Meski namanya tak seglamor Paris Saint-Germain, Rennes menjelma jadi salah satu tim yang mengejutkan musim 2022/23. Tim yang berjuluk Les Rouges et Noirs jadi salah satu tim yang berhasil meredam dominasi PSG di Ligue 1. Sadar bukan tim yang selalu diunggulkan setiap minggunya, Rennes tetap pada filosofinya sebagai pemasok bakat ke tim-tim top Eropa lainnya.
Namun, apabila mereka tidak menjual pemain-pemain bintangnya, Rennes barangkali bisa menjadi pesaing utama PSG di sepakbola Prancis. Berikut Starting Eleven suguhkan 11 pemain terbaik apabila Rennes tak menjual bintangnya. Kira-kira siapa saja ya?
Daftar Isi
Petr Cech
Dari penjaga gawang, Rennes pernah memiliki pemain kaliber Petr Cech. Sebelum membangun reputasinya sebagai salah satu kiper terbaik di dunia bersama Chelsea, Cech merupakan kiper muda berbakat di Rennes. Ia bermain untuk mereka dari 2002 hingga 2004.
👀 Look who’s coming back…
🔴⚫ Petr Čech set for return to former club Rennes 👏#UELdraw pic.twitter.com/2Ohq2peuVW
— UEFA Europa League (@EuropaLeague) February 22, 2019
Cech yang masih berusia 20 tahun saat itu didatangkan dari klub lokal Republik Ceko, Sparta Praha. Legenda Arsenal itu menimba ilmu di tim muda Rennes selama satu musim pertamanya di Prancis. Cech baru menembus skuad utama di musim 2003/04. Ia memainkan 37 laga di semua kompetisi dengan catatan 14 clean sheets. Sebelum akhirnya ditebus Chelsea dengan mahar 13 juta euro (Rp213 miliar).
Ramy Bensebaini
Beralih ke bek, ada Ramy Bensebaini. Pemain Aljazair ini sudah membela Rennes sejak tahun 2016. Namun, kini Ramy sudah meninggalkan Rennes pada tahun 2019 lalu untuk bergabung dengan klub Bundesliga, Borussia Monchengladbach. Rennes menjualnya dengan mahar 8 juta euro (Rp131 miliar).
Kini, pemilik satu gelar Piala Afrika itu masih tergabung dalam skuad Monchengladbach dan telah mencatatkan 99 penampilan dengan torehan 24 gol serta tujuh assist. Itu merupakan peningkatan statistik yang cukup apik bagi seorang bek kiri. Pasalnya, pada saat membela Rennes, Ramy hanya mencatatkan tiga gol dari jumlah pertandingan yang sama.
Nayef Aguerd
Selanjutnya ada tandem Ramy adalah Nayef Aguerd. Setelah tampil mengesankan untuk Rennes dan Timnas Maroko dalam beberapa tahun terakhir, secara mengejutkan Aguerd justru dilepas Rennes ke West Ham di musim panas tahun 2022 kemarin. Aguerd jadi penjualan termahal Rennes saat ini dengan bandrol mencapai 35 juta euro (Rp574 miliar).
🚨 Nayef Aguerd has been undergoing his West Ham medical today ahead of a £20M move from Rennes. He is expected in London tomorrow to finalise the transfer.
(Source: Sky Sports) pic.twitter.com/fcu233O46s
— Transfer News Live (@DeadlineDayLive) June 15, 2022
Meski mengawali musim 2022/23 dengan cedera, Aguerd nyatanya tampil memukau di ajang Piala Dunia kemarin. Bersama Hakim Ziyech dan Achraf Hakimi, Aguerd membawa The Lion of Atlas mencapai babak semifinal. Sayangnya, kisah dongeng mereka terhenti di tangan Prancis. Apabila Rennes tak menjualnya, mungkin Aguerd akan menjadi palang pintu yang kokoh di lini bertahan Rennes musim ini.
Mikaël Silvestre
Selanjutnya ada Mikael Silvestre sebagai pelengkap trio bek tengah impian Rennes. Legenda Manchester United ini merupakan produk asli dari akademi Rennes. Namun, pemain berkepala plontos ini baru menembus skuad utama Rennes tahun 1995. Ia jadi salah satu bek muda berprospek cerah saat itu.
Namun, Silvestre hanya bertahan tiga musim di Liga Prancis. Permainan lugasnya di lini belakang menarik raksasa Italia, Inter Milan untuk memboyong sang pemain. Untuk pemain yang baru berusia 20 tahun, 7 juta euro (Rp114 miliar) sudah bikin Rennes cuan. Permainan Silvestre terus berkembang hingga akhirnya bergabung dengan Manchester United dan meraih belasan trofi bergengsi.
Abdoulaye Doucoure
Di sektor gelandang bertahan ada Abdoulaye Doucoure. Sama halnya dengan Mikael Silvestre, pemain yang kini membela Everton itu merupakan jebolan akademi Rennes. Menimba ilmu sejak tahun 2010, Doucoure baru bisa menembus skuad utama di tahun 2012. Saat itu usianya baru 19 tahun.
Empat tahun membela Les Rouges et Noirs, Doucoure dilepas ke klub Liga Inggris, Watford. Bersama Watford, Doucoure mengemas 141 pertandingan di semua kompetisi, sebelum akhirnya hengkang ke Everton pada tahun 2020 silam. Fleksibilitas dan kekuatannya di lini tengah jadi bagian penting Everton dalam meloloskan diri dari jurang degradasi musim lalu.
Eduardo Camavinga
Sebagai lawan main Doucoure di tengah ada Eduardo Camavinga. Gelandang muda berbakat yang kini bermain untuk Real Madrid itu juga merupakan produk asli akademi Rennes. Camavinga sendiri menjadi talenta paling berbakat di angkatanya. Rekan-rekannya di akademi belum ada yang sesukses dirinya sekarang.
La dernière fois qu’un joueur de 16 ans a été titularisé lors d’un Rennes PSG, c’était un certain Eduardo Camavinga. pic.twitter.com/iBn0We9kyY
— MASS WORLD CUP 🇲🇦🇶🇦 (@Mas93140) January 15, 2023
Camavinga yang menembus skuad utama Rennes pada tahun 2019 langsung menjadi andalan lini tengah klub Liga Prancis tersebut. Tak butuh waktu lama untuknya menarik perhatian klub-klub top Eropa macam Real Madrid untuk merekrutnya. Bergabung dengan El Real tahun 2021 lalu, Camavinga kini telah mengoleksi satu gelar La Liga dan satu gelar Liga Champions
Hatem Ben Arfa
Untuk mengisi pos gelandang serang, Rennes pernah memiliki nama Hatem Ben Arfa. Kita semua tahu bahwa ia merupakan salah satu talenta yang luar biasa ketika bermain di Newcastle United. Ia berhasil menyita perhatian publik sepakbola Inggris melalui skill individu di atas rata-rata.
Ben Arfa memang dikenal sebagai kutu loncat karena sering bergonta-ganti klub. Dan salah satunya adalah Rennes pada musim 2018/19. Meski hanya semusim, kontribusi Ben Arfa tak bisa diabaikan. Mobilitasnya di lini depan sangat membantu tim saat itu. 9 gol dan 6 assist-nya bahkan membantu Rennes finis di sepuluh besar Ligue 1.
Raphinha
Di sayap kanan ada Raphinha. Kepindahannya ke Elland Road pada tahun 2020 membuat Raphinha dengan cepat memantapkan dirinya sebagai salah satu pemain sayap muda paling berbakat di Eropa. Ia bahkan sempat menjadi incaran klub-klub papan atas Liga Inggris macam Chelsea dan Arsenal, sebelum akhirnya berlabuh ke Barcelona awal musim 2022/23 kemarin.
📝 DEAL DONE: Stade Rennes have signed Raphinha for €20m from Sporting Lisbon. (Source: @staderennais) pic.twitter.com/7zZ9AlT482
— Transfer News Live (@DeadlineDayLive) September 2, 2019
Tentu jika Rennes tahu kalau Raphinha bakal jadi sehebat ini, mungkin ia tak akan gegabah menjualnya. Pasalnya, pemain asal Brazil itu baru semusim berseragam Rennes. Meski hanya semusim, ia berkontribusi 15 gol Rennes dan itu sudah cukup untuk membuat klubnya finis di urutan ketiga klasemen musim 2018/19.
Ousmane Dembele
Sementara di kiri ada Ousmane Dembele. Ia jadi nama lain dari jebolan akademi Rennes yang sukses di sepakbola Eropa. Sudah membela Rennes sejak tahun 2010, Dembele butuh lima tahun lamanya untuk menembus skuad utama klub yang bermarkas di Roazhon Park tersebut.
Sama halnya dengan Raphinha, Dembele hanya bermain semusim di Rennes. 35 juta euro yang ditawarkan Borussia Dortmund untuk bocah 19 tahun membuat Rennes tak kuasa menolaknya. Meski demikian, kontribusi 12 golnya bersama Rennes memang menawan. Untuk pemain seusianya, mencetak dua digit gol dalam satu musim merupakan pencapaian luar biasa.
Ismaïla Sarr
Di posisi second striker ada Ismaila Sarr. Pemain yang tumbuh di akademi FC Metz ini bergabung dengan Rennes pada tahun 2017. Selama dua musim bersama Rennes, Sarr membantu tim untuk memenangkan Piala Liga Prancis musim 2018/19 sebelum akhirnya hengkang ke Watford tahun 2019.
😱 What. A. Goal. 🔥🚀
Ismaïla Sarr 👏👏👏#UEL @staderennais pic.twitter.com/ifm29G7eai
— UEFA Europa League (@EuropaLeague) September 24, 2018
Tentu apabila Sarr masih membela Rennes hingga sekarang, bukan tidak mungkin ia mampu menjadi ancaman serius bagi tim-tim Ligue 1 lainnya. Memanfaatkan kecepatan dan naluri mencetak golnya yang apik, Sarr akan sangat bermanfaat bagi Rennes.
El-Hadji Diouf
Dan El-Hadji Diouf akan menjadi ujung tombak dream team Rennes, apabila Rennes tak menjualnya ke RC Lens tahun 2000 silam. Setelah dilepas oleh Rennes, Diouf membuktikan diri sebagai salah satu striker paling berbahaya di Eropa. Namanya kian meroket kala bermain untuk klub-klub Inggris macam Liverpool dan Bolton Wanderers.
Bayangkan saja apabila kekuatan Diouf berduet dengan kecepatan dari Ismaila Sarr di lini depan Rennes. Mereka akan menciptakan “Senegal Connection” yang siap menebar ancaman kepada siapa pun lawan Rennes di Liga Prancis.
Sumber: Transfermarkt, 90min, The18, Ligue1, Libero


