“Enak aja mundur!”.Kata-kata inilah yang mungkin masih terngiang di ingatan netizen akhir-akhir ini, menyusul polemik desakan mundurnya para jajaran PSSI. Kata-kata itu mungkin nyambung dengan apa yang terjadi di sepakbola Eropa sekarang.
Beberapa pelatih yang sudah lama menukangi sebuah tim di Eropa, mungkin juga harus segera mengakhiri rezimnya. Tatkala dianggap sudah habis waktu keemasannya. Berikut beberapa pelatih yang sudah seharusnya sukarela angkat kaki meninggalkan klubnya.
Daftar Isi
Jurgen Klopp (Liverpool) Sejak 2015
Yang pertama yakni Jurgen Klopp. Terkejut mendengar nama ini? Namun bagaimana lagi, sepertinya ia tak kuasa menahan peliknya masalah Liverpool musim ini. Deretan melempemnya performa The Reds musim ini tentu menjadi tanggung jawabnya.
Jurgen Klopp when asked if he’s worried about getting the sack like Tuchel at Chelsea: “Not really, this is not the case”. 🔴 #LFC
“Our owners are rather calm and expect me to sort the situation and not think someone else will”, Klopp says via @JamesPearceLFC. pic.twitter.com/6I03C3GbE0
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) September 7, 2022
Beberapa pemain pilar kini tak kunjung perform. Ditambah badai cedera pemain, membuat Liverpool kini terpuruk di papan tengah klasemen Liga Inggris.
Kondisi yang ada mungkin semakin menegaskan soal kutukan musim ke-7 bagi Klopp di setiap tim yang ditanganinya. Kita tahu dirinya di Mainz dan Dortmund lengser pada musim ketujuhnya setelah performa timnya jeblok.
Sudah sejak 2015 Klopp datang ke Anfield dan mengubah segalanya. Tujuh tahun gelar demi gelar sudah ia persembahkan. Nama Liverpool pun kembali terangkat berkat polesan tangan dinginnya.
Setiap era pasti ada batasan waktunya. Semua jasa Klopp sudah lebih dari cukup bagi The Reds. Alangkah baiknya penyegaran mulai dilakukan. Bagi publik Anfield, bayang-bayang ketergantungan pada Klopp lambat laun sudah harus mulai dikikis.
Brendan Rodgers (Leicester City) Sejak 2019
Yang kedua adalah pelatih Leicester City, Brendan Rodgers. Kalau Rodgers ini beda nasib. Ia musim ini terpuruk bersama Leicester di dasar klasemen Liga Inggris. Namun, bedanya ia tak diberikan pemain yang cukup untuk mengarungi musim ini oleh manajemen. Leicester justru melepas beberapa pilarnya karena alasan krisis.
Could Brendan Rodgers’ Job Come Down to the Next Three Matches? #LCFC #Foxes #LeicesterCity #LEI https://t.co/kYspESdgBu
— Leicester City Fans (@FoxesNews) October 11, 2022
Sepak terjang Rodgers di Leicester sebenarnya tak buruk-buruk amat di beberapa musim terakhir. Masuk menggantikan Claude Puel di Februari 2019. Rodgers pelan-pelan membangun rezimnya di Leicester.
Sang pemilik asal Thailand pun percaya akan tangan dinginnya mengubah Leicester menjelma menjadi klub yang kembali kompetitif. Seperti ketika mereka meraih juara Liga Inggris musim 2015/16.
Hal itu sudah terwujud ketika Rodgers membawa The Foxes meraih trophy Piala FA musim 2020/21 dan Community Shield 2021/22. Leicester juga dibawa Rodgers melangkah ke Europa League dua kali berturut. Sedangkan musim lalu, meskipun hanya masuk di Conference League, The Foxes mampu melangkah ke babak semifinal.
Setelah tiga tahun, mungkin kini sudah saatnya bagi Rodgers untuk mengakhiri rezimnya. Dengan kondisi pemain yang seadanya, keterpurukan performa pun tak terhindarkan. Alangkah baiknya era Rodgers harus disudahi meskipun pahit adanya.
Ralph Hasenhüttl (Southampton) Sejak 2018
Yang ketiga ada pelatih Southampton Ralph Hasenhuttl. Pelatih ini sudah hampir 4 tahun ada di St Mary Stadium. Ia menggantikan Mark Hughes pada Desember 2018. Gaya progresifnya dalam melatih pun sudah membuat warna tersendiri bagi Soton. Meskipun tak juga terlalu superior.
Kita tahu Soton ini rohnya adalah tim semenjana yang targetnya juga tak muluk-muluk tiap musimnya. Sering kali branding tim ini hanya mengorbitkan para pemain muda potensial dan dijual dengan harga tinggi. Namun di bawah Hasenhuttl musim ini Soton justru terus menurun. Mereka kini masih terseok di papan bawah klasemen Liga Inggris.
🚨 Ralph’s time at Southampton is coming to a close with the club considering the timing of the Austrian coach’s departure & a new manager imminent#saintsfc
[Telegraph] pic.twitter.com/OefwShEKZv— Southampton FC Updates (@TheSaintCentre) October 5, 2022
Di bawah pemilik Dragan Solak lewat bendera Sports Republic sejak awal tahun 2022 lalu, mungkin pelatih ini harus segera dievaluasi. Kalau begini terus keadaannya, Hasenhuttl harusnya sadar untuk segera mengakhiri rezimnya.
David Moyes (West Ham) Dua Periode
Yang keempat ada David Moyes di West Ham. Moyes sudah dua periode di West Ham. Ia berada di The Hammers pertama kali menggantikan Slaven Bilic pada November 2017. Di periode keduanya ia menggantikan Pellegrini pada Desember 2019.
Di periode kedua, hasilnya bak dewa penyelamat bagi publik West Ham. Performa West Ham di bawah tangan dinginnya pun perlahan lebih baik. West Ham diantarkannya dua kali finish di zona Eropa. Bahkan musim lalu ia membawa West Ham sampai semifinal Europa League.
Nah musim ini bisa jadi klimaksnya. Di bawah pemilik asal Ceko, Daniel Kretinsky ia disuntikan dana lebih untuk belanja pemain. Namun hasilnya sampai sekarang belum terbukti.
“There was very little between our positions in the league.”
David Moyes ‘extremely relieved’ with West Ham’s win over Wolves after seeing Bruno Lage sacked.
✍️ @MalikOuzia_https://t.co/N4Si9ijqp8
— Standard Sport (@standardsport) October 5, 2022
Kejenuhan akan Moyes pun kini mulai terdengar di publik West Ham. Dua periode mungkin sudah cukup bagi Moyes menjadi dewa penyelamat West Ham. Era baru penyegaran dengan materi pemain serta pelatih yang baru mungkin menjadi solusi.
Massimiliano Allegri (Juventus) Dua Periode
Yang keempat ada pelatih Juventus, Massimiliano Allegri. Pelatih ini juga rezimnya sudah dua periode di Turin. Rezim yang pertama bisa dikatakan berhasil, sampai membawa Si Nyonya Tua masuk dua kali final Liga Champions. Namun, di periode keduanya, kelihatan era Allegri ini sudah habis.
Massimiliano Allegri: “I’m not gonna step down, absolutely — because it’s a challenge now. When it gets harder, it’s even more beautiful”, tells Sky Sport. 🚨⚪️⚫️ #Juventus
Juventus president Agnelli has also confirmed Allegri as head coach, he won’t be fired. pic.twitter.com/OlbQqmgWM2
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) October 11, 2022
Juve kini terpuruk performanya baik di Serie A maupun Liga Champions. Tak hanya musim ini performa Juve dalam sorotan. Sejak dipegang rezim Allegri musim lalu, Juve seperti jalan di tempat. Tak ada lagi trofi yang diangkat La Vecchia Signora.
Namun susahnya, Allegri ini tak mau disalahkan. ia malah santai dan berdalih akan terus memperbaiki performa. Ia pun kini tak luput dari kerasnya desakan untuk mundur dari sebagian besar publik Turin.
Kendati begitu, kenyataannya Agnelli masih menaruh kepercayaan kepada Allegri. Meski tidak tahu juga, apakah itu kepercayaan atau karena Juventus ogah rugi saja. Karena untuk memecat Allegri di saat-saat seperti ini, Juventus harus mengeluarkan uang pesangon yang cukup tinggi.
Di sisi lain, jika rezim Allegri terus berlanjut, Juventus belum tentu bisa pulih. Tim sudah tak terkontrol. Penampilan Juventus kian bapuk. Jadi, mau tidak mau, Juventus sudah seharusnya mengakhiri kerja sama dengan Allegri. Keluar duit tidak masalah, daripada tim kian memburuk, ya kan?
Diego Simeone (Atletico Madrid) Sejak 2012
Yang kelima ada El Cholo, Diego Simeone. Pelatih Atletico ini sudah sangat lama menangani Los Colchoneros. Sejak musim 2012/13 ia mendarat di Wanda Metropolitano. Bersama rezimnya, ia mengubah Atletico secara drastis.
🎙️ Simeone
❝We need to give our maximum on the pitch and we need the fans, because they are an important part of this club❞. pic.twitter.com/FkI9BsaK4T
— Atlético de Madrid (@atletienglish) October 11, 2022
Atletico dibuatnya menjadi tim papan atas La Liga bahkan Eropa. Atletico bahkan menyandang predikat sebagai pengusik gelar La Liga bagi Madrid dan Barca. Di pentas Eropa, Atletico pun dibawanya dua kali masuk final Liga Champions. Di Europa League, ia juga pernah meraih mahkota.
Namun 10 tahun sudah berlalu. Beberapa musim terakhirnya, Simeone dianggap sudah tak perform lagi seperti dulu. Musim lalu dan musim ini menjadi klimaksnya. Meskipun masih berada di 4 besar, predikat sebagai pengusik Barca dan Madrid pun perlahan mulai pudar. Di pentas Eropa pun sama. Mereka sudah tak lagi perkasa sampai partai puncak.
Mungkin kini sudah saatnya, El Cholo untuk say goodbye kepada publik Atletico. Atletico butuh memulai rezim yang baru untuk melepas kepenatan akan performa Simeone yang makin menurun. Rezim Simeone bagaimanapun sampai nanti tetap akan dikenang menjadi catatan sejarah manis bagi klub asal Kota Madrid itu.
Sumber Referensi : theguardian, eurosport, talksport, keepup


