Sudah 20 Tahun, Selain Mereka Belum Ada Lagi Pelatih Jerman di Final UCL

spot_img

Meski dikenal menghasilkan para pelatih hebat, namun pelatih Jerman acap kali susah mencapai final salah satu kompetisi paling bergengsi antarklub Eropa, Liga Champions. Sejauh ini, hingga musim 2023/24, Jerman hanya pernah mengirim lima pelatihnya di final UCL. Siapa saja mereka?

Hanya Ada Lima dalam 20 Tahun Terakhir

Pada Liga Champions musim 2000/01, Jerman mengirim satu wakilnya ke final, yakni Bayern Munchen. Saat itu, Die Roten asuhan Ottmar Hitzfeld memenangkan gelar usai mengalahkan Valencia. Musim sebelumnya tidak ada pelatih Jerman di final.

Dua musim sebelum Vicente del Bosque membawa Real Madrid juara tahun 2000, hanya ada dua pelatih Jerman yang sanggup membawa timnya ke final Liga Champions. Yakni Hitzfeld saat membawa Dortmund juara tahun ‘97 dan ketika mengantarkan Bayern Munchen ke final ‘99 namun dikalahkan oleh Manchester United.

Lalu Jupp Heynckes yang mengantarkan Real Madrid juara tahun ‘98. Sejak tahun 1980-an, jarang sekali ada pelatih Jerman di final UCL. Nah, kalau dihitung dalam titimangsa yang tidak terlalu lama, yakni sejak 2001 hingga 2024 atau sekitar 23 tahun, bahkan cuma ada lima pelatih Jerman di final Liga Champions.

Bagi Jerman, ini tentu ironis. Mereka yang katanya menghasilkan banyak pelatih hebat, ternyata cuma bisa mengirimkan lima pelatih di final Liga Champions. Jerman bahkan kalah dari satu orang bernama Carlo Ancelotti. Don Carlo saja sudah enam kali ke final Liga Champions.

Lantas, siapa saja sih, kelima pelatih Jerman yang sanggup membawa timnya ke final Liga Champions dalam dua setengah windu lebih terakhir ini?

Jupp Heynckes

Semusim setelah Ottmar Hitzfeld mengantarkan Bayern Munchen juara tahun 2001, Klaus Toppmoller membimbing Bayer Leverkusen ke final Liga Champions. Sayang sekali, waktu itu Die Werkself gagal menumpas perlawanan Real Madrid. Nah, sejak final itu, tidak ada lagi pelatih Jerman di final Liga Champions.

Final 2010 sebenarnya menghadirkan satu tim Jerman, yakni Bayern Munchen. Namun, tim yang dihancurkan oleh dua gol Diego Milito itu tidak dilatih oleh orang Jerman, melainkan justru orang Belanda. Yap, kala itu Die Roten diasuh Louis Van Gaal.

Baru deh, pada tahun 2012, Jerman menempatkan salah satu pelatihnya di final atas nama Jupp Heynckes. Bayangkan, satu dekade tak ada satu pun pelatih Jerman yang membawa timnya ke final Liga Champions. Jupp Heynckes itu pun orang lama di final UCL. Artinya apa?

Artinya, tidak ada nama baru. Ketika Jerman belum melahirkan sosok pelatih anyar yang mampu ke final Liga Champions, Italia justru menempatkan nama baru untuk menghadapi Heynckes di final tersebut. Ya, penggemar The Blues pasti mengenalnya. Ia adalah Roberto Di Matteo. Pelatih debutan yang malah mengalahkan Heynckes di final tersebut.

Jurgen Klopp

Setelah dipermalukan pelatih bau kencur, Heynckes membawa Bayern Munchen ke final di musim selanjutnya. Terjadi All German Final di Liga Champions musim 2012/13. Nah, dari sinilah muncul nama baru dari Jerman di dunia kepelatihan. Ia adalah Jurgen Klopp.

Setelah dua musim beruntun menjuarai Bundesliga, Klopp menuntun Borussia Dortmund ke final Liga Champions tahun 2013. Malangnya, di musim tersebut Klopp dikalahkan kompatriotnya. Pengalaman Heynckes di final memberi Klopp pelajaran yang berharga.

Setelah Klopp membawa Dortmund ke final tahun 2013, tidak ada lagi pelatih Jerman di final Liga Champions. Dari tahun 2014 sampai 2017, final Liga Champions didominasi pelatih asal Prancis, Spanyol, dan Italia. Pelatih Jerman hanya bisa menonton dari kejauhan.

Barulah pada tahun 2018, pelatih Jerman kembali ke final Liga Champions. Siapa lagi kalau bukan Jurgen Klopp. Kali ini dengan klub yang berbeda, Klopp sekali lagi ke final Liga Champions. Ia sukses mengantarkan Liverpool ke final tahun 2018. Namun, final itu menjadi yang paling tidak ingin diingat. Bukan hanya oleh Loris Karius, tapi mungkin juga penggemar Liverpool.

Klopp kalah lagi di final. Namun, kekalahan dua kali menempanya. Terbukti setelah mengalami dua kekalahan di final, Klopp justru menjadi pelatih Jerman lainnya yang meraih gelar Liga Champions, yakni tahun 2019 bersama The Reds.

Ia bahkan mendaulat diri sebagai pelatih Jerman yang paling sering ke final Liga Champions. Ya, sudah empat kali Klopp ke final UCL. Satu bersama Die Borussen, dan tiga kali bersama The Reds. Sayang, di percobaan ketiganya, Liverpool kembali dikandaskan Real Madrid.

Hans-Dieter Flick

Keberhasilan Klopp menjuarai Liga Champions tahun 2019 boleh jadi menginspirasi para pelatih Jerman lainnya. Setahun setelah Klopp juara, pelatih yang namanya sama sekali tak terdengar sebelumnya, Hans-Dieter Flick membawa Bayern Munchen ke final Liga Champions musim 2019/20.

Itu adalah musim yang tidak biasa. Sebab pandemi sedang melanda. Maka dari itu, pihak UEFA tidak menggelar laga dua leg sejak babak perempat final. Die Roten asuhan Hansi Flick bermain trengginas musim itu. Semua trofi domestik dibabat jelang final.

Saking ngerinya Munchen waktu itu, mereka sampai memberi kenangan paling monumental sepanjang sejarah Barcelona. Nah, menariknya, di final musim tersebut, Flick berhadapan dengan pelatih asal Jerman lainnya. Pelatih asal Jerman yang kebetulan, juga belum pernah ke final Liga Champions sebelumnya.

Pria itu adalah Thomas Tuchel. Adu taktik antara pelatih Jerman pun tersaji di final. Namun, Flick yang akhirnya memenangkan laga itu. Ia tidak hanya menjuarai Liga Champions, tapi juga menjadikan Bayern Munchen tim kedua yang sanggup meraih sextuple di Eropa.

Thomas Tuchel

Setelah dikalahkan kompatriotnya di final tahun 2020, Tuchel masih penasaran. Pelatih yang sedikit banyak kariernya mengekor Klopp itu pindah ke Chelsea tak berapa lama setelah kalah di final. Tuchel pun mengulangi kesuksesan dengan mengantarkan The Blues ke final Liga Champions musim 2020/21.

Itu adalah pencapaian sensasional baginya. Padahal Tuchel tidak punya banyak waktu mengintegrasikan ide dan taktiknya pada anak-anak Stamford Bridge. Apalagi ia menjadi pelatih Chelsea di pertengahan musim.

Di musim itu pula, Chelsea gagal meraih satu pun trofi domestik. Namun, untungnya mereka masih bisa finis di empat besar. Well, perjalanan Tuchel membawa Chelsea ke final sebenarnya tidak terlalu sulit. Paling cuma Real Madrid musuh tersulitnya.

Namun, Tuchel melewati hadangan Real Madrid di semifinal. Di final, musuhnya Manchester City dan Guardiola yang baru saja menjuarai Liga Inggris. Perlawanan alot, namun gol Kai Havertz mengantarkan Chelsea juara. Thomas Tuchel pun menyamai karier Jurgen Klopp. Dari Dortmund, lalu ke final UCL, gagal di percobaan final pertamanya, lalu juara di kesempatan kedua.

Edin Terzic

Musim 2023/24 ada kejutan baru. Jerman menghadirkan nama pelatih baru di final Liga Champions. Orang itu adalah Edin Terzic. Setelah di musim 2022/23, Jerman absen mengirimkan pelatihnya di final, Terzic menyelamatkan muka Jerman dengan membawa Dortmund ke final.

Perjalanan Die Borussen ke final sebetulnya tak mudah. Apalagi di semifinal mereka harus menghadapi PSG asuhan Luis Enrique. Soal pengalaman, Enrique yang pernah meraih treble jelas lebih berpengalaman daripada Terzic. Soal taktik dan gaya bermain, Enrique jauh lebih menjanjikan daripada Terzic.

Namun, taktik, gaya permainan, bahkan pengalaman, semuanya luntur di hadapan keajaiban dan keberuntungan. Sedangkan Liga Champions adalah tempatnya hal-hal ajaib. Dua kali bertemu Enrique di semifinal, dua kali pula Terzic mengalahkannya. Dua-duanya lewat skor tipis, masing-masing 1-0 saja.

Terzic bisa saja membawa pulang trofi UCL di percobaan pertamanya seperti Hansi Flick. Namun, Klopp dan Tuchel, dua pelatih yang pernah menukangi Dortmund gagal di final UCL pertamanya.

Sumber: Coach-Logic, Bundesliga, SportBuzzer, AllFootballApp, Fussball-Und-Football 

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru