Arsenal kembali meraih poin penuh usai menuntaskan perlawanan Tottenham Hotspur di kandang sendiri. Pasukan Mikel Arteta berhasil melumat anak buah Antonio Conte 3-1. Skor yang sangat mencolok untuk pertandingan sekelas derby, meski hal serupa juga terjadi di Kota Manchester.
Tiga gol Arsenal dicetak oleh Thomas Partey, Gabriel Jesus, dan Granit Xhaka. Sementara gol semata wayang Tottenham berasal dari tendangan penalti Harry Kane. Dengan kemenangan itu Arsenal tertahan di puncak klasemen dan harus rela kedinginan karena nggak tahu caranya turun.
Daftar Isi
Catatan Mulus di Awal Musim
Belakangan ini The Gunners tampil beringas di Liga Primer Inggris. Pasukan Arteta sampai gameweek kedelapan berhasil mengumpulkan 21 poin. Hasil dari 7 kali menang dan hanya sekali kalah. Poin mereka bahkan unggul dari Manchester City yang belum terkalahkan.
Ini sekaligus menjadi catatan mulus The Gunners di awal musim. Setidaknya Arteta berhasil membawa Arsenal memuncaki klasemen bahkan sampai gameweek kedelapan. Tidak hanya itu, Arsenal sangat produktif dalam mencetak gol di awal musim ini.
The Gunners sudah mencetak 20 gol di Premier League sejauh ini. Arsenal juga baru kebobolan 8 gol saja. Ini adalah awal musim yang baik bagi Arsenal, jika dibandingkan musim lalu. Musim lalu, pada pertandingan pertama saja, The Gunners sudah kalah dari Brentford.
Arteta Menuntut Pemain Arsenal Menguasai Bola
Dari gaya permainan, Arsenal musim ini ada sedikit perubahan. Sang manajer, Mikel Arteta menuntut pemainnya untuk bisa menguasai bola. Bagi Arteta, penguasaan bola yang utama. Lihat saja bagaimana The Gunners unggul penguasaan bola ketika menghadapi Tottenham Hotspur.
Anak asuh Mikel Arteta pada pertandingan Derby London Utara kemarin, melakukan 65% penguasaan bola. Sementara Tottenham Hotspur hanya 35%. Tidak hanya itu, dalam catatan Fbref, Arsenal setidaknya melakukan rata-rata penguasaan bola 59% per pertandingan di Premier League sejauh ini.
Dari delapan gameweek, Arsenal juga sudah mengemas 5403 sentuhan. Rata-rata dribel pemain Arsenal juga sangat bagus. Dari delapan pertandingan di Liga Inggris rata-rata dribel mereka mencapai 67,2% per pertandingan. Jadi apa yang membuat Arsenal begitu kuat dalam penguasaan bola?
Arteta Tuntut Pemainnya Lakukan “300 Ribu Operan”
Ada metode khusus yang dipraktikkan Arteta agar pemainnya cakap dalam menguasai bola. Dalam sebuah laporan The Athletic, Mikel Arteta merasa tidak puas ketika berhasil mengalahkan Watford pada Bulan Maret 2022. Meski menang 3-2, Arteta tidak suka dengan cara pemainnya mengontrol permainan.
Ia pun menuntut pemainnya untuk bisa melakukan “300 Ribu Operan”. Meski hal itu terkesan dilebih-lebiihkan. Tapi pada prinsipnya, Arteta menuntut para pemainnya melakukan operan secara bertahap dari bawah.
Hal ini sekaligus untuk menarik pemain lawan. Selain menahan serangan, cara melakukan operan di area pertahanan sendiri juga bisa menciptakan celah. Gaya bermain seperti ini sebenarnya sudah terlihat sejak musim lalu. Namun, musim ini gaya itu makin matang. Seperti ketika menghajar Brentford 3-0.
Peluang pertama mereka terjadi pada 24 operan di menit kedua. Para pemain Arsenal berhasil menarik Brentford untuk keluar dari sarangnya, dan menciptakan ruang di sisi yang berlawanan. Namun sayang peluang itu gagal dimanfaatkan Gabriel Martinelli.
Fokus pada Kebugaran
Selain berfokus pada penguasaan bola, metode latihan Arteta juga berfokus pada kebugaran para pemainnya. Arteta sudah meninggalkan cara Unai Emery untuk melakukan gym di luar ruangan. Sebagai gantinya, Arteta melakukan kelas yoga reguler.
Tidak hanya itu, ketika lama tidak berlatih, atau dalam kondisi sedang pandemi seperti kemarin, Arteta memilih untuk mengirimkan alat fitnes ke rumah pemain. Memantaunya menggunakan GPS.
Arteta melakukannya agar para pemainnya tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tapi juga fisik yang memadai. Hal itu ia pelajari ketika menjadi staf kepelatihan Pep Guardiola di Manchester City. Bahwa fokus latihan adalah penguasaan bola yang terarah, tapi untuk bisa mempertahankan bola dalam keadaan tertentu butuh kebugaran.
Menggunakan Bola Tenis
Ada pula metode latihan unik yang diterapkan Mikel Arteta. Saat timnya berlibur di Dubai, Arteta menerapkan latihan yang tak biasa. Para pemain berlari dari satu ujung lapangan ke ujung lapangan yang lainnya sembari dilempari bola tenis.
Tidak jelas tujuan latihan ini, apakah untuk menjaga fokus, meningkatkan fisik, atau sekadar untuk bersenang-senang. Akan tetapi, para pemain tampak menikmati sesi latihan tersebut. Mereka tampak santai karena hubungan Aubameyang dan Arteta yang konon toksik sudah berakhir.
Meski metode latihan itu membuat bingung para pendukung Arsenal. Arteta dipertanyakan soal manajerialnya. Apalagi metode latihan tersebut terjadi pada musim lalu, dan kita tahu sendiri bagaimana Arsenal di musim lalu. Well, tampaknya metode-metode yang diterapkan Arteta ini baru berbuah di musim ini.
Menghukum Pemainnya
Dalam metode latihannya, Arteta juga tak jarang menghukum para pemainnya. Gabriel Magalhaes pernah mendapat hukuman dari Arteta. Pria Brazil itu kalah dalam sebuah latihan di tempat latihan Arsenal, London Colney.
Arteta menantang para pemainnya untuk balapan melakukan keepy-uppy. Para pemain dituntut mempertahankan bola dan tidak boleh terkena tanah sampai garis finis. Ketika itu Gabriel Magalhaes gagal. Ia tertinggal dari teman-temannya. Arteta pun menghukum sang pemain dengan memintanya membawakan sarapan pada sesi latihan berikutnya.
Membuat Pemain Frustrasi
Dilaporkan Mirror, metode latihan Arteta ini tampaknya tidak sepenuhnya disukai para pemain. Tidak sedikit pemain yang justru mengalami frustrasi dengan metode latihan Arteta. Sejumlah bintang Arsenal menjelaskan bagaimana rasanya berlatih di bawah Mikel Arteta.
Bek tengah Arsenal, Rob Holding misalnya. Ia menyebut metode latihan Arteta sangatlah intens. Sementara itu, Matt Turner mengatakan bahwa permainan Arsenal adalah penguasaan bola kecil dan benar-benar ketat. “Saya mencoba untuk mengoper dan saya memberikan bola,” kata Matt Turner.
Secara visual, Matt Turner sendiri merasa kesal. Karena Arteta hanya datang menghampiri dan mendorong Turner ketika ia kehilangan bola. Arteta terus berkali-kali mendorong pemainnya giat berlatih.
“Ia (Arteta) seperti ingin mengatakan ‘Saya tidak ingin melihat itu. Saya tidak suka melihat reaksi itu. Saya ingin melihat anda bangkit dan terus maju,” kata Matt Turner dikutip Mirror.
Apa pun itu, yang jelas Arteta hanya ingin para pemainnya bermain dengan percaya diri dan positif, daripada menyalahkan diri sendiri. Bagaimanapun sulit untuk membantah bahwa metode latihan inilah yang membuat The Gunners seperti sekarang.
Dipuji Mantan Pemain Arsenal
Arteta telah menciptakan tak sedikit perubahan di tubuh Arsenal. Perubahan itu bahkan mengarah ke hal yang positif. Nah, maka wajar saja kalau gaya manajemen Arteta ini juga dipuji oleh mantan bek Arsenal, Bacary Sagna.
Sagna mengatakan, di bawah gaya manajemen Arteta telah membuat perbedaan bagi nasib klub. Arsenal di tangan Arteta memang memulai musim dengan cara yang manis. Setelah menjuarai Piala FA di masa awal melatih, Sagna berharap bahwa Arteta bisa membawa Arsenal kembali ke kejayaannya dulu.
Salah satu yang dipuji Sagna adalah Arteta mampu membuat anak asuhnya percaya. Entah mereka yang masuk line up maupun yang berada di bangku cadangan. “Dia (Arteta) akan membuat koneksi dengan para pemainnya, sehingga mereka akan terus berjuang,” kata Sagna.
Pertanyaannya, apakah ini adalah waktunya Arsenal kembali berjaya? Mungkin, tapi jika berjaya yang dimaksud adalah juara Liga Primer Inggris, sebaiknya jangan terlalu bermimpi dulu.
https://youtu.be/k3e3N0KwcNs
Sumber: ArsenalInsider, CaughtOffside, TheAthletic, FootballLondon, Mirror, Arsedevils


