Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Dan PSG sudah muak dengan waktu yang terbuang sia-sia ketika berjuang di Liga Champions. Klub yang berasal dari Paris itu lelah terus-terusan diejek sebagai “Raja domestik tanpa mahkota Eropa.” Maka dari itu, PSG berniat untuk menyudahi penantian itu di musim ini.
Di setiap musim Liga Champions, mereka datang dengan harapan yang sama. Menaklukkan Eropa, mengangkat Si Kuping Besar, dan membungkam sinisme yang datang dari berbagai penjuru dunia. Kini, di tengah keraguan, ejekan, dan tekanan, mereka kembali berdiri di partai final. Tegak. Penuh amarah.
Di laga final ini semua terasa beda. Tidak seperti musim-musim sebelumnya. Angin segar berhembus kencang ke arah PSG. Seakan-akan Dewi Fortuna memang sedang berpihak pada mereka. Bukan bermaksud melebih-lebihkan. Namun, melalui tanda-tanda ini, aroma gelar juara UCL PSG semakin harum tercium.
Daftar Isi
Teori PSV Eindhoven
Kita mulai dengan teori pertama, yakni kutukan PSV Eindhoven. Konon katanya, setiap tim yang mengalahkan PSV di ajang Liga Champions, tak akan keluar sebagai kampiun kompetisi tersebut. Teori ini pula yang kabarnya jadi salah satu penyebab mengapa Arsenal gugur di babak semifinal.
Sebab, Arsenal sebelumnya sudah membabat habis PSV dengan skor agregat 9-3 di babak 16 besar. Di sisi lain, PSG tidak berhasil mengalahkan wakil Belanda itu. Ousmane Dembele dan kolega hanya bermain imbang 1-1 di babak liga. Kabarnya, hasil itu sudah cukup untuk lolos dari kutukan ini.
Lantas, darimana teori ini lahir? Sejarah teori ini cukup panjang dan sudah memakan beberapa korban. Contohnya seperti Tottenham Hotspur di musim 2018/19. The Lilywhites mengalahkan PSV di fase grup. Mereka bahkan sampai ke final, namun akhirnya kalah dari Liverpool. Musim lalu, Borussia Dortmund sempat mengalahkan PSV di babak 16 besar, dan melangkah ke final. Ujungnya, kalah dari Los Blancos.
Teori Munich
Masih soal teori konspirasi, kali ini ada teori Munich. Di balik kemegahan Allianz Arena dan dominasi Bayern Munchen di Bundesliga, kota Munich menyimpan jejak-jejak keajaiban yang tak bisa dijelaskan dengan logika manusia. Entah kebetulan atau takdir, Munich selalu jadi tempat lahirnya para raja baru Eropa.
Munich tercatat sudah empat kali mengadakan final UCL. Nah, di keempat final itu, selalu ada tim baru yang menjuarai kompetisi. Jika teori ini benar, maka Inter Milan gugur dari kandidat juara. Karena mereka sudah pernah menjuarai UCL sebanyak tiga kali.
Teori ini dimulai dari Nottingham Forest tahun 1979, berlanjut ke Marseille di tahun 1993, dan kemudian diikuti oleh Borussia Dortmund di tahun 1997. Yang terakhir, ada Chelsea yang mengangkat trofi Liga Champions untuk pertama kalinya di Kota Munich. Dari keempat kisah ini, barangkali Chelsea jadi yang paling luar biasa.
Soalnya, yang dihadapi Chelsea saat itu adalah sang empunya tempat, Bayern Munchen. Bermain di kandangnya sendiri, The Bavarians tampil dengan kepercayaan diri tinggi. Tapi di malam itu, Chelsea, yang belum pernah juara UCL sebelumnya justru memutarbalikkan sejarah. Klub asal London itu berhasil menggondol trofi melalui skema adu penalti. Bayangin, yang punya rumah aja kalah, lho!
Luis Enrique
Apakah kita akan mengandalkan teori konspirasi saja? Tentu tidak. Mari kita sedikit membahas sepak terjang dari pelatih PSG, Luis Enrique. Jauh sebelum menangani PSG, pelatih asal Spanyol ini sudah lebih dulu berpengalaman dalam membawa tim menembus final Liga Champions.
Tim yang merasakan hasil kerja yang memukau itu adalah Barcelona pada musim 2014/15. Enrique memimpin La Blaugrana melenggang ke final setelah mengalahkan Bayern Munchen dengan skor agregat 5-3 di babak semifinal. Menghadapi Juventus di babak final, Barca yang kala itu masih diperkuat trio MSN pun menang 3-1 dan berhak membawa pulang trofi Liga Champions.
Di musim itu, gelar Liga Champions yang diraih Enrique membuat Barcelona mencatatkan sejarah sebagai klub pertama di dunia yang mampu mencatatkan treble sebanyak dua kali. Nah, situasi di PSG saat ini hampir sama. Kini, PSG berada di ambang treble jika Enrique bisa memenangkan final Piala Prancis dan dilanjut final Liga Champions.
Komposisi Skuad
Lalu, ada pertanda yang muncul dari internal tim PSG itu sendiri. Musim ini, PSG tidak lagi tampil seperti pesta sirkus penuh bintang. Nama-nama besar seperti Neymar, Lionel Messi, Marco Asensio, Keylor Navas, hingga Kylian Mbappe sudah hengkang. Kepergian mereka justru memunculkan sisi lain dari PSG.
PSG tak lagi mengandalkan satu atau dua pemain untuk menang. Di bawah asuhan Luis Enrique, PSG kini bermain sebagai tim. Semua pemain memiliki peran yang sama. Mereka saling bahu membahu untuk mencapai tujuan yang sama, yakni menang. Secara permainan, PSG pun semakin cair dan lebih kolektif
Di sisi lain, tak adanya pemain-pemain mega bintang, membuat dapur PSG semakin adem ayem. Tidak ada lagi tuh drama dan kontroversi yang tayang di kanal berita tiap minggunya. Tidak ada lagi ego di lapangan. Kalian pasti udah nggak pernah kan liat pemain PSG saling berebut sepakan penalti? Yang ada hanyalah sekelompok pemain muda haus pembuktian.
Minim Beban
Tak cuma itu, perubahan identitas PSG yang awalnya glamor menjadi lebih kolektif juga mempengaruhi tekanan publik pada tim. Tanpa nama-nama besar, PSG bukan favorit juara. Mereka juga tak lagi jadi pusat pemberitaan. Dan tak ada yang mengira juga kalau mereka akan melaju sejauh ini. Tapi justru karena itulah mereka bisa bermain lepas, bermain jujur, dan bermain sebagai tim.
Tanpa ekspektasi yang berlebih, artinya tak ada rasa takut yang menggunung. Tak ada rasa takut, berarti tak ada batasan untuk terus melaju. Inilah PSG yang sesungguhnya. Beban besar justru ada di pundak lawan, Inter Milan. Mereka dituntut untuk menjuarai turnamen ini demi memperbaiki koefisien Serie A di mata UEFA.
Perebutan Gelar Serie A
Pertanda lain juga datang dari sisi eksternal. Salah satunya, dari Inter Milan sendiri. Satu minggu sebelum terbang ke Munich, La Beneamata harus melakoni laga hidup dan mati melawan Como. Sebab, penentuan gelar Serie A akan berlanjut hingga pekan terakhir dan Inter masih berpeluang untuk menjadi juara.
Napoli memang masih memimpin klasemen dengan 79 poin. Namun, skuad asuhan Antonio Conte hanya unggul satu angka dari Inter yang menguntit di posisi kedua. Kedua tim akan memainkan laga penentuan secara bersamaan pada Jumat, 24 Mei 2025.
Menghadapi laga pamungkas, Inter mau tidak mau harus bermain all out. Menurunkan skuad terbaik dan bermain dengan intensitas tinggi. Jelas, itu akan melelahkan. Belum lagi, jika ada pemain yang cedera di laga tersebut. Situasi itu akan membuat Simone Inzaghi pusing tujuh keliling.
Situasi ini bisa menjadi lebih sulit lagi jika pada akhirnya Napoli kalah dan Inter hanya bermain imbang. Kedua tim akan memiliki poin sama. Sesuai aturan baru Serie A, menurut laporan Corriere dello Sport, jika kedua tim memiliki poin sama, juara ditentukan lewat play-off yang akan digelar pada 26 Mei. Jika demikian yang terjadi, pemain Inter pasti jet lag saat tiba di Munich.
Dibantu UEFA?
Terakhir, ada teori konspirasi yang cukup gila karena melibatkan UEFA. Sebagai informasi tambahan saja, Ligue 1 saat ini sedang berada di fase-fase sulit. Mereka kehilangan pamor dan kesulitan menjual hak siar pertandingan. Mereka juga kabarnya mulai kesulitan untuk mencari sponsor guna mendanai kompetisi.
Berstatus sebagai salah satu dari lima liga top Eropa, Ligue 1 pun kabarnya meminta bantuan UEFA untuk mengatur agar PSG yang menjuarai UCL musim ini. Karena dengan begitu, Ligue 1 bisa kembali mendapat atensi dari publik. Jika pada akhirnya PSG juara, itu jadi bukti bahwa sepakbola modern bukan milik Inggris dan Spanyol saja.
___
Sumber: Bein Sport, Goal, Football Italia


