Merasakan kucuran uang dari Timur Tengah yang tiada habisnya sering kali menjadi dambaan bagi setiap klub sepakbola di Eropa, termasuk di Inggris. Namun jika diamati, beberapa klub yang dimiliki taipan Timur Tengah yang berkategori sukses bisa dibilang hanya City. Newcastle? Mereka sedang otw ke sana.
Namun ada juga beberapa klub di Inggris yang dimiliki taipan Timur Tengah, tapi nasibnya kurang beruntung. Apa saja klub-klub tersebut?
Daftar Isi
Everton (Farhad Moshiri, Iran)
Salah satunya Everton. Bagaimana girangnya klub asal Merseyside itu dibeli oleh taipan Iran bernama Farhad Moshiri pada 2016 silam. Harapan akan kesuksesan di masa depan pun seketika menggema bagi publik The Toffees.
🕰#OnThisDay in 2016, Farhad Moshiri invested into Everton Football Club, acquiring 49.9%💰💰💰 pic.twitter.com/yd0Bo67o85
— 𝗧𝗵𝗲 𝗧𝗼𝗳𝗳𝗲𝗲 𝗕𝗹𝘂𝗲𝘀 (@EvertonNewsFeed) February 27, 2020
Kepemilikan saham mayoritas Moshiri di Everton sebesar 77 persen membuatnya leluasa membangun tim. Menurut Transfermarkt, sejak kedatangan Moshiri pada 2016, ia sudah menghabiskan dana hingga 561,88 juta pounds.
Lalu pertanyaannya apakah dengan keluarnya uang sebanyak itu Everton bisa lebih berprestasi? Nyatanya sejak beberapa pemain dan pelatih yang didatangkan Moshiri hingga kini, tak membuahkan gelar apa pun. Yang ada malah prestasinya semakin menurun bahkan hingga terancam degradasi.
Lalu apa yang salah? Moshiri ternyata bukanlah orang yang ahli merekrut beberapa orang kepercayaannya di manajemen klub. Terbukti dengan uang besar yang digelontorkan tiap musimnya, Everton selalu sembrono dalam hal transfer. Misal mendatangkan pemain medioker yang tak dipakai di Arsenal seperti Alex Iwobi dengan harga hingga 40 juta pounds.
How on earth did Arsenal manage to sell Iwobi for 40 million to Everton…daylight robbery pic.twitter.com/hTSQcFdPel
— Moh (@IceChillly) November 7, 2020
Nah, berkat kebijakan grusa-grusu dalam membelanjakan uang itulah, The Toffees juga perlahan terkena dampak krisis finansial. Sejak pandemi 2020 lalu hingga kini, mereka merugi sebesar 360 juta pound.
Hal itu terpaksa dilakukan dengan menjual beberapa pemain bintangnya macam Richarlison. Kini dengan skuad seadanya yang dimiliki Moshiri, mereka hanya berharap keluar dari ancaman degradasi.
Sheffield United (Abdullah bin Musa’ad bin Abdulaziz Al Saud, Arab Saudi)
Kemudian ada klub Inggris lainnya Sheffield United. Jauh sebelum heboh pangeran Mohammed bin Salman membeli Newcastle, pangeran Arab lainnya yakni Abdullah bin Musa’ad bin Abdulaziz Al-Saud justru sudah lebih dulu menginjakkan kakinya di tanah Inggris.
HRH Prince Abdullah bin Musa’ad bin Abdulaziz Al Saud (@Saudi49er) , Owner, @SheffieldUnited speaks about The long-term vision behind Sheffield United’s Premier League return pic.twitter.com/nLNMMcn69z
— مجلس أبوظبي الرياضي (@AbuDhabiSC) January 21, 2020
Ia membeli Sheffield pada tahun 2013 silam. Pangeran Abdullah ini bukan orang sembarangan. Ia adalah keturunan raja pertama Arab Saudi, Abdul Aziz bin Saud. Namun secara bisnis, ia tak tergolong berdana besar. Jika tak dicampur dengan kekayaan negara, kekayaan perusahaannya ‘hanya’ mencapai 189 juta pounds.
Artinya jika dibanding PIF yang mengakuisisi Newcastle lewat uang negara, sangat jauh perbandingannya. Maka dari itu, tak heran jika Sheffield United tak terlalu mengkilap secara skuad.
Dengan pembelian pemain seadanya, capaian Sheffield di bawah kepemilikan Saud hanyalah jadi semifinalis di Piala FA pada tahun 2014 dan semifinalis Piala Liga di 2015.
Tentu prestasi terbesar Sheffield di bawah Saud adalah membawa klub promosi ke Championship pada musim 2016/17 dan promosi ke Premier League di musim 2018/19.
OFFICIAL: Sheffield United have been promoted to the Premier League following Leeds’ 1-1 draw with Aston Villa. pic.twitter.com/r4xvzEllsG
— Squawka Live (@Squawka_Live) April 28, 2019
Mereka sempat bertahan di Premier League dengan menempati posisi 9 di musim debutnya. Gaya permainan yang khas bersama Chris Wilder ketika itu sempat mengejutkan Liga Inggris.
Namun, keberadaan mereka di Liga Inggris tak berlangsung lama. Mereka kembali lagi ke Championship 2021 silam. Hingga sekarang, mereka belum sempat kembali lagi ke Liga Inggris.
Hull City (Assem Allam, Mesir)
Selanjutnya ada Hull City. Hull dibeli oleh taipan asal Mesir, Assem Allam pada 2010 silam. Ketika itu kondisi Hull masih amburadul sebelum pengambilalihan. Hull baru saja degradasi dari Liga inggris musim 2009/10, serta mengalami krisis finansial.
Hull City owner Assem Allam says he turned down a bid to sell the Championship club.
— BBC Sport (@BBCSport) February 5, 2019
Full story: https://t.co/c1OghqNREX pic.twitter.com/xiTtjfiRxe
Hadirnya taipan Mesir itu pun awalnya diharapkan menjadi angin segar bagi Hull City. Namun asal tahu saja, background Assem Allam bukanlah taipan sultan dengan kekayaan yang tak terhingga.
Ia hanyalah pebisnis biasa yang sedang memutarkan uangnya. Pendapatannya pun hanya berdasarkan pada aktivitas transfer saja. Prestasi Hull City selama di bawah Allam adalah kembali promosi di musim 2012/13 serta jadi finalis Piala FA di musim 2013/14. Ketika itu The Tigers diasuh oleh Steve Bruce.
Pinning this tweet until Hull City get promoted to the Premier League 🧡😍 #hcafc pic.twitter.com/r7ybGVUdSi
— woody 🍋 (@hcafcwoody) July 26, 2022
Setelah itu, Hull City hanya sebatas klub medioker yang naik turun kasta dari Championship ke Premier League. Bahkan mereka sempat mencicipi nikmatnya degradasi ke League One pada 2020 lalu.
Assem Allam memang terbukti tak mampu mengangkat derajat performa Hull City menjadi tim yang penuh dengan prestasi. Namun lebih dari itu, Assem dan keluarganya telah berkontribusi di bidang lain bagi publik Hull.
Dilansir BBC, taipan Mesir ini ternyata sangat konsen terhadap masalah kesehatan. Ia sering membantu pembangunan rumah sakit jantung, kanker, maupun lainnya di daerah Hull. Bahkan ia mendirikan sendiri rumah sakit khusus diabetes bernama Allam Diabetes Center di daerah Hull.
Like the sleek look of the new Allam Diabetes Centre at the HRI site. Now open, also providing endocrinology services. pic.twitter.com/szWeqPNLGc
— angus young (@angus_young61) January 5, 2022
Kini Hull City masih tertatih di Championship. Assem Allam sendiri baru saja wafat pada akhir 2022 lalu. Kini per Januari 2023, kepemilikan Hull sudah berpindah ke tangan perusahaan Turki, Acun Medya Group.
Aston Villa (Nasef Sawiris, Mesir)
Selain Assem Allam, taipan Mesir lainnya Nasef Sawiris ikut membeli klub Liga Inggris, Aston Villa. Keadaanya ketika itu Aston Villa terdegradasi pada 2016. Hal itu juga menyebabkan klub dilanda krisis finansial.
Setelah itu, pada tahun 2018 datanglah Sawiris yang membeli saham mayoritas bersama rekannya Wes Edens. Keduanya pun hingga kini telah memegang kontrol penuh terhadap kendali klub.
#OnThisDay in 2018, Nassef Sawiris and Wes Edens injected significant investment into Aston Villa Football Club.
— Aston Villa (@AVFCOfficial) July 20, 2022
The progress continues, both on and off the pitch. 🙌 pic.twitter.com/tHTuL0B6l3
Asal tahu saja, Nassef ini bukanlah pengusaha biasa. Namanya bahkan termasuk dalam deretan orang terkaya di Mesir dan tercatat dalam Forbes sebagai orang terkaya keempat di benua Afrika.
#AMAY | Nassef Sawiris tops Egyptian billionaires in Forbes 2022 listhttps://t.co/MqJUnG9DAP pic.twitter.com/zM9pO5x4hH
— Egypt Independent (@EgyIndependent) April 12, 2022
Terbayang kan, betapa beruntungnya Aston Villa punya bos tajir seperti Sawiris? Benar saja, di bawah kepemilikannya Aston Villa mampu kembali promosi ke Liga Inggris pada 2019. Setelah itu, Villa benar-benar dibawanya jor-joran membeli banyak pemain. Total 140 juta pounds sudah dihabiskannya untuk 15 pemain di 2019/20.
Namun sayang, dari semua pembelian yang dilakukan Sawiris bahkan hingga sekarang, belum mampu mengantarkan The Villans meraih prestasi satu pun. Terakhir kali prestasi mentereng Villa di era Sawiris adalah hanya sampai final Piala Liga di musim 2019/20.
#OnThisDay in 2020 – A 93rd minute winner from Trezeguet saw Aston Villa progress to the Carabao Cup Final after beating Leicester City at Villa Park 😍😍#AVFC pic.twitter.com/JSDZ9NIVT4
— Aston Villa News (@AVFC_News) January 28, 2023
Biang permasalahan kenapa uang besar yang diinvestasikan Sawiris tiap musimnya tak berbuah hasil adalah dari perekrutan pemain yang hanya berkategori kelas medioker. Hal itu menandakan bahwa Sawiris salah memilih orang kepercayaan di bidang perekrutan pemain.
Hal lain yang tak dapat dicontoh Sawiris dari kesuksesan taipan Timur Tengah macam City, adalah membangun proyek dan filosofi secara berkelanjutan. Sawiris nampaknya luput akan hal itu, dan cenderung ingin hasil yang instan.
Sumber Referensi : guardian, dailymail, theathletic, bbc


