3 Proyek Galacticos Real Madrid Ancur di Tangan 1 Pemain Barcelona! Ini Kisahnya

spot_img

Setelah musim 2024/25 yang berakhir tak sesuai rencana, Real Madrid tampaknya telah merindukan keagungannya. Kini, Florentino Perez beserta jajarannya bersiap meluncurkan babak baru dari proyek ambisius tim, Galacticos jilid tiga. Proyek ini akan berpusat pada striker andalan mereka, Kylian Mbappe.

Ibarat tata surya, Mbappe akan menjadi matahari. Ketika ia menjadi poros, maka manajemen Madrid akan menambahkan beberapa pemain bintang yang mengelilinginya musim depan. Dua pemain setidaknya sudah dikantongi kesepakatannya. Mereka adalah Trent Alexander-Arnold dan Dean Huijsen. Nama-nama besar lain kabarnya akan segera menyusul. 

Namun, Madrid tak boleh mengabaikan ancaman yang akan menghadang dalam wujud Barcelona. Karena menurut sejarahnya, Barca selalu punya ramuan anti klimaks untuk proyek Galacticos. Lucunya, Barca tak butuh banyak pemain mahal untuk itu. La Blaugrana hanya butuh satu pemain saja. Ya, satu pemain untuk menghancurkan proyek ratusan juta euro milik El Real.

Win Streak Barca

Dalam beberapa dekade terakhir, Barcelona memang selalu bisa menyulitkan Real Madrid di kompetisi domestik. Musim ini barangkali bisa jadi contoh kecil, bagaimana Madrid begitu kewalahan meladeni trengginasnya La Blaugrana. Madrid yang baru saja mengukuhkan dinastinya di Eropa, namun justru berkali-kali takluk dari sang rival abadi.

Dalam setiap El Clásico yang tersaji, meski Madrid tampil dengan barisan bintang dan sorotan megah, justru Barcelona yang berhasil mencuri perhatian. Skuad asuhan Hansi Flick menunjukkan keberanian, kreativitas, dan konsistensinya di medan pertempuran. Di tangan pelatih asal Jerman itu, Barca bermain dengan ritme cepat namun tetap terstruktur.

Sementara Madrid, meski bertabur talenta, tampak seperti raksasa yang sesekali kehilangan arah. Bagi publik Bernabéu, kekalahan demi kekalahan ini terasa bukan hanya sebagai hasil pertandingan, tetapi sebagai luka kecil yang terus ditaburi garam oleh para cules. Kecil sih, tapi perihnya itu lho. Mana tahan.

Madrid Bangun Galacticos 1

Real Madrid yang selalu haus akan afeksi dan prestasi terus berusaha menjadi yang terbaik dari yang paling baik. Salah satu cara yang paling sukses pun diberi nama “Proyek Galacticos”. Proyek ini adalah filosofi ambisius yang dijalankan oleh klub untuk membentuk tim bertabur bintang dunia. 

Dimulai pada era kepemimpinan Florentino Pérez di awal 2000-an, konsep ini melibatkan pembelian pemain-pemain ikonik di dunia. Seperti Iker Casillas, Zinedine Zidane, Ronaldo Nazário, David Beckham, hingga Luis Figo. Yang bukan hanya dikenal karena kualitas teknis mereka, tetapi juga daya tarik pasar dan pengaruh budaya mereka. 

Nama-nama tersebut pun tak selamanya didapat dengan harga murah. Zidane misalnya. Ketika klub-klub lain hanya mampu mengeluarkan uang tak lebih dari 30-40 juta euro pada bursa transfer, Madrid dengan tanpa dosa mendobrak batas. Gelandang asal prancis itu ditebus dengan mahar 77 juta euro dari Juventus pada tahun 2001. Angka tersebut menjadikan Zidane sebagai pesepakbola termahal di dunia kala itu. 

Ketika pemain-pemain bintang itu bergabung jadi satu, Madrid mulai mengukuhkan diri sebagai tim terkuat di Eropa. Liga Champions musim 2001/02 langsung dibawa pulang. Setahun setelahnya, giliran gelar La Liga musim 2002/03 yang berhasil dimenangkan. Trofi jadi suatu hal lumrah bagi skuad Galacticos kala itu.

Dominasi Madrid Patah

Di saat Real Madrid mulai menikmati kejayaan dan sorotan dari berbagai belahan dunia, Barcelona yang tadinya tak pernah diunggulkan dalam perebutan gelar juara La Liga tiba-tiba muncul. Skuad mereka berisikan pemain-pemain hebat juga. Tapi tak segemerlap milik Real Madrid. 

Meski di atas kertas materi pemain Barcelona kalah terang, ada satu nama yang mencuri perhatian. Dia adalah Ronaldinho yang baru saja didatangkan dari PSG tahun 2003. Ronaldinho seketika jadi tonggak utama di balik kebangkitan Blaugrana. Ia tidak hanya mencetak gol dan memberi assist, tetapi juga membangkitkan gairah yang sempat redup di Camp Nou. 

Lebih dari itu, Ronaldinho menghadirkan sesuatu yang tidak dimiliki oleh Galacticos garapan Florentino Perez. Ya, sepakbola indah, sepakbola yang jujur, dan bermain tanpa beban pencitraan. Setelah kedatangan Dinho, Barcelona berubah dari bayang-bayang menjadi pemimpin. Menggusur dominasi Madrid dengan cara yang elegan dan memikat hati.

Selama kurang lebih lima tahun di Spanyol, Ronaldinho berhasil mengantarkan Barcelona meraih dua gelar Liga Spanyol dan satu gelar Liga Champions pada musim 2005/06. Dirinya bahkan menyabet beberapa gelar individu seperti dua kali pemain terbaik versi FIFA tahun 2004 dan 2005 dan satu gelar Ballon d’Or pada tahun 2005. Sedangkan Madrid, hanya bisa menonton. Mereka baru bisa juara La Liga lagi pada musim 2006/07.

Madrid Bangun Galácticos 2 

Melihat Barcelona yang mulai mengganggu stabilitas Real Madrid, Florentino Perez kembali mengaktifkan proyek Galacticos jilid dua. Proyek ini dimulai pada akhir dekade 2000-an. Berbeda dari jilid pertama yang lebih menekankan citra dan komersialitas, Galácticos generasi kedua dirancang dengan struktur yang lebih seimbang antara pesona bintang dan kebutuhan taktis tim.

Los Galacticos kedua muncul setelah 2009 ditandai dengan berkumpulnya Karim Benzema, Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, James Rodriguez, Luka Modric, hingga Angel di Maria. Sistemnya pun sama. Madrid tak segan menggelontorkan dana banyak untuk mengamankan tanda tangan sang pemain. Madrid bahkan dua kali memecahkan rekor pemain termahal di dunia saat mendatangkan Ronaldo dari MU dan Bale dari Spurs.

Selain nama-nama itu, Madrid juga mendatangkan pemain-pemain tampan nan berbakat lain, seperti Ricardo Kaka dari AC Milan dan Xabi Alonso dari Liverpool. Tidak hanya mengincar daya tarik global, proyek ini juga membentuk tulang punggung tim yang tangguh, dengan pelatih seperti José Mourinho.

Lionel Messi Mimpi Buruk Madrid

Dengan menggelontorkan ratusan juta euro dan Ronaldinho yang sudah pergi dari Barcelona, Real Madrid berharap dapat mengembalikan identitas tim sebagai pemimpin di La Liga. Sialnya, ternyata Ronaldinho pergi bukan tanpa pengganti. Kala itu, sang pelatih, Pep Guardiola telah mematangkan talenta muda berbakat warisan Frank Rijkaard, Lionel Messi.

Kemunculan sosok mungil dari Rosario itu justru menjadi mimpi buruk bagi ambisi megah Los Blancos. Tanpa harga transfer fantastis, Messi hadir dari La Masia secara diam-diam. Diam namun mematikan. Di lapangan, ia menjadi teror yang tak bisa dijinakkan, berkali-kali merobek pertahanan Madrid dengan kecepatan, visi, dan insting mematikan. 

Setiap kali Madrid menambah pemain baru dan merasa telah menemukan formula sempurna, Messi datang sebagai pengingat bahwa prestasi tak bisa dibeli. Namun, segagal apa proyek galacticos jilid dua kala itu? Kita ambil contoh saja dari sudut pandang Cristiano Ronaldo, rival Messi kala itu.

Eks Manchester United itu membela Real Madrid selama sembilan tahun lamanya. Namun, dalam waktu yang tak sebentar itu, Madrid hanya bisa menjuarai La Liga sebanyak dua kali. Sedangkan di rentang waktu yang sama, Barcelona dan Messi berhasil juara La Liga sebanyak enam kali. Sisanya, dimenangkan oleh Atletico Madrid.

Galacticos 3 vs Lamine Yamal?

Dua kali gagal mendominasi kompetisi domestik, Real Madrid tak mau menyerah dengan proyek Galacticos. Kabarnya, Florentino Perez akan kembali membangun Galacticos jilid tiga musim panas ini. Mereka ingin menyempurnakan skuad yang sudah diisi oleh Jude Bellingham, Vinicius, Rudiger, Thibaut Courtois, dan Kylian Mbappe.

Florentino Perez tampaknya sadar bahwa Barcelona sudah mempunyai prodigy lagi yang bisa mengganggu upaya Madrid. Dia adalah Lamine Yamal. Kehebatannya sudah teruji di musim 2024/25. Remaja ajaib lulusan La Masia ini tampil dengan keberanian, ketenangan, dan skillset yang tak lazim untuk usianya yang baru 17 tahun. 

Dalam setiap pertemuan melawan Madrid, Yamal tampil seperti sosok yang memang terlahir untuk menghancurkan El Real. Pemuda berpaspor Spanyol itu justru menciptakan kekacauan dalam sistem pertahanan Madrid musim ini. 

Di musim yang seharusnya menjadi milik proyek megah Madrid, justru bocah ajaib dari Barcelona inilah yang mencuri sorotan. Lihat saja, Yamal selalu terlibat dalam pembantaian yang dilakukan Barca pada Madrid musim ini. Sang pemain bahkan sudah tiga kali menjebol gawang Los Blancos. Patut dinantikan. Apakah Yamal bisa jadi ramuan peredam kekuatan Galacticos jilid 3 musim depan atau tidak?

____

Sumber: Goal, BTL, Madrid Universal, Tempo

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru