Jika ada nominasi tim mana yang paling menarik perhatian musim ini, mungkin Brighton lah yang akan memenangkannya. The Seagulls tampil memukau di Liga Inggris musim 2022/23. Selain berambisi menembus zona Liga Champions, Brighton juga mencapai babak semifinal Piala FA.
Skuad racikan Roberto de Zerbi sering menumbangkan klub-klub Big Six Liga Inggris macam Chelsea, Liverpool, Manchester United, bahkan Arsenal. Padahal Brighton bukan tim yang berisikan pemain-pemain bintang. Namun, di situlah kekuatan sebenarnya dari Brighton.
The Seagulls mampu menampilkan performa konsisten meski hanya berisikan pemain-pemain muda dan tak terkenal macam Deniz Undav dan Julio Enciso. Kalian pasti bingung ini pemain datang dari mana? Namanya aja lebih mirip nama seniman daripada pemain sepakbola. Nah, penasaran kan, bagaimana Brighton mendapatkan pemain-pemain antah berantah tapi gacor ini? Berikut rahasia di balik sistem perekrutan pemain Brighton.
Daftar Isi
Lagi-lagi Tony Bloom
Salah satu sosok yang paling berperan dalam berkembangnya Brighton menjadi klub yang hebat seperti sekarang adalah sang presiden yakni, Tony Bloom. Lagi-lagi, meski berstatus sebagai presiden klub, Bloom tak cuma duduk manis dan menguras keuntungan seperti bos-bos klub yang onoh. Ia justru terjun langsung dalam sistem dan pengembangan klub.
Salah satunya ya di sistem perekrutan pemain. Bloom jadi otak di balik suksesnya Brighton mendapatkan pemain-pemain berbakat macam Kaoru Mitoma, Tariq Lamptey, hingga Pervis Estupinan. Pria 53 tahun itu kabarnya mempunyai software khusus yang akan membantu Sam Jewell selaku kepala tim scouting Brighton dalam mencari talenta-talenta berbakat dari berbagai negara di dunia.
Namun, software macam apa yang dipakai oleh Brighton? Untuk bagaimana sistem kerja dan algoritma dari software tersebut belum pernah diungkap Bloom ke publik. Bahkan beberapa staf pun tak tahu dengan cara kerjanya. Mereka hanya mendapat daftar nama yang akan dipantau. Menurut beberapa sumber, cara kerja software tersebut cukup sederhana.
Sistem akan membantu tim scouting dalam memilih mana pemain yang cocok untuk Brighton. Saat nama seorang pemain muncul, sistem akan memunculkan semacam indikator lampu sebagai penilaian. Lampu hijau untuk menandakan pemain tersebut sangat cocok dengan filosofi klub, lampu kuning menandakan pemain itu hampir memenuhi kriteria, dan akan menyala merah apabila pemain tersebut membutuhkan monitoring lebih lanjut.
Strategi Jitu
Jika muncul pertanyaan, apakah klub-klub lain bisa melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Brighton selama ini? Tentu bisa, tapi tak akan semaksimal Brighton. Klub-klub besar dan kaya pasti dengan mudah memperlebar jangkauan scouting mereka ke negara-negara manapun yang mereka mau. Tapi Brighton sedikit cerdik di poin ini.
Mereka memilih negara-negara yang kurang diminati oleh klub-klub pesaingnya, terutama klub-klub Liga Inggris. Tim Scouting Brighton memilih negara-negara macam Ekuador, Republik Irlandia, Paraguay atau bahkan negara-negara di Asia. Pemain muda yang masih mentah dari negara-negara tersebut jarang dipantau oleh klub-klub pesaing Brighton.
Klub-klub besar juga bisa menemukan talenta muda yang kualitasnya sama, tapi mereka tak bisa menjamin menit bermain yang cukup layaknya Brighton. Coba bayangkan, apabila bakat Alexis Mac Allister yang dulu bermain di Argentinos Jr ditemukan oleh Manchester City? Pasti tak akan mendapat kesempatan bermain dan bakatnya pun lenyap begitu saja. Ia mungkin tak akan pernah membantu Lionel Messi menjuarai Piala Dunia 2022.
Tak Cuma Pemain Muda
Sistem pencarian pemain ini tak hanya berlaku pada pemain-pemain muda. Suatu kesebelasan juga butuh pemain senior untuk membimbing para pemain-pemain muda. Nah, di sini, Brighton juga menggunakan sistem yang sama untuk mencari pemain-pemain senior yang kualitasnya masih oke, tapi dengan harga yang murah. Ya, bisa dibilang Brighton mendaur ulang pemain yang sudah tak terpakai.
Contoh yang mungkin paling mencolok adalah keberadaan Danny Welbeck. Didatangkan secara gratis dari Watford pada tahun 2020, Welbeck dianggap masih memiliki value di mata manajemen Brighton. Hasilnya, walau cuma mencetak tiga gol di Watford, performanya di Brighton justru menjadi lebih baik.
Dalam tiga musim terakhir, Welbeck konsisten mencetak lebih dari lima gol liga per musimnya. Itu jadi catatan terbaik yang pernah ia capai semenjak hengkang dari Manchester United tahun 2014 silam.
Cara Pengembangan
Setelah bakat ditemukan, lalu pemainnya mau digimanain? Apa langsung masuk skuad inti? Tentu tidak, Brighton biasanya akan memasukan pemain tersebut ke tim muda dulu atau dipinjamkan ke tim lain. Cara-cara seperti ini umum dilakukan oleh klub-klub lain.
Setelah tim scouting Brighton menemukan bakat Robert Sanchez di Spanyol, mereka memasukan sang pemain di tim muda terlebih dahulu sebelum akhirnya menembus skuad utama di musim 2020/21. Hal serupa juga terjadi pada Enciso. Ditemukan di klub lokal Paraguay, Libertad, ia dipoles sedemikian rupa di tim muda sebelum akhirnya ia debut di tim utama saat masih berusia 19 tahun.
Selain itu, Brighton juga mempunyai hubungan baik dengan beberapa klub Belgia. Salah satunya adalah Union Saint-Gailose karena Tony Bloom juga berstatus sebagai pemilik klub tersebut. Kaoru Mitoma dan Deniz Undav jadi contoh pemain-pemain Brighton yang pernah dititipkan ke klub kasta tertinggi Liga Belgia itu.
Setelah dipinjamkan selama satu musim, mereka akan mendapat kesempatan bermain di skuad utama Brighton, karena setiap tahunnya klub juga melepas beberapa pemain yang sudah matang ke klub-klub top Eropa.
Mitoma misalnya. Ketika didatangkan dari Kawasaki Frontale pada tahun 2021, ia dipinjamkan ke Saint-Gilloise terlebih dahulu selama satu musim penuh sebelum akhirnya menambal lubang yang ditinggalkan oleh Leandro Trossard yang bergabung ke Arsenal Januari kemarin.
Bisa Dapat Untung Besar
Fokus dari sistem pengembangan pemain ini bukan hanya soal menciptakan pemain yang bisa nyetel dengan skema permainan. Melainkan juga bisnis yang menguntungkan. Apabila performa pemain-pemain yang sudah dipoles menarik perhatian klub-klub besar, maka Brighton bisa mengambil keuntungan dari situ.
Penjualan Marc Cucurella ke Chelsea dan Ben White ke Arsenal bisa jadi contoh bisnis cerdas yang dimainkan oleh Brighton. Mereka untung 58 juta euro saat menjual Ben White ke Arsenal tahun 2021 kemarin. Sebab bek asal Inggris itu merupakan produk asli akademi Brighton. Jadi, klub tak mengeluarkan uang sepeser pun saat mendatangkan White.
Bergabungnya Cucurella ke Chelsea yang menghabiskan dana 65 juta euro (Rp1 triliun) pada awal musim juga jadi penjualan termahal dalam sejarah klub. Tak sampai di situ, musim panas nanti rencananya Brighton hanya akan melepas Moises Caicedo apabila menerima tawaran di atas 70 juta pound. Itu setara dengan Rp1,2 triliun. Dari keuntungan tersebut mereka bisa mendatangkan pemain-pemain potensial lagi.
Nggak Selamanya Berhasil
Nah apakah dalam skema perekrutan yang unik ini, Brighton pernah dapat pemain yang zonk? Tentu pernah. Sebutlah misalnya, Alireza Jahanbakhsh, Jurgen Locadia hingga yang terbaru Billy Gilmour adalah contoh pemain yang dirasa merugikan bagi klub. Entah secara materi atau performa yang jauh di bawah standar.
Namun, itu wajar-wajar saja. Banyak faktor yang mempengaruhi performa pemain di suatu klub. Dan beberapa pemain yang didatangkan Brighton juga mengalami kendala dalam mencapai potensi maksimalnya di Falmer Stadium.
Sumber: The Athletic, Mirror, MEN, Forbes, We are Brighton


