Tidak ada yang menyangka Timnas Belgia akan kalah dari Maroko di pertandingan kedua Piala Dunia 2022. Yang membuat itu lebih tidak disangka-sangka lagi adalah Maroko bisa mengalahkan Belgia dengan skor mantap 2-0.
Dua gol Timnas Maroko dicetak oleh Romain Saiss dan Zakaria Aboukhail. Padahal di sini Belgia menempati posisi kedua ranking FIFA. Bahkan sebagai mantan tim yang pernah menempati peringkat satu FIFA, kekalahan ini sulit dimengerti.
Spekulasi pun muncul. Mengapa Timnas Belgia dengan materi pemain yang mewah, tapi justru bisa dikalahkan oleh Maroko? Pertanyaan lainnya pun mencuat. Kenapa Belgia tampil gitu-gitu saja? Sosok yang jadi sasaran empuk amarah adalah pelatih Belgia, Roberto Martinez.
Meski pernah mengatrol posisi Belgia di peringkat FIFA, tapi Martinez sulit untuk mendatangkan trofi. Oleh sebab itu, Belgia mesti mulai memikirkan untuk menyingkirkan Martinez dari kursi pelatih. Mengapa demikian? Berikut adalah alasan-alasannya.
Daftar Isi
Kedatangan Roberto Martinez ke Belgia
Sebelum itu perlu diketahui bahwa Roberto Martinez mulai melatih Timnas Belgia tahun 2016. Namun, ia sebetulnya bukan pelatih yang memiliki portofolio mengesankan. Apalagi ia ditunjuk sebagai pelatih Belgia setelah dipecat oleh Everton.
Setelah musim yang buruk bersama Everton, Roberto Martinez dipecat pada Mei 2016. Hanya tiga bulan ia menganggur. Federasi sepakbola Belgia datang untuk merekrutnya sebagai pelatih. Mantan pelatih Wigan Athletic dan Swansea City itu ditunjuk untuk memimpin generasi emas Belgia.
Sports: Belgium appoint Roberto Martinez as head coach,Former Everton, Wigan and Swansea manager Roberto… pic.twitter.com/TIKzjZSz0F
— Ghananewsline (@Ghananewsline1) August 4, 2016
Namun, di laga pertamanya melatih Belgia, Roberto Martinez memberi kesan negatif. Pada pertandingan pertamanya itu, Belgia kalah dari Spanyol di Brussel. Namun setelah itu, di tangan Roberto Martinez, Belgia pelan-pelan mulai menunjukkan perkembangan. Meski hasilnya tidak terlalu mentereng.
Hasil Buruk
Masalahnya, selama dilatih Roberto Martinez, Timnas Belgia sulit meraih trofi mayor. Bahkan bisa dibilang catatannya tidak mengesankan alias buruk. Salah satunya di Piala Dunia 2018. Yap benar sekali. Timnas Belgia memang lolos ke fase gugur.
Satu grup dengan Inggris, Tunisia, dan Panama, Belgia berhasil memuncaki klasemen Grup G pada Piala Dunia 2018. Total pada saat itu Belgia mengumpulkan 9 poin. Dengan kata lain, Belgia menyapu bersih semua laga dengan kemenangan.
Belgia pun sangat meyakinkan di fase gugur. The Red Devils bahkan bisa mencapai semifinal di Piala Dunia 2018. Namun nahas, harapan Belgia untuk juara pupus di tangan Timnas Prancis. Les Bleus sukses menaklukan Belgia di semifinal.
Alhasil Belgia terlempar dari perebutan juara Piala Dunia 2018, di mana saat itu Prancis yang kelak jadi juara. Meski demikian, Belgia bisa menyabet juara ketiga di ajang tersebut. Namun bagi tim sekelas Belgia, menjadi juara tiga saja tidaklah cukup. Roberto Martinez seharusnya bisa membawa Belgia lolos ke final.
Sementara itu, di EURO 2020, Belgia asuhan Roberto Martinez juga tak bisa menuai hasil positif. Kevin de Bruyne dan kolega gagal melaju ke semifinal setelah di perempatfinal keok atas juara kala itu, Italia. Penampilan buruk Belgia makin kelihatan di UEFA Nations League.
Di Liga Bangsa-Bangsa Eropa itu, Belgia hanya bisa finis di peringkat kedua Liga A Grup 4. Belgia ditaklukan Belanda dua kali. Salah satunya bahkan dibantai dengan skor telak 4-1. Kini hasil buruk itu benar-benar nyata usai ditaklukkan Maroko di Piala Dunia Qatar.
Tidak Berkembang dari Segi Taktik
Roberto Martinez dalam melatih Timnas Belgia juga sebetulnya tidak banyak perkembangan dalam segi taktik dan gaya bermain. Sejak menukangi Belgia, Roberto Martinez sering menggunakan formasi 3-4-3 atau dengan varian 3-4-2-1.
Meski ketika kalah dari Maroko, Roberto Martinez mencoba memakai skema 4-2-3-1 yang cukup populer. Namun, masalahnya Martinez tidak sering berinovasi. Apalagi dalam hal pemilihan pemain. Ia cenderung memakai pemain yang sama secara konsisten di setiap kompetisi.
Roberto Martinez’s tactic fundamentals when his team has the ball:
➡️ @carrasco21 and @ThomMills become wingers
➡️ @hazardeden10 and @dries_mertens14 play close to @RomeluLukaku9#BelgiumTunisia #WorldCup @BelRedDevils #belgium pic.twitter.com/fMZ1Q1arkU— Football Match Analysis (@analysis_match) June 23, 2018
Roberto Martinez juga beberapa kali gagal memahami gaya bermain para pemainnya. Kapten Timnas Belgia, Kevin de Bruyne seperti dilansir The Guardian, bahkan pernah mengatakan bahwa Belgia seringkali kesulitan. Roberto Martinez, kata De Bruyne, sering memaksa pemain bermain tidak sesuai gaya bermainnya.
“Selama tidak ada sistem taktis yang bagus, kami menghadapi kesulitan. Sayang sekali kami belum menemukan solusinya. Kami sering bermain dengan sistem defensif, tapi tim kami diisi banyak pemain menyerang,” kata Kevin de Bruyne.
Kerap Tidak Cocok dengan Pemainnya Sendiri
Selain itu, Roberto Martinez juga kerap beberapa kali tidak cocok dengan pemainnya sendiri. Misalnya, dalam hal pendapat. Contoh ketika Kevin de Bruyne mengatakan timnya terlalu tua. Namun, Roberto Martinez membantah hal itu.
Disamping itu, ia juga sudah mulai hobi mengecam pemainnya sendiri. Ketika kalah dari Maroko, sebagaimana dikutip Football London, Roberto Martinez mengecam gaya bermain salah satu pemainnya, Eden Hazard. Padahal ia sendiri yang menaruh kepercayaan pada Hazard.
Kurang Optimisme
Belakangan ini, Roberto Martinez juga kekurangan optimisme dalam melatih Timnas Belgia. Roberto Martinez bahkan di Piala Dunia sebelumnya, pernah mengatakan timnya siap menderita. Pada Piala Dunia 2022, ia juga mengatakan hal yang kurang lebih sama.
Seperti dikutip Goalzz, Roberto Martinez terus terang mengatakan Belgia bermain dengan mental yang ‘takut kalah’. Itu berkaitan dengan kekalahan Belgia atas Maroko di Al Thumama Stadium, Qatar 2-0. Pernyataan yang lebih dekat pada pesimisme itu tidak layak dikeluarkan oleh seorang pelatih.
Tidak Disukai Publik Belgia
Roberto Martinez juga berapa kali disebut tidak disukai oleh publik Belgia. Mereka tidak suka karena sang pelatih tidak banyak memberikan prestasi yang berharga bagi publik Belgia. Bahkan bisa dikatakan nihil prestasi. Keputusan Roberto Martinez juga kerap dikecam oleh publik Belgia.
Misalkan ketika line up melawan Maroko diumumkan. Dilansir Sportskeeda, banyak penggemar Belgia menyayangkan susunan pemain yang dikeluarkan oleh Roberto Martinez. Masuknya nama-nama seperti Alderweireld, Vertonghen, dan Michy Batshuayi di laga kontra Maroko sangat disayangkan.
Apalagi Roberto Martinez sebenarnya masih punya opsi lain. “Roberto Martinez mungkin adalah penipu besar dalam sepakbola” begitu bunyi protes yang dihimpun Sportskeeda.
Roberto Martinez might be the biggest fraud in football https://t.co/MG0AJ0tUxA
— Melvs 🇪🇨 ⊗ (@BhaMelvs) November 27, 2022
Bakal Tidak Lagi Melatih Belgia?
Kabarnya setelah kalah dari Maroko di Piala Dunia, Roberto Martinez bisa jadi tidak akan melatih Timnas Belgia lagi. Terlebih sebetulnya kontra pelatih Spanyol itu di Timnas Belgia akan berakhir setelah Piala Dunia 2022. Sejauh ini belum ada kabar bahwa Royal Belgian FA tidak akan memperpanjang kontrak Martinez.
Namun, sebelumnya Martinez juga pernah diisukan bakal meninggalkan skuad Belgia. Akan tetapi, federasi sepakbola Belgia memberi pernyataan bahwa mereka masih akan mempertahankan pelatih berkepala gundul tersebut.
Di sisi lain, walaupun tampil buruk di Piala Dunia 2022, tapi Roberto Martinez, dilansir Mirror Irlandia, masih yakin bahwa federasi sepakbola Belgia akan memperpanjang kontraknya sebagai pelatih Timnas Belgia.
Namun demikian, jika kegagalan kembali menimpa Belgia, bukan tidak mungkin kalau Roberto Martinez pada akhirnya meninggalkan Timnas Belgia.
Sumber: TheGuardian, EuroSport, DailyMail, TheGuardian2, FootballLondon, Sportskeeda, InfoGuideNigeria, Goalzz, Express, MirrorIrlandia, TheSun


