Tim Inggris yang Gagal Sukses Meski Dimiliki Taipan Timur Tengah

spot_img

Merasakan kucuran uang dari Timur Tengah yang tiada habisnya sering kali menjadi dambaan bagi setiap klub sepakbola di Eropa, termasuk di Inggris. Namun jika diamati, beberapa klub yang dimiliki taipan Timur Tengah yang berkategori sukses bisa dibilang hanya City. Newcastle? Mereka sedang otw ke sana.

Namun ada juga beberapa klub di Inggris yang dimiliki taipan Timur Tengah, tapi nasibnya kurang beruntung. Apa saja klub-klub tersebut?

Everton (Farhad Moshiri, Iran)

Salah satunya Everton. Bagaimana girangnya klub asal Merseyside itu dibeli oleh taipan Iran bernama Farhad Moshiri pada 2016 silam. Harapan akan kesuksesan di masa depan pun seketika menggema bagi publik The Toffees.

Kepemilikan saham mayoritas Moshiri di Everton sebesar 77 persen membuatnya leluasa membangun tim. Menurut Transfermarkt, sejak kedatangan Moshiri pada 2016, ia sudah menghabiskan dana hingga 561,88 juta pounds.

Lalu pertanyaannya apakah dengan keluarnya uang sebanyak itu Everton bisa lebih berprestasi? Nyatanya sejak beberapa pemain dan pelatih yang didatangkan Moshiri hingga kini, tak membuahkan gelar apa pun. Yang ada malah prestasinya semakin menurun bahkan hingga terancam degradasi.

Lalu apa yang salah? Moshiri ternyata bukanlah orang yang ahli merekrut beberapa orang kepercayaannya di manajemen klub. Terbukti dengan uang besar yang digelontorkan tiap musimnya, Everton selalu sembrono dalam hal transfer. Misal mendatangkan pemain medioker yang tak dipakai di Arsenal seperti Alex Iwobi dengan harga hingga 40 juta pounds.

Nah, berkat kebijakan grusa-grusu dalam membelanjakan uang itulah, The Toffees juga perlahan terkena dampak krisis finansial. Sejak pandemi 2020 lalu hingga kini, mereka merugi sebesar 360 juta pound.

Hal itu terpaksa dilakukan dengan menjual beberapa pemain bintangnya macam Richarlison. Kini dengan skuad seadanya yang dimiliki Moshiri, mereka hanya berharap keluar dari ancaman degradasi.

Sheffield United (Abdullah bin Musa’ad bin Abdulaziz Al Saud, Arab Saudi)

Kemudian ada klub Inggris lainnya Sheffield United. Jauh sebelum heboh pangeran Mohammed bin Salman membeli Newcastle, pangeran Arab lainnya yakni Abdullah bin Musa’ad bin Abdulaziz Al-Saud justru sudah lebih dulu menginjakkan kakinya di tanah Inggris.

Ia membeli Sheffield pada tahun 2013 silam. Pangeran Abdullah ini bukan orang sembarangan. Ia adalah keturunan raja pertama Arab Saudi, Abdul Aziz bin Saud. Namun secara bisnis, ia tak tergolong berdana besar. Jika tak dicampur dengan kekayaan negara, kekayaan perusahaannya ‘hanya’ mencapai 189 juta pounds.

Artinya jika dibanding PIF yang mengakuisisi Newcastle lewat uang negara, sangat jauh perbandingannya. Maka dari itu, tak heran jika Sheffield United tak terlalu mengkilap secara skuad.

Dengan pembelian pemain seadanya, capaian Sheffield di bawah kepemilikan Saud hanyalah jadi semifinalis di Piala FA pada tahun 2014 dan semifinalis Piala Liga di 2015.

Tentu prestasi terbesar Sheffield di bawah Saud adalah membawa klub promosi ke Championship pada musim 2016/17 dan promosi ke Premier League di musim 2018/19.

Mereka sempat bertahan di Premier League dengan menempati posisi 9 di musim debutnya. Gaya permainan yang khas bersama Chris Wilder ketika itu sempat mengejutkan Liga Inggris.

Namun, keberadaan mereka di Liga Inggris tak berlangsung lama. Mereka kembali lagi ke Championship 2021 silam. Hingga sekarang, mereka belum sempat kembali lagi ke Liga Inggris.

Hull City (Assem Allam, Mesir)

Selanjutnya ada Hull City. Hull dibeli oleh taipan asal Mesir, Assem Allam pada 2010 silam. Ketika itu kondisi Hull masih amburadul sebelum pengambilalihan. Hull baru saja degradasi dari Liga inggris musim 2009/10, serta mengalami krisis finansial.

Hadirnya taipan Mesir itu pun awalnya diharapkan menjadi angin segar bagi Hull City. Namun asal tahu saja, background Assem Allam bukanlah taipan sultan dengan kekayaan yang tak terhingga.

Ia hanyalah pebisnis biasa yang sedang memutarkan uangnya. Pendapatannya pun hanya berdasarkan pada aktivitas transfer saja. Prestasi Hull City selama di bawah Allam adalah kembali promosi di musim 2012/13 serta jadi finalis Piala FA di musim 2013/14. Ketika itu The Tigers diasuh oleh Steve Bruce.

Setelah itu, Hull City hanya sebatas klub medioker yang naik turun kasta dari Championship ke Premier League. Bahkan mereka sempat mencicipi nikmatnya degradasi ke League One pada 2020 lalu.

Assem Allam memang terbukti tak mampu mengangkat derajat performa Hull City menjadi tim yang penuh dengan prestasi. Namun lebih dari itu, Assem dan keluarganya telah berkontribusi di bidang lain bagi publik Hull.

Dilansir BBC, taipan Mesir ini ternyata sangat konsen terhadap masalah kesehatan. Ia sering membantu pembangunan rumah sakit jantung, kanker, maupun lainnya di daerah Hull. Bahkan ia mendirikan sendiri rumah sakit khusus diabetes bernama Allam Diabetes Center di daerah Hull.

Kini Hull City masih tertatih di Championship. Assem Allam sendiri baru saja wafat pada akhir 2022 lalu. Kini per Januari 2023, kepemilikan Hull sudah berpindah ke tangan perusahaan Turki, Acun Medya Group.

Aston Villa (Nasef Sawiris, Mesir)

Selain Assem Allam, taipan Mesir lainnya Nasef Sawiris ikut membeli klub Liga Inggris, Aston Villa. Keadaanya ketika itu Aston Villa terdegradasi pada 2016. Hal itu juga menyebabkan klub dilanda krisis finansial.

Setelah itu, pada tahun 2018 datanglah Sawiris yang membeli saham mayoritas bersama rekannya Wes Edens. Keduanya pun hingga kini telah memegang kontrol penuh terhadap kendali klub.

Asal tahu saja, Nassef ini bukanlah pengusaha biasa. Namanya bahkan termasuk dalam deretan orang terkaya di Mesir dan tercatat dalam Forbes sebagai orang terkaya keempat di benua Afrika.

Terbayang kan, betapa beruntungnya Aston Villa punya bos tajir seperti Sawiris? Benar saja, di bawah kepemilikannya Aston Villa mampu kembali promosi ke Liga Inggris pada 2019. Setelah itu, Villa benar-benar dibawanya jor-joran membeli banyak pemain. Total 140 juta pounds sudah dihabiskannya untuk 15 pemain di 2019/20.

Namun sayang, dari semua pembelian yang dilakukan Sawiris bahkan hingga sekarang, belum mampu mengantarkan The Villans meraih prestasi satu pun. Terakhir kali prestasi mentereng Villa di era Sawiris adalah hanya sampai final Piala Liga di musim 2019/20.

Biang permasalahan kenapa uang besar yang diinvestasikan Sawiris tiap musimnya tak berbuah hasil adalah dari perekrutan pemain yang hanya berkategori kelas medioker. Hal itu menandakan bahwa Sawiris salah memilih orang kepercayaan di bidang perekrutan pemain.

Hal lain yang tak dapat dicontoh Sawiris dari kesuksesan taipan Timur Tengah macam City, adalah membangun proyek dan filosofi secara berkelanjutan. Sawiris nampaknya luput akan hal itu, dan cenderung ingin hasil yang instan.

https://youtu.be/uHdfwI02Pps

Sumber Referensi : guardian, dailymail, theathletic, bbc

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru