Susunan Pemain Dengan Permainan Terburuk di Gelaran EURO 2020

  • Whatsapp
Susunan Pemain Dengan Permainan Terburuk di Gelaran EURO 2020
Susunan Pemain Dengan Permainan Terburuk di Gelaran EURO 2020

Selama kurang lebih 30 hari menghibur seluruh penggemar sepakbola, gelaran Piala Eropa akhirnya telah mengeluarkan juara. Italia, yang memang jadi salah satu kandidat, sukses menutup gelaran dengan raihan piala. Mereka berhasil mengalahkan Inggris melalui drama adu penalti.

Seusai gelaran, UEFA resmi rilis daftar tim terbaik yang tampil pada edisi kali ini. Italia mendominasi dengan menempatkan lima nama, seperti Gianluigi Donnarumma, Leonardo Bonucci, Leonardo Spinazzola, Jorginho, sampai Federico Chiesa.

Bacaan Lainnya

Namun kali ini kita tidak akan membahas lebih lanjut tentang kekuatan terbaik yang tampil pada Euro edisi kali ini, melainkan kumpulan pemain yang justru tampil di bawah standar hingga gagal membawa timnya melaju lebih jauh.

Kira-kira siapa sajakah mereka? Simak ulasannya berikut ini.

Kiper: Manuel Neuer (Jerman)

Manuel Neuer masih dipandang sebagai kiper andalan Jerman. Sayang, penampilannya di Piala Dunia 2018 yang tak sementereng biasanya, tak mampu dipandang secara jeli oleh pelatih Joachim Low. Hasilnya, Low yang masih ngotot memainkan Neuer di bawah mistar harus terima akibatnya.

Neuer menjadi kiper yang boleh dibilang tampil di bawah standar. Kiper FC Bayern ini memang tidak membuat kesalahan fatal, akan tetapi dalam empat pertandingan yang dimainkan bersama Jerman, gawangnya sudah dibobol sebanyak tujuh kali. Satu-satunya hal yang paling menonjol darinya sepanjang gelaran Euro adalah ketika ban kapten berwarna pelangi melingkar di lengan kirinya.

Kiper berusia 35 tahun ini kemungkinan masih akan dipakai di gelaran Piala Dunia 2022. Namun bila tak mampu menjaga penampilan, ada nama Bernd Leno dan juga Ter Stegen yang siap mengambil tempat utama.

Bek Kanan: Benjamin Pavard (Prancis)

Benjamin Pavard memang tampil sangat gemilang di gelaran Piala Dunia 2018. Maka dari itu, Didier Deschamps tak ragu untuk memasukkan ke dalam turnamen Piala Eropa 2020. Dia memang tidak terlalu tampil buruk di gelaran kali ini. Namun meski banyak percobaan yang dilakukan, hanya segelintir saja yang mampu tebar ancaman.

Pavard tidak mampu membawa Prancis tampil garang dan malah menjadi bagian dari kekalahan tim ayam jantan dari Swiss lewat adu penalti.

Pada gelaran Euro 2020, secara statistik Pavard mengalami penurunan yang signifikan. Sebagai seorang pemain bertahan, sapuannya yang mencapai 3,7 per laga di Piala Dunia 2018 turun menjadi 1,3 per laga di Piala Eropa 2020. Secara ofensif, dia juga hanya mampu ciptakan satu peluang bersih dari tiga pertandingan yang dijalani.

Bek Tengah: Caglar Soyuncu (Turki)

Turki yang digadang-gadang bakal menjadi salah satu kuda hitam terkuat pada gelaran Piala Eropa 2020, justru tampil di bawah standar. Salah satu pemain yang tampil buruk adalah bek mereka, Caglar Soyuncu.

Sepanjang gelaran, lini belakang Turki memang jadi yang paling disorot. Dalam tiga pertandingan di fase grup, mereka kebobolan sebanyak delapan gol. Caglar Soyuncu, yang menjadi wajah utama di lini pertahanan benar-benar tampil tak meyakinkan. Tekel suksesnya hanya berkisar di angka 40%. Selain itu, dia juga sama sekali gagal melakukan intersepsi.

Tingkat keberhasilan duel pada musim lalu bersama Leicester yang mencapai 58% juga turun menjadi 38% per 90 menit. Meski disebut sebagai pemain 25 tahun penuh talenta, harus diakui bila penampilan Caglar Soyuncu tidak layak dipuji.

Bek Tengah: Matthijs de Ligt (Belanda)

Dianggap sebagai salah satu bek muda terbaik dunia, Matthijs de Ligt malah gagal tunjukkan performa gemilang di gelaran Euro 2020. Dia gagal penuhi ekspektasi besar dari para penggemar, dengan menjadi penyebab gagalnya Belanda dalam meladeni perlawanan Republik Ceko di babak 16 besar.

Di laga tersebut, melalui VAR, de Ligt diusir karena secara ceroboh memutus pergerakan Patrik Schick di area berbahaya. Pemain bernilai 67 juta poundsterling ini memegang bola secara sengaja hingga membuat wasit tak ragu untuk mengeluarkan kartu merah.

Setelah pengusirannya di laga itu, Belanda langsung berada di bawah tekanan dan harus menyerah dengan skor 2-0.

Bek Kiri: Ezgjan Alioski (Makedonia Utara)

Tidak banyak yang diharapkan dari lolosnya Makedonia Utara di gelaran Euro kali ini. Meski dianggap punya sejumlah pemain potensial, pergerakan Makedonia Utara yang dipimpin striker veteran Goran Pandev tetap tak lebih dari sekadar hiburan.

Makedonia Utara menempati posisi terakhir di grup tanpa pernah memetik satu pun angka. Salah satu pemain bintang yang diharapkan bisa tampil luar biasa, Ezgjan Alioski, gagal menguasai lapangan dengan baik. Ezgjan Alioski memang berhasil mencetak satu gol ke gawang Ukraina, tapi secara defensif, dia tunjukkan performa yang tak mampu mendapat pujian.

Pergerakan defensif nya di lini belakang yang mencapai 2,7 per laga di kompetisi Liga Primer Inggris turun menjadi 0,8 di gelaran Euro kali ini. Lebih dari itu, kemenangan duel yang sebelumnya mencapai 50% hanya mampu dilakukannya sebanyak 25% di gelaran kali ini.

Gelandang Tengah: Marten De Roon (Belanda)

Meski tidak menjadi nama populer seperti Frenkie de Jong maupun Memphis Depay, perjalanan karir Marten De Roon sama sekali tak bisa dianggap sebelah mata. Pemain berusia 30 tahun ini sukses menjadi andalan di Atalanta dengan membawa tim Serie A tersebut konsisten tampil di kompetisi Liga Champions Eropa.

Maka dari itu, wajar bila Belanda menaruh harap pada pundaknya.

Akan tetapi, meski diharapkan bakal tampil solid, De Roon malah gagal tunjukkan itu semua. Gelandang box-to-box yang diharapkan bakal meringankan beban de Jong dan juga Wijnaldum justru gagal melakukan tugas tersebut. Dia gagal menjaga lini belakang Belanda dengan baik setelah sang pemain cuma melakukan satu tekel dan tidak mampu menutup pergerakan lawan di area berbahaya.

Membuat 12 operan gagal juga menjadi statistik buruk selanjutnya. De Roon yang tampak dilirik oleh beberapa klub Eropa pun harus bersabar dengan penampilan buruknya di gelaran kali ini.

Gelandang Tengah: Aleksandr Golovin (Rusia)

Siapa yang bisa melupakan performa mentereng Aleksandr Golovin di gelaran Piala Dunia 2018 lalu? Pemain yang kini berusia 25 tahun tersebut mampu membuat nama Gerard Pique, Sergio Ramos dan David Silva, tak berdaya.

Di ajang terbesar tiga tahun lalu, Golovin berhasil mencetak satu gol, membuat delapan tekel dan juga menciptakan cukup intersepsi untuk menghentikan langkah La Furia Roja.

Namun ketika datang ke gelaran Piala Eropa 2020 dengan penuh harapan, dia justru tampil di bawah standar. Catatan lima gol dan sembilan assist bersama Monaco musim lalu tak berarti apa-apa untuknya. Rusia menempati posisi terbawah grup B dan gagal melaju ke babak selanjutnya.

Tiga operan kunci per laga yang dibuatnya di kompetisi Ligue One juga tak mampu dilanjutkannya di ajang Piala Eropa. Dia seolah bingung dengan skema yang dimainkan usai mendapat peran berbeda. Tampil dalam tiga laga, Golovin tak mampu ciptakan satupun gol maupun assist.

Gelandang Serang: Bruno Fernandes (Portugal)

Bila melihat performa Bruno Fernandes bersama Manchester United, tentu semua akan terkesima. Tapi bagaimana ketika melihat penampilannya di gelaran Piala Eropa bersama Portugal tahun ini? Maka tidak sedikit yang akan kecewa.

Ditempatkan dengan nama seperti Bernardo Silva dan Diogo Jota, Bruno Fernandes yang sebelumnya sukses menjebol gawang Israel sebanyak dua kali di laga persahabatan, tampak bakal temukan permainan terbaiknya. Nahas, dirinya justru gagal tunjukkan performa yang diharapkan.

Dia seolah menghilang dan banyak tuai kritik dari pengamat. Mirisnya lagi, Portugal malah tampil lebih seimbang ketika memainkan Renato Sanches sebagai penggantinya. Frekuensi penciptaan peluang Bruno Fernandes di Euro 2020 jauh dari level yang dia tunjukkan di MU. Selain itu, kreativitasnya dalam menguasai bola juga gagal ditunjukkan di fase grup.

Sayap Kiri: Kylian Mbappe (Prancis)

Sebelum gelaran Piala Eropa 2020 dimulai, tentu tidak ada yang menyangka bila Mbappe akan masuk ke dalam daftar ini.

Meski tidak menjadi pemain terburuk di Euro, Mbappe dianggap tampil di bawah performa seperti biasanya. Kisah kepahlawanannya di ajang Piala Dunia 2018 seolah lenyap dengan minimnya kontribusi yang diberikan di ajang ini.

Berbekal trofi Piala Dunia dan sekali membawa PSG ke final Liga Champions Eropa tak mampu membuatnya mendominasi di atas lapangan. Hanya mencetak satu assist sepanjang gelaran, Mbappe sama sekali tidak pernah mencetak gol ke gawang lawan. Kecepatan, kelincahan, serta kemampuannya dalam mengoyak pertahanan lawan tidak terlihat di kancah Eropa kali ini.

Puncak dari jebloknya performa Mbappe tentu saat dirinya gagal mengeksekusi tendangan penalti di laga melawan Swiss, ketika dua tim harus menyelesaikan laga lewat adu tos-tosan. Meski tetap banyak yang memberi dukungan, tidak sedikit pula yang melempar kritik hingga menyebutnya sebagai biang kegagalan timnas Prancis di edisi kali ini.

Sayap Kanan: Hakan Calhanoglu (Turki)

Hakan Calhanoglu, sebelum resmi hijrah ke Inter, merupakan pemain kunci yang memberi banyak kontribusi di AC Milan. Dalam dua musim terakhirnya bersama Milan, Hakan Calhanoglu sukses torehkan 13 gol dan 18 assist. Dia juga menjadi pemain yang mampu ciptakan peluang terbanyak di lima liga top Eropa (98).

Maka dari itu, wajar bila kehadirannya di timnas Turki tentu sedikit banyak diharapkan oleh para penggemar.

Akan tetapi, penampilannya di ajang Piala Eropa malah timbulkan penyesalan. Dia dikritik karena kurang gesit, minim teknik, dan kerap salah mengambil keputusan. Dalam tiga pertandingan yang dijalani di babak grup, Hakan Calhanoglu yang cuma ciptakan 2,3 peluang per laga, hanya menempatkan negara tersebut di posisi terendah di grup A.

Penyerang Utama: Burak Yilmaz (Turki)

Sama seperti narasi pemain Turki lainnya, Burak Yilmaz yang diharapkan bakal tampil menggila juga mengakhiri turnamen dengan tangan hampa.

Padahal bila melihat statistiknya musim lalu di klub, Burak Yilmaz berhasil ciptakan 16 gol untuk memutus dominasi Paris Saint Germain sebagai raja di Liga Prancis. Penampilan impresif itu lantas membuat pelatih Senol Gunes memanggilnya untuk memperkuat Turki di babak Kualifikasi Euro 2020 hingga putaran final.

Namun sekali lagi, dia gagal tunjukkan pesona. Dari tiga kesempatan yang didapat, tidak ada satu pun gol yang tercipta dari pemain 35 tahun ini. Malah sepanjang gelaran Euro tahun ini, Burak Yilmaz hanya mampu ciptakan satu tembakan tepat sasaran.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *