan Cunha akan menambah daya gedor.
Tantangan Baru
Loh, bukannya peran sentral juga telah diembannya bersama Wolves. Lantas, apa bedanya? Tentu saja sangat berbeda. Jika ditanya apa bedanya, maka bedanya adalah tantangan yang dihadapi. Di Wolves, Matheus Cunha minim tekanan. Dia sangat diagung-agungkan sebagai pemain terbaik yang dimiliki tim.
Namun, lain cerita jika Cunha sudah bermain di Old Trafford. Dirinya akan bersaing dengan pemain-pemain kaliber Amad Diallo, Mason Mount, dan Alejandro Garnacho. Secara tidak langsung, Cunha harus meningkatkan kualitasnya agar tak tersingkir dari line up. Tekanan bukan hanya datang dari rekan satu tim, dari luar lapangan pun tak kalah besar.
Kita semua tahu, siapa pun yang datang ke Manchester, pasti akan mendapat tuntutan tinggi dari manajemen dan fans. Apalagi, CV Matheus Cunha di Wolves sangat baik. Sudah pasti tak ada ruang untuk berproses bagi Cunha. Fans pasti akan meminta Cunha untuk jadi pemain yang mampu berkontribusi dua digit gol musim depan.
Selain dari fans, United juga merupakan klub yang disorot media-media internasional. Bahkan, apa pun yang terjadi di klub adalah sasaran empuk bagi media Inggris yang terkenal doyan nyinyir. Sekali tampil buruk di United, Cunha bisa saja jadi headline berita seminggu kedepan. Tapi, kalau mainnya bagus, sudah jelas namanya akan semakin harum di Eropa.
Nama Besar dan Eksposur Global
Di luar itu semua, mau bagaimana pun, Manchester United tetap punya pesona tersendiri bagi pemain sepakbola yang sedang membangun reputasi. Sebagai klub sepakbola yang sarat sejarah, United bukan sekadar tim. Mereka adalah simbol kejayaan, tradisi, dan ambisi di level tertinggi.
Bermain di Old Trafford, stadion yang dikenal sebagai “Theatre of Dreams”, memberikan pengalaman emosional dan prestisius yang tak bisa ditawarkan oleh banyak klub lain. Bagi pemain seperti Matheus Cunha, kesempatan mengenakan jersey merah legendaris dan menjadi bagian dari kebangkitan salah satu klub paling ikonik di dunia adalah tantangan sekaligus kehormatan besar.
Dalam dunia sepak bola, kejayaan masa lalu bukan sekadar kenangan. Melainkan adalah warisan yang terus memanggil mereka yang haus akan pencapaian besar. Apalagi nama besar Manchester United itu mendunia. Jika Cunha mampu mengikuti jejak pendahulunya, yakni Anderson dan Casemiro yang sukses bersama United, maka namanya akan semakin dikenal.
Jika namanya sudah terkenal, maka akan lebih banyak pintu rezeki yang terbuka. Misal, dengan bergabungnya Cunha ke MU, followersnya pasti akan melonjak pesat. Hal ini akan menarik perhatian sponsor dan brand tertentu untuk menjadikannya sebagai BA. Kalau sudah begini, saldonya kian menggunung.
Mau sebapuk apapun, menjengkelkan apapun, dan sekocak apapun ini klub, Manchester United ya tetap Manchester United yang kita kenal. Klub yang punya nama besar dan basis penggemar yang luar biasa fanatik. Jadi, kalau ditanya worth it atau enggak pindah dari Wolves ke MU? Bagi mereka yang berani, maka jawabannya 100% worth it.
____
Sumber: BBC, Sportbible, SkySport, SI


