Liga Champions Eropa selalu memberikan kejutan. Ini adalah kompetisi yang rumit dan sulit diprediksi. Kadang tim raksasa bisa terjungkal di babak grup. Di lain waktu tim kecil justru bisa lolos ke fase gugur. Misalnya, saat Borussia Monchengladbach lolos ke 16 besar musim 2020/21, Inter justru tersingkir karena menempati juru kunci grup.
Musim lalu, ketika tim sekelas Club Brugge bisa ke 16 besar, Juventus dan Barcelona malah tergusur ke Liga Malam Jumat. Di Liga Champions tidak ada jaminan tim besar lajunya mulus, begitu pula sebaliknya. Tak terkecuali di Liga Champions musim ini.
Real Sociedad, tim yang lama tidak bermain di Liga Champions malah sudah memastikan diri lolos ke babak 16 besar. Namun, di tempat lain, tim raksasa malah belum memastikan lolos ke fase gugur. Bahkan ada tim besar yang tidak lolos ke 16 besar Liga Champions padahal digadang-gadang menjadi perwakilan dari grupnya.
Nah, berikut ini adalah tim-tim besar yang terseok-seok di Liga Champions musim 2023/24. Ada tim kamu nggak, ya?
Daftar Isi
AC Milan
Kejamnya Liga Champions tak pandang bulu. Tak terkecuali bagi tim yang memiliki gelar juara terbanyak kedua. Ya, tim itu adalah AC Milan. Rossoneri yang memenangkan tujuh gelar terseok-seok di Liga Champions musim ini.
Kekalahan kandang atas Dortmund kemarin membuat nasib AC Milan di Liga Champions terkatung-katung. Kekalahan itu pula menjadi pukulan keras yang menghantam Rossoneri. Betapa tidak? Milan kalah telak 3-1 di San Siro.
DIARY DEPRESIKU
— Info Serie A Italia (@Info_SerieA) November 28, 2023
AC MILAN 1-3 DORTMUND
"Dear diary… Grup neraka is real :'( "
(nerakanya buat Milan ajah tapi)
– Giroud gagal gosok voucher (not for everyone emang voucher ini)
– Thiaw hamstring di menit 50an
– Krisis CB, Zinedine Krunic diplot jadi bek
– Krunic jadi pria… pic.twitter.com/d9WIAQWYTl
Akibat kekalahan itu, il Diavolo Rosso masih menghuni posisi juru kunci Grup F. Di “Grup Neraka” ini Milan memiliki poin yang sama dengan Newcastle, yakni lima poin.
Giroud dan kolega masih punya harapan untuk bisa lolos ke babak 16 besar. Pasukan Pioli wajib melewati poin PSG yang sudah memiliki tujuh poin untuk bisa lolos ke 16 besar. Tapi tentu ini tidak mudah. Selain mesti mengalahkan Newcastle di St. James Park, Milan masih bersandar pada laga PSG kontra Dortmund.
Jika ingin lolos ke fase gugur, tidak ada cara selain mengalahkan The Magpies. PSG harus kalah melawan Dortmund di Signal Iduna Park. Andai Les Parisiens sanggup menahan imbang Dortmund dan Milan mengalahkan Newcastle, poin Milan dan PSG akan sama, yakni delapan.
Head to head antara Milan dan PSG akan menentukan. Tapi karena kedua tim saling mengalahkan, maka akan dihitung selisih gol. Milan sejauh ini hanya mengumpulkan selisih gol -4, dan tertinggal dari PSG. Tapi tenang, kalaupun Milan gagal ke 16 besar, masih bisa ke Liga Eropa.
Benfica
Nasib mengenaskan justru dialami oleh juara Liga Portugal musim lalu. Benfica, kandidat kuat yang bakal menemani Inter ke 16 besar dari Grup D justru terseok-seok. Bukan Benfica yang lolos, tapi malah Real Sociedad. Sebagai tim raksasa, pasukan Roger Schmidt justru belum memetik satu pun kemenangan dalam lima laga di Liga Champions musim ini.
Alih-alih menang, As Aguias malah mengoleksi kekalahan. Sudah empat kali mereka kalah di Liga Champions musim. Hasil paling baik yang didapat Benfica adalah menahan imbang La Beneamata di matchday kelima kemarin. Bukannya menjadi tim yang perkasa, Benfica yang diperkuat Otamendi dan Angel Di Maria malah jadi lumbung gol.
Half time. Benfica 3-0 Inter Milan
— CentreGoals. (@centregoals) November 29, 2023
72’. Benfica 3-3 Inter Milan
This is Champions League football 🔥 pic.twitter.com/47f54u4diC
Joao Mario dan kawan-kawan sudah kebobolan 10 gol. Dan mereka hanya mampu mencetak empat gol, tiga di antaranya dicetak saat menahan imbang Inter kemarin. Alhasil kesempatan As Aguias untuk lolos ke 16 besar pun sirna. Tersisa satu laga dan mereka tak akan mampu mengejar poin Inter maupun Real Sociedad.
Pasukan Roger Schmidt hanya bisa berharap tergusur ke Liga Eropa. Tapi itu pun bukan perkara mudah. Syaratnya mereka harus menang minimal dengan selisih dua gol saat menghadapi RB Salzburg di matchday terakhir. Benfica diuntungkan karena sudah mencetak satu gol lebih banyak dari wakil Austria.
Misalkan Benfica menang 2-0 atas Salzburg, mereka akan punya selisih gol 6-10. Sedangkan Salzburg 3-7. Keduanya sama-sama memiliki selisih gol -4. Namun, As Aguias yang akan ke Liga Eropa karena mereka mencetak lebih banyak gol. Tapi mengalahkan wakil Austria tidak mudah. Apalagi Benfica sudah dikalahkan Salzburg di markasnya sendiri.
Sevilla
Banyak yang bilang, Sevilla bermain di Liga Champions hanya untuk lolos ke Liga Eropa dan memenangkannya. Tapi musim ini sepertinya musim yang sulit bagi Sevilla. Selain masih asyik di papan bawah La Liga, Los Palanganas juga belum memungut satu pun kemenangan di fase grup.
Padahal musuh yang dihadapi Sevilla di Grup B tidak sulit-sulit amat. Paling hanya Arsenal. Sayangnya, daripada memperoleh kemenangan, Sevilla justru meraih tiga kali kekalahan beruntun. Dua kali saat bertemu The Gunners, satu kekalahan dari PSV Eindhoven.
PSV 𝙐𝙋𝙎𝙀𝙏 SEVILLA IN INJURY TIME 💡🔄 pic.twitter.com/EX8NbqH1Xg
— 433 (@433) November 29, 2023
Di Grup B, Sevilla hanya meraih dua poin saja. Hasil dari imbang atas RC Lens di laga perdana dan ditahan seri PSV di laga kedua. Supaya bermain di Liga Eropa, pasukan Diego Alonso wajib memetik kemenangan di matchday terakhir kontra RC Lens. Imbang saja, Sevilla gagal ke Liga Eropa karena saat ini masih tertinggal tiga poin dari Lens.
Meski begitu Sevilla diuntungkan. Selain menahan imbang Lens di laga pertama, Sevilla unggul selisih gol. Jumlah gol yang dicetak mereka juga lebih banyak dari RC Lens. Tapi tentu pasukan Franck Haise bukan lawan enteng. Di laga pamungkas nanti Sevilla akan bertindak sebagai tim tamu. Dan satu-satunya kemenangan Lens di Liga Champions musim ini diraih kala menjamu Arsenal, tim terkuat di Grup B.
ARSENAL AKHIRNYA KALAH 🚨
— Box2Box Football (@Box2BoxBola) October 4, 2023
RC Lens berhasil mengalahkan Arsenal dengan skor 2-1 di Stade Bollaert-Delelis. Ini jadi kekalahan Arsenal pertama di musim ini 😳
Hasil ini membuat RC Lens masih belom terkalahkan dalam enam pertandingan UCL mereka 🙌🏻
Next Arsenal ketemu Man City 👀 pic.twitter.com/eVZFi0LmX2
Manchester United
Lho, mana MU-nya? Lah ini. Sengaja ditaruh akhir karena memang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Setan Merah bukan kali ini saja terancam gagal lolos ke 16 besar Liga Champions. Pada musim 2020/21 lalu Manchester United pernah tergusur ke Liga Eropa. Setelah itu mereka bahkan sampai ke final dan nyaris juara.
Kejutannya barangkali karena Manchester United sampai jelang laga terakhir masih saja nyaman di dasar klasemen Grup A. Padahal di sana ada tim seperti FC Copenhagen dan Galatasaray yang secara matematis lebih lemah dari pasukan Erik Ten Hag.
Namun, MU malah hanya bisa nyaris menang menghadapi Galatasaray. Bruno Fernandes CS juga dikalahkan FC Copenhagen di Parken Stadium. Penampilan buruk MU di Liga Champions musim ini bahkan mengancam kesempatan mereka untuk bermain di Liga Eropa.
Sebetulnya peluang MU lolos ke 16 besar terbuka lebar kalau di matchday terakhir musuh yang dihadapi adalah Luton Town. Malangnya United harus menghadapi Bayern Munchen. Ya, Bayern Munchen. Memang, MU yang akan bertindak tuan rumah. Tapi kan, mereka saja dikalahkan Galatasaray di Old Trafford.
Menang melawan Munchen pun MU harus menunggu hasil laga Copenhagen vs Galatasaray. Jika ada kemenangan di laga tersebut, harapan MU ke 16 besar pupus. Tapi mereka bisa ke Liga Eropa asalkan Galatasaray menang di matchday terakhir. Namun, dengan catatan MU menang lewat defisit dua gol atas Die Roten.
Katakanlah misalnya, United menang 2-0 atas Bayern Munchen. Maka selisih gol mereka 0, karena mencetak 14 gol dan kebobolan 14 gol. Sementara di tempat lain, Copenhagen kalah 1-0 saja dari Galatasaray, maka selisih gol mereka -2, hasil dari kebobolan 9 gol dan mencetak 7 gol.
Tapi apa mau Copenhagen menyerah begitu saja di markasnya sendiri nanti? Mau tidak mau, MU mesti menang, itu saja dulu. Tapi sebentar, apa Munchen mau menodai rentetan unbeaten mereka di Grup A Liga Champions musim ini?
Darmanto Simaepa dalam bukunya Tamasya Bola pernah menulis, bahwa tim yang baik adalah tim yang kalah saat perlu kalah dan menang saat butuh kemenangan. Dan Manchester United di Liga Champions musim ini jelas sekali bukan tim yang semacam itu.
Sumber: AS, Goal, SportingNews, TribunaExpresso, AS, ESPN


