Pernah nonton Spongebob Squarepants? Tentu pernah, dong, ya kan? Kamu merhatiin nggak sih, di opening, setelah lukisan “Painty The Pirate” mengajak anak-anak bernyanyi, ada sebuah pulau yang seolah-olah di bawahnya adalah kota bernama Bikini Bottom? Pulau itu namanya “Bikini Atoll”.
Kepulauan Marshall, negara di Samudera Pasifik bagian barat menginspirasi Stephen Hillenburg untuk membuat animasi “Bikini Atoll”. Kepulauan Marshall sangat amat jauh dari Indonesia. Tapi kamu mungkin tidak akan menyangka, di tempat ini sebuah negara sedang berusaha memiliki tim nasional sepak bola.
Malangnya, Timnas Kepulauan Marshall, yang bahkan belum menjadi anggota resmi FIFA itu, terancam bubar karena negaranya mau tenggelam. Lho, kok bisa? Mari kita mengulasnya.
Daftar Isi
Negara Terakhir yang Tidak Memiliki Tim Nasional
Kepulauan Marshall disebut-sebut negara terakhir di dunia yang tidak memiliki tim nasional. Pertanyaan pun muncul, mau sampai kapan negara berpenghuni 40 ribu jiwa ini tidak memiliki tim nasional? Padahal Gibraltar saja, yang penghuninya kurang dari sepertiga jumlah penduduk Ciamis, punya tim nasional.
Pertanyaan itu akan dijawab nanti. Kita akan kenalan dulu dengan Kepulauan Marshall. Seperti apa sih, negara yang satu ini? Di peta, atlas, maupun globe, kita mungkin sulit untuk mencari letak Kepulauan Marshall. Bahkan di Google Maps, nyaris tak kelihatan sama sekali.
Kepulauan Marshall letaknya jauh di Samudera Pasifik. Ini merupakan negara maritim yang sebagian besar wilayahnya perairan. Negara ini hanya terdiri dari kumpulan atol dan pulau. Atol itu sebutan untuk terumbu karang yang membentuk cincin. Kurang lebih bentuknya seperti ini.
Yesterday my grandma passed away. My mom & her family are from the Kwajalein Atoll, a string of islands known as the Marshall Islands, in the Pacific Ocean. My mom has enough leave for 2 weeks & I want to help her go back home to see her family for the first time in 10 years. pic.twitter.com/gEwdWPujdc
— nat 📸 (@omfgnataly) October 15, 2024
Amerika Serikat pernah menyerbu kepulauan ini dan mendudukinya pada Perang Dunia II. Lalu menjadikan Kepulauan Marshall tempat uji coba nuklir, sampai dengan tahun 1960-an. Hal itu mengakibatkan penduduk sini terkena imbas radiasi tinggi yang efeknya sampai sekarang.
Pada 1979, Republik Kepulauan Marshall berdiri, dan di tahun 1986, Amerika Serikat melepaskan cengkeramannya dan mengakui kemerdekaan Republik Kepulauan Marshall.
#OTD April 20, 1951 The United States Conducts the Shot Easy nuclear test at Enewetak Atoll in the Marshall Islands. It was the second in the Operation Greenhouse series of nuclear weapons tests. #nuclearmuseum #marshallIslands pic.twitter.com/3HOf4DHD4l
— Nuclear Museum (@nuclearmuseum) April 20, 2024
Menurut survei pada 2023 lalu, jumlah penduduk di Kepulauan Marshall hanya 41.996 jiwa. Tak ada separuh dari jumlah penduduk Sibolga, kota terkecil di Indonesia. Luas wilayah Kepulauan Marshal sendiri hanya 181 kilometer persegi, dan 98% wilayahnya berupa perairan.
Penduduk Kepulauan Marshall juga memiliki bahasa mereka sendiri, namanya bahasa Marshall. Selain tentu saja kita juga bisa memakai bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan penduduk lokal. Jadi bisa dibayangkan betapa terpencilnya negara ini?
Kepulauan Marshall Membentuk Tim Sepak Bola
Sepak bola tentu tidak tumbuh di negara ini. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Kepulauan Marshall berencana menjadi salah satu kekuatan independen di dunia sepak bola. Demi mewujudkannya, pada 2020 lalu, Federasi Sepak Bola Kepulauan Marshall atau dalam bahasa Inggrisnya, Marshall Islands Soccer Federation (MISF) berdiri.
MISF tidak diakui oleh Konfederasi Sepak Bola Oseania atau OFC dan FIFA. Akan tetapi, mereka bertekad menjadi anggota salah satunya. Tujuan tersebut lalu mendorong MISF untuk membentuk tim nasional. Pada 2022, Presiden MISF, Shem Livai sampai mendatangkan orang dari Oxfordshire di Inggris, Lloyd Owers untuk menjadi direktur teknik.
Pada 2023 lalu, Lloyd mengatakan bahwa MISF terbuka pada semua opsi, termasuk bergabung dengan Federasi Sepak Bola Asia atau AFC. Lalu bagaimana Kepulauan Marshall, yang sebagian wilayahnya air bisa membentuk tim nasional?
Lloyd rela menempuh perjalanan 13 ribu kilometer ke negara tersebut untuk menciptakan struktur sepak bola dari program muda sampai tim senior. Lloyd sendiri bukan sosok terkenal di sepak bola Inggris. Namanya saja mungkin bagi para hooligan, jarang terdengar. Jelas karena Lloyd hanya menghabiskan waktunya di Liga Semi-Profesional.
Ia hanya menjadi asisten manajer di tim semi-profesional Kidlington FC. Juga menjadi pelatih U-23 klub Oxford City. Ya, Oxford City, bukan Oxford United. Oxford City hanya klub di divisi keenam dari piramida sepak bola Inggris. Mereka berlaga di National League North.
Pria yang kini kandidat PhD di bidang kepelatihan olahraga itu mengurus hampir semua keperluan MISF. Tak terkecuali hubungan dengan pemerintah Kepulauan Marshall dan Komite Olimpiade Kepulauan Marshall.
Antara Ada dan Tiada
Singkat cerita, Kepulauan Marshall pun untuk pertama kalinya mengirim tim nasional, yakni di Pesta Olahraga Mikronesia pada 2023 lalu, yang kebetulan juga dilaksanakan di negara tersebut. Sayangnya, mungkin ini akan menjadi turnamen kompetitif pertama dan terakhir bagi Timnas Kepulauan Marshall.
Setelah itu, Timnas Kepulauan Marshall justru antara ada dan tiada. Mereka masih belum berhasil membentuk timnas sepak bola yang sustain. Ketika dicek di website resminya, MISF hanya memiliki tim futsal, baik pria maupun wanita. Sementara di bidang sepak bola, mereka masih terus mengembangkan.
Another day, another new community session.
We’re on a mission to get soccer into every community across our nation.
Thanks to your support we’re able to make that happen pic.twitter.com/54KpslUIbM
— Marshall Islands Soccer Federation (@SoccerFedMI) February 6, 2025
Kepulauan Marshall juga akhirnya membuka Track and Field Stadium di ibu kota Majuro, pada 2024 lalu. Ini akan menjadi markas Timnas Kepulauan Marshall. Setelah dianggap bisa menyelenggarakan Pesta Olahraga Micronesia 2023 lalu, Presiden MISF yakin Timnas Kepulauan Marshall akan resmi debut pada Pesta Olahraga Pasifik 2027 mendatang di Tahiti.
Tapi untuk sampai ke sana jalannya terjal. Kepulauan Marshall bukan negara dengan pendapatan tinggi. Bank Dunia mengklasifikasikan negara ini sebagai negara berpendapatan menengah ke bawah. Kepulauan Marshall hanya mengandalkan pendapatan dari bantuan Amerika Serikat, pariwisata, dan sektor perikanan.
One day in the not so distant future, all of us involved with the Marshall Islands Soccer Federation project hope this new track and field stadium here in Majuro will also host our first ever national team football match @SoccerFedMI pic.twitter.com/c9HybVJk9j
— Justin Walley (@JustinWalley10) January 20, 2024
Tak mengejutkan jika GDP per kapitanya cuma 6,8 ribu US Dollar atau sekitar 111 juta rupiah lebih sedikit. MISF pun tak mungkin mengandalkan dana dari pemerintah. Mereka akhirnya melakukan penggalangan dana lewat GoFundMe pada Januari 2023 lalu.
Terancam Bubar
Meskipun timnasnya belum sungguh-sungguh ada, Federasi Sepak Bola Kepulauan Marshall merilis jersey terbaru. Dan itu mereka jual melalui website resmi. Kalau kamu tertarik, kamu bisa membelinya seharga 29,9 hingga 49,9 poundsterling atau yah, sekitar 1 juta rupiah.
Penggalangan dana dan penjualan jersey sendiri merupakan satu dari enam roadmap sepak bola Kepulauan Marshall. Jika kita mengunjungi situs resminya, selain pendanaan lewat GoFundMe dan penjualan merchandise, mereka juga melakukan pengembangan dan pelatihan pemuda, pengembangan tim pria dan wanita, diaspora di luar negeri, serta menjalin kemitraan dengan sponsor.
We have another historic FIRST coming up later this month 💥
We’re hosting our first INTER-ISLAND competition, when our Majuro team flies over to Kwajalein to compete against them and Ebeye in a tri-team tournament across Futsal and 9v9
Another huge step for our programme, as… pic.twitter.com/zdrRlOJdO3
— Marshall Islands Soccer Federation (@SoccerFedMI) February 5, 2025
Direktur komersial mereka, Matt Webb, pernah bercanda akan membujuk Rory Delap supaya menjadi sponsor, hanya karena sebagian besar penduduk ibu kota Majuro mendiami sebuah tempat bernama Delap-Uliga-Djarrit.
Mirisnya, Timnas Kepulauan Marshall terkenal bukan karena prestasi, tapi karena nasibnya baru-baru ini diprediksi hilang. Pada 2023 mereka merilis jersey away berwarna putih.
Namun ada yang aneh dengan jersey itu. Beberapa bagian di edisi khusus seperti sengaja dilubangi. Dan itu dibuat memang untuk menarik perhatian. Bukan demi komersil, tapi agar dunia peduli pada nasib negara ini.
Inspired by our roots. Designed for our future. 🇲🇭 Our jersey carries the number 1.5, which highlights the critical 1.5-degree temperature limit which if exceeded will result in the islands sinking under rising seas. @playerlayer #NoHomeJersey pic.twitter.com/SMg0gGSf7t
— Marshall Islands Soccer Federation (@SoccerFedMI) December 9, 2024
Kepulauan Marshall merupakan negara yang terancam oleh perubahan iklim. Mengutip laporan Hakai Magazine, permukaan laut di negara ini sudah naik hingga 12 sentimeter dari tahun 1993. Gletser dan lapisan kutub mencair jadi salah satu penyebabnya, dan mengancam keberadaan negara ini.
Naiknya permukaan laut dan perubahan iklim membuat negara ini sering dilanda banjir dan badai. Gelombang besar di Samudera Pasifik bisa menghantam atol-atol atau terumbu karang yang selama ini jadi penghalang.
Daratan yang tersisa di negara ini berpotensi tertutup oleh air alias tenggelam. Beberapa laporan mengatakan, Kepulauan Marshall akan tenggelam pada pertengahan abad ini. Sedangkan survei dari Geologi AS, seperti dikutip The Conversation memperkirakan sejumlah pulau di sini akan tenggelam pada 2035.
Namun, negara yang mau tenggelam bukan berarti penduduknya akan pindah. Justru penduduk sini menolak relokasi dan tetap bertahan. Begitu pula proyek sepak bolanya. Mereka optimis target menjadi anggota resmi FIFA pada 2030 akan tercapai.
Sumber: TheAthletic, TheGuardian, BBC, FootballOceania, TheSun


