Football lovers pasti familiar dengan peribahasa yang berbunyi, “Tak ada rotan, akar pun jadi”. Tapi apa maksud dari peribahasa itu? Pepatah itu punya arti bahwa ketika tidak ada rotan yang bisa digunakan, maka carilah alternatif lain yang mirip. Akar dalam hal ini berfungsi sebagai pengganti rotan dan diharapkan memiliki kebermanfaatan yang sama.
Peribahasa tersebut kini sedang digunakan untuk memaknai foto salaman Erick Thohir dan salah satu pemain keturunan yang kabarnya akan segera memperkuat Timnas Indonesia, Eliano Reijnders. Dari nama, kalian pasti tak familiar dengan pemain yang satu ini. Benar, karena Eliano adalah adik kandung dari Bintang AC Milan, Tijjani Reijnders.
Tak ada Tijjani, Eliano pun Jadi. Setelah gagal membujuk Tijjani, PSSI bermanuver untuk menggaet adiknya. Toh secara fungsi, mereka hampir sama. Bahkan, bisa dibilang Eliano bisa lebih berguna bagi Timnas Indonesia. Benarkah demikian?
Daftar Isi
Darah Indonesia
Sebelum membahas kenapa Indonesia harus bersyukur memiliki pemain sekaliber Eliano Reijnders, kita akan mengulik sedikit tentang garis keturunan pemain PEC Zwolle ini. Berstatus sebagai adik dari Tijjani Reijnders, darah keturunan Eliano tentunya sama dengan sang kakak. Darah Indonesia Eliano mengalir dari sang ibu yang dikabarkan berasal dari Ambon, Maluku.
Bahkan, Ibunya masih memiliki nama marga asli Maluku, yakni Angelina Lekatompessy. Nama Lekatompessy pun tetap tersemat di bagian belakang nama Eliano. Sementara ayahnya, yakni Martin Reijnders merupakan penduduk asli Belanda. Lucunya, meski memiliki darah Indonesia-Belanda, Eliano bukan kelahiran Belanda. Dirinya ternyata lahir di Finlandia, tepatnya di Tampere pada tahun 2000 silam.
Itu berarti, kini Eliano Reijnders baru berusia 23 tahun. Bahkan, sedikit lebih muda dari Egy Maulana Vikri. Jika prosesnya lancar, maka Eliano bisa membela Timnas Indonesia di jeda internasional November nanti. Proses naturalisasi Eliano akan dikerjakan bersamaan dengan proses naturalisasi Mees Hilgers.
Keluarga Sepakbola
Darah Indonesia boleh mengalir dari sang ibu, tapi talenta sepakbola yang dimiliki Eliano Reijnders saat ini merupakan campur tangan dari sang ayah, Martin Reijnders. Ya, Martin merupakan mantan pesepakbola profesional yang eksis pada akhir 90-an hingga awal 2000-an.
Tercatat, ayah dari Eliano tersebut pernah membela beberapa klub Belanda, seperti FC Den Bosch, SC Veendam, dan PEC Zwolle. Tak cuma itu, dirinya juga pernah abroad ke Finlandia dan membela FC Jokerit dan FC Haka pada awal tahun 2000. Nah, saat Martin berkarir di Finlandia, Angelina masih mengandung Eliano. Maka dari itu Eliano lahir di Finlandia, bukan Belanda.
Lantas, bakat sepakbola Martin diturunkan ke kedua anak laki-lakinya. Sama-sama menekuni sepakbola, perjalanan karir Reijnders bersaudara sedikit berbeda. Keduanya memang memulai karir di Belanda, tapi Eliano dan Tijjani pada akhirnya memiliki keputusan yang berbeda tentang pemilihan tim nasional. Seperti yang kita ketahui, Tijjani memilih Belanda, sedangkan Eliano justru melabuhkan hatinya pada Indonesia.
Secara prestasi dan jam terbang, Tijjani jelas lebih unggul dari sang adik. Tijjani yang juga sempat dibujuk untuk membela Timnas Indonesia itu kini bermain di AC Milan. Statusnya pun bukan pemain pelengkap. Di Milan, Tijjani merupakan jantung lini tengah Rossoneri. Begitu pun di tim nasional Belanda. Ronald Koeman mempercayakan arah permainan De Oranje pada Tijjani.
Pemain Muda Potensial
Walaupun begitu, bukan berarti Eliano Reijnders tak memiliki kualitas sebaik sang kakak. Meski masih berusia 23 tahun, Eliano merupakan salah satu pemain muda potensial yang berkarir di Belanda. Di usia yang masih sangat muda, dirinya sudah mengantongi banyak menit bermain di kasta tertinggi Liga Belanda.
Mengikuti jejak ayahnya untuk berkarir di PEC Zwolle, Eliano sudah mendapat kesempatan tampil di 88 pertandingan Eredivisie dan mencetak enam gol serta lima assist. Dilansir situs Transfermarkt, sejak 2020/2021, caps Eliano Reijnders bersama PEC Zwolle selalu di atas 25 pertandingan. Terbanyak adalah pada musim lalu, di mana dia tampil 32 pertandingan di Eredivisie dan sekali di ajang Toto KNVB Beker.
Sementara pada musim 2024/25, Eliano sudah mengemas empat pertandingan di Eredivisie, dimana tiga diantaranya dimainkan sebagai starter. Di usianya yang masih muda, dirinya sudah menjadi bagian penting dari skuad Zwolle. Posisi aslinya adalah bek kanan, tapi peran Eliano di skuad asuhan Johnny Jansen lebih dari itu.
Meski begitu, tidak selamanya Eliano menjadi pilihan utama di skuad PEC Zwolle. Pada musim 2022/23, dirinya sempat dipinjamkan ke FC Utrecht U-21. Beruntungnya, Eliano berhasil menunjukan perkembangan yang signifikan di bawah asuhan Darije Kalezic, yang juga dikenal sebagai mantan pelatih PSM Makassar.
Di musim tersebut, dirinya mencatatkan 35 pertandingan dan mengemas empat assist di kasta kedua Liga Belanda. Secara tidak langsung, Kalezic berperan penting dalam perkembangan Eliano sebelum akhirnya menjadi pemain utama Zwolle.
Atribut Kesukaan STY
Adik dari Tijjani Reinders ini termasuk salah satu pemain yang mobile dan bisa bermain di berbagai macam posisi dengan sama baiknya. Selain bek sayap kanan, dia mampu berperan sebagai bek kiri, gelandang serang, winger kiri maupun kanan, bahkan striker jika tim sedang membutuhkan suntikan tenaga di lini depan.
Secara statistik, dirinya pernah bermain di semua posisi kecuali penjaga gawang dan bek tengah. Wajar, kiper adalah posisi yang membutuhkan keahlian khusus, sedangkan bek tengah bukan posisi yang ideal untuknya. Karena Eliano merupakan pemain berpostur pendek. Dirinya memiliki tinggi 168 cm. Mungkin, apabila dibandingkan dengan pemain keturunan lainnya, Eliano adalah yang terpendek.
Namun, postur yang kecil berhasil ditutupi oleh mobilitas dan fleksibilitas yang dimiliki Eliano. Tak heran Shin Tae-yong tetep demen sama pemain yang satu ini. Karena postur bukan kekuatan utama dari gaya bermain pelatih asal Korea Selatan itu. Justru sebuah fleksibilitas lah yang jadi atribut favorit dari mantan pelatih Timnas Korea Selatan itu.
Hal itu bisa kita lihat dari pemain-pemain pilihan sang pelatih di Timnas Indonesia. Hampir semua pemain yang masuk skuad pasti bisa memainkan posisi lain di luar posisi aslinya. Contohnya saja Nathan Tjoe-A-On yang bisa bermain sebagai bek kiri, bek tengah, dan gelandang bertahan. Atau Witan Sulaeman yang bisa bermain sebagai gelandang serang, sayap kanan maupun kiri, dan penyerang bayangan.
Gaya Bermain Eliano
Lantas, ketika Eliano memiliki kemampuan bisa bermain di berbagai posisi, bagaimana gaya bermainnya? Layaknya sebuah mesin, Eliano ini punya beberapa mode. Pertama, mode bertahan, kalau dirinya bermain di sektor pertahanan. Lalu, mode menyerang yang tentu saja akan dipakai ketika dimainkan sebagai sayap. Dan mode kreatif jika dimainkan sebagai gelandang serang.
Saat bermain sebagai bek, dirinya akan menggunakan mode bertahan. Ketika bertahan, Eliano bukan tipikal pemain yang doyan tekel kayak Aaron Wan-Bissaka. Eliano lebih suka mengandalkan kecepatannya untuk mengimbangi lari pemain lawan lalu mencari momen untuk merebut bola tanpa harus menjatuhkan badan. Metode ini banyak digunakan oleh gelandang-gelandang modern macam Manuel Ugarte.
Jika bermain di posisi gelandang, dirinya akan memanfaatkan mobilitas dan visi bermainnya untuk mendistribusikan bola. Sesekali, dirinya juga menggunakan kontrol bola yang baik guna sedikit bermain-main dan melewati satu atau dua pemain lawan. Untuk memudahkan kalian menggambarkan permainan Eliano di lini tengah, lihat saja Tijjani. 11 12 lah sama abangnya.
Sedangkan saat dirinya bermain menyerang, Eliano akan mengandalkan kelincahan dan kecepatannya untuk membongkar pertahanan lawan. Kelebihan dalam distribusi bola juga bisa dimanfaatkan saat dirinya mengemban posisi ini. Pemain yang serba bisa sepertinya tentu akan selalu berguna bagi Timnas Indonesia. Beruntungnya timnas kita yang jago ini punya pemain macam Eliano.
https://youtu.be/aF1Z4GbOORg
Sumber: CNN Indonesia, Suara, Jawa Pos, RRI


