Tak Terkalahkan! Bukti Benfica Lebih Kuat dari Real Madrid

spot_img

Nama klub Portugal, Benfica tengah naik daun setelah berhasil mengangkangi Paris Saint-Germain di pekan terakhir babak penyisihan Grup H Liga Champions 2022/23. Dengan mengejutkan, The Eagles mampu finis di atas tim yang menjadi kekuatan utama sepakbola Prancis tersebut. Sama-sama mengantongi 14 poin, Benfica tetap unggul lantaran memiliki jumlah gol tandang lebih tinggi dari PSG.

Tergabung dalam grup sulit bersama PSG dan Juventus, Benfica tampil mengesankan. Di atas kertas, mungkin PSG dan Juventus lebih diunggulkan lolos ke babak 16 Besar. Namun, Benfica membalikkan prediksi itu. Benfica lolos 16 besar Liga Champions, Juventus lolos ke playoff Liga Eropa.

Statistik Benfica di penyisihan Grup H tak main-main. Mantan klub Darwin Nunez itu tak menelan kekalahan sekalipun. Mereka hanya dua kali bermain imbang kala bersua dengan PSG. Selain itu, mereka juga tampil produktif dengan mencetak 16 gol dalam enam pertandingan. Lantas apa yang membuat Benfica begitu perkasa di sepakbola Eropa?

Sudah Tergambar di Liga

Performa apik Benfica di Liga Champions sudah bisa digambarkan melalui performa yang menawan di awal musim Liga Portugal 2022/23. Sama seperti PSG, Benfica juga termasuk sebagai klub yang belum terkalahkan di semua kompetisi hingga saat ini. Di Liga Portugal, The Eagles berhasil menorehkan 12 pertandingan tak terkalahkan.

Dari 12 pertandingan tersebut, Benfica hanya sekali berbagi poin dengan klub yang berada di peringkat enam, Vitoria Guimaraes di matchday kedelapan Liga Portugal. Dengan total raihan 34 poin. Klub asuhan Roger Schmidt ini unggul delapan poin dari FC Porto yang menempati peringkat kedua di klasemen sementara.

Capaian Benfica ini cukup mengejutkan. Sebab pada awal musim 2022/2023, Benfica dipaksa untuk membangun ulang tim usai ditinggal beberapa pilar, seperti Julian Weigl dan bomber andalan musim lalu, Darwin Nunez. Selain itu Benfica juga baru melepas pelatih Nelson Verissimo yang sempat mengantar mereka lolos ke perempat final Liga Champions.

Manajemen Benfica tampaknya mengurus pembangunan kembali tim dengan sangat baik. Meski mendapat pemasukan yang sangat besar setelah menjual Darwin Nunez, mereka tidak terburu-buru membeli pemain dan memilih pelatih. Semuanya dilakukan dengan pertimbangan yang pas dan diakhiri dengan keputusan-keputusan tepat. 

Hasilnya? bisa kita lihat sekarang. Benfica bahkan mengungguli statistik Real Madrid yang sempat menjadi tim yang belum menerima kekalahan di semua kompetisi musim ini. Jika kualifikasi Liga Champions dihitung, saat ini Benfica telah mencatatkan 22 pertandingan tak terkalahkan.

Pemilihan Pelatih

Salah satu keputusan tepat yang diambil oleh manajemen The Eagles adalah ketika menunjuk Roger Schmidt sebagai suksesor Nelson Verissimo. Keputusan untuk memilih Schmidt sebagai pelatih baru adalah langkah brilian. Schmidt dianggap sebagai figur yang tepat untuk meneruskan skuad yang sudah dibentuk Verissimo.

Namun, sebelum lebih jauh membahas soal bagaimana Schmidt mengelola Benfica, siapa sih Roger Schmidt ini? Ia merupakan pelatih berkebangsaan Jerman. Jerman sendiri memang dikenal kerap melahirkan pelatih-pelatih hebat, sebut saja misalnya Julian Nagelsmann, Jurgen Klopp, Thomas Tuchel, hingga Thomas Doll.

Musim 2021/2022, Schmidt terbilang sukses membangun PSV Eindhoven sebagai tim penantang gelar di Eredivisie. Ia membantu PSV finis di urutan kedua di bawah Ajax. Selain itu, PSV juga menjuarai KNVB Beker dan Piala Super Cup. Menariknya, sebelum sukses bersama PSV, Schmidt berkarir di Liga Super China bersama Beijing Guoan.

Benfica memilih Schmidt karena memiliki visi dan misi yang sama dengan klub, salah satunya mengembangkan pemain-pemain muda. Sang pelatih yang kerap mengelola pemain-pemain muda ketika melatih RB Salzburg dan PSV Eindhoven dirasa pas dengan sistem Benfica yang gemar memanfaatkan bakat-bakat muda hasil akademi sendiri.

Lewat tangan midasnya, Schmidt melahirkan pemain-pemain top seperti Sadio Mane dan Peter Gulacsi di Salzburg, serta Ibrahim Sangare dan Cody Gakpo di PSV Eindhoven.

Transfer Efisien

Melatih tim yang memiliki kualitas akademi sangat baik membuat Roger Schmidt tak ambil pusing. Meski Benfica meraup keuntungan besar karena mendapat tambahan dana dari penjualan Roman Yaremchuk, Everton Soares, Carlos Vinicius hingga yang termahal Darwin Nunez, Schmidt tak boros.

Pelatih asal Jerman itu justru berhati-hati dalam belanja pemain. Schmidt yang dibantu tim scouting Benfica hanya menjaring nama-nama yang dibutuhkan saja. Tidak ada belanja dengan nilai gila-gilaan untuk membangun skuad. Pembelian termahal Benfica sejauh ini adalah David Neres yang ditebus dengan 15 juta euro (Rp235 miliar) dari Ajax.

Bursa transfer pertama Schmidt terbukti efektif. Neres langsung jadi andalan di lini serang As Guias. Pemain yang berwajah ngantuk ini sudah mencetak 6 gol dan 8 assist musim ini. Sedangkan untuk menggantikan Nunez, Schmidt memilih pemain dari akademi, yakni Goncalo Ramos. Ia menjadi top skor sementara klub dengan mencetak 12 gol dari 20 pertandingan di semua kompetisi.

Lalu, ada Enzo Fernandez dan Fredrik Aursnes yang mampu tampil nyetel dan bergantian melengkapi Joao Mario dan Rafa Silva di lini tengah. Tak sampai di situ saja, peminjaman pemain senior seperti Julian Draxler dari PSG juga membawa dampak cukup besar.

Bagaimana Benfica Bermain

Di bawah kendali Schmidt, Benfica tampil atraktif. Layaknya pelatih-pelatih asal Jerman lainnya, Schmidt meminta pemain Benfica bermain dengan pressing tinggi untuk memenangkan penguasaan bola secepat mungkin. 

Formasi dasar Benfica di bawah Schmidt adalah 4-2-3-1. Mantan pelatih PSV itu mengandalkan sektor sayap sebagai kekuatan utama Jadi tak heran beberapa gol Benfica lahir dari umpan-umpan silang dari sisi sayap. Contohnya ketika menang besar atas Maccabi Haifa beberapa pekan lalu.


Selain itu, ada dua keunggulan utama lain dalam permainan Benfica yakni rapi dalam melakukan transisi dari bertahan ke menyerang atau sebaliknya. Jadi, ketika benfica kehilangan bola, lawan tak memiliki banyak waktu untuk melayangkan serangan balik. Karena anak asuh Roger Schmidt dengan cepat membentuk formasi high press.

Agresivitas Benfica terpancar dari jumlah tembakan yang dilepas oleh David Neres dan kolega sejauh ini. Klub yang bermarkas di Stadion Da Luz itu rata-rata melepas 19,6 tembakan per laga di Liga Portugal. Sedangkan di Liga Champions, mereka melepas setidaknya 12,6 tembakan per laga. 

Benfica di bawah asuhan Roger Schmidt sudah mencetak 63 gol dalam 22 pertandingan. Yang mana apabila di rata-rata, The Eagles mampu mencetak 2,7 gol per laga. Bagaimana soal bertahan? Duet pemain beda generasi, Antonio Silva dan Nico Otamendi membuat gawang Odysseas Vlachodimos baru kebobolan enam gol dari 12 pertandingan Liga Portugal. Luar biasa bukan?

https://youtu.be/NKLtS8cAbSg

Sumber: SLBenfica, Portugoal, UEFA, Bola 

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru