Tinta Emas Sepakbola Indonesia di Olimpiade 1956

spot_img

Indonesia turut berpartisipasi dalam gelaran Olimpiade Tokyo 2020, dimana ini menjadi partisipasi ke 16 sepanjang sejarah, setelah pertama kali mengikutinya pada tahun 1952 silam. Ada beberapa cabang olahraga yang menjadi andalan Indonesia di Olimpiade dalam setiap edisinya.

Namun, ketika bicara tentang cabang olahraga sepakbola, kapan Indonesia mengikutinya?

Itu terjadi pada tahun 1956, dan masih menjadi satu-satunya kesempatan bagi tim sepakbola Indonesia, ketika Olimpiade di gelar di Melbourne, Australia. Lolosnya tim sepakbola Indonesia ke Olimpiade 1956 terjadi setelah mereka lolos kualifikasi zona Asia. Lawan Indonesia di babak tersebut, yakni Taiwan, memutuskan mundur sehingga skuad Garuda bisa lolos secara cuma-cuma.

Meski hanya sekali berpartisipasi di gelaran Olimpiade, itu pun tak luput dari faktor keberuntungan, momen tersebut menjadi salah satu yang paling dikenang dalam sejarah persepakbolaan Indonesia.

Sepakbola Indonesia yang saat itu dianggap tampil gemilang, berada di bawah asuhan pelatih Toni Pogacnik. Sang pelatih didatangkan berkat hubungan diplomatik Indonesia dengan Yugoslavia pada era kepemimpinan Presiden Soekarno.

Pelatih yang pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta pada 17 Februari 1954 itu berhasil membawa tim sepakbola Indonesia melaju hingga ke fase semifinal Asian Game 1954 di Manila, sebelum akhirnya dua tahun berselang, dia membuat Indonesia mengukir tinta emas di gelaran Olimpiade Melbourne.

Di kesempatan tersebut, Indonesia melaju sampai ke babak perempat final setelah Vietnam Selatan yang menjadi rival timnas Garuda kala itu memutuskan mundur. Di babak perempat final tersebut, Indonesia harus berhadapan dengan tim sekaliber Uni Soviet.

Pada pertandingan melawan Uni Soviet inilah, Indonesia menampilkan sebuah pertunjukkan yang akan selalu dikenang.

Indonesia diperkuat oleh pemain seperti Maulwi Saelan, Endang Witarsa, Thio Him Tjiang, Ramlan, dan Rusli Ramang. Sedangkan tim lawan, terdapat nama populer seperti Lev Yashin, Igor Netto, Eduard Streltsov, dan Valentin Ivanov.

Dengan materi pemain semacam itu, Uni Soviet jelas menjadi negara yang paling diunggulkan. Mereka diprediksi bakal menang mudah melawan Indonesia. Namun apa yang terjadi selanjutnya sungguh berada di luar dugaan.

Diceritakan, Indonesia menggunakan pertahanan berlapis ala Toni Pogacnik dimana para penggawa Garuda berhasil menerapkannya dengan baik. Uni Soviet yang terus melakukan serangan selalu gagal menembus lini pertahanan Indonesia. Padahal, seperti yang kita tahu, Indonesia kalah dari segi postur atas pemain-pemain Uni Soviet.

Akan tetapi, penerapan strategi yang baik serta keberanian pemain Indonesia dalam menghalau segala serangan membuat gempuran tim lawan terus temui kegagalan.

Menampilkan permainan yang begitu solid membuat Indonesia berhasil mengakhiri laga dengan skor sama kuat 0-0. Ketika itu, belum ada aturan perpanjangan waktu atau tendangan adu penalti. Laga yang masih berakhir imbang itu kemudian ditentukan oleh pertandingan kedua yang digelar dua hari setelahnya.

Sayangnya, di pertandingan kedua, Indonesia gagal pertahankan permainan apiknya. Timnas Garuda harus tersingkir dari Olimpiade setelah kalah dengan skor telak 0-4.

Meski pada akhirnya kalah atas Uni Soviet yang sukses menyabet emas di akhir turnamen, permainan Indonesia yang sempat menahan imbang tim favorit tersebut terus menjadi bahasan dalam beberapa hari lamanya.

Bahkan, menurut presiden FIFA ketika itu, Sir Stanley Rous, seperti dikutip dari Tabloid BOLA edisi 27 Juli 1984, permainan Indonesia saat itu sangatlah luar biasa.

“Baru sekali aku melihat permainan bertahan yang sempurna sekali,”

Setelah momen yang begitu fenomenal di Olimpiade 1956 tersebut, tim sepakbola Indonesia belum lagi mampu berbicara banyak pada edisi-edisi selanjutnya. Kira-kira, apa yang menjadi penyebab itu semua?

Mengapa tim sepakbola Indonesia tak pernah tampil lagi di Olimpiade?

Tim sepakbola Indonesia sejatinya hampir lolos di gelaran Olimpiade 1986. Sayangnya, di babak akhir Zona Asia melawan Korea Selatan, Indonesia takluk dalam dua pertandingan sekaligus. Pertama, mereka kalah 0-2 di Seoul dan kalah 1-4 di Senayan.

Keikutsertaan tim sepakbola Indonesia di gelaran Olimpiade menjadi semakin rumit setelah pada tahun 1992, International Olympic Committee membuat peraturan bila setiap tim sepakbola yang tampil wajib berada di bawah usia 23 tahun. Boleh ada pemain di atas usia tersebut, tetapi maksimal hanya tiga pemain saja.

Untuk bisa tampil di gelaran sebesar Olimpiade, tim sepakbola Indonesia juga harus bersaing dengan 201 negara, dimana yang diambil hanya 16 negara saja. Dengan rincian Eropa berhak mengirimkan empat wakil, Asia dan Afrika masing-masing tiga negara, Amerika Utara dan Amerika Selatan total lima negara, dan Ocean satu negara saja.

Dengan adanya batasan usia tersebut, ditambah dengan persaingan yang begitu ketat, Indonesia harus membenahi tim sepakbola di level usia muda.

Pasalnya bagi tim sepakbola Indonesia sendiri bila ingin masuk ke gelaran Olimpiade, mereka setidaknya harus tampil sebagai semifinalis Piala Asia U-23. Padahal untuk bisa mencapai titik tersebut tidaklah mudah. Dibutuhkan status juara grup di babak kualifikasi terlebih dahulu, untuk kemudian bisa kembali berjuang di putaran final dan mencapai posisi yang telah ditetapkan.

Pada tahun 2015 silam, dibawah asuhan pelatih Aji Santoso, tim sepakbola Indonesia gagal menembus gelaran Olimpiade setelah hanya duduk sebagai runner up di bawah Korea di babak kualifikasi Piala Asia U-23. Mereka juga gagal meraih predikat sebagai runner up terbaik usai kalah jumlah gol dari Uzbekistan, Yaman, dan Vietnam.

Meski sempat menyambut Olimpiade Tokyo dengan penuh antusias, tim sepakbola Indonesia kembali gagal tunjukkan taringnya. Sebab, timnas U-23 Indonesia gagal lolos ke Piala Asia U-23 2020 yang kita tahu merupakan satu-satunya cara untuk lolos ke Olimpiade Tokyo 2020.

Memang, keseriusan sejak dini sangat dibutuhkan tim sepakbola bola Indonesia untuk bisa tampil di ajang Olimpiade. Tidak hanya di ajang tersebut, bila pembinaan pemain muda dapat dilakukan dengan baik, ajang bergengsi lainnya seperti Piala AFF, Piala Asia, SEA Games, hingga Asian Games, juga tentu akan mudah ditumpas dengan prestasi yang lebih membanggakan.

Berbicara di Cabor Lainnya

Di tengah kesedihan yang masih terus dialami oleh cabang olahraga sepakbola, Indonesia masih bisa berbangga dengan cabang olahraga lainnya, yaitu Bulu Tangkis.

Belum lama ini, Indonesia berhasil memecah kebuntuan di Olimpiade 2020 dengan meraih medali emas pertama dan satu-satunya melalui pasangan ganda putri, Greysia Polii dan Apriani Rahayu.

Dengan raihan prestis ini, Greysia dan Apriani berhasil melanjutkan tradisi emas Indonesia di Olimpiade khususnya pada cabang olahraga bulu tangkis. Tercatat, sejak tahun 1992, Indonesia hanya memutus tradisi emas saat para wakil bulutangkis tak mampu memeroleh medali emas di Olimpiade London pada 2012 lalu.

Dengan terus berjaya nya cabang olahraga bulutangkis di kancah dunia, semoga bisa memantik para pihak yang berada di cabang olahraga sepakbola untuk terus berjuang dan termotivasi, agar momen indah di tahun 1956 bisa terulang, atau bahkan, bisa dilukiskan dengan sejarah yang lebih membanggakan.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru