Tragedi Lisbon Yang Membuat Barca Terlihat Cupu Di Hadapan Bayern

spot_img

Martabat Barcelona sebagai salah satu klub tersukses di Eropa dihancurkan FC Bayern lewat skor telak 8-2, pada laga perempat final Liga Champions di Estadio Da Luz. La Blaugrana terlihat kedodoran sejak awal laga. Sementara itu, The Bavarian begitu mudah menggelontor gawang Ter Stegen masing-masing empat gol di setiap babak. Di sisi lain, Barcelona hanya sanggup dua kali membalas berkat kreasi Jordi Alba.

Hasil ini sendiri merupakan kekalahan terbesar Barcelona di pentas Eropa, dan mungkin menjadi puncak masalah internal klub Catalan tersebut sepanjang musim ini.

Lebih dari itu, kekalahan tersebut memberi pukulan telak bagi seluruh komponen yang ada di kubu FC Barcelona, tak terkecuali Gerard Pique. Bahkan, Pique siap pergi dari Camp Nou jika memang harus menjadi bagian dari perubahan besar yang dibutuhkan klub.

Pique sendiri memang mengakui Barcelona membutuhkan perubahan besar untuk menghindari kekalahan memalukan seperti saat dihajar Bayern. Dia enggan basa-basi selepas peluit akhir laga yang memalukan bagi timnya tersebut, dan ia mendesak agar Barcelona segera membuat keputusan menyangkut perubahan klub.

“Memalukan. kalian tidak bisa bermain seperti itu, kalian tidak bisa bermain di Eropa seperti itu,”

“Ini bukan yang pertama, atau yang kedua, atau yang ketiga kalinya. Sangat sulit untuk diterima, kita semua harus merenung.”

“Klub membutuhkan perubahan dan aku tidak ingin berbicara tentang pelatih, pemain. Aku tidak ingin menyalahkan siapapun. Secara struktural kami membutuhkan perubahan besar-besaran, karena ini bukan yang pertama, kedua atau ketiga.” ujar Pique (via goal).

Kekecewaan nya memang sangat beralasan. Pasalnya usai kekalahan ini, Barcelona gagal meraih satu pun gelar juara sepanjang 2019/20, yang terakhir mereka catatkan sebelum era kedatangan Pep Guardiola pada 2008.

Pada dasarnya, ini bukanlah kekalahan besar pertama Barca yang didapat dari Bayern. Barcelona pernah mengalami pembantaian serupa pada ajang Liga Champions musim 2012/13.

Saat itu Barcelona bertemu dengan Bayern Munchen di babak semifinal Liga Champions yang digelar dengan dua leg. Pada kesempatan pertama, Bayern berhasil mengalahkan Barcelona dengan skor yang cukup telak 4-0. Pada pertandingan itu, empat gol Bayern dicetak oleh Thomas Muller yang memborong dua gol, serta masing-masing satu gol dari Mario Gomez dan Arjen Robben.

Di luar dugaan, Barcelona kembali dibantai oleh Bayern Munchen di kandangnya dengan skor telak 0-3. Pada pertandingan ini lagi-lagi Thomas Muller dan Arjen Robben menjadi mimpi buruk bagi Barcelona. Ketiga gol yang dicetak Munchen berasal dari Muller, gol bunuh diri Gerard Pique dan Robben.

Pada akhirnya Barcelona harus mengakui keunggulan Bayern Munchen dengan agregat 0-7.

Selanjutnya di musim itu, Bayern Munchen berhasil keluar sebagai juara setelah menang 1-2 atas Borussia Dortmund di partai final.

Apa yang telah diterima Barcelona di Lisbon akhirnya memunculkan sejumlah fakta. Pertama, hasil ini tentu mengantar Bayern lolos ke semifinal Liga Champions dengan mantap. Sementara bagi Barcelona, kekalahan ini jadi rekor memalukan. Terakhir kali mereka kalah dengan kebobolan delapan gol adalah saat takluk 0-8 dari Sevilla di babak 16 besar Copa del Rey pada 1946 atau 74 tahun yang lalu.

Kemudian, FC Bayern berhasil mencapai fase semifinal Liga Champions ke 12. Mereka hanya kalah dari Real Madrid yang berhasil mencapainya sebanyak 13 kali. Setelah itu, striker Bayern, Robert Lewandowski, juga menjadi pemain pertama yang mencetak gol dalam delapan pertandingan beruntun atau lebih di Liga Champions setelah Cristiano Ronaldo pada April 2018 yang mencetak di 11 pertandingan.

Yang tak kalah menghebohkan, ini adalah kali pertama Barcelona kebobolan enam gol atau lebih dalam pertandingan di kompetisi Eropa, dan pertama kali pula mereka kebobolan empat gol di babak pertama pertandingan Liga Champions. Untuk semua kehebatan yang diciptakan Bayern ketika berhadapan dengan Barcelona, Thomas Muller sudah mencetak enam gol dalam lima kali penampilan melawan Barcelona di Liga Champions, paling banyak di antara pemain lainnya.

Lantas, apa yang menyebabkan Barcelona bisa begitu terpuruk di Lisbon?

Barcelona dianggap tidak memiliki plan B. Barcelona merupakan tim yang terus memainkan gaya main operan cepat dan penguasaan bola. Namun seiring berjalannya waktu, sudah banyak tim pula yang punya formula untuk menghentikan strategi itu.

Pada pertandingan tersebut, Barca sejatinya sudah terlihat kewalahan menghadapi serangan Bayern. Namun mereka tidak mengubah strategi dengan tetap mempertahankan apa yang sudah diterapkan dari awal.

Selain itu, Bayern yang memang bermain super ofensif menjadi penyebab lainnya mengapa pertahanan Barca tak kuasa menahan serangan. Tekanan super tinggi yang diterapkan Bayern sukses membuat Barca kalang kabut hingga mereka mampu menciptakan gelontoran banyak gol.

Faktor lainnya yang tak kalah mencuri perhatian adalah, para veteran Barca yang justru semakin melemah, harus berhadapan dengan para veteran Bayern yang terlihat lebih gahar.

Pada usia rata-rata 29 tahun dan 329 hari, Barcelona menurunkan starting eleven tertua mereka untuk pertandingan Liga Champions. Sementara di kubu lawan, Robert Lewandowski yang berusia 31 tahun menjadi berita utama menyusul eksploitasi mencetak golnya musim ini. Jangan lupakan pula Thomas Muller yang sudah berusia 30 tahun namun telah berhasil direvitalisasi oleh Hansi Flick.

Dua pemain yang sangat berpengalaman itu mampu menghancurkan kombinasi Gerard Pique, Sergio Busquets, hingga Arturo Vidal.

Setelah seluruh faktor tersebut layak disebut sebagai faktor yang membuat Barca hancur, dalam hal ini, peran Lionel Messi sudah tidak bisa diharapkan lagi. Di usianya yang sudah semakin tua, Messi sudah tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Dia terlihat lelah dan tak mampu menjadi tumpuan el Barca secara terus-menerus. Waktunya sudah habis. Pun dengan Barca yang sudah harus mencari pengganti.

Apalagi, di sisi lain, rekrutan mahal mereka, Antoine Griezmann belum bisa memberikan dampak apapun. Bintang Piala Dunia 2018 asal Prancis itu terus berada dalam selimut paling menyedihkan di Catalan. Dia kehilangan kepercayaan diri dan masih kesulitan untuk kembali temukan performa paling berseri.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru