Para juara dunia seperti Lionel Messi, Andres Iniesta, Xavi Hernandez, serta sebagian besar anggota tim inti Barcelona lainnya, lahir dari rahim La Masia. Nama-nama besar yang menimba ilmu di sana memang mengagumkan. Namun tak semuanya meraih sukses di klub induk, Barcelona.
Sebagian dari mereka bahkan dilepas ke klub lain tanpa diberi kesempatan bermain di skuad utama La Blaugrana. Bahkan terkadang mereka yang dilepas justru berkembang pesat sehingga Barca menyesal dan kepincut untuk mendatangkan mereka kembali. Siapa saja mereka?
Daftar Isi
Gerard Pique
Gerard Pique adalah satu di antara produk terbaik yang dihasilkan La Masia. Pique sendiri sudah bergabung dengan Barcelona sejak tahun 1997. Namun, ia justru dilepas ke raksasa Inggris, Manchester United pada tahun 2004 silam. Kala itu United menebusnya dengan mahar 5 juta euro atau setara Rp81 miliar.
Datang sebagai pemain muda, Pique belum mampu menjadi pilihan utama di bawah asuhan Sir Alex Ferguson. Bek Spanyol tersebut kalah bersaing dengan nama-nama besar macam Nemanja Vidic dan Rio Ferdinand. Meski demikian, Pique sesekali mendapatkan menit bermain. Ia juga menjadi bagian dari skuad United yang menjuarai Liga Champions musim 2007/08.
Namun, karena dirasa tak memenuhi ekspektasi, United mengizinkan Pique hengkang di akhir musim 2007/08. Lucunya, klub yang menebus Pique dari United adalah Barcelona. Klub asal Catalan itu membayarkan uang sebesar 5 juta euro, persis dengan jumlah yang dibayarkan United tahun 2004.
Keputusan Barcelona nyatanya membuahkan hasil positif. Pique menjadi bagian penting Barcelona merebut delapan gelar La Liga dan tiga Liga Champions sejak kembali bergabung dengan klub masa kecilnya.
Luis Garcia
Kedua ada Luis Garcia. Pemain kelahiran Spanyol itu merupakan pemain lainnya yang menimba ilmu di akademi La Masia. Namun, Garcia bukan jadi salah satu yang sukses menembus skuad utama Barcelona. Ia justru dipinjamkan ke klub lain sebanyak empat kali sampai Barcelona memutuskan untuk melepasnya ke Atletico Madrid pada tahun 2002.
Setelah satu musim yang mengesankan bersama Atletico, Barcelona terkejut dengan performanya dan memutuskan untuk memulangkannya. Mengingat Barcelona masih mencantumkan klausul buy back saat melepasnya ke Atletico.
Namun, dengan seenaknya Barca kembali membuang Garcia. Sang pemain hanya bertahan semusim dan mencatatkan 38 pertandingan dengan mencetak delapan gol bersama Blaugrana. Garcia akhirnya dilepas ke Liverpool pada musim 2004/05. Bersama Liverpool, ia mencatatkan 121 pertandingan dengan mencetak 30 gol dan 16 assist serta membantu The Reds menjuarai Liga Champions.
Jordi Alba
Nama selanjutnya ada Jordi Alba. Pemain yang berposisi sebagai bek kiri ini sudah berseragam Barcelona sejak tahun 1997. Namun, alih-alih tembus skuad utama, Alba justru dilepas ke Cornella karena dianggap memiliki postur yang kurang ideal. Alba dicap terlalu pendek oleh manajemen Barcelona.
Karir Jordi Alba diselamatkan oleh klub Spanyol lain, yakni Valencia. Alba pun berkembang pesat saat bermain bersama klub yang identik dengan kelelawar tersebut. Melihat sang pemain memiliki kemampuan bertahan dan menyerang sama baiknya, Barcelona merasa bersalah telah membuangnya.
Akhirnya El Barca merekrut kembali pemain internasional Spanyol itu pada 2012. Namun kali ini tinggi badannya tidak lagi menjadi masalah bagi klub. Bersama Barca, Alba menjadi salah satu pemain paling penting hingga saat ini. Alba bahkan mengemas belasan trofi bergengsi termasuk lima gelar La Liga.
Cesc Fabregas
Selanjutnya ada legenda Arsenal, Cesc Fabregas. Gelandang berpaspor Spanyol ini sudah bergabung dengan akademi Barcelona sejak 1997, satu angkatan dengan Alba. Namun, ia meninggalkan La Masia dan pindah ke Arsenal pada tahun 2003. Fabregas kemudian menjadi satu di antara gelandang terbaik Premier League di bawah asuhan Arsene Wenger.
Setelah membangun reputasi baik di Inggris, Barcelona kembali mendatangkan Fabregas dengan mahar 34 juta euro atau setara Rp554 miliar pada tahun 2011. Sang pemain pun setuju kembali ke Spanyol dengan harapan bisa memenangkan lebih banyak gelar juara. Dan itu keputusan yang tepat, ia meraih La Liga, Copa del Rey dan Piala Dunia antarklub selama tiga tahun di klub Catalan.
Hector Bellerin
Hector Bellerin sebetulnya sudah menimba ilmu di akademi Barcelona sejak tahun 2003. Namun, ia dilepas ke Arsenal pada tahun 2011. Saat dilepas ke Inggris, Bellerin bahkan belum pernah mendapatkan kesempatan untuk tampil di skuad utama La Blaugrana.
Di Inggris, Bellerin berkembang menjadi bek kanan andalan Arsenal. Kecepatan dan naluri menyerangnya sangat membantu skuad asuhan Arsene Wenger bersaing di liga. Namun, setelah kedatangan Mikel Arteta, ia pun tersisih. Sang juru taktik bahkan meminjamkannya ke Real Betis musim 2021/22, sebelum akhirnya kembali ke Barca awal musim 2022/23.
Bellerin datang dengan kesepakatan free transfer. Namun kembalinya ke Spanyol tak lantas jadi pilihan yang tepat baginya. Barca tetap tak mengapresiasi kemampuannya. Bellerin tak menjadi pilihan utama di skuad Xavi Hernandez. Ia bahkan baru mencatatkan tiga penampilan di Liga Spanyol.
Eric Garcia
Di tahun yang sama dengan kedatangan Bellerin, Barcelona juga memulangkan salah satu anak emasnya yakni Eric Garcia dari Manchester City. Eric Garcia sendiri sudah bergabung dengan akademi Barcelona sejak tahun 2008 silam. Namun, ia pindah ke akademi Manchester City pada musim panas 2017.
Garcia hengkang dari Barca karena klub tak bisa memberikan kepastian untuk bisa tampil di skuad utama. Pasalnya, saat itu Barca justru lebih gemar membeli pemain mahal daripada mempertahankan tradisi mereka menggunakan pemain hasil didikan sendiri.
Namun, di awal musim 2022/23, dengan segala keterbatasan finansial, Barcelona kembali mengubah strategi transfernya. Situasi Eric yang memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya dengan City dimanfaatkan oleh Barca. Mereka mendapatkan Eric dengan status bebas transfer. Dan kini, Eric tampil solid di lini bertahan El Barca sebagai pengganti Gerard Pique.
Adama Traore
Terakhir ada Adama Traore. Pemain bertubuh kekar ini sudah menimba ilmu di akademi Barcelona sejak 2004. Berbeda dengan pemain lain, Adama sempat membuat satu penampilan bersama tim senior Barcelona di ajang Liga Champions 2013. Namun, itu belum cukup untuk membuat manajemen klub percaya pada kemampuannya. Alhasil ia pun merantau ke Aston Villa dua tahun kemudian.
Di Inggris, Adama menjelma pemain sayap yang memiliki kecepatan dan naluri mencetak gol yang sangat tinggi. Berkat skill olah bolanya, ia akhirnya bergabung dengan Wolves tahun 2018. Bersama Wolves, penampilannya kian matang. Membangun koneksi yang apik dengan Raul Jimenez membuat Adama jadi salah satu sayap paling berbahaya di Liga Inggris.
Melihat kemampuan mantan anak didiknya semakin oke, Barca yang sedang kesulitan dana tapi butuh suntikan amunisi baru akhirnya mengontak Wolves untuk meminjam sang pemain. Pada pertengahan musim 2021/22, Adama pun setuju untuk merangkai kisah singkat selama enam bulan di Catalan.
Sumber: Planetfootball, 90min, ESPN, BBC, SI


