Sydney, 20 Maret 2025, menjadi hari yang pilu bagi Indonesia. Hanya beberapa jam setelah disahkannya revisi UU TNI, raut wajah kekecewaan juga terpancar dari fans merah putih hari itu. Tak hanya yang ada di Sydney, begitupun yang ada di tanah air.
Patrick Kluivert dan gerbong barunya, ternyata belum bisa menebus ekspektasi yang teramat tinggi dari fans. Banyak blunder sana-sini yang menjadi catatan besar bagi Kluivert. Sampai-sampai, Shin Tae-yong tak kuasa untuk menahan bibirnya untuk berkomentar. Lantas, apa kesalahan besar yang telah dilakukan oleh Kluivert? Mampukah mereka bangkit melawan Bahrain?
Indonesia sacked Shin Tae-yong for Patrick Kluivert, only to be humiliated by Australia pic.twitter.com/fLs7l0BPhY
— Troll Football (@TrollFootball) March 20, 2025
Daftar Isi
Ekspektasi
Jika melihat euforia jelang laga melawan Australia, buset. Timnas Indonesia seakan-akan diatas angin bisa meladeni tuan rumah Australia, yang notabene negara langganan Piala Dunia.
Wajar aja sih, mengingat Indonesia mempunyai sebuah harapan baru, yakni gerbong kepelatihan yang dipimpin sosok Patrick Kluivert. Tak hanya itu, Indonesia juga kedatangan banyak pemain naturalisasi baru. Apalagi market value Timnas Indonesia, secara mengejutkan lebih tinggi dari Timnas Australia.
Situasinya pun lagi pas, Indonesia baru aja ngalahin Arab Saudi di GBK. Hal itu membuat ekspektasi fans Indonesia makin berapi-api. Berbeda dengan kondisi Australia. Boro-boro berharap lebih, mereka justru sedang dihujam berbagai hujatan di negeri sendiri. Legenda mereka Tim Cahill bahkan memandang remeh skuad yang dipanggil Tony Popovic.
Fans The Socceroos juga kesal dengan kebijakan Tony Popovic yang tidak membawa beberapa pemain kuncinya. Namun The Socceroos santai menghadapi situasi itu. Mereka hanya fokus pada kondisi timnya sendiri. Popovic hanya memikirkan bagaimana caranya mengatasi hilangnya banyak pemain andalan karena cedera.
Elemen Kejutan Kluivert
Setelah ekspektasi itu makin menjadi-jadi, tibalah saatnya pada sebuah kenyataan. Jelang laga, rasa penasaran fans terhadap era baru Kluivert terjawab. Alih-alih menggunakan taktik andalannya yakni empat bek, ia justru mengadopsi pola tiga bek.
Selain penggunaan pola tiga bek, ada juga beberapa elemen kejutan lain. Seperti tentang pemilihan line up. Salah satu yang bikin gemes adalah memasang Nathan Tjoe-A-On sebagai partner Thom Haye sebagai double pivot. Begitu juga Dean James, yang diposisikan lebih menyerang daripada Calvin Verdonk.
Di lini depan, ada juga sentuhan baru dengan menempatkan Ole Romeny yang lebih bergerak dari sisi kanan, menemani Rafael Struijk. Formula baru itu membuat rasa penasaran fans jadi makin nggak karuan.
Momentum
Setelah peluit wasit Adham Makhadmeh dibunyikan, ternyata Indonesia bermain sangat berbeda dengan era sebelumnya. Indonesia berani ambil inisiatif banyak memegang bola untuk membangun serangan. Terlihat sekali, basis penguasaan bola menjadi ciri khas permainan Indonesia di 15 menit pertama.
Sampai akhirnya, gaya permainan tersebut berbuah peluang emas lewat penalti Kevin Diks. Namun sayang seribu sayang, tendangan penalti pemain Copenhagen itu gagal. Kak Kev keluar dari kebiasaan. Biasanya ambil bola bawah untuk menipu kiper, kemarin malah berani mengarahkan bola ke atas. Merasa tertekan? Jelas, tapi tak ada toleransi bagi sang spesialis sepertinya.
Pada akhirnya sepakbola itu sering dipengaruhi oleh momentum. Kegagalan penalti itu seketika merubah segalanya. Secara mental dan mood bermain jadi berantakan. Konsentrasi para pemain pun tak kalah berantakan dari kondisi negeri konoha. Situasi ini pun dimanfaatkan oleh anak asuh Popovic.
Penalti dibalas penalti. Nathan kedapatan melanggar pemain Aussie di kotak penalti sendiri. Hal itu akhirnya berimbas pada terjadinya penalti bagi Australia yang mampu dieksekusi dengan baik oleh Martin Boyle.
Tertinggal membuat Timnas Indonesia makin terburu-buru dalam membangun serangan. Celakanya, Australia tak kalah cerdas menyikapi permainan Indonesia. Mereka menumpuk pemainnya di lini belakang. Jika Kluivert merasa timnya bermain seperti singa, maka Australia bermain bak seekor buaya. Sabar, menunggu, hingga mangsa pun masuk dalam jebakan.
Garis Pertahanan Tinggi
Pemain Timnas Indonesia kelimpungan mencari celah membongkar pertahanan yang digalang Cameron Burgess. Itulah yang menyebabkan pemain kita hanya sibuk bolak-balik passing di area sendiri.
Nah, di fase kelimpungan itu, Australia menghukum lewat gol kedua. The Socceroos memanfaatkan garis pertahanan tinggi yang diterapkan Indonesia. dengan gol yang dicetak oleh Nissan Velupillai. Lihat saja posisi bek Indonesia saat kejadian gol itu. Semuanya ketinggalan, gara-gara terlalu jauh dari kotak penalti.
Strategi garis pertahanan tinggi yang dijalankan Kluivert ternyata jadi bumerang. Pemilihan pemain untuk menjalankan strategi itu juga kurang tepat. Kluivert tak menyadari bahwa Jay Idzes jadi jago di Venezia, karena tak pernah memainkan strategi garis pertahanan tinggi.
Begitu juga Mees Hilgers. El Nyengir bahkan terbukti belum fasih bermain dengan pola tiga bek. Kekompakan duet Jay Idzes dan Rizki Ridho di beberapa laga timnas sebelumnya, justru luput dari perhatian Kluivert.
Gelandang Dieksploitasi
Tak hanya soal garis pertahanan tinggi, pemilihan komposisi di posisi vital yakni gelandang double pivot juga tak tepat. Duet Thom Haye dan Nathan beberapa kali keteteran dan mudah dieksploitasi The Socceroos.
Thom terbukti tak bisa diduetkan dengan tipe pemain seperti Nathan. The Professor harus dilindungi oleh gelandang petarung yang punya kecepatan. Yang jadi pertanyaan besar, kemana hilangnya Joey Pelupessy? Pemain yang diminta langsung oleh Kluivert untuk dinaturalisasi itu, justru tak dimainkan sama sekali.
Dimainkanya Nathan justru jadi hujatan. Bagaimana bisa pemain yang hampir tak pernah muncul di skuad Swansea, bisa bermain selama 80 menit. Disinilah Kluivert mengkhianati ucapannya sendiri, bahwa pemain yang mempunyai banyak menit bermain itu penting.
Kesalahan penempatan Nathan sangat terlihat. Yang pertama yakni ketika ia membuat pelanggaran yang tak perlu ketika terjadinya penalti bagi Australia. Lalu yang kedua, saat terjadinya gol ketiga Australia. Saat itu Nathan telat untuk menutup pergerakan pemain lawan.
Antisipasi Bola Mati
Sebenarnya tak hanya Nathan saja yang jadi biang kerok. Masih ada banyak lagi kesalahan, termasuk antisipasi bola mati yang buruk. Lihat saja ketika dua gol The Socceroos lahir lewat skema tendangan pojok. Pemain Indonesia seperti kebingungan soal penjagaan Man to Man Marking saat situasi ini. Pemain seolah memberi karpet merah bagi pemain lawan untuk menyundul bola.
Ole Romeny Kurang Dukungan
Setelah dibedah satu per satu, lima gol yang bersarang ke gawang Maarten Paes berasal dari kesalahan sendiri. Namun selain banyaknya kesalahan, ada juga lho secercah harapan dari apa yang disuguhkan Ole Romeny. Tak hanya soal sumbangan satu golnya, namun pemain Oxford United itu secara permainan cukup memukau diantara yang lain.
Sayangnya, peran Romeny tak mendapat banyak dukungan dari rekan-rekanya. Jarang ada umpan yang memanjakan seorang striker sepertinya. Beberapa kali ia justru terlihat sibuk mencari bola sendiri, mengolahnya sendiri, dan menciptakan peluangnya sendiri.
STY Maklumi Kluivert
Well, Kluivert memang banyak PR. Namun ini adalah laga pertamanya. Ia sudah berusaha mengubah cara bermain timnas dengan pendekatan yang lebih menyerang. Tapi yang menjadi catatan, ia lupa bahwa sepakbola tak hanya soal menyerang. Aspek bertahan yang baik, juga penting. Ngapain unggul di semua statistik tapi secara hasil akhir justru dibantai?
Terlepas dari banyaknya kesalahan, usaha Kluivert dimaklumi oleh mantan kesayangan, Shin Tae-yong. Ikut kegiatan nobar di daerah Jakarta, Coach Shin memaklumi Kluivert yang tak punya waktu persiapan lebih. Meski kecewa berat, Coach Shin tetap percaya indonesia bisa bangkit saat melawan Bahrain. Dengan catatan, strategi menyerang yang digunakan Kluivert harus lebih efektif.
Oke, kekalahan telak ini memang memalukan. Tagar Kluivert Out pun mulai dikumandangkan. Namun apakah ini menjadi akhir dari segalanya? Hey bung, asa menuju Piala Dunia 2026 itu masih ada. Apakah kita mau nyerah begitu saja? Sang mantan aja masih mau dukung, masak kamu enggak?. Ayo! Menang melawan Bahrain adalah harga mati.


