Tipe-tipe Netizen Ketika Indonesia Lolos ke Final Piala AFF

spot_img

Menakjubkan. Mungkin itulah kata yang pantas kita lontarkan untuk seorang Hassan Sunny, kiper Timnas Singapura. Jika saja dia tidak ikutan dikartu merah, Hassan Sunny boleh jadi bakal menjadi man of the match di pertandingan leg kedua, Indonesia vs Singapura di semifinal Piala AFF 2020.

Namun kegemilangan yang sampai dikartu merah itu tak mampu membendung serangan Timnas Indonesia yang datang bak ombak Pantai Selatan. Ya walaupun sesungguhnya Timnas Singapura sudah pincang karena ketiga pemainnya dikartu merah. Alhasil Timnas Indonesia memungkasi laga dengan skor akhir 4-2, meski dengan bersusah payah.

Dengan hasil itu Indonesia memesan satu tiket di partai final Piala AFF 2020, dan sudah dipastikan akan menghadapi Thailand. Lolosnya Indonesia ke final Piala AFF, tentu saja membuat seluruh rakyatnya sumringah setengah mati. Maklumi saja, karena Piala AFF adalah satu-satunya gelar yang barangkali bisa diraih Timnas Garuda.

Terlebih di edisi sebelumnya, Indonesia menjadi tim medioker. Jangankan lolos ke final, masuk ke fase gugur saja tidak. Maka, lolosnya Indonesia ke final Piala AFF menjadi bahan perbincangan hangat di jagat media sosial. Beragam reaksi pun bergelimang di media sosial.

Di Twitter, Instagram, Facebook, dan tentu saja YouTube Starting Eleven netizen mulai menunjukkan kehebatannya dalam berpendapat. Dari banyaknya netizen yang berkomentar soal lolosnya Indonesia ke final Piala AFF, kami mencoba merangkum tipe-tipe netizen, khususnya +62 ketika Indonesia lolos ke final Piala AFF.

Senang

Lolosnya Indonesia ke final Piala AFF jelas membawa rasa bahagia tak terperi bagi seluruh rakyat media sosial. Banyak yang senang dengan prestasi anak asuh Shin Tae-yong, dan Shin Tae-yong itu sendiri. Apalagi ini adalah momen yang dinanti-nantikan oleh masyarakat.

Kesenangan ini didorong juga lantaran Timnas Indonesia awalnya tidak dijagokan masuk ke final. Asuhan Shin Tae-yong berada di Grup B, yang terbilang neraka. Di situ ada Vietnam, Malaysia, Kamboja, Laos, dan tentu saja Indonesia.

Singkatnya, di atas kertas hanya Kamboja dan Laos yang pantas dikalahkan Indonesia. Sementara dua sisanya, Vietnam dan Malaysia adalah musuh yang kerap merepotkan skuad Merah Putih.

Vietnam adalah juara bertahan. Pasukan Nguyen juga punya determinasi bagus selama mengikuti Piala AFF. Belum lagi, mereka punya rekor tak terkalahkan dari negara-negara di Asia Tenggara. Yhaaa walaupun rekor tersebut pupus oleh Thailand.

Lalu, Malaysia. Siapa sih yang nggak tahu Malaysia? Musuh bebuyutan Timnas Indonesia yang selalu merepotkan. Pemain Timnas Indonesia punya sisi sentimentil dan traumatis sendiri ketika menghadapi Harimau Malaya.

Orang lebih menjagokan Vietnam dan Malaysia lolos ke partai semifinal. Mengingat keduanya berstatus finalis di edisi 2018. Namun Indonesia menjawab keraguan itu.

Timnas Garuda memukul mundur Malaysia lewat skor telak 4-1, setelah sebelumnya membuat Park Hang-seo frustasi karena gagal memenangkan pertandingan melawan Indonesia. Timnas Garuda pun melaju mulus ke semifinal dan untungnya menjadi juara grup dan menghadapi Singapura, bukan Thailand terlebih dahulu.

Yakin Bisa Juara

Tipe netizen berikutnya adalah yang begitu yakin Timnas Indonesia bisa juara. Mereka sangat yakin kalau trofi Piala AFF 2020 akan dibawa ke Indonesia. Keyakinan itu membara boleh jadi karena melihat permainan Timnas Indonesia, di bawah asuhan Shin Tae-yong begitu mengesankan.

Ada banyak perubahan yang ditunjukkan Timnas Indonesia ke arah lebih baik. Shin Tae-yong secara mengejutkan juga mampu mengubah role play Timnas Indonesia jadi lebih menarik. Barangkali, ini adalah permainan timnas terbaik sejak satu dekade belakangan. Meskipun untuk komposisi pemain memang nggak meyakinkan.

Dari situ ditambah kemenangan mantap atas Malaysia, banyak yang percaya Indonesia kali ini bisa juara Piala AFF. Kepercayaan diri semacam ini boleh-boleh saja, toh juara AFF bukanlah sebuah kemustahilan. Namun untuk itu, Timnas Indonesia harus mendekati laga dengan baik.

Yang perlu diingat, meski belum terkalahkan, Timnas Indonesia selalu kebobolan ketika meraih kemenangan. Walau begitu, netizen silakan saja pede Indonesia juara. Indonesia memang punya kesempatan itu, begitu pula Thailand.

Pesimis

Ketika ada netizen yang sungguh senangnya Indonesia masuk final Piala AFF, pun ada yang optimis Indonesia juara, tentu kurang afdol kalau tidak ada kebalikannya. Bahwa netizen-netizen yang menebar pesimistis itu juga tak kalah banyak.

Hal itu bukan sesuatu yang di luar nalar, atau sama sekali hilang rasa nasionalismenya. Malah netizen yang menaruh rasa pesimistis ketika Timnas Indonesia lolos final Piala AFF bisa jadi sangat nasionalis.

Betapa tidak? Netizen semacam itu pastilah sudah bolak-balik membaca sejarah Timnas Indonesia di Piala AFF. Atau jika tidak, minimal sering membuka Wikipedia. Mereka mungkin mafhum kalau Indonesia adalah spesialis juara dua Piala AFF.

Tahun ini saja sudah final keenam Indonesia di Piala AFF. Dari lima final sebelumnya, rakyat Indonesia hanya mampu menangis tersedu-sedu karena Timnas sekadar bermain di final. Namun, entah bagaimana Piala AFF itu seperti jijik disentuh pemain Timnas Indonesia.

Tahun 2000 dikalahkan Thailand, begitu pula di edisi setelahnya. Changsuek kembali mengalahkan Indonesia dengan adu penalti. Lalu di tahun 2004, Ilham Jaya Kesuma cs ditaklukan Singapura. Tahun 2010, ketika momentumnya tepat, Indonesia gagal lagi setelah kalah dari Malaysia. Padahal di fase grup Indonesia mampu menghajar Malaysia 5-1.

Momentum kesialan Timnas Garuda terulang kembali di AFF 2016. Indonesia kalah lagi dari Thailand. Jadi sah kalau ada yang menatap final Piala AFF 2020 dengan penuh rasa pesimis. Apalagi Indonesia kembali bersua Thailand, tim yang sudah tiga kali menyayat luka pencinta Timnas Indonesia.

Pandai Menganalisis

Selain netizen yang optimis dan pesimis menatap final Piala AFF, tentu kita tidak boleh melupakan netizen yang mengomentari kelolosan Indonesia dengan analisis. Netizen macam ini bisa dikatakan pundit bola banget. Ia tidak sekadar optimis atau pesimis, tapi juga beranalisis seolah-olah sedang bikin tesis.

Netizen seperti itu jelas orangnya pasti cerdas bukan main. Ya minimal lebih cerdas dari wasit Liga Indonesia lah. Jadi, netizen semacam ini, ketika Timnas Indonesia lolos ke final Piala AFF, ia akan menyertai komentarnya dengan analisis.

Misalnya, analisis mengenai jalannya pertandingan Indonesia melawan Singapura. Biasanya akan membahas soal taktik yang dilakukan Shin Tae-yong. Selain itu, membahas bagaimana Indonesia melakukan penyerangan dan ketika harus transisi ke bertahan.

Ada juga yang menganalisis sepanjang jalannya Piala AFF. Pokoknya semua dianalisis, sampai kemungkinan terjadinya match fixing juga ikutan dianalisis. Hebat bener netizen yang satu ini. Karena itulah, tipe netizen yang doyan menganalisis ini sangat dibutuhkan. Setidaknya agar media sosial tetap gaduh.

Bodo Amat

Tipe netizen yang satu ini bisa dibilang paling wangun dari yang lainnya. Ketika Timnas Indonesia lolos ke final Piala AFF netizen yang lain senang, pesimis, dan sampai menganalisis segala, ada netizen yang bodo amat. Biasanya dengan dalih “Sudah nggak pernah nonton sepak bola Indonesia lagi”. Karena sudah tahu iklim persepakbolaan Indonesia.

Akan tetapi, netizen semacam ini juga nggak bisa sembarangan disebut tidak cinta tanah air. Toh mendukung Timnas Indonesia bukanlah kewajiban laiknya sholat Maghrib atau misa di Hari Minggu. Meskipun pada momentum seperti Piala AFF, sebagai WNI tidak mendukung Timnas Indonesia adalah hal yang aneh.

Bagi yang sepenuh hati mendukung Timnas Indonesia di Piala AFF tak perlu merasa paling nasionalis. Kalau ada yang bodo amat sama nasib Timnas Indonesia di Piala AFF, ya biarin saja. Jika netizen atau orang yang bodo amat sama Timnas Indonesia saja dituduh tidak nasionalis, tidak cinta negeri, sampai penghianat, lalu bagaimana dengan PSSI?

Sumber referensi: bola.com, kompas.com

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru