Persepakbolaan di tanah air tak bisa luput dari bisnis dan politik. Bahkan beberapa klub di Indonesia kini banyak dimiliki oleh kalangan konglomerat, politisi, maupun publik figur.
Tak heran jika sepakbola di era industri seperti sekarang ini telah dijadikan alat untuk meraih beberapa pundi-pundi rupiah bagi mereka. Berikut beberapa taipan, yang lewat perusahaan bisnisnya mampu menguasai beberapa klub sepakbola di Indonesia
Daftar Isi
Jawa Pos Group (Persebaya)
Baru-baru ini tersiar kabar heboh seantero Surabaya terkait mundurnya sang CEO klub Persebaya Surabaya, Azrul Ananda. Seperti diketahui Persebaya ini sahamnya 70% dimiliki oleh PT Jawa Pos Sportstainment yang dipegang Azrul Ananda.
Azrul Ananda ini juga bukan orang sembarangan. Ia adalah anak dari mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan yang juga pernah menjabat sebagai direktur di PT Jawa Pos. Lewat bendera PT Persebaya Indonesia, sejak 2017 Persebaya dimiliki oleh Jawa Pos Group.
Raksasa Media Jawa Pos Beli 70% Saham Persebaya https://t.co/0o5twzsVqC pic.twitter.com/Xqnw7Omp1x
— Oto Batavia (@BataviaOto) February 8, 2017
Namun kini, sang pemilik Azrul telah melepasnya. Meskipun mendapat banyak penolakan dan isu-isu seputar pengunduran dirinya, Azrul tampaknya akan tetap bertanggung jawab menyelesaikan urusan administrasi pelepasan dirinya sampai selesai.
Kini Persebaya di bawah PT Persebaya Indonesia masih mempunyai pemegang saham 30% atas nama Koperasi Surya Abadi Persebaya (KSAP). Bagaimanapun semua perubahan akan terlihat jelas pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 2023 nanti.
Pasca memberikan pernyataan akan mundur sebagai CEO atau Presiden Persebaya pada Jumat lalu, beredar informasi Azrul Ananda akan menyerahkan surat pengunduran diri, hari Senin kemarin. https://t.co/ns6OyEyJew pic.twitter.com/FkIrJKB7tD
— CNN Indonesia Daily (@CNNIDdaily) September 20, 2022
Bakrie Group (Persija)
Berikutnya yakni kepemilikan klub ibu kota, Persija Jakarta. Ya, Macan Kemayoran kepemilikannya dikuasai oleh Bakrie Group. Pemilik saham terbesar dipegang oleh Nirwan Bakrie. Sejak belasan tahun lalu, Nirwan dan kolega tak asing lagi menjadi konglomerat paling konsisten yang berkecimpung di bisnis sepakbola.
Mulanya kehadiran Bakrie Group ke Persija tak banyak terendus. Mereka menyembunyikan kepemilikan lewat perusahaan bernama PT Jakarta Indonesia Hebat (JIH) yang memegang 95 persen lebih saham PT Persija Jaya Jakarta. Dalam strukturnya, saham mayoritas JIH dipegang oleh eks Wakil Ketua Umum PSSI yang sempat dipenjara, Joko Driyono.
Gelontoran dana bagi Persija selama dua tahun terakhir bukan dari dompet Jokdri, pemilik Persija.
“Ada malaikat turun, kasih duit.”
Dan pada kompetisi musim ini, “malaikat” itu tampaknya tak malu-malu lagi muncul mengelola Persija. https://t.co/vfPerKJ46J
— tirtoid (@TirtoID) February 11, 2019
Mencuatnya kubu Bakrie di Persija, baru tampak dalam sebuah wawancara Joko Driyono yang mengakui bahwa bukan dirinya yang mendanai JIH. Nah, barulah setelah Persija menjuarai Liga 1 2018, barulah lingkaran Bakrie tampak terang-terangan muncul ke publik. Beberapa nama kepercayaan Nirwan yang masuk dalam jajaran direksi Persija pun terpublikasi.
Di antaranya adalah Direktur PT Bakrie Pangripta Loka, Andre Rizki Makalam dan Presiden Direktur PT Bakrie Pesona Rasuna, Fandrizal Rabain. Sedangkan di struktur komisaris Persija pun, ada nama-nama yang terafiliasi dengan Bakrie Group di antaranya yakni politikus Golkar, eks Menteri KKP era SBY, Sharif Cicip Sutardjo dan masih banyak lagi.
Nirwan Bakrie & Glenn Sugita adalah orang lama dan baru yang menyuntik modal bagi klub-klub sepakbola Indonesia.https://t.co/Fm9uNxWDG6
— tirtoid (@TirtoID) March 7, 2018
Northstar Group, Salim Group dan Keluarga Tanuri (Persib Bandung dan Bali United)
Berikutnya yang juga tak kalah kakap, kepemilikan Bali United dan Persib Bandung. Dua-duanya kebetulan saling terikat oleh perusahaan Northstar Group. Sebuah perusahaan privat equity yang berbasis di Singapura yang didirikan oleh Patrick Walujo dan Glenn Timothy Sugita.
Dibawah naungan Northstar Group, Patrick Walujo membenamkan uangnya untuk berinvestasi di saham perusahan nasional dan internasional. 4 perusahaan northstar yg sering kita jumpai misalnya:
1. Indomaret
2. BUMA
3. Bank BTPN
4. Gojek pic.twitter.com/iDhGbyp5Di— Yasin Ramadhani (@yasinramadhani) August 5, 2021
Glenn Sugita salah satu founder Northstar, telah lebih dulu menancapkan investasinya di Maung Bandung sejak tahun 2009. Hingga saat ini Glenn merupakan pemegang saham terbesar sekaligus Direktur Utama PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), entitas yang menaungi Persib Bandung.
Intip Kekayaan Glenn Sugita Bos Persib Bandung yang Berharta Rp27,9 Triliun #InfoSepakbola #Sepakbola https://t.co/zTw4O5VgMj pic.twitter.com/bIlLaX5Nef
— Info Soccer Mania (@isoccermania) September 15, 2022
Selain Persib, Bali United juga ternyata terikat dengan perusahaan Northstar. Afiliasi Bali United dengan Northstar salah satunya tampak dari kepemilikan saham 5,25 persen atas nama Ayu Patricia Rachmat. Ayu merupakan anak kandung miliarder Theodore Permadi Rachmat sekaligus istri Patrick Walujo, founder Northstar.
Investasi Istri Pendiri Northstar Group Patrick Walujo di Bali United (BOLA) Melambung https://t.co/JXalDgtBot
— Trenasia (@trenasia_com) August 31, 2021
Namun Bali United ini sering dikenal publik kepemilikannya oleh Tanuri Group dan Salim Group. Ya memang benar, keduanya adalah pemegang saham terbesar Bali United lewat PT Bali Bintang Sejahtera Tbk.
Resmi berdiri sebagai entitas baru sejak 2015, Bali United di tangan Pieter dan Yabes Tanuri menjelma jadi kekuatan baru di Indonesia. Bahkan menjadi tim sepak bola pertama di Indonesia yang melantai di bursa efek.
Bosowa Group (PSM Makassar)
Kemudian ada Bosowa Group. Sebuah kelompok konglomerat yang merajai bisnis semen di Sulawesi. Sejak 2015, salah satu entitas Bosowa, yakni Bosowa Sport Indonesia, menjadi pemegang saham mayoritas PT Pagolona Sulawesi Mandiri, perusahaan yang mengelola klub PSM Makassar.
Dirgahayu ke 48 tahun Bosowa Group❤️
Membangun Impian dan kekuatan baru di tengah pandemi, tetap berdiri keras dan kuat untuk Indonesia.#EwakoPSM #Bosowa pic.twitter.com/4tOWiWuqs9
— PSM Makassar (@PSM_Makassar) February 22, 2021
Seiring berjalannya waktu, pasca kehadiran Bosowa Sport, jajaran direksi PSM juga semakin lekat dengan nama-nama di lingkaran Grup Bosowa. Sadikin Aksa misalnya, anak dari Aksa Mahmud, bos Bosowa Group. Sadikin Aksa ini juga merupakan keponakan dari mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Official Bus PSM Makassar by Kalla Group
CEO PT Hadji Kalla, Bapak Hariyadi Kaimuddin bersama bapak Sadikin Aksa, Bapak Munafri Arifuddin secara resmi melepas Pasukan Ramang ke Parepare untuk melawan Persib.#EwakoPSM pic.twitter.com/ZiD7au4s9S
— PSM Makassar (@PSM_Makassar) August 28, 2022
Sadikin Aksa turun gunung langsung dan mengemban jabatan sebagai komisaris utama PSM. Sedangkan adik ipar Sadikin Aksa, Munafri Arifuddin, yang kalah dalam kontestasi Pilkada Makassar yang lalu, sampai saat ini masih menjabat sebagai CEO PSM.
Hasnur Group (Barito Putera)
Tak jauh beda dengan PSM yang dikuasai konglomerat daerah, Barito Putera juga demikian. Klub kebanggaan Banjarmasin, Kalimantan Selatan itu dikuasai oleh Perusahaan Hasnur Group.
Sepak terjang Hasnur Group dalam dunia bisnis tak usah diragukan lagi. Bisnis keluarga itu kini sudah menggurita dari hulu sampai hilir. Dari sektor pertambangan, kehutanan, agrobisnis, jasa transportasi, sampai media daerah.
Motivasi dari CEO PS Barito Putera, Hasnuryadi Sulaiman, sebelum pertandingan.
Laskar Antasari saat ini berada di peringkat 15 selisih 3 point dari zona degradasi.
(🎥BaritoPuteraTV) pic.twitter.com/rzbiPVN3PQ
— 𝙄𝘿𝙎 (@indosupporter) February 19, 2022
Sebagai putra mahkota, Hasnuryadi Sulaiman yang belakangan lebih banyak dikenal karena jabatannya sebagai anggota DPR-RI Fraksi Golkar, bertindak sebagai direktur utama PT Putera Barito Berbakti, entitas pengelola Barito Putera. Hasnuryadi Sulaiman ini adalah anak kandung dari almarhum Abdussamad Sulaiman Haji Basirun atau yang lebih dikenal dengan panggilan Haji Leman, pendiri Hasnur Group sejak 1966.
Haji Leman adalah pengusaha yang berasal dari Kalimantan selatan, dia adalah pemilik Hasnur Group, perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan, pertambangan, perkebunan, transportasi, media, pendidikan, dan olahraga. pic.twitter.com/3QOGh5lpiv
— GOAL Indonesia (@GOAL_ID) April 21, 2020
Medco Group (PSS Sleman)
Berikutnya ada PSS Sleman. Saham 70% klub ini dimiliki oleh PT Palladium Pratama Cemerlang (PPC). Diketahui bahwa PT PPC tersebut merupakan salah satu anak perusahaan dari PT Ithaca Resources.
PT Palladium Pratama Cemerlang Pemilik Saham Mayoritas PSS Sleman https://t.co/mUm7fEiXxM pic.twitter.com/AxRHrM92cW
— BolaBanget Sports Indonesia (@bb_sports_id) February 13, 2020
Adapun pendiri PT Ithaca Resources adalah Agoes Projosasmito. Agoes ini adalah salah satu orang di lingkaran dekat mendiang Arifin Panigoro, taipan sang pemilik perusahaan tambang nasional, Medco Group.
Lingkaran Arifin Panigoro dan Agoes Projosasmito Kuasai PSS Slemanhttps://t.co/ymkkKvsbDx
— SKOR.id (@skorid_) March 7, 2020
Agoes ini ternyata juga adalah jajaran direksi PT Amman Mineral Nusa Tenggara, sebuah perusahaan tambang emas, tembaga, dan batu hijau yang kebetulan sahamnya sudah dicaplok oleh Medco Group milik mendiang Arifin Panigoro.
Nah, Medco Group inilah yang sebenarnya mengendalikan penuh 70% saham PSS Sleman lewat orang-orang kepercayaan almarhum Arifin Panigoro tersebut.
Gatara Group (Madura United)
Kemudian ada Madura United. Laskar Sape Kerrab kebanggaan masyarakat Madura. Madura United ini awalnya dulu adalah hasil merger Persipasi Bekasi dengan Pelita Bandung Raya.
Kemudian oleh Achsanul Qosasi, konglomerat lokal madura sekaligus pemilik PT Garuda Tani Nusantara (Gatara Group) menjadikan Madura United sebagai nama baru klub kebanggaan Madura hingga sekarang. Pemilik saham mayoritas Madura United ini adalah PT Garuda Tani Nusantara.
Achsanul Qosasi Lega Nama Madura United FC Disahkan https://t.co/zmb3pYFEDA pic.twitter.com/FmcmBk020q
— GOAL Indonesia (@GOAL_ID) January 8, 2017
Wajah sang pemilik, Achsanul Qosasi ini mungkin sudah tak asing lagi bagi publik. Mukanya sempat wara-wiri di berita televisi ketika ia pernah menjadi anggota DPR RI fraksi Demokrat maupun sekarang menjadi anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Dengan segudang pengalaman Achsanul di bidang keuangan, ia bersama Gatara Group mampu membawa Madura menjadi tim yang sehat secara finansial. Tak jarang juga lewat Achsanul inilah, Madura sering menjadi magnet bagi sponsor maupun investor baru yang ingin gabung ke Madura United.
https://youtu.be/Veo2Z7IJJsM
Sumber Referensi : bola.net, kumparan, tirto, bigalphaid


